
Ayaneru terlihat cukup bingung untuk menyikapi permintaan Leona kali ini. Karena kondisi keluarganya saat ini sedang tidak memungkinkan mereka untuk pergi meninggalkan Jepang.
"Kita akan pergi ke Swiss!!" tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria dewasa yang begitu jernih dan maskulin, namun tegas dan masih saja mempesona.
Semua orang mulai beralih menatap ke arah snqg pemilik suara. Terlihat Reo yang masih duduk di atas kursi rodanya dan diantarkan oleh Gavin.
"Sayang, kamu sudah pulang." ucap Ayaneru berbinar dan segera bangkit dari tempat duduknya lalu menyambut Reo.
Sementara seorang baby sitter mulai membawa baby Anya untuk ke kamar, karena baby Anya masih tertidur.
"Iya. Tidak banyak pekerjaan di kantor hari ini. Jadi aku pulang cepat." jawab Reo melemparkan senyuman hangatnya untuk istri tercintanya.
Leona juga mulai berlarian mendekati Reo dan melempar dirinya ke dalam pelukannya. Sementara Leon juga mulai mendekat dengan melenggang santai dan cool seperti biasanya untuk menyambut sang papa.
"Papa!! Apakah kita benar-benar akan pergi untuk mengunjungi Swiss?" kali ini Leona mulai bertanya dengan sangat bersemangat dan menatap lekat sang papa.
"Tentu saja, Sayang! Tapi ada syaratnya!" Reo menyauti sambip mengusap lembut kepala putri kesayangannya.
"Apa syaratnya, Papa?" tanya Leona bersemangat.
"Nilai ujian musim panas kamu harus baik dan di atas rata-rata ya! Dan kamu juga harus masuk 10 besar di kelas ya! Dan jika kamu bisa melakukannya, papa janji deh. Kita akan kesana berlibur." ucap Reo masih mengusap lembut kepala Leona.
"Horee!! Asyikkkk!! Itu sih mudah, Papa! Aku akan mendapatkan nilai yang bagus deh nanti!! Hehe ..." jawab Leona penuh keyakinan.
"Benarkah? Kalau begitu bagus deh. Ijian musim panas tinggal tiga bulan lagi! Jadi kamu harus semangat ya!"
"Okay, Papa!! Aku akan berusaha sebaik mungkin! Meskipun aku tak akan penah mendapatkan nilai sebagus kak Leon sih. Hehe ..." ucap Leona meringis lebar.
"Tidak masalah kok. Asalkan masuk 10 besar saja dengan nilai di atas rata-rata, maka papa akan mengabulkan keinginanmu deh!"
"Okay, Papa!"
"Baiklah. Sekarang belajarkah di kamar bersama kak Leon. Karena mempersiapkan semuanya dengan matang di jauh-jauh hari akan semakin lebih baik."
"Okay, Pa! Ayo, Kak Leon!! Kita belajar bersama! Sebentar lagi kita juga akan masuk ke sekolah dasar lo, Kak!" ucap Leona mulai mendatangi Leon untuk mengajaknya ke kamar dan belajar bersama.
"Hhm. Okay deh! Ayo! Kakak juga akan membantumu belajar deh!" Leon menyauti dan segera pergi bersama Leona ke kamar.
"Gavin, kamu sudah boleh pulang." ucap Reo pelan, dan wajahnya mulai terlihat lelah.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit. Selamat beristirahat, Tuan Reo. Selamat beristirahat, Nyonya Ayaneru." ucap Gavin membungkukkan badannya dan bergegas untuk segera pergi.
"Gavin, tunggu!" sergah Ayaneru dengan cepat sebelum Gavin meninggalkan apartemen mereka. "Tunggu sebentar!" imbuh Ayaneru meninggalkan mereka berdua untuk pergi ke dapur.
Setelah beberapa saat, Ayaneru sudah kembali lagi dengan membawa sebuah rantang stainles yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah kantong.
"Aku tadi memasak kari ayam cukup banyak. Bawakan ini untuk istri dan putrimu." ucap Ayaneru dengan ramah sembari menyodorkan bingkisa beraroma harum dan gurih itu untuk Gavin.
"Eh? Te-terima kasih, Nyonta Ayaneru." sahut Gavin sembari menerimanya. "Kalau begitu saya permisi ..." imbuh Gavin lagi lalu membungkukkan badannya lagi dan segera meninggalkan apartemen mereka.
"Lalu makan malam untukku mana, Sayang? Apa kamu hanya memberikannya untuk Gavin saja? Huhh!! Istriku yang cantik ini jahat sekali pada suaminya sendiri!" tanya Reo menyipitkan sepasang matanya menatap Ayaneru dan sedikit mendengus kesal.
"Eh? Tentu saja aku juga sudah menyiapkan untukmu kok. Ayo kubantu membersihkan diri dan berganti pakaian dulu, baru aku akan menemanimu makan malam." ucap Ayaneru mulai berdiri di belakang Reo dan mendorong kursi roda Reo.
Sebenarnya Ayaneru sangat keberatan untuk memenuhi permintaan dari Reo. Namun karena Reo sangat memaksa, akhirnya tak ada pilihan lain hingga Ayaneru menurut saja.
Setelah beberapa saat Reo mulai memanggil Ayaneru kembali dan mengatakan jika dia sudah menyelesaikan ritual mandinya. Ayaneru mendatanginya kembali dan membantunya untuk keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kursi roda lagi. Ayaneru juga mulai membantu Reo untuk mengenakan pakaian santainya.
"Kita turun lagi yuk! Aku akan menemanimu untuk makan malam." ucap Ayaneru sudah kembali meraih pegangan kursi roda itu lagi.
Namun Reo malah menyentuh pergelangan tangannya dan mendongak menatapnya.
"Tidak, Sayang. Aku sudah makan sebelum aku pulang tadi kok bersama Gavin. Aku tadi hanya sedang menggodamu saja kok." ucap Reo tersenyum tipis.
"Eh? Benarkah itu? Apa tidak mau makan lagi? Barangkali kamu lapar lagi, Sayang?"
"Jika mau makan malam lagi, aku maunya makan malam yang spesial, Sayang." ucap Reo mengulum senyum menatap istrinya.
"Makan malam yang spesial? Apa itu? Katakan saja padaku ... aku akan memasaknya untukmu. Atau aku akan memesannya jika kamu menginginkan masakan restoran." ucap Ayaneru memasang wajah polosnya.
"Aku maunya memakan kamu, Sayang. Aku rindu sekali. Sudah lama sekali kita tidak melakukannya." ucap Reo malah menarik Ayaneru hingga membuat Ayaneru terduduk di pangkuannya.
Wajah Ayaneru seketika mulai merona karena tersipu malu karena tiba-tiba saja mendapatkam perlakuan manis dari Reo.
"Sa-sayang ... kakimu sedang sakit. Mengapa malah membuatku terduduk di pangkuanmu? Bagaimana jika kakimu malah akan menjadi semakin parah? Ak-aku akan bangun ..."
Ucap Ayaneru berusaha untuk bangun kembali, namun Reo malah menahan tubuhnya dan tak melepaskan Ayaneru, hingga Ayaneru masih saja tetap beeada di atas pangkuannya.
"Aku akan baik-baik saja kok. Aku rindu sekali ..." ucap Reo semakin mendekakatkan tubuh Ayaneru padanya dengan menarik pinggangnya.
"Hhm? Maka dari itu kamu harus rajin untuk minum obat dan tidak boleh bolos untuk terapi. Agar kamu bisa segera pulih kembali. Aku janji, aku akan selalu melayanimu dengan baik saat itu. Kapanpun kamu mau dan menginginkannya ... aku akan memberikannya ..." ucap Ayaneru semakin merona.
"Benarkah itu?" tanya Reo setengah berbisik dan mengatakannya tepat di dekat telinga Ayaneru.
"Ehm ... tentu saja." balas Ayaneru lirih.
"Kalau begitu, sekarang lakukan sebisanya saja yuk!" dengan pandangan penuh harap Reo berkata.
"Lakukan sebisanya? Mmmm-maksudnya?"
"Berpelukan, berciuman, dan bermesraan saja juga tidak masalah kok. Bagaimana?"
"Eh? It-ituu ..."
Bersambung ...
...🍁🍁🍁...
Hari ini bonus visual baby Anya ya ...