
Hembusan napas tenang keluar dari bibir merah Vezia,tubuhnya terasa lelah hari ini.Mengajari para siswa dari kelas ke kelas.Belum lagi sore nanti dia harus mulai mengajari kelas Bangsawan sesuai jadwal yang dia buat.
"Aku merindukan Ayah!"Batin Vezia.
Vezia ingin sekali berbicara dengan Ayahnya,sehingga memutuskan untuk berbicara melalui telepati,"*Ayah!"
"Zizi sayang,ini kamu nak*?"Senyum kecil terbit dibibir Vezia merasakan nada suara rindu dan antusias sang Ayah.
"Ya Ayah,maaf Ayah karena aku harus pergi lama,aku merindukanmu Ayah"Tangan Vezia mengelus lukisan gambar sang ayah yang diam-diam di lukisnya dan disimpan di dalam cincin penyimpanannya.
"Ayah juga merindukan Baby,Ayah menunggumu 3 bulan lagi.Jaga dirimu sayang,Ayah tidak ingin kamunterluka"Entah kenapa Vezia merasa ada yang berbeda dengan suara Raja Lucas,Ayahnya seakan ingin menangis.
"Ayah?Ayah baik-baik saja kan?"
"Ayah baik-baik saja Baby,janji setelah urusanmu selesai cepatlah pulang,Ayah tidak ingin berpisah terlalu lama darimu"Vezia tersenyum dan mengatakan jika dia akan cepat pulang.
Vezia memutuskan hubungan telepati dan kembali bersandar di kursi,didalam kantornya.Academy Wizd sama seperti Academy pada umumnya yang memiliki sistem Asrama,hanya saja Academy Wizd diwajibkan berasrama bahkan untuk seorang keturunan Kerajaan,tidak seperti Academy Light yang dibebaskan ingin berasrama atau tidak.
Bahkan para guru diwajibkan untuk tinggal diasrama namun siapa yang bisa menghalangi Vezia untuk pulang."Ah,aku lapar!"Vezia berdiri dan keluar dari kantornya.
Zio,Zero,dan Jeno langsung saja mengambil tempat disampingnya.Mereka berjalan menuju kantin Academy Wizd dimana banyak para siswa yang tengah duduk dan makan,begitu melihat kedatangan Profesor mereka,mereka semua diam karena takut mengusik ketenangan Vezia.
"Zizi,sebaiknya kamu berhati-hati dengan pemuda yang akan berjalan kearahmu.Aku merasa dia bukan dari dunia ini"telepati Draxy.
Vezia mengangguk dan mentelepati Zio,Zero,dan Jeno untuk waspada.Vezia melihat kearah pemuda berambut merah api,mata hijau gelap dan kulit pucat.Dilihat dari penampilannya Vezia menebak dia juga adalah guru baru,hanya saja Vezia tidak memperhatikannya saat upacara tadi.
Vezia memilih acuh dan duduk dikursi dengan tenang,sebenarnya Academy ini memiliki kantin khusus untuk para pengajar namun Vezia terlalu malas berbaur dengan guru-guru lain yang pastinya akan mengajukan banyak pertanyaan tak berfaedah padanya.
Pemuda berkulit pucat itu berjalan kearah meja mereka,Vezia tetap tenang bersama ketiga pengawalnya.Memilih fokus pada makanan yang saat ini tersaji didepannya.
"Oh selamat siang,Prof.Shera!"Vezia mengangkat kepalanya dan melihat senyum ramah dibibir pemuda berambut merah api yang membuat Vezia merasa ingin mengguntingnya karena terlalu mencolok.
Zio hampir saja menyemburkan makanannya mendapat telepati tiba-tiba itu dari Vezia,sungguh dia ingin ngakak namun tahu tempat.
"Hn!"Gumam Vezia,dan kembali menunduk memakan makanannya.
"Jika tidak keberatan,boleh saya duduk disini Profesor?"Vezia hanya mengangguk,tanpa peduli jika banyak mata memandang kearah meja mereka.
"Ah Prof.Shera,saya belum memperkenalkan diri.Nama Saya Regan,saya guru Aritmatika senang bertemu anda Profesor"ucap Regan tanpa melunturkan senyum ramahnya.
"Hn!"Zio meratapi nasib pemuda sok akrab ini untuk menyapa Vezia,makan tuh kacang,batin Zio.
Suara seorang anak kecil berlari kearah meja Vezia,Vezia tahu itu siapa tanpa mengangkat kepalanya.
"Kakak cantik!!"Noah berlari dengan semangat membara,Rose dibelakangnya mengikuti bersama Pangeran kedua yang tengah menjaga adik mereka.
"Maaf Profesor,kami sudah melarang Noah untuk tidak mengganggu anda sedang makan"ucap Rose dan membungkuk meminta maaf,Vezia menggelengkan kepalanya dan menepuk kepala Rose.
"Tak apa.Duduklah,kalian bisa memesan makanan.Kalian belum makan bukan?"Kedua kakak beradik itu mengangguk,dan ikut duduk disebelah Regan yang masih terus menatap Vezia.
Zio,Zero dan Jeno cemberut dibalik topeng mereka,"Kenapa kami selalu kalah sama anak kecil sih!!"kesal ketiganya ralat Draxy dan Goldy sama kesalnya.
Vezia kembali duduk dengan Noah dipangkuannya,"Noah mau makan apa?"tanya Vezia.
"Noah mau makan masakan Kakak cantik"Vezia mengangkat alisnya sebelah,Rose merasa tidak enak dan menegur Noah.
"Tidak sekarang Noah,kakak tidak bisa memasak disini"Wajah bocah kecil itu tertekuk karena kesal.
"Hey bocah bisa kau tidak meminta macam-macam pada adikku?"sinis Zio,Noah mendelik kesal dan membalas ucapan Zio.
"Memangnya kenapa?kakak cantik saja tidak masalah,kenapa kau yang repot?"Zio ingin sekali memisahkan leher anak didepannya ini.
"Bocah licik,baru beberapa hari bersama adikku kau sudah seenaknya meminta macam-macam"Ketus Zio,dan hendak kembali bicara.
"Kalian berdua bisa diam.Kau bukan anak kecil Zio bertindaklah sesuai usiamu.Dan Noah,kakak tidak bisa memasak sekarang karena kakak harus mengajar."Kedua orang itu cemberut dan saling melayangkan tatapan permusuhan.
Zero dan Jeno memilih acuh dan hanya fokus pada adik mereka,begitu melihat Vezia selesai makan keduanya menyodorkan tangan kearah Vezia.Vezia tersenyum dan mengambil tangan Zero,menggigit dan menyesap darahnya.Tentu saja Noah dipangkuannya terdiam,bukan Noah saja tapi semua orang di kantin,mereka tahu Profesor mereka Vampire tapi baru kali ini mereka melihat langsung maka dari itu mereka sedikit terkejut.
"Wow,kakak cantik apakah itu sakit?"Takjub Noah melihat bekas gigitan Vezia menghilang dari tangan Zero.
"Coba tanyakan padanya"Noah menatap Zero berharap sipemuda dingin itu menjawabnya.
"Tidak,hanya sedikit geli"mata Noah berbinar cerah dan menatap Vezia dengan mata bulat besarnya.
"Tidak bisa Noah,kau masih kecil."Vezia tahu jika Noah ingin dia menggigitnya.
"Tapi kenapa?Noah kuat kok"Vezia menggeleng dan mengusap rambut Noah.
"Tidak bisa,walaupun kau kuat itu berbeda.Tubuhmu terlalu kecil,seorang Vampire hanya boleh meminum darah dari orang berusia 13 sampai seterusnya"Noah mengangguk mengerti dan memakan makanannya yang tadi diantar oleh pelayan.
Vezia melirik jam pasir di meja makan,"Sudah saatnya aku harus mengajar kelas berikut.Noah disinu bersama kakakmu,Kakak cantik harus mengajar dulu"Noah hanya mengangguk.
Vezia menatap Pangeran kedua dan Rose bergantian yang mengerti isyarat Profesor mereka,bahkan dia mengacuhkan sepenuhnya Regan yang sedari tadi ada didepannga.
"Kacang,kacang,kacang~"Zio tertawa terbahak-bahak begitu menjauh dari kantin,menertawakan wajah masam Regan yang di cueki Vezia.Padahal dia lebih dulu datang dibanding Noah dan kakaknya.
"Astaga,aku kasihan pada Guru baru itu,kau membuatnya terlihat seperti arwah gentayangan yang tidak dipedulikan"Vezia menggelengkan kepalanya merasa konyol dengan rasa humor Zio yang kelewat dan menertawakan hal yang tidak lucu menurutnya.
Like..Coment...Vote...