Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Melatih Karma.



Episode 98


Sato  terlihat bangun awal lagi.


 


“Baiklah,  karena semua  pelatihan  ini tak berhasil. Terpaksa kau harus memikirkan cara  lainnya lagi,” ucapnya saat bangun itu.


 


Dia lalu  kembali ke tempat teman-teamnya.


 


“Sato kau kembali karena lapar?” tanya Chintya.


 


Sato menggeleng cepat.


 


”Tidak, aku akan berlatih dengan  rencana B!”


 


“Apa?!”


 


Tap  tap tap tap tap!


 


Tampak, dirinya dan Sayugo tengah berlari  di sevuah  jalan setapak.  Dikelilingi  oleh tumbuhan  perkebunan.


 


“Hey,  Sato  apa  yang kau lakukan  dengan  pelatihan rencana B  ini?” tanya Sayugo  tersengal.


 


‘Pertama, aku  akan berlatih  pernafasan  ditengah masyarakat’  batin Sato.


 


Hap!


 


Sato tampak menutup mata  di  tengah  kerumunan itu. Semua  orang heran melihat Sato yang mematung  itu.


 


Sayugo menggoyang-goyangkan dirinya.


 


“Hey,  Sato apa yang kau lakukan?”


 


Namun, Sato tetap diam.


 


Semuanya tampak khawatir.  Tapi, sepertinya tak berani mengangu Sato yang serius.


 


Sato pun membuka matanya.


 


”Berhasil!”  teriaknya. Sampai membuat burung-burung  di hutan  itu  keluar dari  sarangnya dan  meninggalkan anak-anak mereka.


 


Kwaaak!


 


“Sato apa yang kau lakukan tadi?” tanya Sayugo.


 


Tadi terlihat Sato  bisa melayang. Semua orang tampak heran. Namun, mereka sepertinya artikan itu sebagai sihir.


 


‘Aku gunakan  teknik  pernafasan  dalam teori yang ditemukan pada biksu Budha. Itu adalah meditasi. Dengan menggunakan salah satu cakraku. Aku bisa membuat nafasku menjadi lebih baik. Hingga saat menggunakan teknik itu. Aku tak perlu melakukan dengan baik namun, hasilnya tetap sama’ batin Sato.


 


“Heey Sato!”


 


Kemudian Sato tampak berdiri.


 


“Aku akan meninggalkanmu di sini. Tunggu aku sampai besok!” ucapnya.


 


“Apa!!”


 


Tap tap tap tap tap tap!


 


Sato tampak masuk sebuah tempat secara sembarangan. Lalu, ada orang yang memasukinya.


 


“Heey siapa kau?!” kejutnya dan langsung menghajarnya.


 


‘Teori pelatihan fokus kedua! Aku akan melakukannya dengan memacu adrenalinku. Adrenalin bisa mempercepat segalanya. Seperti yang terkandung dalam obat-obatan. Mereka bekerja dengan baik untuk sembuhkan dirimu. Dengan begini fokusku pasti akan meningkat’ batinnya lagi.


 


Tap tap tap tap!


 


Esoknya dia kembali dengan keedanan babak belur habis dipukuli orang sekampung.


 


“Sayugo, ayo pindah ke kampung lainnya!” ujar Sato dengan suara yang aneh.


 


Tap tap tap tap tap tap!


 


Mereka tampak menuju kampung lainnya. Sato membasuh mukanya. Dia perlahan menyembuhkan luka itu.


 


“Kau terlalu bejat!” tentang Sayugo.


 


“Mau bagaimana lagi! Lita harus cepat ke kota!” balas Sato.


 


‘Untuk membantu mega dan yang lainnya’ batinnya lagi.


 


Tap tap tap. tap!


 


Di sana mereka sepertinya istirahat di tempat terbuka  pasalnya mereka tak punya uang apa pun.


 


“Sayugo, selama lima hari kita akan menjadi tunawisma di temoat ini!” ucap Sato bersemangat. Saat dia sampai di suatu desa.


 


“Apa?!”


 


Sato dan dirinya tampak sedang duduk di pinggir jalan. Sesuai rencana dari Sato.


 


‘Bukankan ini agak konyol?’ batin Sayugo merasa aneh.


 


“Hahahahahaha!” tampak Sato merasa senang setelah uang dijatuhkan ke dalam sebuah nampan usang miliknya.


 


Namun, Sayugo memandangnya aneh.


 


‘Hahaha, sepertinya dia memang sudah somplak’  batin Sayugo khawatir pada kejiwaan Sato.


 


Sato dan dirinya masih di sana.


 


Malamnya dia dan Sato tampak makan bersama. Makanan itu satu porsi. Namun, uang mereka tak cukup. Padahal mereka bisa cari sesuatu di hutan. Tapi Sato menolak itu.


 


Tap!


 


Sato pun mulai beristirahat. Sayugo memandang khawatir pada temannya itu.


 


‘Setelah kejadian marah-marah di pesawat. Sato menjadi bersemangat sekali’ batin Sayugo melihat Sato. Lalu, dia pun tak peduli dan lebih memilih tidur.


 


Wuuush!


 


Di dalam pikirannya. Dia sudah bisa gunakan lima tanda karma yang dia bagi pada energi besar karmmanya.


 


Kakek karma tampak tersenyum.


 


“Lihatlah ini, aku bisa gunakan hal ini dalam lima kali,” ucap Sati.


 


Kakek karma hanya tersenyum melihatnya.


 


“Hahahahaha!” Sato tertawa sombong.


 


Esoknya Sato kembali mengais makanan untuk pagi hari. Sayugo juga ikut.


 


“Walaupun peradaban disini tak maju. Tapi makanan yang dibuang tampaknya sangat mewah,” ujar Sayugo


 


Sato mengangguk setuju.


 


Mereka pun terus memakannya sampai habis.


 


Lalu mereka pun mencoba untuk mencari uang kembali. Lalu, menggunakan itu untuk membeli minuman.


 


“Kennapa hanya minuman?” tanya Sayugo.


 


“Anu, kita harus berhemat! Mulai besok kita harus mencoba tidak makan,” jawab Sato.


 


Namun, Sayugo tampak sedikit kecewa dan padannya Sato tampak menertawainya. Dia tampak jengkel namun, dia sadar Sato sedang tak main-main.


 


“Terserah saja lah!”


 


Esoknya Sati kembali untuk hidup tanpa makanan. Bukan hanya satu hari. Bahkan dua hari. Beralasan tak punya uang dan belum hasilkan uang.


 


Sayugo tampak lemas di sana. Namun, Sato masih segar.


 


“Hahahahaha!” dia tertawa di sana.


 


Sato kemudian tampak menutup matanya.


 


Lalu, di dalam sana sudah dipenuhi kekuatan dirinya.


 


“Bagus kau sudah bisa mengeluarkan batas karma yang bisa dimiliki orang biasa, selanjutnya adalah melatihnya,” ujar kakek itu.


 


“Heeh!”


 


 


Esok paginya. Mereka bisa makan. Akhirnya Sato izinkan untuk ke hutan mencari makan.


 


Sayugo langsung nempel seharian di sebuah pohon yang banyak dia panen buahnya.


 


Sato berada di bawahnya. Dia tampak bermeditasi. Lalu, tampak dia berlatih untuk pastikan fokusnya sekali lagi.


 


Untuk malamnya dia mencoba untuk melakukan sesuatu.


 


“Aku memang berniat untuk mengatur semuanya. Tapi aku menolaknya,” uucap Sato.


 


“Juka kau menolaknya. Sama saja kau menggagalkan diri,” balas kakek itu.


 


“Tidak! Dalam olahraga. Ada yang disebut tolakan. Itu juga bisa membuat orang jauh lebih cepat menggapai sesuatu,” jawab Sato.


 


“Apa?!”


 


Wuuush!


 


Sato kini berada dii desa itu lagi. Kembali mencari makan.


 


‘Dengan hidup seperti ini! Aku akan mudah berpikir agar aku terbebas dari pikiranku sendiri’ batin Sato.


 


Tap!


 


Sato tampak melihat ada seorang bocah gelandangan. Ini kebiasaanya setelah menjadi tunawisma. Lau, tampak ada megamu di sana yang memberi anak itu sesuatu. Sepertinya makanan


 


“Heeh? Mereka ada di sini?” tanya Sayugo.


 


Keduanya heran.


 


“Hey kalian berdua, ternyata sampai ke desa ini ya?” tanya orang lainnya. Yaitu Chintya.


 


“Kenapa kalian mengikuti kami?” tanya Sato.


 


“Jangan terlalu percaya diri. Kami tak mengikuti kalian,” ucap ketus Chintya.


 


“Lalu?”


 


“Yang  mulia guru besar. Tampaknya mengenali putri megamu, dia pun mengundang  kami ke sana. Untuk makan-makan,” jawab Chintya.


 


“Woooah!”


 


Mata Sayugo berbinar. Sato tampak menolaknya.


 


“Aku tidak ikut, aku  akan tetap berlatih sampai berhasil. Dengan caraku sendiri,” Sato pun pergi.


 


Sayugo tampak menatapnya penuh arti.


 


“Sato butuh pendamping. Dia  bilang  aku dibutuhkan  untuk menambah emosi dalam latihannya. Jadi sepertinya  aku tak ikut,” ucap Sayugo dengan nada pelan di bagian akhir.


 


Lalu, dia pun menyusul Sato ke sana.


 


Chintya menatap ke arah dua orang yang berlagak seperti tak  bisa apa-apa di desa itu.


 


“Hmmm!”


 


Tap!


 


Kembali lagi. Sato terus berlatih.


 


Lalu, dia pun berhasil membuat semua kekuatan  karmanya itu. Menjadi terfokus padanya.


 


“Jadi ini  hasilnya?”  tanya kakek karma.


 


Sato mengangguk sombong.


 


“Karena penolakan. Mereka malah  tertarik dengan sendirinya. Lalu, saat aku lepaskan. Mereka  akan berubah menjadi pendukung  yang  hebat!”


 


Sato lalu berhasil dalam satu tahap.  Karena tahap selanjutnya adalah merealisasikan itu ke dalam bentuk  Karma yang  asli.


 


Sejujurnya  Sati belum ada  ide. Sayugo membangunkannya. Lalu bertanya lagi apa ada  rencana  lain.


 


Namun, Sato sepertinya  tak menggubris.  Sayugo lalu  pergi untuk kembali mencari makan  dan  makan untuk keduanya.


 


‘Sekarang adalah tentang sihir. Sayangnya aku tak tahu tentang pengetahuan mendetail tentang jenis sihir ini’ batin Sato sedikit meratapi hal ini.


 


Karena pada ssat ini. Masih belum ada ide.


 


Lalu, seseorang tampak datang ke arahnya.


 


Sato bingung melihat orang yang tak  dia ketahui itu.


 


“Anda siapa?” tanya Sato.


 


“Kau adalah  teman dan harapan putri megamu rupanya,” ucap orang itu.


 


“Apa?!”


 


“Perkenalkan, namaku adalah Syaumu. Aku tergabung  dalam kelompok penyihir kuno. Aku memerintah sebuah kota kecil di dekat bekas kerajaan klan pegasus.”


 


Sato membelalak.


 


“Namaku adalah Sato Kazumi. Aku adalah  anak  dari Marco dan Mugiwa Kazumi,” balas Sato.


 


“Kudengar teman anda menceritakan  bahwa anda tak mau kedalam  kastil kami karena sedang melatih diri bukan?” tanya orang itu.


 


Sato mengangguk.


 


“Baiklah, aku mungkin bisa membantumu. Sebagai penyihir kuno. Aku  juga punya  banyak informasi tentang kekuatan karma yang coba kau kembangkan itu. Marilah ikut  bersamaku ke kastil sana,” ajak  orang  itu.


 


Lalu, Sato pun mengangguk. Dia kelupaan pada Sayugo.


 


Tap!


 


Sayugo kembali. Namun, dia  tak temukan Sato. Lalu, dia pun bertahan di sana seorang diri.


 


Tap tap tap!


 


Sato memasuki tempat besar itu. Lalu di sana ternyata ada megamu  dan  Chintya. Mereka ternyata menginap di sana.


 


“Aku adalah salah  satu pelayan klan Pegasus dulu. Jadi, hubungan kami dengan putri sudah sangat  lama sekali,” jelas orang itu.


 


‘Jadi itu sebabnya, mereka bisa mengenali  putri pegasus bahkan hanya dengan jiwanya saja’ batin Sato mengerti.


 


Tak tak tak tak!


 


Sato pun duduk.


 


“Ada  banyak buku  sihir, kau juga bisa bertanya langsung padaku.  Mana  yang ingin kau ketahui?”  tanya orang itu yang baru duduk.


 


Sato berpikir.


 


“Aku sudah bisa mengontrol semua energi karma penuh,” tutur Sato. Membuat orang itu terbelalak.


 


“Yang benar saja? Anak  muda kau?”


 


“Ya! Aku bisa melakukannya dengan usaha mati-matian  beberapa  hari sebelumnya,” jelas Sato.


 


“Jadi, selanjutnya apa yang ingin kau sempurnakan?”  tanya orang itu.


 


“Selanjutnya adalah tahap akhir  yaitu keselarasan dan penggabungan dengab teknik serangan umum pada karma,” jawab Sato.


 


“Jadi, kau  tetap memilih untuk menggunakan  serangan sederhana satu arah itu? Bukan  yang  lain?” tanya orang itu.


 


Sato menggeleng.


 


“Serangan itu adalah  simbol pertahanan diriku selama ini. Lalu, aku  yakin. Karma yang sebenarnya adalah sesuatu yang seperti itu,” jawab Sato.


 


“Ada banyak varian serangan karma. Mereka ada yang  bisa menghancurkan setitik demi setitik  tubuh lawan. Itu dinamakan  karmapluiser. Lalu, teknik  serangan umum yang biasa kau lakukan itu disebut sebagai karrmaover,” jelas orang itu.


 


Sato mengangguk  kepadanya.


 


Kemudian Sato  kembali berlatih  di  pikirannya.


 


“Akhirnya  kau berhasil Nak!” ungkap  pria itu yang  mulai menghilang.


 


“Hmm.”


 


Bersambung.