Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Dad VS Son



Gavin kini mulai membawakan sebuah bingkisan yang berukuran cukup besar dan mulai meletakkan di atas meja lalu membukanya. Terlihat sebuah kue ulang tahun yang berukuran cukup besar serta dihias begitu cantik dengan karakter anime kesukaan Leona dan hiasan kue berbentuk planet-planet kecil, karena Leon juga cukup menyukai astronomi.


Suasana yang beberapa saat yang lalu terasa begitu dingin dan mencekam, kini seketika menjadi hangat dan tak canggung kembali karena tingkah lucu dari Leona dan Leon yang sukses mencairkan suasana saat ini kembali.


Malah saking menikmatinya, waktu itu berlalu dengan begitu cepatnya. Hingga mereka, satu per satu mulai berpamitan untuk pulang.


"Kami pulang!! Wish you all the best, Little prince Leon dan little princess Leona!! " ucap Kara masih saja bersemangat dan mulai pergi besama Yuan.


"Kami juga pulang dulu ya, Neru. Karena Xavier juga masih harus pergi ke kafenya malam ini!" ucap Yora yang juga berpamitan.


"Baiklah! Terima kasih ya sudah meluangkan waktu kalian! Ja matte ne!!" sahut Ayaneru masih terlihat begitu berbahagia.


"Yoshh!! Kami pulang dulu!" sahut Yora mulai menggandeng lengan Xavier sang kekasih dan segera menggiringnya untuk pergi dari kontrakan Ayaneru.


Semua sudah pulang. Kini hanya tinggal Reo. Mengapa dia masih saja belum pulang?


Batin Ayaneru sedikit menghela nafas panjang dan mulai berbalik. Namun betapa terkejutnya Ayaneru, saat dia berbalik dia sudah melihat Leon malah sedang duduk serius beradu permainan catur internasional bersama dengan Reo.


Di sebelah Leon, juga ada Leona yang dengan begitu bersemangat menyaksikan permainan dari kedua pria dingin itu. Yeap, kedua pria dingin itu terlihat begitu fokus menatap papan catur yang sudah tersusun seperangkat buah catur seperti raja, ratu, menteri, gajah, kuda, benteng, dan pion.


"Ayo, Kak Leon!! Semangatlah!! Kalahkan paman Reo!!" seru Leona bersemangat sambil menepukkan sepasang jemarinya beberapa kali, namun sepasang netra bak boneka itu masih menatap papan catur untuk menyaksikan permainan dari Leon dan Reo.


Ayaneru mulai mengulum sebuah senyuman karena merasa geli dan gemas, saat menyaksikan Leon yang begitu fokus dan serius saat bermain bersama dengan Reo.


Mereka benar-benar sangat mirip! Rupanya sifat Leon memang banyak diturunkan dari Reo. Dingin dan genius. Huft ... tapi semoga saja kelak di saat dia sudah dewasa, Leon tak menyebalkan dan angkuh seperti Reo. Karena itu sangat menyebalkan!


Batin Ayaneru masih saja menatap mereka bertiga dari kejauhan.


Selama ini Leon selalu bermain catur dengan sangat baik. Leon benar-benar membuat strategi yang tepat untuk menjatuhkan lawannya dan membuat lawan skak mat hingga tak bisa bergerak lagi. Hhm ... kira-kira kali ini siapa yang akan menang ya? Leon-ku pasti akan memenangkannya lagi kan?


Batin Ayaneru melipat tangan kirinya di bawah dadanya, dengan tangan kanannya mengusap dagu indahnya yang berbentuk V-shape.


Leon dan Reo adalah sama-sama pria genius yang cukup menggilai permainan catur. Selama ini permainan catur Reo juga belum pernah dikalahkan oleh siapapun, begitu juga dengan Leon. Bahkan teman-teman Leon saja lebih suka untuk bermain seperti anak-anak pada umumnya.


Namun siapa sangka, kali ini Reo sengaja mengalah dan memberikan peluang untuk Leon agar memenangkan permainan dari mereka. Dan tentu saja hal itu dilakukan oleh Reo untuk membuat Leo merasa senang.


"Skak mat!!" ucap Leon yang seketika membuat Leona dan Ayaneru berjingkrak begitu saja.


"Wah ... paman kalah ya." gumam Reo mulai memudarkan senyumannya dan menatap papan catur itu, disaat gajah, pion dan Ratu Hitam milik Leon mulai menyerang buah catur Reo dengan strategi yang cukup keren.


"Wah!! Kak Leon memang yang terbaik!! Keren!!" puji Leona dengan begitu antusias.


"Pangeran kecilku Leon memang sangat keren dan yang terbaik!! Ugghh gemas sekali rasanya!!" Ayaneru juga terlihat sangat kegirangan dan mulai mendekati mereka bertiga.


"Langkah mati yang aku pilih adalah menunggu dengan sabar dengan mengorbankan dua pion milikku, agar dapat membuka ruang lebih bebas untuk pergerakan gajah, pion dan Ratu Hitam dalam posisi menyerang skakmat. Dan paman sengaja membuka jalan itu untukku. Paman sengaja melakukan semua itu bukan untuk membuatku menang?" ucap Leon seketika membuat Ayaneru, Reo dan Leona membekukan senyumannya dan langsung menjadi sangat kikuk.


Eh?? Apa?? Reo sengaja mengalah agar Leon menang??


Batin Ayaneru hampir saja tak percaya.


"Emm itu ... sebenarnya ... tidak seperti yang kamu pikirkan, Leon! Kamu menang dari paman karena kamu sangat berbakat, cerdas dan memiliki strategi dalam bermain catur yang baik. Maka dari itu kamu bisa mengalahkan paman. Hehe ..." ucap Reo tertawa kecil dan mengusap tengkuknya.


"Baiklah! Kalau begitu ayo main sekali lagi, dan jangan berusaha untuk mengalah dariku ya, Paman! Kita bermain seadanya saja!" ucap Leon mulai menyusun kembali buah catur miliknya di atas papan catur berwarna hitam putih itu.


"Ahaha ... baiklah. Ayo kita main sekali lagi!" Reo menyauti dengan ramah dan hangat, tak terlihat seperti seorang bos dingin yang arogan seperti yang sering dilihat oleh orang lain.


Kali ini Ayaneru juga mulai tertarik untuk menyaksikan pertandingan catur antara Leon dan Reo, sehingga Ayaneru mulai duduk bergabung dengan mereka.


Namun baru saja setengah permainan, tiba-tiba saja Leon dan Leona sudah tertidur begitu saja di atas meja, hingga membuat seluruh buah catur itu menjadi berserakan.


"Wah, saking serunya bermain kita semua malah lupa waktu. Kasihan sekali Leon dan Leona ... padahal mereka pasti sangat mengantuk dan lelah." gumam Ayaneru menatap sedih kedua buah hatinya.


"Maafkan aku, Neru. Ini adalah salahku. Aku akan memindahkan mereka untuk tidur di dalam kamarnya dulu." ucap Reo merasa sangat bersalah dan mulai menggendong dan memindahkan kedua anak kembar itu secara bergantian.


Ayaneru melihat Reo terlihat begitu tulus untuk melakukan semua itu. Ada sebuah rasa bersalah di dalam hatinya, karena selama ini Ayaneru selalu saja berusaha untuk menjauhkan Reo dengan kedua anak kembarnya.


"Neru, terima kasih sudah mengijinkanku untuk ikut merayakan pesta ulang tahun Leon dan Leona." ucap Reo dengan tulus.


"Hhm. Sama-sama." jawab Ayaneru merasa sangat kikuk. Karena biasanya wanita ini sangat jarang bersikap lembut di hadapan Reo.


"Pekan depan akan ada perayaan liburan untuk tim eksekutif ke Paris. Ajak juga Leon dan Leona. Mereka pasti akan sangat senang. Setelah kita kembali ke Jepang, aku harap kamu sudah mempersiapkan jawaban untukku."


"Paris? Tim eksekutif? Tap-tapi ... aku hanyalah karyawan biasa. Apakah aku pantas untuk ikut?" ucap Ayaneru sedikit melongo tak percaya.


"Tentu saja! Nyonya Lingling bahkan sudah memasukkan namamu di dalam list-nya paling atas." jawab Reo dengan seulas senyum. "Baiklah. Kamu beristirahatlah. Aku akan segera pulang."


"Ehh ... i-iya ... hati-hati." jawab Ayaneru meskipun sebenarnya terasa sangat berat, karena seakan dirinya mulai mempedulikan Reo.


Sebuah senyuman yang begitu hangat sempat Reo lemparkan untuk wanita cantik itu sebelum dia meninggalkan rumah sederhana itu.


Aku harus segera menikahinya! Aku tidak bisa membiarkan Neru dan kedua anakku tinggal di tempat yang sangat kecil seperti ini.


Batin Reo memutar bola matanya menatap sekeliling rumah ini sebelum akhirnya meninggalkan rumah ini.


...🍁🍁🍁...