Reborn In The Kingdom Of The Past

Reborn In The Kingdom Of The Past
MS159



Seperti yang dia bilang,Vezia benar-benar datang atas undangan ramah Castor untuknya.Sekarang Vezia berada didalam ruangan Kepala Academy,dengan Castor dan Chelwis duduk didepannya,Zero,Jeno dan Zio yang memaksa ikut duduk disampingnya.


"Terima kasih atas undangan ramahmu,Tuan Castor"Vezia memberi salam pembuka yang menurut Castor sedikit dingin dna bergidik.


"Tidak masalah Nona,suatu kesenangan bagiku bisa mendapatkan perhatian dan waktu dari orang sangat sibuk sepertimu"Castor tersenyum dibalik kipasnya,gerakannya yang anggun dalam membuka kipas membuat Vezia sedikit iri.Vezia sebenarnya agak kurang ahli dalam menggunakan kipas tangan seperti itu,itu salah satu kelemahannya yang hanya diketahui Zio.


"Hmmm..!"Vezia hanya bergumam dan meminum secangkir teh herbal yang masih mengepul.


Matanya beralih menatap Chelwis yang diam-diam menatapnya sedikit membuat Vezia tidak nyaman,tapi mengabaikannya hanya merasa jika mungkin orang itu menganalisa kemampuannya.Itu berjalan seperti biasa mereka berbicara,kebanyakan membicarakan tentang murid-murid mereka.Dan sekarang Vezia benar benar tidak nyaman dengan Chelwis yang semenit atau dua menit selalu menatapnya sebelum beralih ikut bicara.


"Saya tahu anda menganggumi saya Kepala Sekolah,tapi tatapan anda sungguh membuat saya tidak nyaman.Apa anda belum pernah melihat gadis secantik saya,hingga sangat terpesona?"ucap Vezia dengan tingkat kepercayaan diri tinggi yang membuat Zio tersedak makanannya,walaupun sebenarnya memang benar jika Vezia sangat cantik,tapi dia tidak pernah melihat sahabatnya sepercaya diri ini.


Castor menganga dengan tidak elitnya,sementara Chelwis melongo seperti orang bodoh.Vezia menanggapi dengan acuh reaksi mereka,dan pamit kepada Castor karena ini sudah melewati waktu dan dia harus kembali untuk melanjutkan latihan,dia berharap begitu sampai ke Manor,Melvin dan Rayyen tidak bertengkar.


Castor dan Chelwis tersadar tersisa mereka berdua,Castor menggeleng dengan takjub kearah pintu Vezia pergi."Sekarang aku tahu kenapa dia menjadi anakmu,tingkat kepercayaan dirinya bahkan melebihi dirimu"Castor menatap Chelwis dengan takjub,Chelwis tidak tahu apakah itu sebuah pujian atau hinaan untuknya.


Sementara itu dipihak Vezia sendiri,Zio tertawa terbahak-bahak mengingat kata kata Vezia."Oh tuhan,aku..astaga Zia kau..sejak kapan kau memiliki tingkat kepercayaan diri seperti itu,oh astaga..perutku sakit!!"Zio tertawa histeris seperti orang gila,membuat Vezia menjauh bersama Zero dan Jeno.


Vezia menyeringai kearah Zio,"Memang benar bukan?"Zio menatap Vezia sebentar sebelum kembali tertawa,ya tuhan kadang-kadang temannya ini bisa menjadi pelawak jika dia ingin,tapi tentu saja itu hanya 1% dengan betapa kosongnya ekspresi Vezia terhadap orang lain dan betapa dingin tanggapannya.


Mereka kembali ke Manor hanya untuk disambut dengan makian dan teriakan serta benturan kekuatan antara Rayyen dan Melvin,Vezia menatap datar kearah dua orang yang tidak sadar akan kehadirannya.Matanya mencari orang lain,"Pantas saja,pawang liar dua orang ini tidak ada disini!"Vezia menghela napas.


"Jika kalian tidak berhenti sekarang,aku akan melempar kalian kedalam kandang Ularku!"Mereka tegang dan bergidik,suara Vezia memang lembut tapi nadanya benar benar dingin dengan aura membunuh disekitarnya.


"Maaf Ratu!"Kedua pemuda itu lari dengan cepat tidak ingin kena amukan Vezia.


Mata hijau zambrud Vezia yang palsu hanya memandang datar keduanya,"Zio aku tarik kembali kata-kataku menjodohkanmu dengan Melvin,sepertinya Rayyen dan Melvin sangat cocok"Zio berbalik dengan tersentak hampir mematahkan lehernya.


Hell?!!Melvin dan Rayyen cocok,cocok darimananya kayak tikus sama kucing baru betul.Dan apa-apaan itu?!!sejak kapan dia setuju,dan apa pula dia menjodohkan orang lain seperti itu.Jika itu perempuan dan laki laki bisa diterima tapi ini?astaga ada apa sebenarnya dengan Vezia.


"Zio kirim surat kepada Kakek,aku ingin bicara sesuatu dengan dia"Nada dingin Vezia membuat Zio tahu jika Rolend benar-benar dalam masalah saat ini.Vezia tidak akan pernah berbicara seperti itu jila menyangkut keluarganya,tetapi jika seperti ini berarti Rolend membuat kesalahan terhadap Vezia.


Zero dan Jeno menatap Vezia dengan tanya,mengapa Vezia terlihat sangat marah dan kesal."Ada apa dek?"


"Kakek berbohong sesuatu padaku tentang kematian Bunda"Wajah Vezia muram dan cemberut pandangannya benar benar akan bisa membunuh jika itu terjadi.


Zio mengangguk dan pergi lebih baik menyingkir lebih cepat dari pada menjadi sasaran amukan Vezia.


...----------------...


Regan berdiri dengan tegak dihadapan tuannya dengan kepala tetap menunduk,"Bagaimana kau sudah mengetahui siapa gadis itu?"


Regan menggeleng tatapannya tetap dingin dan datar,"Belum Tuanku,gadis itu selalu bisa menghindari saya dan juga pengawalnya tidak akan pernah meninggalkan saya.Saya curiga mereka tahu saya mencoba mengorek identitas asli gadis itu"


Seringai dan tatapan tertarik terlihat dimata apa yang Regan panggil sebagai Tuannya,"Begitu ya?dia gadis yang benar-benar menarik.Lalu bagaimana dengan Kepala Sekolah itu?"


"Kepala Sekolah itu juga sama Tuanku,dia dan temannya Castor memiliki identitas yang sangat tersembunyi.Tapi dari apa yang saya dengar dari murid-murid Academynya dia adalah anak terakhir dan yang tersisa dari keluarga yang mendirikan Academy Saintess.Selain dari itu,saya tidak memiliki informasi apapun"Regan menjawabnya dengan nada suara monoton,terbiasa berbicara seperti itu dan terima kasih Tuannya ini benar-benar mengenal anak buahnya sehingga dia tidak menghukumnya.


"Apakah hanya itu?"


Regan menggeleng tanda tidak ada,pemuda tampan didepannya itu mengangguk dan akan pergi tetapi Regan angkat bicara.


"Itu Tuanku,haruskah saya kembali memata-matai Gadis itu atau saya fokus untuk memata-matai Kepala Sekolah?"Regan menegang menunggu perintah Tuannya,dia tidak bodoh jika Tuannya tidak menyadari ada maksud dibalik pertanyaannya.


Dia bisa melihat mata Tuannya menyipit tanda curiga,"Perasaanku saja atau kau memang terlihat sangat ingin melanjutkan misimu memata-matai gadis itu.Regan,apakah kau memiliki sesuatu dibalik itu?kau tahukan apa konsekuensi jika aku tahu kau melakukan hal-hal omong kosong?terutama jika kau berkhianat padaku"


Regan menggeleng,"Tidak Tuanku,Saya tidak bisa menyembunyikan sesuatu darimu Tuanku.Saya tidak bernai melakukan hal seperti itu"


Pemuda dengan mata hitam pekat itu mengangguk walaupun masih menaruh curiga,"Kau bisa tetap memantau gadis itu,masalah kepala sekolah akna kuberikan pada yang lain"


Regan mengangguk walau secara mental sangat bahagia bisa melanjutkan misinya,katakanlah dia bertindak ceroboh tetapi dia benar-benar merasa nyaman dan hidup disamping asisten Vezia,kata lain Zio.Walaupun Regan tahu Zio agak risih dengan kehadirannya tapi Regan menganggap Zio sebagai teman pertamanya,dalam hidup Regan dia tidak pernah bisa mendapat seorangpun yang ingin berbicara dengannya tanpa rasa takut ataupun tanpa niat untuk menjahatinya.Dia tahu Zio curiga tentang dia tapi dia bersyukur Zio tidak bertanya sesuatu hal yang membuatnya tidak nyaman,walaupun Zio curiga tapi dia kagum Zio tidak melakukan hal berbahaya agar dia menjauh dari gadis yang menjadi Sahabat Zio sekaligus atasannya.


Ditambah ketika Zio berhasil memergokinya mengerjai seorang guru dari Academy yang terus-terusan menempel padanya dan mengirimnya surat-suart cinta,oh dia muak dengan itu.


Dia tahu satu hal Zio sama dengannya suka mengerjai seseorang yang menurut mereka mengganggu.Regan pergi dengan senyum senang tanpa dia ketahui Tuannya masih memantaunya melihat gerakannya.


"Haruskah saya mengikuti Regan,Tuanku?"


"Baik Tuanku!"


...----------------...


Vezia duduk dengan wajah gelap dan muram menatap pria paruh baya namun tetap gagah didepannya,sementara yang ditatap hanya tersenyum berseri-seri seolah tidak afa tatapan maut dilayangkan kearahnya.


"Zizi lama tidak berjumpa,apa kau tidak merindukanku?!!"Rolend dengan heboh berdiri berlari kearah Vezia berniat memeluknya tapi Vezia melotot ganas membuat Rolend mundur.


"Duduk Kakek,aku perlu bicara sesuatu denganmu!"Vezia mendengus dingin melihat Rolend langsung menuruti kata-katanya tetapi bukan duduk didepannya melainkan disebelahnya.


"Ada apa?"


"Kakek berbohong padaku bukan?"Vezia menyipitkan matanya menatap Rolend menantang orang tua itu untuk berbohong padanya.


"Aku membohongimu?apa maksudmu Zizi,aku tidak pernah"Rolend menatap cucunya dengan mata memohon untuk percaya,Vezia menghela napas memijat pelipisnya pusing dengan tingkah Rolend seperti anak kecil.


"Tolong Kakek,aku serius.Bisakah kakek berhenti bercanda denganku?"


"Tapi aku benar-benar tidak tahu Zizi"Rolend mengernyit bingung menatap cucunya.


"Ini tentang kematian Bunda"Rolend menghela napas,sepertinya dia tidak bisa menyembunyikannya lagi.


"Ya,Bundamu terbunuh.Tapi pelakunya adalah orang yang bukan berasal dari dunia ini.Dia adalah Raja di Kerajaan dunia atas.Kau akan tahu identitasnya ketika ulang tahun Ayahmu,aku tidak bisa memberitahumu sekarang.Aku tidak ingim Ayahmu membunuhku"Rolend memalingkan wajahnya menghindari tatapan mematikan Vezia.


"Apakah Ayah tahu siapa pembunuhnya?"Vezia mengepalkan tinjunya,dia benar-benar ingin membunuh sekarang.


"Ayahmu tahu Bundamu dibunuh,tapi dia tidak tahu siapa pelakunya.Itu cukup mengejutkanku kau lebih dulu tahu dari pada Ayahmu"Rolend menatap kembali kearaj Vezia yang hanya menatap kosong dan datar kearahnya.


"Apakah aku bisa membunuh orangnya?"Vezia bertanya dengan santai,sementara Rolend memiliki ekspresi rumit diwajahnya.


"Haruskah aku mengatakannya?tapi aku takut Zizi akan lebih dendam.Sebaiknya tidak,aku takut Lucas akan lebih murka jika aku yang memberitahu anaknya"


"Kau bisa membunuhnya tapi aku sarankan kau harus mendengar penjelasannya dulu,dan juga kau harus tahu siapa dia sebenarnya"ucap Rolend dengan tenang,berusaha membuat Vezia tetap tenang karena dia tahu didalam hati Vezia tengah meledak akan amarah.


"Kenapa?"Vezia bergumam dengan lembut dan halus namun mematikan.


"Kenapa aku harus menahan diri untuk tidak membunuh orang yang merebut ibuku?!!"Bentak Vezia matanya memerah karena marah.


Rolend menarik tangan Vezia lembut dan mengelusnya,"Zizi,aku tidak melarangmu membunuhmu,kau bisa membunuhnya tapi aku ingin kau tahu siapa dia dan alasannya.Setelah itu kau bisa mengambil keputusan sendiri,karena dalam hal ini Ayahmu akan memberi keputusannya kepadamu"Rolend mengelus kepala Vezia.


"Pergi kakek,tinggalkan aku sendiri"Vezia beranjak pergi.


"Zizi!"Rolend menghela napas frustasi dan menutup wajahnya dengan tangan.


"Astaga Diana,apa yang telah kau dan dia lakukan.Kau hanya membuat segalanya untuk Zizi menjadi rumit"Rolend mengacak-acak rambutnya dan pergi mengejar Vezia.


Rolend menatap dua Ksatria Vezia yang menjaga pintu kamar Vezia.Rolend menghela napaa lagi dan mengetuk pintu,"Zizi sayang buka pintunya"


"Tidak,kubilang pergi.Aku tidak ingin bertemu denganmu sampai kakek mengatakan kenapa aku harus menahan diri membunuhnya jika aku memiliki alasan jelas untuk itu!!"Vezia berteriak dari dalam kamarnya.


Yang mereka yakini sekarang semua barang didalam pecah karena amukan Vezia,"Zizi kakek tidak melarangmu seperti yang kukatakan,aku tidak bisa memberitahumu sekarang.Ayahmu memberiku sumpah kerahasiaan agar dia yang memberitahumu"Rolend menatap pintu dengan frustasi,dia tidak bisa masuk bahkan jika dia menggunakan sihirnya,kekuatan Vezia lebih besar dari pada miliknya.


"Kenapa harus?!!bahkan Ayah tidak tahu identitas pembunuhnya jadi mengapa harus?"Vezia masih belum membuka pintu tapi dia tidak lagi berteriak.


"Zizi Ayahmu memang tidak tahu siapa pembunuhnya,tapi pembunuhnya berhubungan denganmu.Aku tidak bisa memberitahumu siapa pembunuhnya karena aku melakukan sumpah kerahasiaan dengan Ayahmu tentang orang itu"Rolend berdoa semoga Vezia mengerti,dan yah sepertinya dewi fortuna berpihak padanya karena sedetik kemudian Vezia membuka pintu,dan pemandangan kamar hancur hal pertama yang mereka lihat,dan ditengah tempat tidur Vezia duduk dengan pandangan kosong kearah mereka.


"Baik,aku akan menunggu tapi aku akan tetap membunuhnya bahkan jika Ayah melarang"Vezia menggertakan giginya.


Rolend tahu lebih baik untuk tidak berdebat,"Baiklah,terserah dirimu saja.Kalau begitu Kakek harus kembali"Vezia mengangguk tanpa menatap lagi Rolend,Rolend menghela napas memeluk Vezia dan menghilang ketika Vezia membalas pelukannya.


"Zizi lapar"Vezia bergumam kearah Zero yang terkekeh mendengar itu.


"Ayo kita makan,kamar ini biar Jeno yang merapikannya"Vezia mengangguk dan berdiri,mereka berdua meninggalkan Jeno yang merapikan kembali kamar yang seperti kapal pecah itu.


Vote..like..coment..