Release Me, Love Me

Release Me, Love Me
Leon Menghilang



Akhirnya pemotretan dengan tema family traveling itu berhasil diselesaikan dengan baik oleh mereka berempat. Bahkan sangat membuat nyonya Lingling merasa sangat puas, karena hasilnya sangat menakjubkan dan alami.


"Semua bisa bersantai dan berlibur masing-masing ya! Kembali ke hotel masing-masing sebelum makan malam. Jika memang berhalangan maka bisa memberikan kabar agar tidak membuat kami khawatir. Karena kalian masih menjadi tanggung jawab kami saat ini!" ucap Reo kepada anak buahnya.


"Dan terima kasih yang sudah bekerja ekstra hari ini. Gaji kalian akan dibayarkan bersamaan dengan gaji bulanan kalian!" imbuh Reo sambil melirik jam tangan super mewahnya yang masih melingkar manis pada pergelangan tangan kirinya , yang rupanya sudah menunjukkan hampir waktu makan siang.


Kini anak buah Reo mulai bubar. Ada yang kembali melanjutkan berjalan-jalan di sekitar tama Trocadero, ada yang segera pergi ke restoran, dan ada juga yang malah menghadang sebuah taxi untuk pergi ke tempat lain.


Sementara Ayaneru, Leon, dan Leona masih saja duduk di salah satu bangku di taman Trocadero sambil menikmati crepes dan es krim yang baru saja Ayaneru belikan untuk kedua buah hatinya.


"Kalian ingin jalan-jalan kemana? Biar mama antarkan." ucap Ayaneru.


"Tidak ada, Ma. Melihat Menara Eiffel saja sudah cukup kok. Iya kan, Kak Leon?" ucap Leona bersangat dan menatap Leon.


Tapi tak sengaja es krim Leona malah jatuh dan meninggalkan noda pada pakaian Leon.


"Ahh ... maafkan aku, Kak Leon! Pakaian kak Leon malah jadi kotor seperti ini." pekik Leona berusaha untuk membersihkan pakaian Leon dengan sapu tangan miliknya.


Namun noda itu masih saja terlihat dan tak hilang.


"Sayang, sebaiknya ganti baju dulu. Kebetulan mama membawakan pakaian ganti untukmu." ucap Ayaneru mulai mengeluarkan pakaian ganti dari dalam tasnya.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan ganti pakaian dulu di dalam mobil, Ma." ucap Leon mulai turun dari bangku itu.


"Sayang mama akan mengantarmu karena tempat parkirnya cukup jauh dari tempat ini. Ayo, Leona sayang! Kita antarkan kak Leon dulu!" ucap Ayaneru yang tentunya tak tega untuk melepaskan Leon pergi seorang diri di Negara asing ini.


Meskipun Leon sangat cerdas, genius dan bahkan Leon juga bisa dengan sangat fasih berbicara dan menggunakan bahasa Internasional, namun tetap saja Ayaneru tak akan pernah merasa tenang jika harus membiarkan Leon pergi seorang diri.


"Tidak, Ma. Aku akan pergi sendiri saja. Mama jangan khawatir. Aku akan segera kembali setelah berganti pakaian kok." ucap Leon meyakinkan sang mama.


Meskipun terlihat ragu-ragu dan sangat berat untuk memberikan ijin kepada Leon, akhirnya Ayaneru mulai mengiyakannya, "Huft ... baiklah. Tapi segera hubungi mama jika ada sesuatu yang terjadi."


"Baiklah, Ma. Aku pergi dulu. Ja ..." ucap Leon segera meninggalkan Ayaneru dan Leona untuk pergi ke lokasi parkiran dimana mobil van itu berada.


Sementara itu dari kejauhan rupanya sudah ada dua orang pria kebulean sudah mengawasi mereka. Sebenarnya sudah cukup lama kedua pria bule itu mengawasi Ayaneru dan kedua anak kembarnya.


"Ckk ... akhirnya kita punya sebuah kesempatan!!" seorang pria kebulean mulai menyeringai licik menatap Leon dari kejauhan.


"Kau benar, Bram!! Ayo kita segera jalankan rencana ini!!" sahut salah satu pria bule lainnya.


"Hhm! Jangan sia-siakan kesempatan ini!! Let's go and do it!" seru ptia bule bernama Bram itu mulai membuntuti Leon sambil mengawasi sekitar.


.


.


.


.


.


Belum sempat Leon berhasil memasuki mobil van itu, tiba-tiba saja seseorang mulai menyekap mulutnya dengan menggunakan obat bius hingga membuat Leon tak sadarkan diri. Baju ganti yang dibawa oleh Leon terjatuh begitu saja.


Kedua pria itu mulai membawa Leon dan memasuki sebuah mobil lain berwarna hitam lalu meninggalkan taman Trocadero ini.


Sementara itu Ayaneru semakin merasa cemas karena sudah cukup lama Leon pergi. Berungkali Ayaneru berusaha untuk menghubungi Leon, namun panggilannya juga tak diangkat oleh Leon.


Hingga akhirnya Ayaneru memutuskan untuk segera menyusul Leon di parkiran bersama dengan Leona. Namun betapa terkjutnya Ayaneru saat dia malah menemukan baju ganti Leon tejatuh tak jauh dari mobil van itu.


Seketika pikiran wanita cantik itu menjadi sangat kacau dan berantakan. Ayaneru tak bisa berpikir dengan jernih karena kini tak mengetahui keberadaan Leon dan bagaimana keadaan Leon saat ini.


"Leon!! Dimana kamu sayang ..." Ayaneru masih berusaha untuk mencari Leon di sekitar tempat parkir dengan menggendong Leona.


Sementara Leona tak pernah berhenti untuk menghubungi sang kakak.


"Leon!! Kamu dimana? Hiks ..." Ayaneru sudah menangis dalam kekalutannya saat ini.


Rasanya seketika dunianya runtuh dan menjadikannya sangat tak berdaya karena kehilangan salah satu anaknya yang selama ini adalah salah satu bagian dari hidupnya. Bahkan sudah seperti layaknya organ tubuhnya.


"Ma, kak Leon sama sekali tak mengangkat panggilanku." ucap LeonĂ  yang tak kalah khawatir.


"Bagaiman ini? Hiks ..." kini Ayaneru sudah terduduk lemah di atas lantai itu. "Leon ... hiks ... maafkan mama ... ini semua salah mama ... hiks ... seharusnya mama menemanimu saat itu. Hiks ..." Ayaneru masih saja menangis dan memeluk Leona.


"Neru, ada apa? Apa yang sedang terjadi?" tiba-tiba mulai terdengar suara seorang pria dari arah belakang Ayaneru.


Ayaneru tak kuasa lagi untuk menjawab pertanyaan dari pria itu, hingga akhirnya pria itu segera menghampirinya dan duduk bersimpuh di hadapannya.


"Neru, katakan padaku ... sebenarnya ada apa?" tanya pria yanga tak lain adalah Reo.


"Paman ... kak Leon menghilang saat dia mau ganti baju." ucap Leona menjelaskan.


Reo mulai mengeraskan rahangnya dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Gavin!! Periksa rekaman CCTV seluruh taman Trocadero ini! Terutama area parkiran! Temukan sesuatu siapa yang sudah menculik Leon!" titah Reo mulai memberikan perintahnya untuk sang asisten pribadinya.


"Leon diculik?" Gavin mulai bertanya dari seberang karena merasa cukup syok.


"Jangan banyak bertanya dan segera lakukan tugasmu dengan baik! Jika kamu berhasil menemukan sesuatu yang berguna, maka aku akan memberikan bonus yang sangat besar untukmu!!" ucap Reo mulai mengakhiri panggilan itu.


"Neru, aku berjanji padamu ... aku akan segera menemukan Leon bagaimanapun caranya! Kamu tetap tenang dan tunggu saja di dalam van bersama Leona. Dan janganlah kamu pergi kemana-mana!" ucap Reo mulai membantu Ayanery untuk berdiri dengan meraih kedua bahunya.


"Tapi, Reo ..." ucap Ayaneru sangat parau, dan masih beruraian dengan air mata.


"Jangan khawatir! Aku akan segera menemukan Leon dan membawanya kembali untukmu! Tak akan aku biarkan hal yang buruk terjadi pada Leon!" ucap Reo meyakinkan Ayaneru.


Dan aku tak akan memberi ampunan untuk mereka yang sudah berani melakukan semua ini!!


Batin Reo mengeraskan rahangnya.