
Ketika malam tiba,seperti yang dimintai Vezia.Keenam muridnya itu telah kembali berkumpul didepan sebuah ruangan pintu besar berwarna abu-abu suram dan memancarkan aura ngenesnya bukan baik tapi membawa firasat buruk bagi mereka.
Ketika mendengar suara melangkah kearah mereka,secara serempak mereka berbalik dan membungkuk kearah Profesor mereka.
"Sebelum kalian bertanya apa yang ada didalam sana,aku akan menjelaskan siapa aku.Kalian baru pertama kali bertemu denganku,kenalkan aku adalah Tamaro dan jika kalian pernah mendengar namaku yah aku adalah seorang Pangeran dari Benua Vroz untuk alasannya mengapa aku disini kalian tidak perlu tahu,yang penting aku adalah salah satu kepercayaan Profesor kalian,usiaku baru 19 tahun jadi kalian tidak perlu formal padaku"Tamaro menatap satu persatu ketika dia telah menerima anggukan mengerti baru melanjutkan penjelasannya.
"Seperti yang dikatakan Ratu kalian akan belajar apa itu namanya bertahan hidup,walaupun aku tahu bagi kalian laki-laji sudah pernah merasakannya tapi tahapan yang kalian terima disini sangat berbeda dengan yang kalian terima dulunya sebagai seorang Pangeran.Dibalik pintu ini adalah dunia buatan,tepatnya kalian akan bertahan hidup di hutan buatan sihir Ratu.Kalian tidak perlu cemas walaupun ini adalah buatan tetapi didalamnya memiliki hewan dan musuh sungguhan"Tamaro menyeringai setan melihat 5 diantara mereka memucat drastis mendengar itu.
"Kalian akan hidup didalam sana selama satu bulan sebagai uji coba bertahan hidup,seperti yang diajari Ratu kalian harus bisa menerapkan dengan baik selain itu juga,kalian akan dilatih kekompakan dalam kelompok yang berarti ini juga merupakan latihan tim,dan ingat jika!!"Dengan senyum misterius Tamaro mengangkat satu jarinya.
"Salah satu diantara kalian lalai dalam tugas atau kalian melupakan teman kalian untuk melakukan kerja sama tim orang yang akan melanggar akan mendapat hukuman dan juga akan dikeluarkan dari tim bahkan jika perlombaan akan diadakan keesokan harinya,sampai sini kalian mengerti?"
"Mengerti!"
"Bagus,ada pertanyaan?"Rose dengan berani mengangkat tangannya.
"Ya silahkan apa yang ingin ditanyakan gadis manis ini"Vezia mendengus dan memutar mata dengan godaan Tamaro yang membuat Rose memerah malu.
"Anda mengatakan jika kami akan berada didalam selama sebulan tapi bukankah perlombaan kami tinggal beberapa hari lagi"
Tamaro tersenyum kearah Rose sebelum menjawab,"Kalian tidak perlu khawatir,Ratu kita tidak disebut kuat dan pandai tanpa alasan.Waktu yang dimiliki ruangan itu dan dunia luar telah dibedakan sehingga kalian tidak perlu khawatir berapa lama waktu yang kalian habiskan didalam.Yang perlu kalian khawatirkan adalah bagaimana caranya agar tetap keluar dengan hidup,karena tak sedikit yang pernah memasuki ruangan ini dapat keluar dengan hidup dan bahkan hanya tertinggal sebagai bangkai didalam"Ucap Tamaro tanpa belas kasihan bahkan ketika melihat ketiga gadis disana nyaris akan jatuh mendengar ucapannya yang blak-blakan.
Vezia kemudian berbicara menarik perhatian mereka,"Aku tidak mentolerir kegagalan,dari sini aku ingin tahu seberapa jauh kalian mampu.Sebelum kalian masuk kesana aku ingin kalian memikirkan bagaimana bertahan,waktu yang diberikan 5 menit dari sekarang.Sudah atau tidaknya kalian,secara paksa pintu akan terbuka menarik kalian masuk"setelah ucapan bernada dingin itu Vezia meninggalkan mereka dengan Tamaro yang mengekor dibelakang.
Begitu melihat Profesor mereka pergi mereka terdiam saling melirik,Rayyen berdehem."Kita tidak bisa merencanakannya ketika kita tidak tahu bahaya apa saja didalam,tapi yang pasti kita harus bisa bekerja sama memastikan kita tetap hidup hingga kita keluar.Aku berharap kita semua dapat bekerja sama"
"Uhm aku..aku juga mohon bantuan kalian semua"disisinya seorang pemuda yang terlihat agak penakut dan pemalu membungkukan badannya.
Mereka semua saling mengangguk dan berbalik menunggu pintu terbuka,yang tak butuh waktu lama semenit kemudian pintu terbuka dan seperti ada sebuah tangan mereka secara tiba-tiba tertarik masuk.
Begitu mereka semua terlempar dan mendarat diatas apa yang mereka tebak sebagai rumput hal pertama yang mereka lihat ketika membuka mata adalah langit biru terbentang dengan beberapa pepohonan hijau yang suram diatas kepala mereka.
Ketika mereka masih melihat sekitar dengan antisipasi sebuah layar terlihat didepan mereka,disana mereka melihat pemuda yang tadi memperkenalkan diri sebagai Tamaro melambai dengan antusias.
"Aku hanya memberi kalian peringatan,setiap setelah 10 hari pelatihan zona aman akan menyusut yang berarti jika kalian keluar dari zona aman kalian otomatis akan keluar dari ruangan,semakin kecil zona aman kalian akan mendapat tantangan semakin berat,jadi semoga berhasil teman-teman!!"Ketika Tamaro mengakhiri ucapannya,layar mati dan sebuah suara dingin yang menginstrupsi jika permainan dimulai.
Disisi itu juga Vezia yang melihat bagaimana mereka bermain hanya mampu tersenyum,dia sudah lama tidak melihat seseorang memasuki sangkar kematiannya.Vezia sebenarnya terinspirasi melakukan ini ketika dia mengingat sebuah film disaat masa di dunianya pertama.Film berjudul 'The Hunger Games' dengan seorang gadus bernama Katniss Everdeen sebagai peran utama,yang menceritakan tentang gadis bernama Katniss dipilih untuk mengikuti games disebuah dunia buatan melalui alat-alat teknologi buatan manusia.
Yang tentu saja rintangan yang dimiliki didalam sangkat kematian milik Vezia lebih berbahaya karena semuanya terbuat dari sihir.
Zero dan Jeno yang sudah lama saya lupakan juga ikut andil untuk menonton kesenangan saat ini tersaji didepan mereka.Sebenarnya target utama Vezia sehingga mau mengambil resiko memasukan anak-anak ini kedalam sana adalah Rayyen,setiap Guardian Angel yang telah ditemui Vezia tidak lepas yang namanya dari sangkar kematiannya.
"Dek,bagaimana gelang yang kamu cari?"
Vezia menatap keatas dan mengangguk,"Sudah,Allena sudah mendapatkannya untukku.Aku akan membuat perlengkapannya dan mencoba mengambil sepotongnya pada Noah dan sisanya pada Tyn sehingga bisa menggabungkan dua-duanya"
"Berapa lama kita akan berada disini?"ini yang ingin ditanyakan Zero sejak Raja Kucas mengizinkan mereka berada lama diluar Bemua Poren.
Vezia belum mempertimbangkan sebenarnya dia ingin lebih lama berada diluar tapi ulang tahun Ayahnya akan tiba 2 bulan lagi,jika dia ingin mendapat kepercayaan ayahnya sehingga bisa bebas keluar masuk Benua dari Benua Poren dan Benua Jeiron itu akan mempermudah misinya.
"Kita akan pulang ketika ulang tahun Ayah,dan jika dia mengizinkan kita.Aku ingin menerima surat pengajuan yang diberikan Academy Saintess padaku untuk menjadi guru pembimbing mereka.Jika Ayah mengizinkanku aku tidak perlu tinggal diistana,kita hanya perlu teleportasi saja"Jelas Vezia dengan tenang,dan menunggu kedua kakak angkatnya memproses semuanya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya pada kami terlebih dahulu?!!"suara Zero begitu dingin,tubuhnya berpindah kedepan Vezia.
"Kami tidak akan marah jika sejak awal kamu mengatakannya,Zizi!!kakak tidak yakin apakah kamu lupa,seumur hidup kakak kamu tidak akan pernah melupakan hal penting kecuali kamu memang tidak mau mengatakannya pada kami!!"bentak Zero,Jeno mempersiapkan kuda-kudanya kalau-kalau Zero tiba-tiba memukulnya.
Kenapa dia?yah jelas saja mana mau Zero menyakiti adik kesayangannya dengan memukulnya.Bekerja bersama Zero mengurusi Vezia sejak dia lahir,Jeno mengenal Zero yang telah berubah drastis menjadi tempramental ketika menyangkut Vezia bahkan untuk hal sekecil apapun.
Vezia berdiri secara tiba-tiba,"Aku bukan tidak ingin mengatakannya jika aku mengatakannya kakak akan membantahku menerimanya,dan pasti akan berakhir aku berdebat dengan kakak.Lihat bahkan sekarang kakak membentakku!!"teriak Vezia,oh Vezia pun akan benar-benar melupakan sikapnya yang dingin didepan keduanya.
Zero menutup kedua matanya menarik napas dan kembali menghembuskannya,tangannya mengepal."Untuk sekali ini Zizi,kakak akan melupakannya tapi jika kamu melakukan hal yang sama.Kakak akan melupakan jabatan kakak sebagai ksatriamu dan kita akan benar-benar kembali ke kerajaan selesai atau tidaknya misimu,apa kamu mengerti?!"
Vezia mendengus tanpa menjawab,"Jawab kakak!"
"Iya Zizi mengerti!"Vezia beranjak keluar meninggalkan Jeno yang menenangkan Zero sendirian.
"Zero aku sudah bilang padamu,kau seharusnya bisa mengendalikan emosimu didepan Zizi"Jeno menyodorkan minuman kearah Zero untuk menenangkan pemuda yang sedang duduk itu.
"Aku tidak akan seemosi ini jika dia tidak menyembunyikannya Jeno,aku hanya khawatir.aku takut jika Zizi bisa saja menyembunyikan hal yang lebih besar dibanding ini"
Jeno menghembuskan napasnya kasar dan menepuk pundak teman seperjuangannya,"Aku tahu Zero tapi kau tahu Zizi paling tidak suka jika salah satu dari kita membentaknya,jika kau tidak bisa mengendalikan emosimu,Zizi akan semakin banyak menyembunyikan sesuatu dari kita.Cobalah berpikir rasional,kau bisa bertanya dengan baik tanpa harus membentaknya.Ini tidak sekali dua kali Zizi melakukannya tapi kau masih saja kehilangan ketenanganmu"
Zero mengusap kasar wajahnya,"Yah aku tahu ini salahku,aku tahu Zizi hanya takut kita akan menolak jika dia mengatakannya.Tapi,tetap saja memikirkan dia menyembunyikan ini dariku membuatku marah"
"Sebaiknya kau minta maaf Zero,kau sudah meneriakinya tadi.Aku akan disini melihat anak-anak ini bermain"Zero mengangguk dan berlari keluar mencari adiknya yang tanpa perlu bersusah payah dia menemukannya sedang memberi makan para serigalanya.
Zero menghela napas melihat wajah murung adiknya itu,dengan pelan mengambil alih daging segar dan melemparnya kearah kawanan serigal yang dengan cepat berkerumun memakan santapan mereka.
Zero mengambil tangan Vezia dan mengelap sisa darah yang ada ditangannya akibat memegang daging tadi,"Kamu seharusnya menggunakan sarung tangan.Lihat tanganmu jadi kotor"
Vezia tetap diam dan menatap kearah serigala-serigalanya yang unyu yang sedang makan,"Kakak minta maaf karena sudah berteriak padamu"
Vezia masih tetap diam tetapi matanya beralih menatap kearah Zero yang menatapnya dengan sayang,"Kenapa kakak marah padaku?bahkan ini bukan masalah besar"
Hembusan napas terdengar dari Zero,tangannya dengan lembut menarik Vezia untuk duduk dibawah pohon yang ada didekat mereka,membawa kepala Vezia bersandar dibahunya.
"Yah memang bukan masalah besar tapi kakak terlalu tempramental kamu tahu itu,dan kakak paling tidak suka jika kamu menyembunyikan sesuatu seperti itu apalagi sampai berbohong.Kakak tidak masalah jika itu masalah pribadi yang memang tidak boleh kakak ketahui,tetapi bahkan jika itu bukan masalah besar itu masih menyangkut dirimu.Setiap langkahmu selalu diiringi napas kematian,kamu tahu takdirmu Zizi.Setiap tindakanmu bisa berdampak,kakak hanya ingin mencegah sesuatu yang tidak kami inginkan terjadi padamu.Kamu adalah kesayangan kerajaan kita,dan kamu tahu apa yang akan terjadi pada Kerajaan kita bahkan satu benua kita jika sesuatu terjadi padamu"
Vezia terdiam,dia lupa tentang itu.Dia lupa jika hidupnya bukan hanya dikhawatirkannya seorang diri tapi juga dia memiliki keluarganya rakyat dan sahabatnya yang khawatir.
Tangan Vezia mengerat disekitar tangan Zero,"Zizi minta maaf kak.Zizi janji tidak akan melakukannya lagi"
Zero tersenyum mencium pucuk kepala Vezia,"Aku masih tidak percaya bayi yang kurawat telah sebesar ini"
Bibir Vezia mengerucut karena kesal,"Mana mungkin aku akan kecil terus"
Zero tertawa melihat raut wajah kesal namun sangat menggemaskan milik Vezia,dan dengan sayang mengacak rambutnya.
"Yayaya babyku yang manis ini tidak mungkin akan menjadi bayi terus"
Vezia tersenyum hanya tersenyum lebar menanggapi dan menikamati waktu luang bersama kakak angkatnya.
Vote..Coment..Like