
Back Song(Duncan Laurence-Arcade)Harry Potter moment
-----------------------------------------
(Jerry And Vezia Moment Now)
Didalam kamar Vezia,Vezia bukannya tidur melainkan bercerita bersama sang kakak,dirinya ingin melepas rindu.
Jerry tak berhenti tersenyum,begitupun Vezia.Sekali lagi air mata Vezia jatuh tanpa permisi,Jerry menghapus air mata Vezia.
"Jangan menangis hm.Kakak disini bukan untuk melihatmu menangis,kakak ingin mendapat senyuman"ujar Jerry lembut tanpa pernah sedetikpun melepas pandangan nya dari mata Vezia.
Vezia tersenyum sendu.
"Kak sebuah senyuman yang kakak inginkan bukan dari wajah ini kan?"Jerry menggeleng tetap mempertahankan senyumannya,tak ada niatan sama sekali melunturkannya.
Jerry memegang dagu Vezia mengangkat kepala Vezia yang tadi menunduk dan kini menatapnya.
"Kakak tidak pernah bilang senyuman yang kakak mau dari wajah mu yang dulu,bagaimana pun dirimu,bagaimana pun wajahmu,yang kakak mau senyuman seorang Janie,adik kakak yang manis,yang setiap hari selalu mengisi warna bagi kakak,dan membuat warna itu memudar ketika kepergiannya.Membuat kakak hancur karena melihatnya pergi,membuat kakak tak bisa menghadapi dunia seorang diri.Dan sekarang dia berada dihadapan kakak,cahaya,warna dan kehidupan kakak telah kembali,walau wajahnya berbeda tapi kakak yakin hati dan sikapnya serta senyumnya masih seorang Janie"
Vezia memejamkan matanya menikmati elusan lembut dari kakaknya.Matanya kembali terbuka,merasakan ciuman lembut di dahinya.
Tes..
Air matanya kembali jatuh.Ah,rasanya dia sangat merindukan kecupan hangat tiap malam yang diberikan Jerry.Akhirnya setelah rasa rindu nya yang membuat sesak dadanya kini telah terbayar.
Vezia kembali menatap Jerry,ada perbedaan antara fisik Jerry dan Pangeran Keempat Hidori sedikit.Warna mata mereka berbeda,serta warna rambut mereka.
"I Miss you so much,My Sister.I'm Sorry I couldn't take care of you just yet.Stay alive,i want to always see your smile.I'm Sorry Again!"Ucap lirih Jerry,sampai sekarang Jerry merasa bersalah dan selalu menyalahkan diri karena kepergian Vezia.
Tes...
Kali ini bukan air mata Vezia,melainkan Jerry,mengingat tubuh adiknya lemah tak berdaya,membuat nyawa Jerry seakan lepas dari tubuhnya.
"Maaf Nona Janie tidak bisa diselamatkan,percuma membawa dia kerumah sakit.Saraf,otak hingga jantungnya relah rusak parah akibat kecelakaan!"dada Jerry sesak mengingat semuanya.
Dirinya memeluk Vezia erat.Seolah tak ada hari esok untuk memeluk Vezia lagi.
"Hiks...kakak merindukanmu,rasanya sangat menyiksa kakak.Melihat tubuh mu yang lemah,dan tak menyahuti segala ucapan kakak membuat kakak merasa sesak"Vezia sedikit bingung dengan ucapan Jerry.
Vezia memandangi wajah kakaknya.
"Rasanya dunia kakak hancur tanpa sisa,kakak merasa kakak tidak becus menjagamu.Seharusnya...!"Jerry tidak kuat meneruskan kalimatnya.Vezia menggeleng dan mencoba menghapus air mata Jerry walau percuma karena lagi lagi air mata itu turun.
"Don't Cry,this is not your fault,this is indeed the destiny we have to live"Jerry menggelengkan kepalanya.
Takdir?jika boleh dia berkata,di membenci takdirnya,takdir adiknya yang membuatnya harus berpisah.Dia benci,rasanya seolah dia tak berguna di dunia tanpa seorang adik,tanpa adiknya.
"Kakak tidak menerima takdir ini.Takdir kakak yang menyiksa.Kamu tahu setiap hari ketika kakak sendiri dikamar,kakak selalu membayangkan kamu mengetuk pintu kakak dan mengajak kakak bermain,hahah rasanya sangat menyenangkan.Oh dan lagi ketika kamu memaksa kakak untuk memakan makanan kesukaan mu yang menurut kakak tidak enak,hihihi rasanya sangat seru...tapi,kamu tidak datang,kakak sedih sekali,kakak sudah mencari kemana mana tapi kamu tidak ketemu,kamu memang benar,kamu memang ahli bersembunyi dibanding kakak!"
Vezia merasa sebuah jarum menghunjaminya,sakit,sesak,melihat kakaknya seperti ini.
"Kakak tidak ingin lagi bermain sembunyi denganmu,itu menakutkan ketika kamu tidak ketemu"ucap Jerry menatap Vezia dengan pandangan tajam.
Vezia mengangguk dan menghapus air mata nya dan air mata Jerry.
"Yeah,tidak akan lagi"
"Kakak ingin bercerita,setiap malam kakak selalu memelukmu ketika tertidur,kakak mengajak mu bicara,tapi kamu tak menjawab,kakak sangat marah ketika kamu tak memakan makananmu.Kakak hanya tidak mau kamu sakit,tapi kamu bahkan masih menutup matamu tanpa mau menjawab!"Vezia menatap tak percaya kakaknya apa maksudnya.
Dia tidak sanggup mendengarnya dia tak sanggup,perkiraan nya selama ini benar,Jerry menjadi seperti ini.
"Kak sudah yah,sekarang Janie kakak disini,kakak tidur yah,malam ini kakak disini saja,kita tidur bersama!"Vezia berusaha untuk menahan tangisannya.
"Benarkah,kalau begitu ayo tidur,kakak ingin memeluk erat dirimu"ucap Jerry riang.
Vezia dan Jerry berbaring.
"G'Night My Princess"ucap Jerry,Vezia tersenyum tetap mencoba agar air matanya tak jatuh.
"Night Too My Prince"ucap Vezia.Vezia mengelus kepala Jerry,dan bersenandung.
"Hihi kakak merindukan senandung untuk kakak ini"Vezia tetap mempertahankan senyumnya.Vezia terus bersenandung dan mengelus kepala Jerry hingga merasa Jerry benar benar sudah tertidur.
Vezia melunturkan senyumnya,air matanya kembali merembas.Vezia mencium dahi Jerry air matanya menetes,hingga dirinya bisa melihat Jerry ikut meneteskan air matanya.
"Kakak jangan menangis lagi,Zizi nggak suka"lirih Vezia.
Vezia harus tahu semuanya apa yang terjadi kepada kakaknya selama ini.
"Zio,bisa temuin gue sekarang,gue butuh lo"suara serak Vezia dapat dirasakan Zio melalui telepati.
"Kita ketemu di danau kayak biasa"
Vezia menatap kakaknya sejenak,memberi Jerry mentra tidur agar tetap tidur nyenyak tanpa gangguan.
Vezia melesat keluar melalui jendela.Dirinya pergi kedanau biasa Zio dan dia bertemu.
Dirinya bisa melihat Zio sedang memunggunginya,merasakan kedatangan Vezia,Zio berbalik dirinya dapat melihat air mata yang turun tanpa henti,Zio membuka tangannya tanda meminta pelukan.
Vezia berlari dan memeluk Zio erat,dia butuh sandaran saat ini.Dia ingin bercerita kepada kelima kakaknya atau ayahnya tapi,dia tidak mau jika mereka sedih,Vezia sangat tidak ingin melihat air mata sedih dari mereka apalagi karena dirinya.
Zio bisa merasakan keadaan Vezia yang sangat kacau.Zio mengelus belakang Vezia lembut memberi kata kata penenang untuk sahabatnya itu.
"Hiks...Zio..gue gak kuat...gue gak kuat lihat kak Jerry kayak tadi"Zio mengeratkan pelukannya.Dia ikut bersedih melihat sahabat satu satu nya ini bersedih,hingga tanpa disadari air matanya jatuh,Zio cepat cepat menghapus air matanya,dia tak ingin menangis,karena saat ini Vezia membutuhkannya.
"Tenang Zi,tenang.Kalau lo mau nangis,nangis aja gue akan selalu ada disamping lo,gue akan selalu ada,gue akan selalu jadi sandaran buat lo,karena gue sahabat lo,gue sayang sama lo,dan gue gak mau lo memendam rasa sakit yang berakhir bikin gue sedih,sekarang luapin semua rasa sedih lo,gue disini buat lo"tanpa bisa dicegah lagi Vezia menangis dipelukan Zio.
Zio semakin mengeratkan pelukannya,bohong,bohong jika dia tidak menangis melihat keadaan sahabatnya ini.Sesak,dia merasa sesak,kali ini rasanya dua kali lipat sesak sama seperti ketika dia mendapat kabar jika Janie pergi selama lamanya.
Setiap kali air mata Zio turun,setiap itu juga dia menghapusnya.Seorang Vampire jika sudah mendapatkan seorang sahabat akan sangat setia,contoh Zio.Setiap rasa sakit sahabatnya selalu dia rasakan,rasanya begitu sesak.
"Hiks...Zio..bisa lo ceritain semuanya,semua hal tentang kakak,Mommy,Daddy setelah kepergian gue"Zio melepas pelukannya,memegang kedua sisi lengan Vezia.Menatap Vezia yang masih menangis.
Zio membawa tangan kanannya,menghapus air mata Vezia.
Jika kalian pikir Goldy san Draxy bisa melihat ini semua jawabannya tidak,Vezia menutup akses mereka,karena Vezia tidak mau kedua partnertnya itu mengamuk melihat nya menangis.
"Gue bakal ceritain,kalau lo udah tenang,gue gak mau ketika gue cerita air mata lo masih ada.Gue gak suka"Vezia mengangguk,sebisa mungkin.
"Udah tenang?"Vezia menganggukan kepala nya.
Zio menuntun Vezia untuk duduk di bawah pohon di depan danau.Dan mengalirlah ceritanya.
**Oke,kayaknya bakal flashback lagi di kehidupan dulu,nanti di chap selanjutnya.
Jangan Lupa Like.Comen.And Vote**..