
Di dalam sebuah kamar di sebuah mini apartemen, terlihat terlihat seorang gadis sedang melompat-lompat di atas pembaringannya, sementara tak jauh darinya seorang anak laki-laki sedang duduk di meja belajar mininya sedang mengutak-atik mainannya, apalagi jika bukan mini computer kesayangannya.
"Yes!! Akhirnya mama dan papa akan segera menikah!!" Leona berjingkrak senang hingga melompat-lompat di atas kasur empuknya.
"Akhirnya kita akan segera punya papa secara resmi, Kak!! Asiiikkk!! Usaha kita tidak sia-sia! Hore!!" Leona masih saja melompat-lompat di atas kasurnya.
"Hhm. Semoga saja wanita sihir itu tak kembali berulah ... jujur saja kakak merasa sangat cemas dan khawatir jika dia akan membuat rencana jahat lagi." gumam Leon terlihat murung karena mengingat beberapa kejadian saat dirinya diculik di Paris.
Leona mulai duduk di atas pembaringan dan menatap Leon yang sedang duduk di sebuah bangku meja belajar dengan ekspresi kebingungan.
"Rencana jahat lagi? Apa maksud kak Leon? Apa sebelumnya dia pernah melakukannya? Atau ... jangan-jangan ... kejadian penculikan saat di Paris saat itu ..." Leona berusaha untuk menerka-nerka sendiri dengan sepasang mata yang mulai membulat sempurna dengan jemari yang mulai menutupi mulut mungilnya yang kini sudah menganga.
"Oh tidak! Jangan katakan jika semua itu adalah ulah wanita sihir itu, Kak!" ucap Leona kembali memasang ekspresi serius.
Leon hanya mengangguk pelan.
"What? Lalu apaka papa mengetahui semua itu, Kak?"
"Tidak, Leona. Tapi kakak punya bukti. Kakak akan menyimpannya untuk antisipasi. Jika dia berani berbuat jahat lagi, maka kakak akan membongkar semua kejahatan dia!" ucap Leon terlihat tenang namun serius.
"Oh My!! Ternyata dia benar-benar wanita sihir yang sangat jahat ya! Huftt ..." Leona menghembuskan nafas kasarnya ke udara.
...🍁🍁🍁...
Ayaneru terlihat mulai memasuki gedung F Group dengan penampilan rapi seperti biasanya. Sederhana namun terlihat begitu elegan dan memukau.
Beberapa karyawan mulai menatapnya aneh di sepanjang perjalanan. Dan sesekali Ayaneru juga melihat jika mereka saling berbisik seakan sedang membicarakan tentang dirinya. Karena melalui sorotan-sorotan mata itu, Ayaneru langsung memahaminya.
Sebenarnya ada apa? Apakah aku sudah membuat sebuah kesalahan?
Batin Ayaneru tak mengerti, namun tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya dengan lembut. Disaat Ayaneru menoleh, rupanya sudah ada sosok Kara yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Ayo!" Kara segera menggandeng Ayaneru dan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke ruangan kerjanya.
CEKLEK ...
"Huft ..." Kara menghempaskan tubuh rampingnya di atas sebuah kursi kantor.
"Kara, mengapa mereka semua menatapku aneh?" tanya Ayaneru tak mengerti.
"Hhm. Karena gosip baru yang baru saja beredar tentunya!" sahut Kara seadanya. "Sekarang katakan padaku, Neru! Mengapa kamu tiba-tiba saja ingin menikah dengan tuan Reo?" tanya Kara mulai menatap Ayaneru serius.
"Ahh ... itu ... sebenarnya ceritanya sangat panjang, Kara." jawab Ayaneru kebingungan harus menjelaskannya darimana.
Karena selama ini Kara memang tak mengetahui seluruhnya kehidupan Ayaneru. Bahkan selama ini Ayaneru hanya memendam masalah hidupnya seorang diri.
"Tuan Reo sangat dingin dan menyebalkan. Dia juga sering kasar. Mengapa kamu bisa memutuskan untuk menikah dengannya? Apa hanya karena Leon dan Leona merasa dekat dan nyaman dengannya?" ucap Kara menerka-nerka.
Namun belum sempat Ayaneru menjawab ucapannya kembali, kini pintuk divisi marketing kembali terbuka. Kali ini Yuan yang datang dan segera melangkah cepat mendekati Kara dan Ayaneru.
"Neru! Apa semua itu adalah benar? Apa kamu akan menikah dengan tuan Reo?" tanya Yuan to the point.
"Eh? Itu ... sebenarnya itu ... uhm ... iya, Yuan. Itu adalah benar." jawab Ayaneru terlihat begitu kikuk dan malu.
"Bagaimana bisa semua itu terjadi? Ino ajaib sekali! Tuan Reo yang sangat dingin dan menyeramkan itu, tiba-tiba mau menikah denganmu ..." Yuan juga tak kalah bingung.
Tiba-tiba saja pintu kembali terbuka, kali ini terlihat seorang pria dengan pakaian tak kalah rapi mulai memasuki ruangan ini. Dan dia adalah Jion.
"Neru! Reo memanggilmu! Dia sedang menunggumu di ruanganya." ucap Jion dengan santai dan segera membuat kopi dengan memakai sebuah mesin pembuat kopi di ruangan ini.
"Oh baiklah. Terima kasih, Jion." Ayaneru menyauti pelan dan segera bergegas untuk meninggalkan ruangan itu.
Di sepanjang perjalanan menuju ke ruangan Reo, semua mata masih saja menatap aneh Ayaneru. Dan kali ini ucapan-ucapan mereka terdengar oleh Ayaneru.
"Bukankah dia sudah memiliki dua orang anak? Berani sekali dan percaya diri sekali dia mendekati bos kita?" cibir seorang karyawati setengah berbisik.
"Benar-benar wanita penggoda tak tau malu!" timpal wanita lainnya lagi.
"Ckk ... aku dengar-dengar dia bahkan hamil di luar nikah! Bahkan dia tak pernah mengetahui siapa ayah dari anak-anaknya." bisik wanita lainnya lagi.
"Kasihan sekali tuan Reo harus menikahi wanita tak beretika dan tak bisa menjaga kehormatannya seperti Ayaneru! Huftt ... padahal masih banyak wanita lain yang jauh lebih baik dari Ayaneru!" timpal wanita lainnya lagi.
"Bubar-bubar!! Kalian dibayar untuk bekerja!! Bukan untuk bergosip seperti ini!!" Ayaneru sempat mendengarkan suara seorang pria yang sukses menghentikan cibiran dan hujatan untuk dirinya itu.
Namun Ayaneru tak sempat melihat siapa pria itu. Karena tepat disaat itu, pintu elevator yang baru saja dia masuki kini mulai tertutup.
Sebenarnya Ayaneru cukup merasa sesak dan sedih karena mendengar kicauan-kicauan dari orang-orang itu. Padahal sebenarnya dirinya juga tidak terlalu muluk untuk menikah dengan Reo. Semua ini dia lakukan hanya semata-mata untuk membahagiakan Leon dan Leona.
Helaan nafas panjang mulai dilakukan oleh Ayaneru saat wanita cantik itu berhenti tepat di depan sebuah ruangan, yaitu ruangan Reo.
Tok ... tok ... tok ...
Ayaneru mulai mengetuk pintu itu.
"Masuk!" titah sang pemilik ruangan mempersilakan masuk.
Ayaneru mulai meraih handle pintu dan membukanya. Reo terlihat sedang melepas coat hitam miliknya dan menggantungkannya pada penggantungan. Sepertinya Reo juga baru saja tiba di kantor.
"Ada apa? Mengapa kamu memanhgilku sepagi ini?" tanya Ayaneru lirih.
"Apa kamu sudah sarapan? Aku hanya ingin mengajakmu sarapan bersama. Kebetulan koki di apartemenku memasak cukup banyak pagi ini. Dan aku membawa lebih ke kantor! Ayo!" ucap Reo memasang senyum lebar dan segera membawa sebuah bingkisan lalu duduk di salah satu kursi sofa di ruangan ini.
"Aku sebenarnya sudah makan ..." ucap Ayaneru berbohong.
Padahal pagi ini dia tidak sempat sarapan karena Ayaneru bangun kesiangan dan tidak sempat memasak. Bahkan Ayaneru meminta tolong lepada Yora untuk menyipkan makan untuk Leon dan Leona.
Dan informasi itu ternyata terdengar oleh Reo, karena diam-diam Yora menyampaikan semua itu kepada Reo.
KRUUYUUKK ...
Perut Ayaneru tiba-tiba saja berbunyi, membuatnya merasa sangat malu dan wajahnya seketika memerah dengan kedua tangan mulai memegangi perut tipisnya, berharap Reo tak akan mendengarnya.
Namun rupanya Reo mendengarnya dan mulai tersenyum tipis.
"Ayo makan dan jangan menolaknya ... ini adalah perintah ..." ucap Reo masih mengulum senyum gemas.
Tak ada pilihan lain, akhirnya Ayaneru mulai mendatangi Reo dan mereka sarapan bersama.