
Keesokan harinya Leona dan Leon sudah bersiap untuk menyambut Ayaneru dan Reo yang akan pulang hari ini. Mereka terlihat begitu tidak sabaran untuk segera bertemu, karena sudah beberapa hari ini tidak bertemu.
Namun betapa terkejutnya kedua anak kembar ini ketika melihat papanya datang dengan duduk di atas kursi roda, dan didorong oleh sang mama. Senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah mungil Leona kini mulai memudar berhanti dengan penuh tanda tanya.
Bahkan Leon yang sejak dari tadi memasang wajah datar, kini juga mulai kebingungan dan khawatir saat melihat papanya berada di atas kursi roda.
"Pa-papa ... papa kenapa? Mengapa papa duduk di atas kursi roda dan didorong sama mama seperti ini?" tanya Leona mulai berlari kecil medekati papa dan mamanya.
"Ada apa dengan kaki papa? Papa tidak sedang sakit kan?" imbuh gadis kecil itu yang kini sudah berdiri di hadapan Reo dan menatapnya lekat.
Sementara Reo hanya tersenyum dan mengusap kepalanya dengan lembut, "Papa hanya merasa sedikit lelah dan ada saraf yang sedang terlilir yang membuat papa tidak bisa berjalan dengan wajar. Jadi dokter menyerankan untuk waktu-waktu ini papa harus menggunakan kursi roda."
"Yah ... apa rasanya itu sakit, Pa?" tanya Leona dengan memasang wajah cemberut karena mengkhawatirkan sang papa.
"Tidak sakit kok. Doakan saja agar papa bisa segera pulih ya, Leona sayang." ucap Reo masih tersenyum hangat dan kembali mengusap lembut kepala Leona.
Apa papa benar-benar sedang terkilir? Hhm? Aku rasa jika terlikir biasa, maka tidak akan separah ini. Uhm ... mungkin saja sih. Tapi sepertinya mama dan papa memang sedang menyembunyikan sesuatu dari kita. Tapi apa ya? Hhmm ...
Batin Leon memicingkan sepasang matanya menatap Reo dari kejauhan, menatap penuh dengan kecurigaan.
"Hhm. Iya, Pa. Oh iya kami membawakan beberapa oleh-oleh untuk kalian. Sayang, mana oleh-oleh untuk anak-anak?" tanya Reo sedikit memiringkan dan mendongakkan wajahnya ke belakang menatap Ayaneru.
"Oh iya, para pengawal sedang membawakannya kemari. Sebentar lagi mereka juga akan dat ..."
Belum sempat Ayaneru melanjutkan ucapannya, bel rumah mereka mulai berbunyi.
"Nah itu dia. Tunggu sebentar. Mama akan mengambilnya dulu." ucap Ayaneru lagi lalu bergegas untuk membukakan pintu.
Dan benar saja, rupanya yang datang adalah salah satu pengawal yang membawakan beberapa bingkisan oleh-oleh. Ayaneru segera kembali lagi dan memberikan bingkisan itu untuk Leon dan Leona.
"Ini buat kalian, Sayang. Beberapa baju, mainan, dan makanan. Semoga kalian suka ya ..." ucap Ayaneru.
"Pa, aku ingin memperlihatkan program buatanku kepada papa. Apakah papa memiliki waktu sebentar saja untuk melihatnya?" tanya Leon tiba-tiba.
"Leon sayang, bagaimana kalau melihat program barunya nanti saja? Papa kalian harus segera beristirahat, agar bisa segera pulih kembali." sela Ayaneru karena khawatir jika Reo akan merasa kelelahan.
"Hhm? Tidak masalah kok, Sayang. Aku masih ingin bersama anak-anak kok. Kamu temani Leona dulu ya." jawab Reo dengan senyum hangatnya. "Tentu saja, Leon. Ayo! Papa akan melihatnya!" imbuhnya mulai menggerakkan kursi rodanya ke arah Leon, lalu mulai menuju ke kamar Leon.
Sesampainya di kamarnya, Leon mulai mengaktifkan mini computer miliknya, dan membuka salah satu aplikasi bahasa pemrogramannya.
"Kamu membuat program apa, Leon sayang?" tanya Reo merasa begitu bangga, karena putra kecilnya yang masih berusia belum genap 5 tahun sudah bisa membuat sebuah program komputer.
"Hanya sebuah game perang, Pa. Aku bosan dan iseng saja membuatnya kemarin saat papa dan mama tidak ada di rumah." sahut Leon mulai menyodorkan mini computer itu untuk Reo, untuk memperlihatkan maha karyanya kepada sang papa.
Memang benar-benar putraku! Dia begitu cerdas luar biasa! Rasanya sepertisedang melihat duplikatku versi anak-anak saja.
Batin Reo masih memeriksa mini computer milik putranya.
"Pa ... aku tau papa sedang berbohong pada kami. Mengapa papa tidak jujur saja pada kami jika papa telah mengalami semua ini? Apa papa sama sekali menganggap kami adalah orang lain?" ucap Leon tiba-tiba yang cukup membuat Reo terkejut.
"Leon, apa yang sedang kamu bicarakan?"
"Papa bukan hanya terkilir, papa sama sekali tidak bisa menggerakkan kaki papa bukan? Papa mengalami kelumpuhan? Leona mungkin saja bisa percaya begitu saja dengan ucapan papa dan mama, namun tidak untukku. Aku sudah tau semua, Pa." ucap Leon lagi.
Reo seketika membeku dan bingung harus berkata apa, karena Leon memang terlalu genius untuk anak seusianya. Bahkan untuk mengelaknya lagi sudah tidak bisa.
"Leon, maafkan papa. Tapi papa dan mama melakukan semua ini karena kami tidak ingin membuat kalian merasa bersedih dan khawatir. Maafkan kami, Sayang. Kami bukan tidak mau untuk jujur dengan kalian ... maaf ..." ucap Reo lirih dan berharap putranya tidak lagi merasa kesal dan marah kepadanya.
"Siapa yang melakukan semua ini, Pa? Apa papa dicelakai oleh seseorang? Ataukah hanya kecelakaan biasa?"
"Tenang saja, Leon. Papa sudah mengurus semuanya dan papa juga sudah mengetahui siapa orangnya. Yang terpenting sekarang adalah papa harua fokus untuk pengobatan dan terapi."
"Benar! Papa harua segera pulih kembali! Aku ingin bermain ke pantai bersama papa lagi!"
Reo tersenyum hangat dan mengusap lembut kepala putranya, "Baik, Sayang! Papa akan segera pulih!"
...🍁🍁🍁...
Seorang pria berambut keemasan yang masih lengkap dengan atribut tahanan, terlihat sedang mengamuk di kamar penjaranya. Dia membanting dan membuat semua benda yang ada di tempat itu menjadi semakin berantakan dan kacau.
"Sialan!! Si miskin brengsek itu benar-benar tidak bisa bekerja dengan baik!! Bisa-bisanya dia mengatakan semua itu kepada Reo dan anak buahnya!! Percuma saja aku memberikan banyak uang untuknya! Dasar bodoh!!" geramnya dipenuhi dengan amarah yang sudah semakin semakin menggunung hingga membuat wajah putih kebuleannya memerah padam.
"Gara-gara keparat sialan itu hukumanku semakin bertambah!! Dan tidak tau kapan aku akan dikeluarkan dari neraka ini!! BRENGSEKKKK!!!"
DUUAKKK ...
Lagi-lagi dia menendang sebuah meja kayu kecil yang berada tak jauh darinya. Namun tiba-tiba saja dia mulai menarik sudut-sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai menakutkan.
"Lihat saja!! Apa yang akan bisa dilakukan oleh orang cacat sepertimu! Kau tak akan banyak bisa melakukan apa-apa dengan tubuhmu itu!! Kau bahkan sudah tak akan bisa lagi menyentuh istrimu sendiri. Gyahahaha ..." pria itu tertawa menggelegar memenuhi kamar tahanannya.
Sementara teman sekamarnya hanya bisa terdiam dan tak berani untuk melawannya.
...🍁🍁🍁...