
"Memikirkan sesuatu?"Castor bertanya ketika memasuki ruangan Kepala Sekolah Academy nya,tetapi yang dia lihat sahabatnya itu tengah melamun menatap keluar jendela.
Luxia,atau tepatnya Chelwis AnLuxia Entazhana Raja dari Kerajaan Entazhana.Kerajaan tertinggi di dunia atas memiliki hubungan langsung dengan Istana Malaikat,dan juga merupakan Ayah kandung dari Vezia.Menyamar sebagai Kepala Academy Saintess dengan nama Luxia hanya untuk menyembunyikan kedoknya agar bisa memantau putrinya.
"Tidak"Luxia atau kita panggil Chelwis membantah tanpa menatap kearah lawan bicaranya.
Castor mencibir dengan kebohongan yang terlalu jelas itu,"Ya,Chelwis Raja perkasa Entazhana aku tidak berteman denganmu sehari dua hari namun bertahun-tahun,kau jelas sedang memikirkan sesuatu!"Sinis Castor,kipas tangan berwarna putih tulang dengan bordir Naga Ungu tua itu melayang memukul kepala Chelwis.
"Aduh!"Chelwis mengadu dan mengusap kepalanya,dan melotot tidak terima ke arah Castor,apa dia pikir pukulan keras dari kipasnya itu tidak sakit?!.
"Jadi kau sedang memikirkan apa?apa kau memikirkan gadis 16 tahun sebagai Ratu Kerajaan DIV atau kau sedang memikirkan keponakanku?"Castor duduk dengan anggun,membuka kipasnya dan mengipasi dirinya sendiri dengan ayunan lembut.
Chelwis menghela napas,berbalik menatap sikap santai Castor."Aku memikirkan putriku,jika kau bertanya apa hubungannya dengan Ratu itu.Ratu itu adalah putriku"Chelwis menjawab dengan santai.
Castor terbatuk dan melotot,"Hah?!!!Wait,jadi Ratu itu Vezia?bagaimana bisa?dia jelas terlihat berbeda dengan lukisan yang kusimpan dikamarku"Castor menjawab tanpa menyadari jika dia membongkar rahasianya sendiri.Castor tersadar dan menutup mulutnya,dengan ups kecil.
"Yah kare_tunggu apa maksudmu lukisan dikamarmu?jadi selama ini kau yang mencuri salah satu koleksi lukisan Putriku dari kamarku?!!"Chelwis membentak dan melotot ganas,matanya memicing tajam mencari-cari sesuatu yang mencurigakan.
"Hehehe!"Castor tersenyum canggung,menutupi pipinya yang memerah dengan kipas ditangannya.
"Aku kan juga ingin memiliki salah satu lukisan Keponakanku,kau tidak bisa menyalahkanku.Dan soal mencuri,maaf yah aku tidak mencurinya,aku sudah meminta padamu hari itu dan kau memberikannya.Jadi itu bukan salahku"Castor tanpa rasa malu dan malah tersenyum menang dan dengan angkuh mengipasi dirinya.
"Kupikir itu lukisan biasa!!!kau..."Chelwis tidak tahu harus berkata apa,benar juga yang dikatakan Castor dia jelas juga ingin memiliki salah satu lukisan tentanf Vezia.
"Lupakan saja.Dia terlihat berbeda karena dia sedang menyamar,darimana aku tahu karena aku Ayah kandungnya jadi aku tahu bagaimana aura darahnya yang akan terasa akrab dengan darahku"Chelwis duduk kembali dengan sikap tenang.
"Darah?kalau begitu seharusnya Vezia merasakannya bukan?dan mengapa bukan sihir?"
Chelwis memutar bola mata malas,dan menatap Castor seperti dia adalah orang bodoh."Vezia merasakannya tapi dia tidak akan peduli dengan perasaan seperti itu,kecuali aku menemuinya.Dan soal sihir,oh jangan bodoh Castor,Vezia tidak akan menjadi salah satu yang terkuat di dunia atas dan yang terkuat di dunia bawah jika dia tidak bisa memanipulasi aura sihirnya sendiri.Bahkan sebagai pamannya kau seharusnya bisa merasakan aura sihir akrab darinya karena dia juga merupakan keponakanmu,yang ngomong-ngomong memiliki darah keluargamu yang mengalir didirinya.Sebagai bagian keluarga,kau dan keluargamu yang lain hanya bisa merasakan sihirnya yang akrab yaitu sihir leluhur keluargamu dan istriku.Sedangkan aku bisa merasakannya melalui darah,jadi tidak sulit untukku ketahui"Jelas Chelwis.
Castor cemberut,"Tapi kenapa aku tidak merasakannya,katakanlah dia memanipulasinya tapi seharusnya aku masih tetap bisa merasakannya.Sihir leluhur kami tidak mudah untuk dimanipulasi auranya apalagi dibuat menghilang"
Chelwis tersenyum miring dan mengejek,"Pertama kau tidak berusaha fokus pada sihir Vezia,kedua seperti yang kukatakan Vezia itu kuat dan pandai memanipulasi dan dia mampu memanipulasi jenis sihirnya sendiri,dan jika kau benar-benar bisa untuk merasakannya kau harus butuh usaha yang lama dan itu memakan banyak waktu dan tenagamu.Kecuali Vezia secara suka rela melepas aura sihir leluhur kalian,kau hanya perlu meraba sedikit diudara dan kau bisa merasakannya"Chelwis tersenyum bangga dengan pencapaian Vezia yang berhasil membodohi pamannya sendiri.
Castor mencibir dan berkata dengan sinis,"Kau terlihat sangat bangga,kau tahu usaha ini dibantu Ayah angkatnya bukan?"Castor tidak akan ragu menghina dan menyindir Chelwis,dia memang sahabatnya tapi Castor tidak akan lupa kesalahan yang dibuat Chelwis dan adiknya yang seenaknya membawa keponakan pertamanya menjauh dari dunia atas.Castor sudah pernah berjanji dalam dirinya sendiri ketika pertama kali melihat Vezia terlahir karena dia perlu membantu menstabilkan sihir adiknya dalam proses persalinan,bahwa dia akan melindungi keponakannya dengan sebaik mungkin.
Dan dia sebenarnya tidak pernah percaya,atau memang menolak percaya jika ramalan yang ditujukan untuk Vezia adalah benar.Tetapi Castor diam-diam tanpa sepengetahuan Chelwis telah mencari Vezia setelah mereka membawanya pergi dan mengumumkan jika sang Putri menghilang,yang membuat kegemparan pada dunia atas dan bersedih karena hilangnya pewaris pertama dan satu-satunya anak dari Kerajaan Entazhana.
Chelwis telah menemukan keberadaan Vezia yang memakan waktu cukup lama,dia baru bisa menemukan Vezia ketika usianya 15 tahun,dan itupun karena dia juga ikut dengan Chelwis turun kesini untuk menyamar sebagai guru.
Sejak saat mengetahui jika keponakannya di Kerajaan DuntFio,Castor selalu diam-diam memantau dari jauh memperhatikan kegiatan Vezia dan menjaganya,walaupun begitu Castor merasa cemburu melihat kedekatan Vezia dengan keluarga angkatnya,terlebih dengan para paman-paman Vezia yang bebas memeluknya bahkan sampai menggendongnya.Itu benar-benar membuatnya iri.
Chelwis merasa bersalah,"Maafkan aku.Aku hanya ingin melindunginya"Ucap Chelwis dengan suara pelan.
Castor menelan salivanya yang terasa tercekat ditenggorokannya,"Aku permisi"
Inilah yang membuatnya selalu emosional,setiap kali membicarakan peristiwa itu hanya membuat dia maupun Chelwis merasa bersalah dan sakit hati.
Castor berlari menuju ruangannya dan mengunci pintu,menunduk dalam dan menatap sayang kearah lukisan diam-diam yang dipajang,lukisan berisi gambar Vezia dengan disebelahnya adalah adik perempuannya.
"Aku iri pada mereka,aku juga ingin menggendong Vezia ketika pertama kali terlahir.Aku ingin membesarkannya dan mengajarinya semua hal yang kutahu,aku ingin bersikap sombong kepada Kerajaan lain yang membanggakan anak-anak mereka dengan mengatakan jika keponakanku yang terbaik.Apakah kau tidak pernah memikirkanku Lyra?kau tidak pernah memikirkankan diriku ketika kau membawa Vezia menjauh dariku,aku hanya memilikimu dan dia sebagai keluarga terakhir dan sekarang ketika kau pergi,kau bahkan membuatku jauh darinya.Sampai sekarang aku belum bisa memaafkan apa yang kalian lakukan,kalian membuatku jauh darinya.Dia adalah satu-satunya Putri yang akan mewarisi dua keluarga ternama,tetapi dia bahkan tidak tahu"
Castor membenamkan wajahnya dan menangis dalam diam,seumur hidupnya dia hanya pernah menangis ketika bayi,dan kedua ketika kematian adiknya dan ketiga untuk sekarang memikirkan keterasingan Vezia yang akan ditujukan padanya.Dia takut Vezia akan membenci mereka karena meninggalkannya tanpa penjelasan,Castor menyayangi Vezia seperti anaknya dan jika Vezia benar membencinya dia tidak akan tahu seperti apa dunianya.
Vezia adalah satu-satunya anak dari dua keluarga ternama dunia atas,karena Castor dan Raja Raja sebelumnya menolak mengambil seorang selir.Dan itupun semua keluarga bangsawan dan Kerajaan Dunia atas tidak memiliki Selir,karena itu bertentangan dengan hukum yang dibuat Istana malaikat.Mereka terkenal setia kepada istri mereka,memiliki selir hanya untuk sebuah pewaris mereka menolak.
Castor sendiri pernah hilang dari Keluarganya karena pengkhianatan bawahan keluarganya,dan seperti yang dia katakan pada Vezia.Namanya diberikan gurunya yang menemukan dia,dan ketika usia 10 dia tahu dia adalah anak dari keluarga berpengaruh yang telah lama hilang.Castor merasa sangat bahagia walaupun terasa menampar wajahnya ketika dia baru bersama mereka 4 tahun,orang tuanya pergi meninggalkan dia dan adiknya seorang diri,dan dia harus mengurusi warisan yang diberikan untuknya.
Sejak saat itu dia benar-benar menjaga adiknya karena dia tidak ingin kehilangan siapapun lagi,tapi sepertinya takdir membencinya karena dia harus kehilangan adiknya dan keponakannya yang telah hilang.
Sementara Chelwis disisi lain meratapi kesalahan yang dia buat,dia tidak pernah bisa merasa tenang tidak sebelum dia tahu perasaan Vezia tentang siapa dia sebenarnya.
Chelwis hanya bisa berharap Vezia tidak membenci mereka walaupun kemungkinan itu kecil,Chelwis juga masih menanggung semua kemarahan dari keluarganya,dari ibu dan Ayahnya atas sikap bodohnya yang sembrono.Chelwis memiliki saudara perempuan,tetapi saudaranya tidak ingin menikah karena dia lebih menyukai sebagai jenderal perang,baginya memiliki suami hanya membatasi ruangnya untuk bergerak.Tetapi jika ada yang membuat saudara perempuannya tergerak,itu adalah putrinya.
Saudara perempuannya sangat berdarah dingin kepada siapapun,bahkan padanya tetapi untuk pertama kalinya dia melihat wajah bahagia Saudaranya adalah ketika dia memegangi perut Lyra semasa mengandung Vezia.Ada juga ketika dia sempat menatap memuja bayi cantik Vezia,dan wajah bahagia adiknya hancur karena dia dan Lyra.Sejak saat itu adiknya bahkan menolak melihatnya,dia selalu mengikuti perang melampiaskan frustasinya.
Castor sendiri hanya memiliki Lyra sebagai adiknya,Ayah dan Ibu mereka telah lama meninggal karena perang berkepanjangan yang dilanda Kerajaan.Dia akan bodoh jika dia tidak merasa ini semua salahnya,tapi dia hanya melakukan apa yang setiap orang tua lakukan dia ingin melindungi putrinya yang diperebutkan Kerajaan para malaikat dan Iblis.Walaupun dia tahu cara dia melindungi Vezia sangat salah,dia berharap dan berharap Vezia menerimanya.Jikapun tidak dia hanya mampu mencoba,walau memang dia percaya dan tahu dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Lucas dan keluarganya ditempat pertama di hati Vezia.
...----------------...
Vezia yang tengah mengerjakan berkas-berkas bertumpuk dimeja tiba-tiba meringis memegangi dadanya,dia merasa sesak dan sakit tanpa tahu penyebabnya.
"Zizi?!"Zero secara kilat sudah berada dibelakang Vezia dengan wajah khawatir.
"Tidak apa-apa,hanya sakit sedikit"Vezia menggeleng dan memegangi tangan Zero meyakinkannya jika dia baik-baik saja.
"Yakin?apa kita perlu panggil tabib?"
"Tidak perlu kak,ini hanya sakit sedikit."
Zero masih terlihat tidak yakin,tapi karena Vezia memaksa dia harus menyerah."Baik,tapi kamu istirahat saja dulu.ini biar kakak dan Jeno yang urus,kamu perlu istirahat Zizi"
Vezia berdiri meninggalkan ruangan menuju kamarnya,mengunci pintu setelah meminta dua penjaga diluar untuk tidak mengizinkan siapapun mengganggunya.
Matanya tertutup ketika dia berbaring dengan telentang menatap sejenak kearah langit-langit kamarnya.Dia tidak tahu tapi saat ini dia ingin sekali bermimpi,bermimpi bertemu wanita rambut baby blue itu kembali.
...***...
Lagi-lagi dia berada ditempat yang sangat tidak dia ketahui,dan dengan ramnut berbeda.Vezia meraba rambutnya dan membawa beberapa genggam kedepan matanya.
Vezia benar-benar merasa bingung,"Apa maksud semua ini?"
Vezia berhenti melamun ketika mendengar lantunan merdu dari seorang wanita yang tengah duduk dibawah pohon persik lebat sedang merajut.
"Wanita itu"
Vezia tanpa berpikir lagi berjalan menghampiri wanita yang selalu menghantui pikirannya sejak terakhir kali mereka bertemu.
"Aku sudah menunggumu,anakku"Suaranya sangat merdu hampir membuat Vezia hanyut jika saja dia tidak salah fokus pada kata terakhir.
"Anda siapa?"Vezia bertanya dengan hati-hati namun nadanya tetap dingin.
"Duduklah sayang"
"Tidak,anda siapa?mengapa saya disini?dan mengapa anda selalu menyebut saya sebagai putri anda"Vezia berdiri tegak menatap tajam menusuk kearah wanita itu,yang sekarang melupakan rajutannya dan berdiri dihadapannya.
"Aku tidak bisa memberitahumu siapa aku sayangku,kau harus menunggu dia memberitahumu siapa kamu"
Vezia mengerutkan alisnya bingung,"Dia siapa?anda jangan mengada-ngada saya tidak suka dipermainkan seperti ini.Dan jika anda tidak ingin menjelaskannya,sebaiknya anda tidak pernah bertemu saya.Saya mohon menjauh dari saya,itu membuat saya frustasi!!"Vezia membentak tanpa sadar.
Wanita berambut baby blue dengan abu keperakannya itu tersenyum sedih,"Aku berjanji ketika kamu tahu sebenarnya,aku akan datang menemuimu lagi.Tetaplah sehat,dan Ibu mohon agar kamu mampu memaafkan apa yang terjadi kedepannya.Mereka tidak bersalah,Ibu yang salah"
Vezia tercengang dengan mulut terbuka sedikit,"Ibu?anda jelas bukan Ibu saya,Ibu saya adalah Diana"
Vezia tidak mendapat jawaban melainkan senyum sedih dan sayang yang perlahan luntur,dunia disekitarnya runtuh hamparan bunga-bunya yang indah dan pohon persik besar digantikan pemandangan yang membuatnya tercengang dan sesak.
Vezia tidak tahu pemandangan apa ini,orang-orangnya terasa asing.Istana yang saat ini dia lihat didepannya bahkan terasa sangat asing.Yah,terasa asing namun menyesakkan entah mengapa dadanya semakin sesak menatap kumpulan sebuah keluarga dimana dia melihat Pria yang membunuh Ibunya ketika bayi bersama seorang Wanita yang tadi dia temui sedang duduk berkumpul dengan seorang pria berusia 25 tahun yang mengejutkan Vezia itu adalah Castor.
Vezia juga melihat orang lain,itu adalah dua orang tua usia paruh baya dan seorang perempuan bertampang dingin dengan pakaian jenderal perang.Tapi ada senyum kecil dimata perempuan itu ketika menatap perut Wanita berambut baby blue yang tengah mengandung.
"Apa kalian sudah memikirkan nama untuk keponakanku?"Vezia berhenti menatap perempuan dingin itu dan menatap Castor.
"Aku sudah memilihnya,dan aku yakin bayiku pasti perempuan"Wanita itu berkata dengan senyum tulus mengelus perutnya.
"Oh ya?lalu siapa namanya?"Castor terpental ditempat duduknya memajukan sedikit badannya ingin tahu.
"Dia akan menjadi gadis yang hebat,aku memberinya nama Veziandra dengan nama Zizi sebagai panggilan bagi keluarga kita"Pria yang membunuh Diana tersenyum setuju.
Tapi Vezia terdiam,definisi mematunt yang sebenarnya dia tidak bisa bergerak.Tubuhnya seperti ditahan kekuatan apapun yang tak terlihat begitu nama itu meluncur mulus dari mulut wanita yang selalu mengaku jika dia adalah Ibunya.
"Apa maksud semua ini?siapa aku sebenarnya?aku mohon ini pasti lelucon.Aku ingin keluar,aku tidak ingin ini.Tidak mungkinkan...tidak aku tidak.Aku ingin keluar dari sini!!"Vezia mencari jalan keluarnya sendiri,tapi suara manis yang keluar dari mereka menyebut namanya membuatnya semakin sulit bergerak,matanya perih dan dadanya sesak.
"Tidak,tidak mereka bukan orang tuaku.Mereka bukan,Ayahku hanya Lucas dan Ibuku Diana.Mereka bukan,siapa aku sebenarnya.Kumohon hiks..aku ingin keluar dari sini,ini menyesakkan..dadaku terasa sesak..aku ingin keluar dari sini!!"Vezia membenamkan wajahnya,matanya tertutup kembali dan hak terakhir yang dia lihat adalah pemandangan mengerikan dari hancurnya keharmonisan keluarga itu ketika Pria yang membunuh ibunya mengatakan jika putrinya telah hilang.
"Zizi bangun,hei baby bangun sayang.."Zero mengguncang pelan tubuh Vezia yang berkeringat dan menangis dalam tidurnya.
Vezia membuka matanya,dan memegangi pipinya yang basah karena air mata.Mengingat mimpinya hanya membuat air matanya semakin turun deras,Zero terkejut dan membawa Vezia dalam pelukannya.
"Hei tidak apa-apa sayang,itu hanya mimpi"Zero mengelus lembut kepala Vezia.
Vezia tidak menjawab,dia meyakinkan dirinya jika itu memang mimpi tapi semuanya terasa sangat nyata,sesak didadanya terasa nyata.Siapa dia sebenarnya?.Dia membenci rasa bingung dan tidak tahu apa-apa yang sekarang dia rasakan,dia ingin tahu segalanya.Mengapa Castor bisa berada dimimpinya,dan mengapa mereka menamai bayi mereka menggunakan namanya.
Semuanya memenuhi kepalanya dan itu membuatnya semakin menginginkan Ayahnya disisinya,dia ingin meringkuk dan menangis sepuasnya didalan pelukan ayahnya.
"Hei tenang,dan minum ini.Kakak membuatkannya untukmu"Zero dengan hati-hati membantu Vezia meminum susu coklat hangat yang dia buat.
"Berbaringlah,aku akan menjaga disini"
Vezia mengangguk kembali menutup matanya dengan tangannya masih memegangi tangan Zero,mencegah kakak angkatnya itu pergi dia tidak ingin mimpi itu datang dia tidak ingin mengakui semuanya.
Zero tersenyum sedih mengecup kening Vezia dan melap sisa air mata yang masih ada dipipinya."Jangan menangis lagi,kakak disini akan menjaga kamu,hmm"Tangannya mengepal erat saat mengingat peristiwa beberapa menit yang lalu saat Vezia menangis,dia benar-benar tidak bisa melihat adiknya itu menangis.
"Sebenarnya apa yang terjadi?kenapa kamu selalu terbangun dari mimpimu dalam keadaan sedih."Zero selalu merasa ada yang telah dia dan Jeno lewati,bahkan perasaan itu telah ada semenjak kelahiran Vezia yang telah mereka lupakan semenjak Vezia memasuki hati mereka.
Tapi itu kembali lagi setiap kali Vezia terbangun dari mimpi yang akan membuatnya sedih,dan itu semua terjadi ketika Vezia mendapat mimpi tentang pembunuh Ratu Diana.Mereka merasa ada sesuatu yang salah dan benar-benar salah,Zero menghembuskan napasnya.
"Kenapa semua menjadi rumit.Apakah kamu tidak bisa memiliki hari yang tenang sekalipun tanpa pikiran hmm,itu hanya membuat kakak yang selalu memperhatikanmu merasa lelah"Zero sekali lagi menghela napas,dan bersandar dikepala tempat tidur.
"Apapun yang terjadi,kami semua bersamamu"
Vote...like...Coment..