
Taylor dengan langkah pelan namun anggun berjalan kearah ruangan yang ditujukan dua pelayan wanita yang sempat menganiayayanya tadi.
Entah Taylor harus bagaimana menghadapi situasi sekarang,dia merasa takut tapi dia tidak ingin harga dirinya kembali jatuh karena terlihat pengecut didepan orang-orang ini,ini juga merupakan kesempatannya untuk bisa lebih dikenal di Benua ini.
"Ah akhirnya gadis ini datang juga"Taylor tersentak dari lamunannya karena suara dingin disebelah telinganya,dia bahkan belum sempat menoleh saat tangan Allena sudah menarik paksa tangannya dan mendudukannya dikursi berjarak antara 5 kursi dari kursi utama tempat Vezia sedang duduk sekarang.
Taylor baru sadar jika ruang makan ini dipenuhi orang asing yang belum dia lihat semenjak datang kesini,dan dia pastikan kebanyakan yang bertopeng didepannya adalah laki-laki,Taylor bergidik saat mata mereka semua menatapnya secara serempak dengan tajam seolah dia adalah tikus yang dengan bodoh masuk perangkap singa.
"Allena,aku harus berpikir kau memperlakukan tamu kita dengan baik,bukan?"Vezia menatap acuh kearah Allena.
"Tentu saja My Queen,sesuai permintaan anda"Allena tersenyum seolah dia bukan orang yang menjambak,menyeret bahkan menendang Taylor beberapa jam yang lalu.
Dibawah tatapan semua orang,mereka tahu Taylor tengah menahan amarahnya.Buku jarinya memutih akibat tangannya terkepal erat.
"Yah apapun itu aku harap kau puas,oh dan satu lagi kuharap kau puas dengan makan malam ini.Setelah ini aku ingin melihatmu membuat racunnya,setelah itu aku akan mengantarmu pulang"ucapan Vezia bukannya membuat Taylor tenang melainkan membuatnya semakin takut.
Dia tidak tahu harus berbuat apa,dia jelas jelas tidak tahu membuat racun itu.Dia harus bagaimana,menarik napas dengan pelan Taylor dengan berani menatap Vezia yang sedang mengiris sebuah daging dilumuri anggur merah.
"Bisakah....bisakah aku mengirim surat kepada seseorang,aku membutuhkan bahan darinya".
Allena melotot dan ingin bicara tapi Vezia menghentikannya lebih dulu,"Boleh,aku memberimu waktu untuk meminta bahan.Tapi aku ingin itu sesuai sepertu yang kau kirim,jika tidak kau tahu apa yang bisa kulakukan"Ucap Vezia dengan suara acuh tapi mereka sadar jika itu bukan sekedar ucapan semata.
Taylor mengangguk dan mulai ikut makan,mencoba mengabaikan Allena yang sedari tadi menusuk daging didepannya seraya menatapnya seolah berharap daging itu adalah dia.
Vezia melap bibirnya menggunakan serbet dan beranjak,"Zio ikut denganku"Zio mengangguk dan berjalan disamping Vezia menuju kelantai atas.
Sisa lelaki didepan Taylor juga pergi meninggalkan Taylor bersama Allena yang menyeringai setan,Allena mendekati Taylor menjambak rambutnya membuat gadis itu mendongak,"Jika kau melakukan hal yang buruk disini,kupastikan kau tidak akan pernah mau memunculkan wajahmu seumur hidupmu,bahkan kematian lebih terasa tenang untukmu,kau paham?!"Allena mengeratkan cengkramannya membuat Taylor meringis,dan dengan susah payah mengangguk.
Senyum puas terlihat dibibir Allena,tetapi kemudian berubah mencibir saat dia dengan santai menampar Taylor.
"Biarkan dia makan,lalu seret dia kekamarnya kembali.Tapi karena Ratu mengizinkannya menulis surat,berikan dia waktu menulisnya"Kedua wanita yang selalu setia disebelah Taylor itu mengangguk dengan tegas menerima perintah ketua mereka.
...----------------...
"Bagaimana?apa kau sudah tahu kenapa Ayahku tiba-tiba memintaku pulang?"Vezia bersandar dengan nyaman di sofa dan menatap Zio yang berdiri didekat jendela melihat kearah luar.
"Iya"
"Ada apa denganmu Zio?apa ini karena berita itu atau karena Prof.Regan"Vezia menahan tawa melihat Zio tiba-tiba melotot kearahnya dengan wajah tak terima.
"Berhentilah Vezia,aku bahkan tidak ingin bertemu dia lagi"Ucap Zio dengan nada cemberut.
"Sayangnya kau harus Zio,kau satu-satunya yang bisa kuandalkan untuk mendapat informasi darinya"Vezia tersenyum melihat Zio mendengus malas.
"Lupakan,tentang hal yang kau tanyakan tadi.Aku tidak tahu persis mengapa,tapi yang aku tahu Ayahmu takut kau bertemu seseorang.Mata-mata kita juga tidak tahu detailnya"Zio berjalan dan duduk didepan Vezia.
"Someone?"
Zio mengangguk,"Yang jelas orang itu mengirim surat,tapi surat itu sudah dibakar habis sebelum aku sempat membacanya.Bahkan bukan hanya Ayahmu,hampir semua anggota keluarga Kerajaan takut orang itu bertemu denganmu"
Vezia menyipitkan matanya dan memalingkan wajah hanya memperlihat sisi sampingnya kearah Zio,"Entah mengapa aku tahu siapa yang dimaksud itu.Tapi aku tidak tahu dia seberani itu untuk melakukannya melalui keluargaku,tapi untuk apa dia repot-repot sedangkan aku disini.Dan juga..."Vezia berbalik menatap serius Zio.
"Ayahku tidak mungkin meragukan kekuatanku,kecuali ini bukan hal biasa yang menyangkut nyawaku"
Zio mengangguk setuju,mereka terdiam memikirkan masing-masing spekulasi,"Jadi apa yang akan kita lakukan,tepatnya apa yang akan kau lakukan?waktu yang kita perlukan untuk mengambil gelang itu,dan juga meluncurkan rencanamu butuh banyak waktu?"Tanya Zio setelah lama diam.
"Hanya satu cara,aku harus fokus melatih mereka terutama aku harus membuka segel guradian Rayyen.Masalah gelang itu...aku serahkan pada Draxy dan Goldy setelah mereka kembali"Jawab Vezia.
"Dan Prof.Regan?belum lagi masih ada 5 Guardian lagi yang belum kau temukan.Kau harus ingat Vezia,setahun lagi Blue Moon akan tiba,kau tidak bisa membuka gerbang jika tidak bisa mengumpulkan sembilan Guardian itu"Zio menatap Vezia yang terlihat hampir frustasi.
"Beri aku waktu berpikir,aku harus mencari cara agar Ayah percaya padaku"Zio menghela napas dan berdiri berjalan kearah Vezia.
"Oke,aku pergi dulu.Sebaiknya pikirkan baik-baik,jika kita terlambat membuka gerbangnya.Raja Iblis lah yang akan membukanya,dan itu bukan hal yang kita inginkan"
Vezia mengangguk,Zio berjalan keluar meninggalkan Vezia sendiri merenung memikirkan apa langkah selanjutnya.Vezia tidak bisa gegabah karena ini berdampak untuk dunia bawah.
"Tidak ada pilihan lain,sepertinya mempercepat latihan mereka.Aku curiga,di Academy Saintess terdapat beberapa Gurdian Angelku"gumamnya.
Like,Coment.Vote...
Sorry telat,soalnya baru ngisi kuota😅