
Hari pembukaan ujian Saintess tiba,keenam murid yang kini telah diberi nama tim 'Reapers' dengan logo seorang maut bertudung suram dan memegang sabit panjang sebagai lambang mereka.
"Karena ini hanya pesta penyambutan,setelah pesta penyambutan kalian akan kembali untuk berlatih karena pertandingan tim akan diadakan setelah hari ke 15 pertandingan individu"jelas Zio yang menatap keenam Tim Reapers yang telah siap dengan pakaian putri dan pangeran mereka.
"Kalian akan berangkat bersama keluarga kalian"Keenamnya mengangguk,mereka berbalik akan pergi tapi terhenti oleh suara Vezia.
"Bukan berarti kalian santai,kalian tidak belajar.Aku ingin kalian membaca dan menghapal masing-masing mantra dan kalian harus latih agar bisa mengucapkan tanpa kata,kalian bisa pergi"
"Baik Profesor"mereka membungkuk dan pergi kearah kereta yang berbeda kecuali Rayyen dan Rose yang dikereta sama.
"Adek!"
"Iya kak?"Vezia menatap Zero dan Jeno dengan pandangan tanya,dan melihat mereka memegang pakaian dan gaun ditangan mereka.
"Ah iya.Aku juga harus bersiap-siap.Pakaian dan gaun diletakan dikamarku saja,aku akan memilih nanti"Kedua ksatria yang sekaligis merangkap sebagai pelayan itu mengangguk menyempatkan diri mengecup kening Vezia sebelum kembali melakukan tugas mereka.
Vezia berjalan menuju kamarnya hanya untuk kembali memutar badan menuju kearah kamar lain yang tidak jauh dari kamarnya sendiri,memberi anggukan singkat kearah kedua penjaga yang menjaga pintu sebelum membuka pintu.
Dia melihat kearah Noah yang telah 1 hari penuh terbaring tak sadarkan diri setelah rirual mereka,kini tanda yang ada dilengan Noah telah hilang.
Dan untuk hewannya,oh tentu saja berada diruang dimensi dalam kurungan Vezia.Karena jika hewan itu belum menyatu dengan sisinya yang lain,dia akan kehilangan kontrol.
Bersyukur Raja Hangao percaya jika Noah aman bersamanya dan juga karena Rayyen dan Rose ada disini membuat Raja Hangao lebih tenang.
"Hai kakak cantik"Noah menguap menggosok matanya dan bersandar kearah Vezia,membuat Vezia diam-diam gemas padanya.
"Hai Noah,sudah lebih baik?"Vezia membantu Noah untuk duduk dengan tegak,diam-diam menyalurkan QI padanya untuk membantu stamina Noah kembali pulih.
Noah mengangguk,seperti yang biasa diajarkan Vezia padanya.Menyilangkan kedua kakinya dan meletakan tangannya masing-masing diatas pahanya,menyerap QI dan sekaligus mengisi staminanya.Vezia mengangguk puas dan bangga.
"Jika sudah selesai,bersiaplah setelah ini kita akan ke Academy karena pembukaan Turnamen"Vezia berdiri setelah mendapat anggukan Noah,meminta pelayan membantu bocah usia 7 tahun itu.
Sementara Noah bersiap sama halnya dengan Vezia yang juga bersiap,karena hari ini pesta penyambutan Vezia memutuskan mengenakan gaun yang mencapai hingga dibawah lututnya berwarna hitam,dengan segala aksesoris yang didominasi warna hitam dan sesekali merah,tidak lupa dengan sebuah jubah pendek dengan tudung berwarna hitam merah.Sebuah sepatu boot kulit berhak warna merah membuat Vezia terlihat seperti pembunuh berantai yang berkeliaran hanya saja dia terlalu cantik untuk dituduhkan seperti itu.
"Vezia udah siap belum?"Vezia berdecak mendengar suara ceria Zio,tidak salah lagi Zio sudah tidak sabar mempertemukannya dengan teman sespesiesnya itu.
Tanpa menjawab dan berjalan kearah pintu dan membukanya membuat Zio yang sedang bersandar dengan gaya hampir terjatuh."Lu kalau mau buka pintu ngasih tahu ke,kalau gue jatuh gimana"Zio mendengus dan merapikan bajunya yang sedikit berantakan.
"Tidak peduli,dan untuk terakhir kalinya Zio.Berhenti menggunakan bahasa itu,aku sudah mencoba melupakan duniaku yang dulu jadi berhentilah"Peringat Vezia dengan suara lembut yang sangat menipu.
Keduanya turun kebawah untuk sarapan dimana sudah ada Zero,Jeno,Allena dan Noah yang menunggu.
"Ratu bolehkah saya bertanya sesuatu?"Allena membuka mulut ketika Vezia telah duduk ditempatnya,Vezia mengangguk.
"Apakah saya harus ikut bersama anda?atau ada tugas lain untuk saya?"Allena bertanya karena dia perlu memastikan jika dia memiliki tugas lain atau tidak,karena dia perlu memantau lebih lanjut kasus adik sepupunya.Taylor telah berada diambang kehancurannya dan dia ingin membuat dalang yang sebenarnya sama hancurnya dengan Taylor,yang entah bagaimana Taylor tidak ingin membocorkan dalangnya sebenarnya bukan tidak ingin dia tidak bisa,itu seperti Taylor berada dibawah ramuan atau sumpah yang akan membahayakan hidupnya.
"Kau bisa melakukan apa yang ingin kau lakukan Allena,aku tahu kau mencari cara membuat Taylor mengaku.Aku sarankan kau membaca buku diperpustakaan disana ada petunjuk untukmu"ucap Vezia,dia tidak benar-benar membutuhkan pengawalan apapun apalagi Allena,karena Allena perlu menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Baik Ratu"Walaupun Ratunya tidak perlu membutuhkannya,Allena tetap mengirim bawahannya untuk berjaga disetiap sisi dan memantau gerakan apapun yang mungkin saja bisa membahayakan Ratunya.Itulah alasan mengapa Allena bisa menjadi ketua atas saran dari Zio dan anak buah Vezia yang lain,Allena selalu mementingkan Ratunya diatas segalanya karena memang itu tugasnya.
...----------------...
Vezia berjalan bersama Noah yang menggandeng tangannya menuju kearah gedung yang Academy Wizd,dimana saat ini semua siswa dari Academy lain sudah berkumpul untuk menunggu pengumuman jika pesta penyambutan akan dimulai.Pesta penyambutan dilakukan di lapangan tempat latihan Academy Wizd dengan sihir yang membuat tempatnya diperluas dan menampung semua orang yang ada.
Vezia meminta anak buahnya untuk membawa Noah menuju tempat murid lain,karena dia perlu mengadakan pertemuan dengan guru-guru Academy Wizd terlebih dahulu.
Memasuki ruangan dimana saar ini semua guru sudah menunggunya,Vezia mengangguk menerima salam mereka.Hanya ketika Vezia sudah duduk mereka berani kembali duduk,lucu untuk melihat wajah ketakutan tanpa sebab dari mereka.
"Jadi ada masalah apa?sehingga kita melakukan rapat dadakan ketika pesta penyambutan akan dimulai?"Vezia menyilangkan tangannya dengab angkuh bertanya.
"Kami hanya ingin memberitahu kepada anda,jika beberapa guru dari Academy Saintess yang penasaran dengan anda,mereka ingin meminta agar bisa bertemu anda secara langsung"Kepala Sekolah dengan hati-hati menjawab,tetapi kepalanya menunduk tidak berani menatap Vezia yang memiliki aura mengancam disekelilingnya belum lagi tiga orang dibelakang Vezia yang terlihat sangat membunuh itu.
"Adakah alasan mengapa mereka sangat ingin bertemu denganku?aku tidak memiliki waktu penuh omong kosong jika mereka hanya ingin melihatku.Aku memiliki waktu untuk melatih muridku,jika mereka hanya ingin bicara denganku.Sebaiknya mereka menunda hingga pertandingan team datang"Vezia tidak ingin membuang waktunya untuk mengisi rasa penasaran orang-orang yang terlalu memakan waktunya,dia ingin fokus melatih teamnya dan juga mengajari Rayyen menemukan Guardian Angel lainnya,Rayyen perlu mempelajarinya agar dia bisa membantu mengumpulkan yang tersisa.
"Tapi kami takut jika alasan anda seperti ini akan membuat guru lain tersinggung nantinya"Kepala sekolah menjawab dengan sehalus mungkin.
Vezia menatap muram mereka melepas sihirnya membuat mereka semua tercekik,telinga serta hidung mereka berdarah akibat menahan kekuatan Vezia.
"Apa kalian pikir aku peduli?kalian hanya perlu mengatakan kepada mereka aku sibuk.Aku bukanlah orang-orang konyol yang membuang waktu,dan jika mereka tersinggung dan merasa tidak dihormati itu masalah mereka.Aku ingatkan sebaiknya jangan membuat masalah,karena masalah kecil akan kuperbesar,kalian mengerti?"Vezia berkata dengan pelan namun nadanya mengancan dan mematikan.
Entah kekuatan darimana mereka mengangguk sedikit,Vezia mengangguk puas menarik kekuatannya dan melambaikan tangan membantu agar para guru kembali bernapas normal dan membersihkan mereka dari darah.
Begitu Vezia keluar mereka menghela napas lega bahkan Kepala Sekolah yang biasa bermartabat terduduk dilantai,merasakan setiap sel tubuhnya gemetar karena takut."Aku tidak akan pernah membuatnya marah,aku tidak pernah merasakan sihir yang begitu mematikan seperti itu.Bahkan tidak ada satupun orang di Academy Saintess memiliki kekuatan semenakutkan dia"Gumam guru lain yang mereka angguki.
Mereka masih bisa merasakan sisa-sisa sihir diudara,mereka tidak yakin bisa berdiri stabil jika saja Vezia tidak membantu mereka dengan sihirnya bahkan ketika Vezia telah membantu mereka tetap gemetar takut secara mental.Inilah alasan mengapa mereka tidak ingin membuat ulah,mereka hanya bisa berdoa agar guru-guru Academy Saintess memaklumi karena mereka tidak akan bisa melindungi jika sampai Vezia marah atas sebuah penghinaan karena Vezia menolak undangan mereka.
Like..Coment..Vote...