
Vezia membanting tubuhnya kekasur ayahnya,setelah ayahnya telah keluar,matanya menatap keluar jendela.
Draxy,dan Goldy keluar dari ruang dimensi miliknya dengan wujud manusia.Mata mereka memandang Vezia dengan tajam.
Vezia sesegera mungkin duduk,walaupun mereka partnernya tapi baginya mereka berdua keluarganya jadi dia akan menerima amarah kedua hewan suci dihadapannya.
"Kamu tahu kami sudah berbaik hati memberi dia waktu untuk membuktikan jika dirinya layak,tapi sepertinya menantang kami adalah bakatnya"Owch...saat ini mereka benar marah,terbukti bicara mereka tidak lagi formal.
"Dia sama sekali tidak terlihat ingin berjuang untukmu,sepertinya yang selama ini dia rasakan hanyalah obsesi semata untuk memilikimu"suara Draxy begitu dingin.
Sebenarnya Vezia tahu jika Randy memang tulus mencintainya.
"Tidak dia tulus mencintaiku"Vezia mengangkat pandangannya dan menatap Draxy dan Goldy.
Draxy dan Goldy berdecih,Drxay mencengkram dagu Vezia membuat Vezia meringis.
"Jadi jika dia tulus kamu akan membalasnya begitu hmm.Kamu benar ingin melihat nya hancur atau sekalian saja bersama kerajaannya"Vezia menggeleng.
"Tidak aku tidak memiliki minat,hatiku terlampau beku dengan segala hal yang menyangkut cinta kepada lawan jenis"Vezia membiarkan saja Draxy mencengkram dagunya,karena dirinya dapat mengontrol rasa sakit.
Draxy melepas cengkramannya dan memeluk Vezia.
"Maafkan kami master tapi ini demi kebaikanmu"ucap Draxy dan Goldy.Vezia mengangguk mengerti.
"Master,sebenarnya anda sudah mendapat ramalan akan menikah dengan Raja Malaikat,tapi jika anda ingin menolak itu bisa"ucap Goldy.Vezia tidak terkejut sama sekali,seperti hal biasa.
"Aku tidak tertarik,aku hanya akan membunuh Raja Iblis dan kembali ke keluargaku"ucap Vezia dingin.Matanya menelusuri kearah taman belakang kamar ayahnya.
Draxy dan Goldy mendekati Vezia mengecup dahi Vezia secara bergantian.
"Apapun keputusan anda menjadi keputusan kami,selama anda bahagia"ucap Draxy.Vezia menatap mereka seraya memberi seulas senyum tipis,Draxy dan Goldy kembali masuk ruang dimensi.
Vezia seakan kehilangan gairah hidupnya,dia tidak masalah sama sekali dengan keluarganya yang terlewat OverProtective dan OverPosesif,dia tidak tertekan sama sekali.
Tapi yang membuatnya takut adalah jika Randy melakukan hal lebih nekat.Jika ingin dikatakan dari awal Vezia tidak pernah peduli dengan perasaannya,ingat Vezia Ratu iblis yang hanya memiliki perasaan kepada keluarga dan orang yang disayanginya.Dan untuk Randy,Randy adalah kakak nya Felly sahabat Vezia,jadi mau tidak mau Vezia akan melindungi Randy karena Vezia tidak mau Felly bersedih karena kehilangan kakaknya.
Untungnya masalah hari ini Randy hanya di beri pukulan saja,jika dibunuh entah apa yang akan terjadi nantinya.Bahkan Vezia yakin ayahnya tidak masalah jika akan memulai perang dengan kerajaan lain jika menyangkut dirinya.
"Zio,Zen,Zoy,Shouto!"telepati Vezia mendengar Ratu mereka memanggil mereka yang sudah memegang batu teleportasi dengan cepat datang.
Memberi hormat kepada Vezia.
"Berdirilah,temani aku"mereka yakin Ratu mereka sekarang sedang dalam mood tidak baik.
Mereka baru sadar jika ini bukan kamar Vezia.
"Bagaimana dengan kehancuran nya?"Suara Vezia yang dingin,pandanganya tetap kearah depan,Zio tahu pertanyaan itu untuknya.
"Pasukan kita sudah dalam proses menghancurkan mereka,mungkin sore nanti akan selesai"Vezia mengangguk mendengar laporan Zio.
Suasana hati Vezia berdampak pada Zen yang jelas adalah Demon ciptaannya.
"Queen,apa anda baik baik saja"pertanyaan Zen membuat Vezia sadar jika dampaknya akan berimbas kepada Zen dan demon lainnya,bisa Vezia pastikan para Demon yang ada pasti mengamuk,untungnya Zen ada didekat Queen mereka sehingga dapat menahan hasrat ingin membunuh.
Vezia berusaha membuat mood nya kembali baik,dengan makan coklat tentunya,cincin penyimpanan senantiasa diisi dengan makanan,jadi mood Vezia sudah berangsur angsur membaik membuat Zen menghela napas lega.
Vezia menyuruh mereka duduk dan memberikan mereka cemilan.
"Bagaimana dengan keadaan adik mu Shouto?"tanya Vezia.
"Tamaro-chan baik baik saja Ratu untungnya dia berpikiran dewasa jadi dia mengerti jika kami memang harus meninggalkan Istana"ucap Shouto,dirinya asik sesekali memakan cemilan.
"Baiklah lain kali bawa Tamaro-chan menemuiku"Shouto tersedak mendengar panggilan Vezia untuk Tamaro,hey yang benar saja dia lebih dulu bersama Vezia tapi Tamaro adiknya lah yang lebih dulu mendapat nama panggilan akrab.
"Yak Queen,kenapa memanggil Tamaro,dengan embel embel chan seolah dia lebih dulu akrab dengan anda dibanding saya,itu tidak adil"Vezia terkekeh geli melihat reaksi Shouto.
"Kau seperti anak kecil Shouto dia itu adikmu"ucap Vezia.
"Tapi.."
"Yayaya,aku akan memanggilmu Shouto-Kun kau puas sekarang"Vezia terkekeh geli melihat wajah memerah Shouto.
"Tentu Vezia-Sama"Zen,Zoy,dan Zio geleng geleng kepala melihat sikap Shouto.
Mereka tidak banyak bicara,karena saking asiknya makan.
"Kalian ini seperti tidak pernah makan saja,bukankah sudah kusediakan diistana dan mansion"ucap Vezia melihat mereka makan begitu lahap.
"Heheh maaf Ratu,Cemilannya kelewat enak sih,jadinya semuanya sudah habis"Vezia dibuat tepuk jidat mendengar ucapan santai Zoy.
"Astaga kalian ini,aku akan teleportasi mengisinya kembali,dan pastikan kalian mengiritnya,karena jika tidak jangan harap kalian mendapat jatah makan selama sebulan"Mereka berempat tersedak secara bersamaan.
"Baik Ratu"
Vezia sedikit terhibur dengan adanya mereka berempat.
Holla guys.
Jangan lupa dukungannya...