
Lin Chen, sang bos dan seorang preman sudah jatuh tak berdaya, namun Panther lebih memilih untuk mendekati sang bos yang masih mengenakan penutup kepala dan penutup waja.
Pria berkulit hitam yang sedang melakukan penyamaran itu kini memijak dada sang bos yang masih terbaring terlentang. Dia juga sedikit memberikan tekanan saat memijaknya.
"Siapa kamu brengsek?!! Berani sekali kamu melakukan semua ini padaku?!!" ucap sang bos menatap tajam Panther.
Panther tidak menghiraukannya sama sekali, dia malah dengan kasar menarik penutup wajah sang bos dan membuka penutup hodie hitam itu. Terlihat seorang pemuda dengan rambut berwarna keemasan dibalik semua penyamarannya.
"Jay Yeol? Bagaimana bisa?" gumam Reo tak mengerti, karena setahu dia, Jay Yeol masih berada di jeruji sel dan sedang menjalani masa hukumannya.
Jay Yeol masih menatap tajam Panther, dan berusaha untuk melepaskan dirinya. Namun Panther semakin memperkuat pijakannya sehingga membuat dada Jay Yeol sesak dan sakit.
Beberapa preman mulai datang lagi untuk menyerang kembali. Namun Panther dengan gesit menggunakan senjata api laras pendeknya untuk melumpuhkan mereka.
Disaat Panther membidik para preman itu, Jay Yeol menggunakan kesempatan ini untuk meraih sebuah senjata laras api yang masih dia simpan dan mengarahkannya pada Ayaneru.
Mengapa bukan mengarahkannya pada Panther atau Reo? Tentu saja jawabannya sangatlah simple. Yaitu karena Jay Yeol ingin melihat Reo menderita saat melihat orang yang disayanginya terluka atau bahkan mati!
Tar ...
"Neru!!" Reo yang masih terduduk tak berdaya berteriak saat mendengarkan suara tembakan itu mengarah pada istrinya.
Sebuah amunisi panas mengudara dan mengenai tubuh seseorang. Darah segar merembes membasahi pakaian warna gelapnya.
Dia adalah Lin Chen yang sedang berusaha untuk melindungi Ayaneru dengan menjadi tamengnya. Pria bermata sipit itu memeluk Ayaneru yang masih duduk terikat di atas sebuah kursi, sementara punggungnya terkena amunisi panas itu.
"Lin-Lin Chen ..." gumam Ayaneru lirih dan masih sangat syok menyadari semua ini.
Tubuh Lin Chen masih memeluk Ayaneru, namun perlahan mulai merosot dan terduduk bersimpuh di hadapan Ayaneru.
"Neru, maafkan aku. Maafkan aku ... ini semua gara-gara aku. Aku sangat bodoh dan egois. Aku hanya memikirkan bisnis keliargaku saja. Maaf, Neru ..." ucap Lin Chen lirih dan penuh dengan penyesalan.
Reo yang melihat semua ini di depan matanya hanya bisa menahan seluruh amarahnya saja. Biar bagaimanapun kali ini istrinya selamat karena Lin Chen.
Sedangkan Panther segera memijak tangan kanan Jay Yeol dan sedikit menekannya berputar hingga terdengar suara retakan yang berasal dari sana. Jay Yeol mengerang kesakitan karena telapak tangan kanannya kini mungkin mengalami patah tulang.
"Aaakkkhhhhhh ... keparat brengsek!!!!" erangnya menggema seluruh ruangan ini.
Tak puas dengan itu saja, Panther mulai menghujani wajah Jay Yeol dengan tinju bertubinya yang tentunya sangat kuat.
Kepolisian mulai berdatangan dan segera mengamankan para berandalan itu, termasuk Jay Yeol. Karena rupanya dini hari ini Jay Yeol berhasil melarikan diri dari jeruji selnya entah bagaimana caranya.
Sementara untuk Lin Chen, mereka membawanya ke rumah sakit dulu untuk pengambilan peluru. Setelah itu baru membawanya ke kepolisian.
Para pengawal juga mulai datang untuk menjemput Reo dan Ayaneru. Mereka membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, karena khawatir jika ada luka dalam yang serius. Terutama Ayaneru yang sedang hamil pada trimester ketiga.
Setelah melakukan pemeriksaan, tak ada luka serius yang dialami oleh Reo maupun Ayaneru. Hanya saja kening Reo sedikit terluka karena terkena seeangan saat para preman itu mendorong Reo hingga terjatuh dan kini diperban.
"Maaf. Ini semua salahku. Aku selalu saja membuat masalah. Maafkan aku, Sayang ..." ucap Ayaneru merasa sangat bersalah dan meraih jemari Reo.
"Jujur aku sangat marah padamu, Neru. Dan aku juga sangat kecewa padamu. Karena kamu tak pernah mendengarkan dan patuh dengan perintahku. Dan lagi! Semua itu sangat berbahaya! Mengapa kamu selalu saja menyepelekan semuanya?"
Ucap Reo lirih dan benar-benar memasang wajah kecewa. Dia juga mengusap kasar wajahnya terlihat begitu frustasi.
Sebenarnya Reo memang sangat kecewa kepada sikap istrinya, ditambah lagi jika Reo mengingat saat Lin Chen yang memeluk Ayaneru saat itu.
"Maaf ... hiks ... aku salah ... maafkan aku ..." Ayaneru masih tersedu-sedu dalam penyesalannya.
"Kamu istirahatlah. Aku ... akan keluar sebentar." ucap Reo berniat untuk berbalik meninggalkan ruangan ini dan ingin menenangkan dirinya sendiri.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku maunya kamu tetap disini!" tandas Ayaneru kekeh.
Untuk sesaat Reo menghentikan dirinya kembali, karena sebenarnya dia juga tak bisa marah dan kesal terlalu lama dengan istrinya. Ditambah lagi kondisi istrinya saat ini sebenarnya sangat rentan dan tidak boleh stress. Atau akan membahayakan kandungannya.
"Baiklah. Aku tidak akan pergi. Kamu beristirahatlah dulu." ucap Reo akhirnya luluh kembali dan berbalik.
"Kamu jangan marah lagi ya ... aku sungguh sangat menyesal! Aku janji deh, aku tidak akan seperti ini lagi. Aku akan menurut dan padamu. Aku janji!" ucap Ayaneru dengan segala bujuk rayunya.
Reo memejamkan sepasang matanya dan kembali mengusap kasar wajahnya. Dia terlihat sudah sangat lelah.
"Baiklah. Aku tidak akan marah lagi. Sekarang, kamu tidurlah ..." ucap Reo akhirnya.
"Terima kasih, Sayang. Aku janji hal seperti ini tak akan terjadi lagi deh!" Ayaneru menyauti dengan penuh binar, tidak seperti Reo yang masih saja betah memasang wajah datar.
Tiba-tiba saja ekspresi Ayaneru mulai berubah. Dia memegangi perutnya dan seolah sedang menahan rasa sakit.
"Aakhh ... perutku rasanya melilit. Sakit sekali ..." rintih Ayaneru masih memegangi perutnya yang dirasakan sakit olehnya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Reo mulai panik.
"Sakit ..."
"Apakah sudah waktunya?"
"Aku rasa begitu. Rasanya melilit sekali dan seperti ingin buang air besar.."
"Eh? Mau buang air besar ya? Apakah mau aku antarkan ke kamar mandi? Ayo aku antarkan kalau begitu ..." ajak Reo yang malah mengira jika Ayaneru benar-benar ingin pergi ke kamar mandi karena mules.
"Tidak, Sayang. Aku rasa sudah waktunya. Tolong panggilkan dokter ..." ucap Ayaneru lirih dengan nafas naik turun tidak beraturan. Sementara tangannya masih memegangi perutnya.
"Oh ... baiklah. Aku akan segera memanggil dokternya." ucap Reo panik dan segera meraih sebuah tombol kecil yang berbentuk menyerupai sebuah remot dengan sebuah tombil merah besar di tengahnya.
Tak membutuhkan waktu lama, dokter dan beberapa perawat mulai memasuki kamar rawat ini dan segera memeriksa Ayaneru. Sementara Reo masih saja berada di dekat mereka dan tak mau meninggalkan istrinya.