Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Tekad Yang Kuat



Hari demi hari berlalu begitu cepat. Suatu hari Reo meminta untuk diantarkan oleh sang istri melihat taman kota. Ayaneru mendorong kursi roda itu menyusuri taman kota dengan penuh suka cita. Sementara para pengawal hanya menunggu di tempat yang agak terlalu jauh dari mereka. Namun sebenarnya mereka masih berada dalam pantauan para pengawal.


"Sayang, aku haus. Tolong belikan aku flat white hangat dan air mineral. Aku akan menunggumu disini." ucap Reo tiba-tiba.


"Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu? Pengawal berada sedikit jauh dari kita. Sebaiknya kamu juga ikut ya. Kita mrmbeli minuman bersama." Ayaneru mengusulkan karena merasa khawatir jika harus meninggalkan Reo seorang diri.


"Jangan khawatir, Sayang. Tidak ada yang akan berami memasuki taman ini tanpa seijinku. Tak akan ada yang bisa masuk kesini saat ini selain kita. Pergilah ... aku akan menunggumu disini." ucap Reo dengan hangat.


"Baiklah. Kalau begitu tetaplah disini dan jangan pergi kemana-mana ya. Aku akan membeli minuman itu dan segera kembali secepat mungkin deh." ucap Ayaneru sedikit menekankan.


"Baiklah. Aku akan tetap disini dan tidak akan pergi jauh kemana-mana kok."


"Hhm. Okay! Kalau begitu aku pergi dulu ..." ucap Ayaneru mulai meninggalkan Reo untuk menuju sebuah mini market yang masih berada di kawasan taman kota ini.


Reo memghembuskan nafas kasarnya di udara dan menatap beberapa bunga indah yang berada di sisi taman bawah. Karena saat ini dia sedang di taman bagian atas, tepatnya di dekat sebuah tangga.


Entah apa yang di sedang dipikirkan oleh Reo saat ini, tapi pandangannya menatap lurus ke arah depan. Begitu serius dan sulit untuk digambarkan. Seolah benar-benar sedang memikirkan sesuatu yang cukup memberatkannya.


"Aku ingin sekali sembuh! Aku ingin sekali segera sembuh total! Aku tidak mau selalu merepotkan istriku! Aku ingin menjadi berguna untuk istri dan anak-anakku! Aku tidak boleh seperti ini terus! Tidak boleh!!" gumam Reo lirih masih dengan pandangan yang sama.


"Hal yang sangat dibutuhkan adalah sebuah tekad yang kuat dan juga keyakinan!! Jika kamu ingin segera sembuh dari semua kelumpuhan ini, maka kuatkan tekadmu, Reo!! Jangan menyerah dan jangan takut!!" gumamnya kepada dirinya sendiri.


Kedua tangannya mulai memegang kuat kedua sisi kursi rodanya dan dia mulai memantapkan hatinya untuk melakukan sesuatu. Pandangannya masih menatap ke arah turunan tangga taman yang sebenarnya cukup tinggi itu.


Lalu Reo mulai menggerakkan mundur kursi rodanya kira-kira 5 meter dari turunan tangga itu. Setelah beberapa saat, Reo mulai menggerakkan kursi rodanya ke depan dengan pergerakan yang semakin cepat.


Dia semakin mendekati turunan tangga itu dan masih berusaha untuk semakin menggerakkan kursi rodanya dengan lebih cepat, hingga akhirnya ...


KLONTANG ...


"REO!! Tidak!!" Ayaneru yang rupanya sudah datang kembali seketika berteriak histeris saat melihat semua itu dari kejauhan, hingga membuat beberapa barang belanjaannya terjatuh begitu saja.


Mau berlari untuk meraih dan menahan suaminya untuk melakukan hal itu rasanya sungguh tidak mungkin karena jarak mereka cukup jauh.


KLANG ...


BRAKK ...


Seorang pria dewasa yang tampan dan sangat gagah sudah berdiri di pinggiran turunan anak tangga itu dengan posisi membelakangi dirinya.


Yeap, Reo berhasil turun dari kursi rodanya tepat di saat kursi roda itu berada beberapa senti saja dari turunan anak tangga. Dia berhasil! Reo berhasil menggerakkan tubuh bagian bawahnyq karena tekadnya yang kuat.


Ada tawa singkat nan samar menghiasi wajah tampan itu, namun sepasang manik-manik dengan pupil kebiruan indah itu juga sudah menjadi sedikit berarir. Ada perasaan bahagia dan penuh dengan kelegaan memenuhi hatinya.


Ayaneru segera berlari untuk mendekati Reo. Kini mereka sudah berdiri saling berhadapan dengan pandangan penuh haru.


"Sa-sayang ... ka-kamu sudah sembuh ..." ucap Ayaneru penuh rasa haru menyaksikan suaminya kini bisa berdiri dengan tegap kembali.


Reo mengangguk pelan dengan senyuman hangatnya. Namun tiba-tiba saja dia mulai terhuyung kembali. Hingga akhirnya Ayaneru segera meraih tangan dan tubuh Reo untuk membantunya tetap berdiri.


"Maaf, sepertinya belum pulih sepenuhnya." ucap Reo lirih.


"Tidak masalah. Pelan-pelan saja. Kamu pasti akan segera pulih sepenuhnya. Terima kasih sudah selalu berjuang untuk semua ini." ucap Ayaneru penuh binar dan haru mendongak pria yang sudah sekian lama membuatnya jatuh cinta, bahkan saat usianya masih sangat kecil.


"Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu, Sayang. Karena kamu selalu ada untukku dan selalu memberikan support untukku, makaaku bisa memilki tekad yang kuat seperti ini. Terima kasih, Neru. Kamu adalah putri tidur kecilku yang selalu memberikan warna dan kehangatan dalam hidupku.terima kasih ..."


Balas Reo mengusap lembut salah satu sisi samping wajah ayu sang istri.


Ayaneru mengangguk pelan dan mulai memeluk Reo erat. Merasakan kebahagiaan dan kehangatan di musim semi yang indah ini.


Beberapa daun ginko, bunga sakura maupun beberapa bunga lainnya yang indah menghiasi taman kota ini dengan warna warni yang sangat indah dan memukau.


Aku sangat merasa bahagia setiap saat bersama denganmu. Bagaimanapun kamu, seperti apapun kamu ... aku akan selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu ada untukmu. Meskipun langit akan runtuh, aku tak akan pernah meninggalkamu. Karena hanya kamu yang aku mau ... seperti keinginanku di masa lalu. I love you, Kakak penolongku di masa lalu. Tak aku sangka takdir yang sedikit rumit yang pernah aku lalui, akhirnya membawaku untuk bertemu denganmu lagi hingga mempersatukan kita dengan caranya yang unik dan luar biasa. Dan kali ini, aku tak akan membiarkanmu pergi kembali untuk meninggalkanku.


Batin Ayaneru penuh haru dan kebahagiaan. Rasanya tak ada hari yang lebih indah selain saat kebersamaannya bersama Reo.


Begitu juga dengan Reo, tentunya dia-lah yang memiliki rasa yang melebihi dari apa yang dirasakan oleh Ayaneru. Bahkan dia sudah lama berusaha untuk mencari dan menemukan putri tidur kecilnya kembali, dan dia sengaja membuat sebuah perjodohan itu secara alami.


Perlahan Reo melepas pelukannya. Dia menunduk dan menatap Ayaneru dengan pandangan hangat dan meneduhkan. Perlahan Reo semakin menundukkan dan memiringkan wajahnya semakin mendekati wajah Ayaneru.


Sementara Ayaneru mulai memejamkan sepasang matanya dan bersiap untuk menyambut sesuatu dari sang suami. Namun tiba-tiba saja tepat saat jarak di antara mereka berdua hanya menyisakan beberapa inci saja, mulai terdengar suara seseorang, dan membuat Reo mengurungkan niatnya kembali.