
"Tidak kok. Ini bukan soal yang terjadi di kantor. Dan ini bukan salahmu." jawab Ayaneru tersenyum lebar agar tak membuat Reo khawatir jika mendengarkan apa yang telah terjadi saat di sekolahan Leon dan Leona.
"Tidur yuk! Kamu pasti lelah setelah seharian bekerja." ucap Ayaneru sembari berdiri dan pindah duduk di atas pembaringan tepat di samping Reo.
"Mau aku pijitin?" imbuh Ayaneru lagi yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Selalu tegar, ceria, kuat dan ramah.
"Tidak perlu, Sayang. Kamu pasti juga lelah. Istirahatlah ..."
"Hhm." Ayaneru berbaring dan memeluk tubuh Reo.
Menenggelamkan kepalanya di dekat dada bidang sang suami dan mendengarkan ritme teratur yang membuatnya merasa lebih tenang.
"Sayang, seberapa besar kamu mempercayaiku?" tanya Ayaneru tiba-tiba terdengar sedikit ragu-ragu.
"Hhm? Tentu saja aku sangat mempercayaimu melebihi apapun, Sayang." jawab Reo berusaha untuk bersikap seperti biasanya.
Padahal sebenarnya pertanyaan dari Ayaneru cukup membuatnya merasa bingung dan curiga jika sang istri sudah mengetahui sesuatu mengenai berita yang sempat beredar di sosial media tadi pagi.
"Benarkah itu? Terima kasih, Reo ..." sahut Ayaneru semakim menenggelamkan kepalanya di dekat dada bidang itu, dia juga semakin memeluknya erat.
Seakan tak pernah ingin melepaskannya sama sekali.
"Jangan pikirkan apapun lagi dan tidurlah. Besok aku akan membawamu ke suatu tempat."
"Kamu tidak pergi bekerja?"
"Aku akan pergi menemui klien di pagi hari, kamu menunggi saja di rumah. Karena aku tak akan lama kok."
"Hhm. Baiklah ..."
Reo mengusap lembut kepala Ayaneru dan sesekali mengecup kening sang istri. Pelukan dan semua ini terasa begitu manis dan membuat Ayaneru semakin merasa nyaman. Bahkan kegelisahannya seketika lenyap dan dia mulai tertidur.
Aku akan mengurus sesuatu dulu esok! Tak ada seorang pun yang bisa luput dariku setelah berani membuat masalah padaku! Aku akan segera mengurusnya!!
Batin Reo menatap nyalang lurus ke depan, lalu dia mulai memejamkan sepasang matanya dan ikut tertidur bersama Ayaneru.
...🍁🍁🍁...
Di dalam sebuah gudang tua, Reo mendatangi tempat itu diantarkan oleh Gavin. Seperti biasa, di dalam ruangan itusudah ada seorang wanita paruh baya yang berdiri dengaan didampingin oleh dua orang pria yang merupakan anak buah Reo
Wanita paruh baya itu menunduk dengan tubuh yang sudah gemetaran saat melihat kedatangan Reo. Bahkan untuk menatap wajah Reo saja seakan dia tidak memiliki nyali.
"Bibi Yuri!" tandas Reo menatap wanita paruh baya yang pernah bekerja menjadi seorang cleaning service di F Group beberapa saat yang lalu. "Apa bibi Yuri tau alasan mengapa aku memanggil bibi datang kemari?" imbuh Reo memicingkan sepasang matanya.
"Ti-tidak, Tuan." sahut wanita paruh baya itu masih menunduk dan gemetaran.
"Gavin! Perlihatkan!!" titah Reo.
"Baik, Tuan." Gavin menyauti dengan patuh dan segera mengeluarkan sebuah tablet dan memutarkan sebuah rekaman video lalu memperlihatkannya untuk wanita paruh baya itu.
Sebuah rekaman video mulai dimainkan membuat sepasang mata wanita paruh baya itu membelalak membulat sempurna dan seketika wajahnya menjadi pucat pasi.
Mendengar kata penjara, membuat wanita paruh baya itu semakin gemetaran. Karena saat ini dia masih harus menjaga dan menghidupi cucunya yang masih berusia cukup kecil. Sementara dia tak memiliki anggota keluarga lainnya.
Karena dia adalah seorang janda, sementara anak dan menantunya malah meninggalkan putri mereka begitu saja dengan alasan bekerja, namun malah sampai sekarang tidak pernah pulang kembali, bahkan sudah tidak pernah menghubunginya.
"Katakan padaku sebelum aku menghubungi seorang polisi untuk menjemput bibi Yuri!!" tandas Reo kembali semakin menekankan ucapannya.
"To-tolong jangan lakukan itu, Tuan Reo. Cu-cucuku tidak punya siapapun kecuali aku. Jika aku dipenjara, la-lalu bagaimana dengan cucuku? To-tolong jangan lakukan itu, Tuan Reo ..." pinta wanita paruh baya itu mulai duduk bersimpuh di hadapan kaki Reo.
Di dalam hidupnya saat ini, sang cucu adalah satu-satunya harta yang paling berharga untuknya. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi cucunya. Bahkan dia mendapatkan uang dengan nominal yang sangat besar dengan pekerjaan mencelakai Ayaneru beberapa hari yang lalu adalah untuk biaya oprasi sang cucu yang rupanya juga mengidap sebuah penyakit.
"Maafkan aku, Tuan Reo. Aku memang salah ... maafkan aku. Tapi tolong jangan pisahkan aku dengan cucuku ..." imbuh wanita paruh baya itu sudah beruraian dengan air mata dan terlihat sangat menyesal.
"Hhhm? Aku akan mempertimbangkannya setelah kamu menjawab beberapa pertanyaan dariku. Sekarang katakan padaku siapa yang menyuruhmu melakukan semua ini!!" tanya Reo masih memicingkan sepasang matanya.
"O-orang itu adalah ..."
Belum sempat wanita paruh baya itu menjawab pertanyaan Reo dengan sempurna, tiba-tiba saja ponsel Reo berdering. Reo mulai meraih benda pipih itu dari saku jas hitamnya dan melihat siapa yang sedang berusaha untuk menghubunginya saat ini.
Namun rupanya yang menghubunginya adalah sebuah nomor baru. Tanpa pikir panjang, Reo segera mengangkat panggilan itu.
"Mr. Rei ... apa kabar?" sebuah suara seorang pria diiringi dengan tawa menyebalkan mulai terdengar dari seberang line.
Reo sama sekali tak mengenali suara itu, karena pria itu menggunakan sebuah alat voice changer untuk menyamarkan suaranya.
"Siapa kamu?!" tanya Reo mulai waspada.
"Aku? Ahahaha ... jika kamu penasaran datanglah kesini secepatnya! Disini istri tercintamu juga sudah menunggumu lo ..." ucap sosok pria misterius itu.
"Apa maksudmu?! Jangan main-main denganku! Karena aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladenimu!" tandas Reo berniat untuk mematikan panggilan itu.
Namun diaaat itulah Reo malah mendengarkan rintihan Ayaneru seperti sedang menahan rasa sakit.
"Arrgghhh ..."
Suara itu terdengar samar-samar oleh Reo dan membuat Reo mengurungkan niatnya untuk mengakhiri panggilan itu.
"Bicaralah dengan suamimu!! Ayo bicaralah!!" terdengar suara pria misterius itu lagi disertai pekikan lirih Ayaneru.
"Neru!! Apa itu kamu?! Neru ... jawab aku!!" ucap Reo mulai merasa khawatir dan cemas bukan main.
"Re-Reo ... maaf ... aku tidak mematuhimu untuk tetap di rumah. Aku tadi keluar rumah sendirian dan diam-diam untuk membeli kue ... karena tiba-tiba saja aku menginginkannya. Ma-maaf ... aku salah. Hiks ..." ucap Ayaneru sesegukan dan terdengar sangat ketakutan.
"Ne-Neru ... aku mohon padamu untuk tetap tenang ... aku akan segera datang untuk menjemputmu jangan khwatir ..." ucap Reo berusaha untuk menenangkan sang istri.
SRRTT ...
Pria misterius itu terdengar merebut ponsel dari Ayaneru dengan kasar.
"Aku akan mengirimkan orang untuk menjemputmu sekarang juga!! Datanglah seorang diri tanpa seorang pengawal!! Dan ingat jangan biarkan anak buahmu mengikutimu!! Atau nyawa istri sekaligus bayi ini akan melayang!!" ancam pria itu lalu mengakhiri panggilan itu.