Reborn In The Kingdom Of The Past

Reborn In The Kingdom Of The Past
MS133



Semua murid itu terdiam,mereka menatap penasaran kearah Vezia,"Apakah itu penting?"tanya Vezia sekali lagi.


Dan dengan pongahnya seorang gadis menjawab tanpa tahu malu sedikitpun,"Tentu saja penting.Bagaimana kami bisa menerimamu sebagai guru kami jika kau lemah"Vezia mengangkat alisnya sebelah dengan keberanian gadis itu.


Tetapi yakinlah didalam hati para murid lainnya mengumpati keberanian gadis itu yang menantang seorang Ratu dihadapan mereka."Begitu,kalau begitu kau pernah mendengar pasukan Para Vampire 2 tahun yang lalu?yang meninggal dan tak menyisakkan sebekas apapun dalam sekali serangan.Aku tahu kalian semua pernah mendengar tentang sebuah negara telah musnah dalam semalam.Kalian tahu siapa yang melakukannya bukan?Kau gadis tidak tahu malu,aku bisa mencari tahu tentang keluargamu atas ketidak hormatanmu padaku.Kau ingin menguji,kalau begitu sebaiknya kau menerima yang satu ini"Vezia mengeluarkan auranya,tak mengampuni bahkan ketika gadis itu terduduk dan terbatuk darah,meminta ampun dan terlihat sangat tersiksa.Mencoba mencari pertolongan namun mereka menghindar.


Telunjuk Vezia terangkat membuat gadis itu melayang dengan keadaan masih terbatuk darah,terlihat dia yang mencoba bernapas.Matanya memandangi Vezia dengan takut seolah tengah menatap malaikat maut dihadapannya.


Vezia menariknya hingga terduduk dihadapannya,rambutnya ditarik membuat wajah gadis itu berhadapan dengannya."Dengar baik-baik,aku bukanlah orang yang baik.Jangan mencari masalah jika kau tidak ingin berakhir mengenaskan.


Sebelum kau melontarkan sesuatu didepanku,kau harus memikirkannya.Aku adalah gurumu,bertindaklah seperti kau seorang murid yang patuh dan menghormati gurunya.Mudah bagiku membunuhmu dan keluargamu,kau mengerti?"Gadis itu mengangguk atau tepatnya mencoba mengangguk karena saat ini sekujur tubuhnya terasa sakit.Air matanya berlomba-lomba jatuh tanpa henti karena kesakitan.


"Gadis pintar!"Vezia membantunya berdiri dan menarik auranya,menyembuhkan paru-parunya yang terluka akibat serangan batin darinya,tentu saja gadis itu atau siapapun tidak tahu.Memulihkan keadaan dimana gadis itu seperti pertama kalinya.


Dengan kepala tertunduk gadis itu meminta maaf,dan kembali ketempatnya duduk."Sekarang ada yang ingin tahu?"Mereka semua menggeleng dengan cepat,itu adalah peringatan untuk tidak meragukan guru mereka.


Vezia tersenyum sinis,"Bagus!,lanjutkan pelajaran kita.Aku sudah menjelaskan tentang bakat bakat,ada yang ingin bertanya.Ini terakhir lalu setelah itu kita masuk ke praktik,saat kita melakukan akan kujelaskan mengapa aku menyatukan sihir dan QI"Kali ini pemuda lain mengangkat tangan.


"Profesor,apa perbedaan seseorang yang memiliki sihir alami.Bukankah sihir kami sudah dikatakan alami karena sudah berada di seluruh tubuh?"Vezia menjetikkan jarinya.


"Pertanyaan yang bagus.Tentu saja keduanya ada perbedaan,aku mengatakan jika kalian bukanlah penyihir alami walaupun diseluruh tubuh kalian mengalir sihir,aku mengatakan seluruh tubuh.Yang kumaksud adalah anggota tubuh yang beraktivitas secara fisik,seperti tangan,kaki,dan apa saja yang beraktivitas secara fisik diluar.Sedangkan seorang penyihir alami memiliki yang namanya Mata Sihir disetiap titik tertentu aliran darah,sel,organ dan bagian tubuh dalam lainnya.Itulah mengapa mudah bagi mereka mengendalikan sihir tanpa tongkat karena sihir mereka mengalir secara alami dalam darah bukan tubuh seperti kalian.Kalian membutuhkan tongkat agar efektif menggunakan sihir sebagai sarana penyalurannya,karena jika kalian memaksa tidak menggunakan tanpa objek benda akan membuat anggota tubuh tertentu kesakitan,tetapi sering kali ada yang bisa mengatasi menggunakan sihir tanpa tongkat tetapi hanya pada mantra mantra kecil,seperti mantra melayang,menyalakan api atau menyalakan sebuah cahaya sebagai penerang dikegelapan,apa kalian mengerti?"


"Mengerti Profesor!"Vezia mengangguk dengan puas.


"Bagus,kalau begitu kita akan mulai praktik.Apa disini memiliki Arena latihan?"Seorang pemuda berkaca mata berdiri.


"Ada Profesor!"Vezia mengangguk,"Kalau begitu kalian ganti baju sekarang,kita akan langsung kelapangan"


"Baik Profesor"Vezia berbalik menatap Zio,"Lo bisa pergi beli makan atau apa kalau lo bosan,gue tunggu di arena latihan"Zio mengangguk dan menghilang tanpa jejak.


Vezia meninggalkan ruang kelas yang sudah kosong karena mereka pergi berganti baju,dia sendiri harus mengganti pakaiannya.Vezia memilih menggunakan pakaian latihannya yang biasa di Istana,berdoa saja semoga kedua Ksatria kesayangannya dan juga dua hewan sucinya tidak mengamuk karena pakaiannya saat ini.


Vezia merasa gerah jika berlatih menggunakan baju berlengan panjang,terlebih cuaca saat ini terlihat panas.Baju latihan yang berada diatas pusar berlengan pendek dan celana training hitam ketat.Rambutnya dia biarkan tetap terkepang satu.


Mengambil jubahnya Vezia mengenakan jubahnya terlebih dahulu menutupi bajunya,dan kembali memasuki kelas dimana semua murid sudah menunggunya.


Vezia menatap aneh kearah para gadis yang mengenakan semacam gaun pendek yang dia tahu pasti membuat gerakan mereka lebih leluasa,Tapi tetap saja pelatihan Vezia berikan berbeda dengan mereka menggunakan itu membuat pergerakan mereka tetap saja terhambat.


"Kalian para gadis apa tidak memiliki celana?latihan yang kuberikan memerlukan semua gerakan tubuh,walaupun pakaian itu adalah pakaian latihan itu masih tetap seperti gaun dan menghambat pergerakan,pergi ganti baju kalian.Dan jika memang bisa gunakan pakaian seperti yang digunakan laki-laki,cepat!!"Para gadis itu terdiam.


Vezia mendengus geli,"Itu pendapat orang lain kepada kalian,dimata mereka kita seorang perempuan harus sempurna namun jika kau bertemu seseorang yang benar-benar mengerti,sejelek apapun kau berpenampilan dia tetap akan memuja kesempurnaanmu.Sekarang aku bertanya apakah kalian belajar bela diri hanya sebagai sarana hiburan,?apakah ketika menghadapi suatu bahaya dan nyawa kalian taruhannya gaun dan kesopanan masih penting?ingat kita hidup di dunia yang masih memiliki manusia tak bermoral sebagai penghias.Disaat pertarungan tiba,musuh tidak akan peduli kau seorang gadis yang perlu dilihat kesopanannya,yang dia tahu selama kau bisa dibunuh,apapun jenismu apapun pangkat dan apapun sikapmu kau akan tetap mati,jadi kau masih bertanya tentang itu"


Semua gadis disana mendongak menatap mata dingin Vezia,"Harus kuingatkan aku masih seorang gadis remaja usia 16 tahun,tapi mataku terbuka memandang dunia lebih luas.Semakin kau dewasa semakin kau tahu jika baik saja dan kesopanan saja tidak cukup untuk bertahan hidup.Dunia kita memiliki hukum rimba,dia yang kuat dihormati dan dia yang lemah akan diinjak.Seorang perempuan rendah dimata seorang laki-laki,jika kalian terlalu sopan laki-laki akan semakin merendahkan kalian,jika kalian menunjukkan sikap lemah bahkan disaat itu kalian mengatakan itu kesopanan,laki laki hanya akan berasumsi jika perempuan tidak pantas mendapat kekuatan.Ada saatnya dimana kalian harus bersikap baik dan ada saatnya dimana kalian harus bersikap sebagaimana halnya seorang pejuang,kalian mengerti?"


Para gadis itu menatap dengan mata tegas kearah Vezia dan menjawab dengan suara lantang yang mampu membuat para laki-laki didalam kelas terpukau dan sedikit ngeri begitu merasakan jika para gadis disana seolah menyatukan kekuatan mereka.


"Kami mengerti Profesor!!"Vezia menyeringai puas,dan menyuruh mereka berganti pakaian.


Para gadis itu pergi berganti sementara Vezia tetap berdiri menatap kearah jendela,mengacuhkan jika saar ini murid laki-lakinya mengamatinya.Beberapa menit lamanya para gadis telah kembali dengan pakaian latihan laki-laki,Vezia tersenyum puas.


"Ayo,waktu latihan kita hanya 5 jam saja"Vezia berjalan memimpin menuju arena dengan murid murid dari kelas Bangsawan mengikutinya dibelakang.


Begitu memasuki arena Vezia meminta mereka berbaris,"Bentuk barisan,perempuan disebelah kiri dan laki-laki disebelaha kanan.Beri jarak setidaknya 1 meter"Mereka melakukan apa yang diminta Vezia.


"Keluarkan tongkat sihir kalian"Semuanya memgeluarkan tongkat sihir mereka,Vezia memutar kepalanya yang sedikit pegal menghasilkan bunyi yang mampu membuat mereka meringis dan refleks memegang kepala mereka sendiri.


Vezia membuka jubahnya dan membuatnya menghilang entah kemana,mereka semua melotot melihat pakaian Vezia dan terpaku kearah perut Vezia yang berotot,kenapa mereka merasa ragu jika Profesor mereka adalah seorang perempuan.Astaga belum pernah mereka melihat seorang gadis memiliki otot perut layaknya seorang laki-laki.


Vezia tidak tahu jika beberapa murid lelakinya merasa insecure dan malu karena sejujurnya mereka tidak memiliki otot perut seperti Vezia,yah walaupun tidak terbentuk sepenuhnya namun masih terlihat,membuat iri saja.


Angin berhembus membuat suasana mereka tegang,entah kenapa pelajaran dikelas lain terhenti dan terlihat banyak murid yang datang untuk melihat cara mengajar Vezia,mereka diam-diam juga melotot pakaian Vezia dan otot tubuhnya.


Vezia tahu jika saat ini para guru ikut melihat dimenara tertinggi yang memungkinkan melihat keadaan diluar."Kalian siap?"


"Kami siap Profesor!!"


"Bagus!"Vezia tidak sabar ingib menyiksa para muridnya ini.


Draxy dan Goldy merasa kasihan kepada para bocah yang akan dilatih Vezia,tentu saja mereka tahu pelatihan yang Vezia berikan akan menjadi sebuah neraka.Jeno dan Zero di kejauhan juga merasa kasihan,mereka dengan cepat muncul disamping Vezia membuat para murid tertegun dan terkejut.


Zio juga telah kembali bersama Shouto dan Tamaro,tentu saja membuat mereka terkejut.


"Siap menerima perintah Queen!"ucap mereka serempak seraya berlutu didepan Vezia.Vezia menatap mereka,"Kalian masih ingat dengan batu-batu yang aku suruh untuk simpan?"Mereka mengangguk.


"Bawa kemari,semuanya"Mereka menghilang tanpa jejak melakukan perintah Vezia tanpa membantah.


Like...Coment...Vote