Reborn In The Kingdom Of The Past

Reborn In The Kingdom Of The Past
MS39(FLASHBACK)



**BACK SONG-NATALLIE TAYLOR(Surrender),biar lebih menghayati pakai lagu sedih


FLASHBACK ON**


Seorng gadis kecil berusia 12 tahun tengah menunggu jemputannya.Lama menunggu akhirnya jemputannya sampai.


"Hai kak"Sapa Janie kpda Jerry.yang hnya ditanggapi gumaman membuat Janie memandang sendu sang kakak.


"Kenapa kakak bgitu dingin padaku"Batin Janie menundukkan wajahnya.


"Paman apa daddy dan mommy sdh pulang?"Tanya Jenie kpda pak sopir


"Belum nona,sepertinya Tuan dan Nyonya akan pulang larut malam"Jawab sopir nya


"Owh gitu"Janie menunduk lesu,mengalihkan perhatiannya kearah jendela,setetes air mata meluncur dari matanya.selalu saja seperti ini kedua orang tuanya bahkan tdk pernh meluangkan waktu untuknya.


"Enak yah jadi kakak,masih merasakan kasih sayang mommy dan daddy."Batinnya.Sejak kecil Janie memang tidak pernah mendapat kasih sayang orang tuanya disebabkan mereka yang terlalu sibuk.


Beberapa menit dalam perjalanan akhirnya mereka sampai dimansion mereka.Jerry lebih dulu turun dan memasuki mansion mengabaikan Janie.Janie hanya bisa menghela napas sedih.


"Janie masuk dulu yah paman"Ucap Janie.


"Iya non"Sahut sang sopir.Janie melangkah memasuki mansion.


"Kasihan sekali Nona Janie sedari kecil tidak mendapat kasih sayang kedua orang tuanya dan juga tuan muda begitu dingin padanya"Ucap Sopir dan menatap penuh iba Janie.


Janie mengganti pakaiannya dan berjalan menuju kamar kakaknya.


"Kak Jerry temenin Janie main yuk"Ucap Janie di depan pintu kamar Jerry


"Saya lagi sibuk,kamu bisa main sendiri"Ucap Jerry dingin,tanpa berniat membuka pintu.Jerry selalu berbicara formal kepada Janie.


"Owh gitu,maaf udah ganggu kakak"Ucap Janie dengan suara seperti tengah menahan tangis.


Janie berlari keluar dari mansionnya,dan memasuki hutan yanh selalu dia kunjungi sekedar untuk melepas sedih ataupun melatih kekuatannya.


Entah kenapa hari ini Janie merasa hatinya begitu sakit,dirinya merasa jika hari ini dia sangat lelah,sakit dan kecewa,dia ingin menyerah dengan semua ini,dia sudah sangat ingin mengakhiri hidupnya,selama 12 tahun hanya kesendirian yang menemani dirinya.Sedari kecil dia selalu diabaikan.


"Hiks...hiks..apa salah Janie..hiks kenapa mereka semua mengabaikan Janie,selama ini Janie selalu berusaha tapi kenapa tetap saja mereka mengabaikan Janie..Hiks..Janie capek..Janie nyerah..Hiks...Janie nyerah dengan semua ini,Hiks...apa salah Janie,Janie hanya ingin kasih sayang Mommy,Daddy,dan Kak Jerry..Hiks..."Kata-kata pilu yang keluar dari mulut Janie serta tangisan Janie memenuhi hutan yang begitu sunyi,seakan membiarkan Janie melepas segala kesedihan yang terlalu dipendamnya.


"Hai gadis kecil,apa yang kau lakukan dihutan ini sendiri?"Sebuah suara dari belakang membuat Janie dengan cepat menyeka air matanya dan berbalik kebelakangnya,mata Janie menatap awas pria berusia 30 tahun di hadapannya.


"Anda siapa?"Tanya Janie dengan matanya memicing tajam.


"Maaf menakutimu,perkenalkan nama paman adalah Lay,paman hanya sedang berjalan-jalan saja disini,dan apa yang kau lakukan disini sendirian?"Ucao Lay dan diakhiri pertanyaan.


"Saya tidak takut hanya bersikap waspada,ini adalah hutan tempat bermain saya"Ucap Janie dingin.Sejak Janie mengetahui tentang kekuatannya dia sering datang kehutan itu untuk melatih kekuatannya,sekaligus berlatih ilmu beladiri sehingga semua ilmu beladiri telah dikuasainya.


"Gadis kecil,apa kau ingin ikut denganku?"Tanya Lay.Seketika mata Janie menajam membuat Lay sedikit bergidik ngeri.


"Aku merasa ada yang istimewa dengan anak ini."Batin Lay menatap Janie.


"Tenang saja aku tidak akan macam-macam,jika aku melakukan sesuatu yang merugikanmu,kau bisa langsung membunuhku,aku tahu gadis seperti mu tahu caranya beladiri dan bahkan membunuh"Ucap Lay dengan seringainya,membuat Janie terbelalak kaget,ah dia baru ingat tentu saja siapapun yang memasuki sebuah hutan dengan nyali besar tentunya sudah mempersiapkan diri.


"Baiklah,tapi aku tidak akan segan"Ucap Janie dengan aura membunuh membuat Lay semakin bergidik.


Mereka berdua bejalan keluar dari hutan dan masuk kedalam mobil Lay.Beberapa menit kemudian mereka sampai disebuah mansion yang begitu besar.


Lay dan Janie memasuki mansion itu,mata Janie tak henti-hentinya memandang takjub deretan senjata yang tergantung dan berbaris rapi di dinding,sesekali juga dia melirik sekumpulan pria yang tengah berlatih.


"Kumpulkan semua orang,ada yang ingin kusampaikan"Ucap Lay kepada anak buahnya.


Lay dan Janie memasuki aula,dan menaiki podium.


"Aku akan memberitahu sesuatu padamu,aku adalah pemimpin dari organisasi mafia White devil,kau pasti tahu tentang white devil"Ucap Lay membuat Janie terbelalak kaget,tentu saja tahu,siapa yang tidak mengenal organisasi mafia terkejam dan terkuat di dunia,dan sekarang Janie berhadapan langsung dengan pemimpinnya.


"Kenapa anda berani memberitahu saya,tidakkah anda takut jika saya akan memberitahu orang lain"Ucap Janie.Lay sedikit tertegun.


"Aku percaya padamu,kau pasti tidak akan memberitahu siapapun,jikapun iya,mudah saja bagiku untuk menghancurkanmu"Ucap Lay dengan senyum miring.Bukannya takut Janie malah tersenyum sinis membuat Lay merasa sedikit tidak enak dengan senyum itu.


"Anda tidak tahu jika saya pun mudah untuk menghancurkan anda"Ucap Janie dengan seringai menakutkan.Lay tertegun dan sedetik kemudian tertawa bahagia,membuat semua anak buahnya yang baru tiba diaula terkejut karena ini pertama kalinya mereka melihat pemimpin mereka menunjukkan ekspresi lain selain wajah dingin nya.


Lay mengakhiri tawanya dan menatap Janie dengan binar senang.


"Apa kau ingin bergabung dengan organisasiku?"Tanya Lay To The Point.


Sejenak Janie berpikir,menutup matanya dan berpikir keputusan apa yang harus diambilnya.Sedetik kemudian matanya terbuka tapi tatapannya kali ini berbeda,jika tatapan-tatapan sebelumnya penuh keceriaan,kali ini tatapannya dingin dan kosong,membuat Lay tertegun dengan perubahan Janie.


"Saya terima."Ucap Janie dingin.


"Jangan salahkan aku yang berubah menjadi iblis"Batin Janie,dia sudah memikirkan semuanya,entah kenapa hatinya menerima tawaran Lay,segala derita yang diterimanya telah membuatnya berubah.


Lay tersenyum senang,dia berbalik menghadap kearah ratusan anak buahnya yang telah berbaris rapi.


"Kita memiliki anggota baru,jangan menganggap dia anak kecil,dia bisa saja membunuh kalian"Ucap Lay,membuat mereka mengangguk tegas,dan juga entah kenapa mereka sedikit bergidik dengan kata-kata Bos mereka,terlebih aura Janie yang begitu mengerikan.


"Perkenalkan dirimu!"Ucap Lay menatap Janie.


"Janie Prazie Asgr."Singkat,padat,jelas dan dingin,tapi mampu membuat mereka terkejut termaksud Lay.


Mereka tidak menyangka jika orang dihadapan mereka adalah anak dari pemilik perusahaan terbesar dan terkaya ke-1 di dunia(Sebelum Janie punya perusahaan sendiri)


"Len bawa dan ajari dia cara menggunakan senjata,dan satu lagi kami memperlakukan semua orang sama kami tidak memandang harta dan anak siapa dia,apa kau tidak keberatan?"Tanya Lay menatap Janie.


"Saya tidak keberatan karena di dalam organisasi apapun harta tidak berpengaruh apapun,disini kita menggunakan kekuatan dan otak"Ucap Janie,membuat Lay bangga.


"Aku tidak salah memilihnya"Batin Lay bangga.


"Mari ikuti saya"Ucap Len.Janie mengangguk patuh.


Mereka berdua berjalan menuju keruangan latihan yang di dalamnya sudah tersedia berbagai senjata,Janie memulai dari pistol,Janie mengikuti setiap gerakan yang diajarkan Len dengan baik,dan itu membuat Len kagum pasalnya Janie hanya mengamati sekali tapi sudah dapat mengikutinya dengan baik dan benar.


Sedari sore hingga larut malam Janie sama sekali tak berhenti belatih,dia bahkan tidak beristirahat walau hanya sekali.Dia juga sudah berlatih semua senjata.Len menatap khawatir melihat tangan Janie yang penuh luka akibat memaksakan diri,walau bagaiman pun dia masih anak kecil,pikirnya.


"Janie kau sudah berlatih terlalu lama kau bahkan tidak istirahat,Janie berhentilah"Ucap Len tapi diacuhkan Janie.Len yang sudah pasrahpun memutuskan memanggil Lay.


"Tuan!"Panggil Len.


"Ada apa?"Tanya Lay.


"Bisakah anda meminta Janie berhenti berlatih sedari sore hingga sekarang dia tidak berhenti berlatih bahkan istirahatpun tidak"Ucap Len,mendengar itu Lay bergegas keruangan tempat Janie.


Betapa terkejutnya Lay melihat tangan Janie yang penuh dengan luka.


"Janie berhenti kau terlalu memaksakan diri."Ucap Lay tapi tidak menghentikan Janie yang tengah berlatih memanah.


Lay berjalan kearah Janie.


"Janie berhenti."Ucap Lay dan memegang pundak Janie.Bisa Lay rasakan pundak Janie yang gemetar.


"Len tinggalkan kami berdua"Ucap Lay,Len dengan patuh melaksanakan perintah Lay.


Setelah memastikan Len talah pergi,Lay membalikan badan Janie,seketika Lay terkejut melihat Janie yang tengah menangis.


"Kenapa paman,kenapa,kenapa Mommy,daddy dan kak Jerry selalu mengabaikan Janie,Janie salah apa paman,hiks...hiks...selama ini Janie selalu berusaha membuat mereka bangga tapi kenapa mereka masih mengabaikan Janie,hiks...hiks..sedari kecil Janie sama sekali tidak merasakan kasih sayang,selama ini Janie berusaha mendekati kak Jerry tapi dia tetap dingin kepada Janie.Janie hanya ingin seperti teman-teman Janie,yang selalu bermain bersama keluarga mereka.Hiks...hiks...bahkan..hiks..Janie tidak pernah merasakan yang namanya bermain seperti anak-anak lainnya,Hiks...hiks...Janie hanya selalu belajar,belajar dan belajar hanya untuk membuat mereka bangga dan sayang sama Janie,tapi kenapa mereka masih mengabaikan Janie.Bahkan ketika Janie sakit mereka tetap mengabaikan Janie,ketika pengambilan nilai disekolah pun mereka tidak hadir.Apa salah Janie paman hiks..hiks..apa karena Janie perempuan dan mereka menganggap Janie tidak berguna,bukan kemauan Janie menjadi perempuan paman.Salah jika Janie juga ingin seperti kakak,seperti teman-teman Janie yang mendapat kasih sayang.Kenapa hanya Janie yang menderita paman,kenapa...hiks..hiks.. Kenapa hanya Janie yang tidak bahagia paman"Isakan demi isakan keluar dari mulut Janie,tak lupa dengan air matanya yang tak berhenti mengalir.Janie merasa lelah dan sakit sekarang dia hanya ingin menumpahkan segalanya.


Tanpa sadar Lay meneteskan air matanya,entah kenapa hatinya merasa sakit mendengar penderitaan Janie,dia tak percaya jika anak sekecil ini bisa menahan segala yang dideritanya.


"Janie sudah lelah,Janie lelah berpura-pura seakan semua baik-baik saja,Janie lelah setiap hari harus tersenyum palsu."Janie tak henti hentinya bergumam kata lelah,dia tidak peduli dengan siapa dia memberitahukan segala penderitaanya yang dia ingin kan hanya melepas semuanya.


Lay yang tidak tahanpun menarik Janie kedalam pelukannya,membiarkan Janie menangis sejadi-jadinya.Tangan Lay mengelus lembut rambut Janie,membuat Janie merasa nyaman dan sedikit tenang.


"Sudah jangan menangis lagi hmm,sekarang kan ada paman kamu tidak akan sendiri lagi,paman akan menyayangi kamu seperti anak paman sendiri,jadi jangan menangis lagi"Ucap Lay,membuat Janie tertegun dan membuat hatinya sedikit menghangat,tangisan Janie semakin menjadi.


"Kita obati lukamu lalu paman antar pulang"Ucap Lay,yang diangguki Janie.


Lay mengobati luka Janie,setelah itu mengantar Janie pulang.


"Paman pulang dulu,sepulang sekolah paman akan menjemputmu dan melanjutkan latihan mu"Ucap Lay,mengelus lembut kepala Janie.Janie tersenyum kearah Lay.


"Oke paman,kalau gitu Janie masuk dulu yah,bye-bye"Ucap Janie dan melangkah memasuki mansionnya.


"Paman janji akan melindungimu Janie kecil"Ucap Lay dengan wajah penuh tekad,Lay pun pergi meningglakan pekarangan mansion Janie.


Wajah Janie berubah menjadi dingin kala kakinya menapaki lantai mansionnya,dengan pandangan lurus dan dingin Janie melangkah menuju lantai dua menuju kamarnya,dia bahkan mengacuhkan Jerry yang berada diruang tamu yang tengah menatap dirinya dengan pandangan tajam.


"Darimana saja kamu,apa kamu tahu ini jam berapa"Ucap Jerry dingin.


"Tentu saja jam 00:50"Ucap Janie santai.


"Kenapa kamu pulang larut malam?"Tanya Jerry pandangannya matanya semakin tajam.Janie hanya mengacuhkannya dan melanjutkan langkahnya.


"SAYA BERTANYA KEPADA KAMU"Bentakan Jerry membuat Janie tertegun,Janie berusaha agar tak menumpahkan air matanya,Janie berbalik dan menatap dingin kearah Jerry,membuat Jerry tertegun.


"Apa urusan anda,anda tidak berhak ikut campur dengan urusan saya"Ucap Janie dingin,dan berbalik melangkah menuju kamarnya.


Entah kenapa Jerry merasa begitu marah dan sakit melihat tatapan mata Janie yang begitu dingin kepadanya.Dengan langkah besar dia melangkah mengejar Janie.


Saat Janie akan membuka pintu kamarnya sebuah tangan mencekal tangannya yang memegang gagang pintu.Dengan kasar Janie menyentak tangan Jerry,membuat Jerry semakin marah.


"Saya tanya sekali lagi,kamu darimana kenapa kamu pulang larut malam"Ucap Jerry kali ini nadanya sangat dingin serta tatapan menjadi lebih tajam.


"Saya juga sudah katakan ini tidak ada urusannya dengan anda"Ucap Janie tak kalah dingin.


"Kamu adik saya jadi saya berhak tahu segalanya tentang kamu"Ucap Jerry,seketika Janie tertawa,membuat Jerry bingung,hati Jerry terasa sakit mendengar tawa Janie,tawa yang terasa seolah itu tawa penderitaan bukan tawa bahagia.


"Adik.hhahaha...apakah saya salah dengar hahahahh"Janie tak hentinya tertawa,sedetik kemudian tawanya berhenti.


"SEJAK KAPAN SAYA MENJADI ADIK ANDA"Bentakan serta ucapan Janie membuat Jerry tertegun dan sakit.


"Kamu bukan Janie yang dulu"Ucap Jerry.


Janie tersenyum sinis.


"Ya saya bukan Janie yang dulu,JANIE YANG DULU TELAH MATI SEBAB KEEGOISAN KALIAN"Suara bentakan Janie menggema dilantai dua.


"Kamu bukan adik saya yang dulu"Ucap Jerry.


"Hahahahah,sejak kapan anda menganggap saya sebagai adik anda,hahah sejak kapan,apakah anda baru saja terbentur sesuatu"Janie sekali lagi tertawa,tawa yang sama,yang berisi penderitaan.


"Apa kalian puas,apa kalian puas mengubah saya jadi seperti ini,apa kalian puas membuat saya menderita,karena kalian yang selalu mengabaikan saya,saya berubah menjadi seperti sekarang.Jika saya adik anda kemana saja anda selama ini ketika saya membutuhkan anda,ketika saya mencoba untuk dekat dengan anda,anda malah menjauhi saya.Bukan hanya itu,saya bahkan tidak pernah merasakan kehangatan keluarga ini saya tidak pernah merasakan kasih sayang dari keluarga ini apakah itu tidak cukup membuat saya menderita,kenapa,kenapa harus saya yang mengalaminya"Ucap Janie dingin tapi tersirat kesedihan yang begitu mendalam.


Mendengar ucapan Janie,Jerry merasa sakit,dia sadar dia bukan kakak yang baik.


"Kenpa hiks..kenapa harus Janie,apa salah Janie kak,Janie hanya ingin kasih sayang kalian"Isakan serta ucapan lirih Janie seakan seperti jarum yang menghujani Jerry.Jerry mencoba mendekati Janie,tapi Janie malah mundur kebelakang.


"Apa salah Janie kak,kenapa kalian semua mengabaikan Janie,hiks..APA SALAH JANIE KAK"Mata sembab Janie menatap Jerry,Jerry yang benar-benar tidak tahan melihat Janie jatuh terduduk dan menunduk dihadapan Janie.Air mata Jerry meluncur tanpa izin.


Janie terkejut melihat Jerry yang terduduk dan menunduk,tapi dengan cepat dia mengubah raut wajahnya menjadi datar.


Janie melangkah dengan cepat memasuki kamarnya dan menguncinya.Janie berlari kekamar mandi menyalakan shower dan menangis sejadi-jadinya.


"Ini semua tidak adil,hiks....kenapa hanya Janie yang menderita kenapa..hiks..


kenapa"Isakan isakan Janie menggema di dalam kamar mandi,matanya semakin sembab akibat menangis.


Sedangkan diluar kamar Janie,Jerry masih terduduk dan menangisi segala yang selama ini dia perbuat kepada Janie,dia menyesali semuanya.


"Maafin kakak Janie,kakak sayang sama kamu tapi kakak nggak tahu cara memberitahu kamu,kakak mohon maafin kakak Janie hiks.."Ucap Jerry tapi semua percuma sebab Janie tidak akan mendengar semuanya.Jerry berdiri dan berjalan dengan gontai kekamarnya.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>


Janie terbangun dan terkejut melihat dirinya yang masih berendam di dalam bak mandi,dia baru ingat semalam dia menangis hingga tertidur.Janie bersiap-siap untuk kesekolah.


Janie berjalan menuruni tangga dengan wajah yang begitu pucat serta kepalanya terasa sangat sakit.Karena tidak terlalu memerhatikan anak tangga,Janie hampir saja terjatuh untungnya Jerry dengan cepat menangkap Janie.


Melihat siapa yang menangkapnya Janie dengan cepat melepas tangan Jerry.


Jerry hanya bisa pasrah dia tahu ini semua salahnya.


"Janie muka kamu pucat banget kamu nggak usah kesekolah dulu"Ucap Jerry,Janie hanya mengacuhkannya.


Jerry menahan tangan Janie.


"Lepas!"Ucao Janie dingin.


"Kamu boleh marah sama kakak tapi kamu harus merhatiin keadaan kamu sekarang kamu lagi sakit Janie"Ucal Jerry,Janie tersenyum sinis.


"Cih,nggak usah sok peduli,selama ini juga gue sakit kagak lo perhatiin,so lo bisa berperilaku tidak peduli seperti dulu"Ucap Janie sinis dan melangkah dengan cepat menuruni tangga.Saat dianak tangga terakhir Janie terdiam mematung akibat Jerry yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.Janie semakin terkejut dengan punggugnya yang basah.


"Maafin kakak Janie kakak tahu kakak salah,maafin kakak.Kakak mohon jangan acuhkan kakak"Ucap Jerry dengan suara lirih dgn air mata yang luruh dari matanya.


Janie melepas pelukannya dan berbalik.


"Lo udah ngerasain kan yang namanya diacuhkan,selama ini gue juga ngerasain tapi gue lebih menderita,karena nggak hanya lo yang acuh sama gue tapi mommy sama daddy juga"Ucap Janie sinis tanpa rasa iba sedikitpun.


"Maafin kakak Janie kakak minta maaf,kakak sayang sama kamu tapi kakak nggak tahu cara bagaiamna menyampaikannya"Ucap Jerry membuat Janie tertegun mendengar ucapan Jerry.


"Lo bohong,lo nggak sayang sama gue,kalau lo sayang sama gue lo hanya perlu disamping gue,nemenin gue ketika gue sakit,nemenin gue belajar,nemenin gue main,hiks...lo bohong lo nggak sayang sama gue,kalau lo sayang sama gue kenapa lo acuh sama gue hah,kenapa hiks.."Janie lagi lagi menangis.


Jerry dengan cepat menarik Janie kedalam pelukannya.


"Kakak minta maaf Janie,kakak sayang sama kamu,kakak selalu ingin disamping kamu,tapi kakak takut kamu nggak bakal butuh kakak,kamu ingat ketika kamu sakit dulu,setiap malam kakak nemenin kamu"Ucap Jerry membuat Janie tertegun jadi setiap dia sakit dan merasakan ada yang tidur disampingnya itu adalah Jerry.Janie mendorong Jerry.


"Kenapa kakak nggak bilang dan tanya sama Janie,apa kakak tahu selama ini Janie kesepian,semua yang Janie tunjukkan itu palsu,kenapa kakak nggak nanya,bukan berarti Janie selalu ceria itu Janie bahagia.itu cara Janie buat nutupin penderitaan Janie Hiks...hiks.."Ucap Janie disertai tangisannya yang semakin menjadi.


Jerry terkejut dan merutuki dirinya sendiri.


"Lo bodoh Jerry kenapa lo bisa tertipu sama senyum palsu adek lo sendiri,sekarang adek lo menderita"Batin Jerry merutuki dirinya sendiri.


Jerry lagi lagi menarik Janie memeluk dengan erat dan enggan melepasnya.


"Maafin kakak Janie,maafin kakak,kakak mohon kasih kesempatan kakak buat perbaikin semuanya."Ucap Jerry dan semakin mengeratkan pelukannya.


Hati Janie menghangat merasakan pelukan kakaknya yang begitu erat,Janie semakin menangis dan ikut memeluk kakaknya erat.


"Menangis lah Janie,menangis jika itu bisa membuat penderitaan kamu sedikit menghilang"Ucap Jerry dan mencium pucuk kepala Janie.


"Janie bakal kasih kakak kesempatan"Ucap Janie dengan suara serak akibat terlalu banyak menangis.


Jerry tersenyum bahagia dan semakin mengeratkan pelukannya,dan sesekali mencium pucuk kepala Janie.Membuat Janie tersenyum bahagia,dia akan memberi kan Jerry kesempatan karena dia yakin semua nya akan berubah,Janie juga ikut mengeratkan pelukannya.


Jerry merasa pelukan Janie terlepas.


Jerry melepas pelukannya dan terkejut melihat Janie yang pingsan,dan dia juga baru menyadari jika tangan Janie penuh dengan perban.


"Janie,Janie bangun"Ucap Jerry dan menepuk nepuk pipi Janie.


Dengan cepat Jerrt menyuruh Pak sopir menyiapkan mobil untuk kerumah sakit.


**Oke guys sampai sini dulu yah author capek ngetik..maaf juga baru up,soalnya author sibuk banget ngurusin persiapan maauk SMA...


jangan lupa Like,Coment,Fav,Rate,and Vote..and semakin suka yah**