
Napas terengah-engah yang terdengar dari 6 orang yang saat ini sedang berbaring telentang menatap kearah langit dan beberapa pepohonan hijau yang sayangnya tercemar api dan beberapa diantaranya telah roboh.
"Aku tidak pernah membayangkan akan melakukan ini.Sebagai seorang perempuan dikeluargaku yang bahkan memiliki kekuatan tinggi,aku tetap tidak diberi jalan mengikuti sebuah perang"ucap Nian yang menatap kearah langit dengan tangan terangkat memainkan api ditangannya.
"Aku juga.Tapi entah mengapa sensasinya berperang melawan sesuatu yang berbahaya dengan kekuatanku sendiri membuat darahku mendidih,aku takut tapi aku sungguh ingin membuktikan jika aku kuat"Rose menjawab dengan kekehan kecil menyusul.
"Apa yang sedang kau lakukan Pangeran Rayyen?"Suara Kyle membuat 4 orang lainnya menatap Rayyen yang fokus dengan darah ditangannya,mereka melihat sebuah rune yang baru pertama kali terlihat ditelapak tangan Rayyen.
"Bukan apa-apa,dan tolong kita adalah tim.Panggil aku Rayyen"Rayyen menjawab dengan senyum ramah dan mengelap darah ditangannya.
Mereka mengangguk dan masing-masing duduk bersila untuk mengembalikan Mana dan menyerap sihir alam.Mereka membuka mata saar sebuah tepuk tangan terdengar,diatas kepala mereka terlihat layar dengan Vezia yang duduk menyeringai menatap kearah mereka bersama beberapa bawahannya.
"Yah,aku tidak terkejut kalian masih bertahan.Sungguh hebat,tapi itu masih lemah dibanding murid yang akan kalian lawan nantinya"Vezia menjentikkan jarinya membuat lingkungan di sekitar 6 orang itu kembali pulih.
"Ini sudah hari kedua puluh,berarti saatnya Zona aman kembali menyusut.Tapi permainan ini akan berbeda dari sebelumnya"Mereka tetap diam saat para Vezia membuat sebuah bendera putih melayang didepannya.
"Ini tantangan untuk kalian,total bendera ada 12,kalian akan berlomba mengumpulkan bendera artinya siapapun yang memiliki bendera paling sedikit atau bahkan tidak memiliki bendera akan mendapat hukuman,dan satu lagi kalian diizinkan merebut bendera musuh"
Keenam orang itu saling memandang terkejut,bagaimana bisa mereka melukai satu sama lain.Vezia mendengus mendengat pikiran mereka,"Dengar baik-baik!!"
Mereka kembali menatap Vezia yang memberi tatapan menusuka kearah mereka seolau mampu menguliti mereka jika mereka tidak menatapnya,"Kalian tenang saja,aku tidak meminta kalian saling membunuh tapi kalian hanya perlu saling melawan,bagaimana cara kalian agar yang lain tidak terluka itu tergantung bagaimana kalian menghadapinya.Tapi ingat terkadang untuk mencapai suatu tujuan,kalian perlu bertindak keras bahkan pada teman sendiri,mengerti?!"
"Mengerti Profesor!"
Vezia mengangguk puas,saat itu ketika suara Vezia bersama layar menghilang mereka semua tiba-tiba merasa pandangan mereka gelap.Yang pasti seperti kata Vezia saat ini keenamnya telah berpisah dan harus menjalankan misi.
Vezia tersenyum sadis,dia melakukan ini agar mereka bisa belajar jika ada waktunya mereka harus bisa belajar menyakiti teman mereka,kadang menyakiti teman yang lain juga bertujuan baik untuk melindungi mereka dari hal-hal yang ingin dihindari.
Seperti contoh salah satu dari mereka harus berpura-pura jahat dan menyakiti yang lain agar bisa melindungi orang yang dijahati,itu adalah jalan yang sulit untuk dipilih tapi setidaknya resikonya lebih kecil dibanding bertindak sembrono secara langsung melindungi.
"VEZIA,YUHU MY BESTFRIEND!!"
"Dan yah sepertinya ketenanganku akan hilang jika Zio sudah seperti ini"Vezia mendesah seolah dia telah menjadi tua.Mengerang kesal saat berdiri dan berjalan menuju kantornya untuk menunggu Zio.
Dan yah seperti dugaannya,Zio yang kurang akhlak membanting pintu membuat Vezia mengelus dada meratapi pintunya yang selalu tersiksa karena kelakukan non-mulia Zio.
"Mendengarmu ceria,aku tebak misi berhasil?"Jangan tanya seperti apa ekspresi Vezia melihat wajah berbinar jahat Zio,sudah dipastikan Melvin kandidat Guardian Angelnya ini salah satu spesies yang sama seperti Zio.
"Hoho,tentu saja berhasil seorang Zio tidak akan pernah gagal dalam misinya.Dan kau tahu,aku akan mengatakan kau benar-benar akan tertarik pada Melvin.Dia adalah pemuda yang sama pintarnya sepertiku"Zio tersenyum gembira saat dia duduk dan dengan tidak sopan meletakan kakinya diatas meja didepan sofa yang dia duduki.
"Yah kuharap setidaknya akhlaknya tidak minus sepertimu"Batin Vezia yang memohon.
"Senang mendengarnya,setidaknya kau memiliki spesiesmu sendiri untuk berdebat"Vezia menyeringai melihat Zio melotot tak percaya dengan ungkapannya mengatakan dia dan Melvin adalah sebuah spesies seolah-olah mereka binatang.
"Usianya berapa?apa kau bertanya mengapa dia tidak menjawab panggilan ketika klan Vampire Zeun bangkit?"Vezia menatap Zio menuntut jawaban cepat.
"Usianya kurang lebih 200 tahun,dan ya dia bilang dia memiliki urusan mendesak saat itu keluarga Tastor sedang dalam masa kritis jadi dia tidak bisa meninggalkan mereka.Dia bilang akan meminta hukumannya begitu bertemu denganmu"Vezia mengangguk mengerti.
"Bagaimana dengan anak kucingku mereka terdidik dengan baikkan?"Tanya Zio,Vezia memutar matanya dengan julukan anak kucing untuk murid-muridnya dari Zio.
"Hn,sangat baik.Oh ya aku ingin kau mengirim surat kepada Kerajaan Hangao,aku ingin Noah datang besok.Kita akan memulai ritual untuk mengambil hewan iblis ditubuhnya"ucap Vezia tanpa menatap Zio yang menganga,Zio berdiri dengan keluhan saat berjalan keluar untuk melakukan apa yang diminta Vezia.
Vezia terkekeh dan menggelengkan kepalanya akan tingkah laku Zio yang kekanak-kanakkan itu.
...----------------...
Tempat itu gelap dan suram tapi dia tahu jika dia saat ini berada dihutan,menatap kebawah kakinya tidak memakai apapun.Dia berbalut gaun putih cantik berenda.Rambut baby bluenya terbang mengikuti irama angin yang mendesir membuatnya menggigil kedinginan.
"Putriku!"
Badanya berputar secara tiba-tiba kebelakang mencari asal suara itu datang tapi yang menyambutnya hanyalah sebuah kegelapan suram tanpa ujung.
"Siapa disana?"Suaranya terdengar sangat keras ditengah hutan.
"Siapa?Siapa putrimu?"Kakinya yang telanjang tanpa alas kaki berjalan kearah depan untuk mencoba sekali lagi mencari asal suara.
Cahaya kecil redup didepannya membuatnya semakin mempercepat langkahnya,
didepannya berdiri sosok wanita cantik dengan gaun putih panjang,rambut baby blue yang sama dengannya jatuh dengan indah hingga melewati pinggulnya.
"Halo Nyonya anda siapa?"
Wanita itu berbalik dengan senyum sayang dan tulus,mata abu keperakannya berkaca-kaca.Kakinya melangkah mendekati dia,"Putriku yang manis kamu telah tumbuh dengan cantik hmm,lihat betapa miripnya kamu denganku."Tangan wanita itu menangkup wajahnya,yang entah mengapa baginya dia tidak bisa bergerak melawan wanita bermata Abu keperakan itu.
"Sayang,Ibu ingin kamu menerima dan menjalankan takdirmu sesuai keinginanmu.Dan satu lagi Ibu ingin kamu memaafkan kesalahan Ayahmu,jangan membencinya"Wanita itu perlahan melepas tangannya dan berjalan mundur,membuat gadis muda lainnya mencoba menahan tangannya untuk tidak pergi.
"Tunggu,anda belum menjawab.Anda siapa?"
"Kamu akan tahu jawabannya sayangku,tetaplah hidup dan buatlah takdirmu sendiri.Ingatlah Ibu sihir sangat menyayangimu,kamu akan selalu bahagia jika itu jalanmu sendiri"Wanita itu pelahan pudar seperti debu yang diterbangkan angin,senyumnya yang tulus tetap terpasang bahkan disaat gadis muda didepannya berteriak menahannya untuk tidak pergi.
"TIDAAK!!"Vezia tersentak bangun dan terduduk tangannya tanpa sadar terentang kedepan.Napasnya terengah-engah akibat berteriak terlalu keras,pintunya secara tiba-tiba di dobrak masuk.
"Zizi sayang.Kenapa?kamu tidak apa-apa?"Zero dengan cepat mengambil tempat disebelah Vezia diikuti Jeno bersama Zio yang duduk didepan Vezia.Bahkan Allena dan beberapa penjaga lainnya masuk dengan siaga bersama alat mereka,mengira jika ada penyusup dengan setengah otak berani menyusup dikediaman Ratunya para Iblis,Vampire dan Demon.
"Zi,kau tidak apa-apa?"Zio mengelus tangan Vezia yang sedikit berkeringat.
Vezia mengatur napas dan meminum air yang disodorkan,menjawab dengan suaranya yang sedikit serak akibat teriakannya terlalu kencang jika dia tidak salah,karena tidak mungkin penjaga yang seharusnya menjaga jauh dari kamarnya bisa berlari secepat ini kekamarnya,sedangkan Zero dan Jeno sudah pasti kedua orang itu menjaga didepan kamarnya.
"Aku tidak apa-apa.Hanya sedikit mimpi"Baik Zero dan Jeno saling pandang dengan cemas.
"Kalian bisa kembali,tidak perlu khawatir.Allena,Zio istirahatlah kalian telah bekerja terlalu keras akhir-akhir ini.Kalian juga para penjaga ganti penjaga,kalian perlu istirahat"Vezia menatap mereka meyakinkan.
"Baik Ratu,kalau begitu kami permisi"Allena dan penjaga kain keluar menyisakkan Zero,Jeno dan Zio.
"Mau cerita mimpinya?"Vezia menggeleng,dia belum atau mungkin tidak ingin menceritakan sebelum dia tahu apakah mimpi itu berkaitan dengannya atau hanya bunga tidurnya tapi entah mengapa semuanya terasa nyata,dia bertanya-tanya siapa wanita yang terus menyebut dia adalah putrinya dan mengapa rambutnya berubah menjadi sama seperti wanita itu,dan apa maksudnya agar tidak membenci Ayahnya.Jelas saja tidak mungkin dua membenci Ayahnya ketika Ayahnya bahkan tidak memiliku kesalahan apapun padanya.
Ketiga pemuda lainnya menghela napas,"Ya sudah aku pamit dulu,aku harus melihat perkembangan muridmu dulu sebelum istirahat"Vezia mengangguk kearah Zio.
Zero dan Jeno sendiri memiliki menetap,"Tidurlah,kami akan berjaga disini"Zero membaringkan Vezia menyelimuti adik kecilnya itu dan mengelus kepalanya membantunya kembali tidur.
"Jeno ini tidak mungkin mimpi tentang pria yang membunuh Ratu Diana kan?karena jika iya,pasti Zizi sudah bercerita"Zero berbisik pelan menjaga suaranya tetap kecil agar tidak mengganggu Vezia.
"Pasti,terlebih lagi kali ini wajah Zizi bukan benci tapi lebih bingung dan mungkin sedih"
Zero mengernyit tapi hanya menghela napas,mengecup kening Vezia sebelum berdiri dan duduk disofa diikuti Jeno.
"Ini semakin membuatku was-was,kita belum tahu apakah Raja Iblis akan berencana menyerang dunia bawah sebagai permulaan atau tidak.Zizi belum bisa menghadapi Raja Iblis sekarang ketika hewan ketiganya belum muncul,terlebih semua Guardian Angel belum terkumpul agar membantu membuka segel hewan dan gerbang menuju dunia atas"Zero menghela napas frustasi,tangannya mencengkram rambutnya.
"Hmm,aku tahu.Tapi aku merasa Zizi memiliki rencana lain,kau tahu aku lebih memilih tidak berperang jika itu akan membahayakan Zizi nantinya.Jadi aku mendukung keputusan Zizi jika apa yang kupikirkan benar"Jeno menatap Vezia yang tidur,kali ini terlihat sangat nyenyak.
"Memangnya apa yang kau pikirkan?"
Jeno menatap Zero dan menjawab tanpa ragu,"Zizi sepertinya akan memberikan gencatan senjata,atau tidak dia akan membuat kesepakan yang akan menguntungkan kedua belah pihak tanpa harus mengadakan perang"
Zero terlihat sangat ragu,"Apa bisa seperti itu?Kau tahu Raja Iblis adalah anak asuh Dewa Kehancuran,dan kau tahu Dewa Kehancuran tidak pernah menginginkan sebuah kesepakatan tanpa adanya pertumpahan darah"
Jeno terkekeh dan menepuk pundak Zero,"Zero kau harus ingat,seseorang yang kita jaga adalah anak pilihan,dia dicintai oleh ibu sihir langsung.Dan terlebih lagi dia adalah kesayangan para dewa dan dewi,bahkan kematian rela memberi kekuatan padanya.Dewa Kehancuran tidak akan bisa mengganggu ketika dia hanya memiliki Istana Neraka dan Dewa Neraka sebagai pendukung,Raja Iblis tidak akan memilih jalan yang membawa kematian kedua baginya jika dia tahu itu dan bahkanpun jika dia tidak tahu,kekuatan Zizi setara dengan para Dewa apa kau pikir Raja Iblis akan menolak?aku tahu Raja Iblis kuat,tapi saat ini kekuatannya belum sepenuhnya pulih karena dia telah tertidur cukup lama"
Zero tersenyum dan mengangguk setuju,"Kau tahu kadang aku merasa bodoh jika menyangkut Zizi,dan kau akan menjadi cerdas seketika"
Jeno menyeringai sombong dan menepuk dadanya,"Tentu saja,kau itu akan menjadi orang paling berbeda yang kukenal jika sudah tentang adik kecil kita"
Zero mendengus geli tetapi setuju dengan Jeno,dia tidak akan menyangkal ketika dia tahu dia tidak bisa.Karena dia akui sangat berbeda jika sudah menyangkut Vezia,bahkan ketika tombak didepannya akan bersiao membunuhnya tetapi melihat kesebrang dan melihat Vezia terancam bahkan jika dia harus maju untuk menembus tombak dia akan melakukannya,selain sebagai tugasnya karena Vezia adalah adiknya.
Vote..Coment..Like