Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Mulai!



Episode 24


Sato, kemudian melindur banyak hal. Namun, semuanya tak mendengarnya. Hingga Sayugo terbangun karena dia ingin kencing.


"-mu Marra ...."


Sayugo agak heran. Lalu, dia kembali untuk melakukan sesuatu.


Malam tiba. Mereka masih di dalam pesawat itu. Sayugo dan yang lainnya mulai makan malam di kursi penumpang saja.


Tap tap tap tap!


Sato kemudian selesai memakan makanannya itu. Lalu, saat hendak ke suatu tempat. Dia melihat Sayugo dan Fernie yang saat ini jadi dirinya lagi.


Tampak aneh di kursi penumpang jauh darinya.


Dia memandang dua orang itu lalu mengabaikannya begitu saja tingkah aneh mereka.


"Dua orang aneh sedang mengobrol jauh dariku," gumam Sato.


Namun, ternyata gumamannya itu terdengar oleh Chintya tak sengaja setelah dia selesai makan dan melepas pendengar musiknya yang besar.


"Hm?" dia hanya bergumam tanya. Dan tampak Sato terus berjalan ke suatu ruangan lain di tempat itu.


Dimensi lain. Yakni, Arconde!


Kini, sebuah pertemuan penting yang dihadiri banyak petinggi.


Tentunya petinggi para akademi di dunia itu. Enam akademi yang ada di dunia sihir.


Salah satunya akademi yang mega masuki. Ploenativu.


Enam orang beserta beberapa bawahan atau pendampingnya. Tampak duduk di kursi pertemuan ini.


Semuanya memasang wajah serius sekali. Hingga mereka melupakan secangkir minuman hangat yang sudah lama menjadi dingin itu.


Kepala sekolah Saintov. Tampak mulai berbicara.


"Dengan adanya insiden itu. Kita harus segera menyelidiki kumpulan orang yang sudah dilaporkan oleh kepala sekolah Ploenativu yang terhormat," ucapnya.


Semuanya lalu mengiyakan.


"Tujuan mereka kemungkinan untuk sesuatu. Tapi tidak jelas," ujar seorang kepala sekolah dengan kaca mata itu. Dialah pemimpin akademi Noelle.


"Sebelumnya, kami Noelle sudah mengirim surat pemberitahuan akan serangan yavin di hutan perbatasan dimensi dekat kami," lanjutnya sedikit bernada kecewa.


Semuanya nampak juga sedikit menyesal.


"Ya, tapi sayangnya. Sang pembawa surat dilaporkan dari semua pihak. Menghilang entah ke mana," ucap si gendut. Kepala sekolah Ploenativu.


"Jadi begitu ternyata," ujar si kaca mata itu.


Tampak tiga orang lainnya hanya menanggapinya dengan biasa. Tak ada yang spesial.


Esok hari.


Di rumah keluarga Kazumi!


Mega tampak sedikit kesal. Dia berlari dari kamarnya untuk menuju ke ruang tamu.


"Tunggu!" jeritnya.


Tap tap tap tap!


Mega melangkah terus hingga sampai di depan pintu sederhana rumah ini.


Lalu membukanya perlahan.


Cklek!


Terlihat, seseorang tamu mendatangi rumahnya. Mega memandang muka tamu itu.


Terlihat tamu itu membawa beberapa bingkisan.


"Kami tetangga baru dari sebelah, keluarga Thornatum. Dengan hadiah ini, semoga kita bisa bertetangga dengan rukun."


"Ya, terima kasih banyak."


Grab!


Setelah menerima bingkisan itu. Mega tiba-tiba terduduk di pintu. Dia juga menjatuhkan bingkisan yang banyak berisikan roti dan makanan lainnya.


Tampak, mega memandang lantai begitu sangat horor. Padahal lantai itu tak semenakutkan yang di lihat.


"M-meereka ...."


Usai itu.


Ibu mega pulang. Beberapa jam setelahnya. Lalu, dia menemukan banyak bingkisan yang sepertinya baru dia temui.


"Oh, apa ini?" tanya ibunya.


Lalu, ada suatu pesan di belakangnya.


"Kami keluarga Thornatum. Semoga kita bisa bertetangga dengan rukun."


"Oh, ada tetangga baru yang membeli rumah di sebelah ya," ungkap Mugiwa. Lalu, dia pun mencoba menyapa tetangga baru itu.


Nampaknya, mereka memang benar-benar pindah ke rumah yang di sebelah sana. Rumah itu sedikit lebih besar. Namun, masih kotor.


Beberapa orang membawa kardus barang pindahan itu dari mobil truk besar itu.


"Ya, kami keluarga Kazumi. Mengucapkan selamat dan terima kasih."


Mugiwa menunduk sopan. Tampak di depannya juga, sepertinya wanita paruh baya seumurannya.


"Ya, terima kasih kembali," balas tetangga barunya itu.


"Ku dengar keluarga anda punya seorang putri yang cantik ya?" tanya ibu itu ke Mugiwa.


Mugiwa jadi tersanjung. Dia memerah.


"Ah, tidak kok. Tapi, bagaimana anda bisa mengetahuinya?" tanya Mugiwa.


"Itu karena, tadi putraku bertemu langsung dengan putrimu. Dia bilang ada gadis cantik di rumah anda. Hehehe," jawab ibu itu sambil tertawa.


"Oh, begitu hahahahaha," balas Mugiwa ikut tertawa.


Setelah usai. Keduanya kembali ke dalam rumahnya masing-masing.


Mereka sepertinya mengobrol hingga petang. Mugiwa mendatangi kediamannya sendiri. Setelah itu, putra keluarga itu keluar dari rumah dan tak sempat bertemu dengan Mugiwa. Tampak juga pemuda  itu seperti melayangkan sesuatu dengan benang. Sepertinya dia melayangkan mainan yang bisa melayang dengan benang di tangannya untuk menahan mainan tadi.


Tap tap tap.


Cklek!


Mugiwa kembali ke dalam rumah sederhananya dan kembali melakukan pekerjaan yang tertunda.


Sato lalu terbangun di pagi itu. Mereka sepertinya sudah sampai di Jerman.


"Baiklah, ayo-ayo bangun kalian pemalas," ucap Fernie nampaknya.


Sato yang mendengar itu malah tambah menutup matanya.


Brak!


Suara tamparan keras dari Fernie menggunakan kopernya kepada Sato. Membuat anak itu bangun dengan cepat. Setelah merasakan sakit dari Fernie yang mengamuk.


"Iya, lihatlah aku sudah bangun. Kau terlambat membang--"


Brak!


"Aku dari tadi membangunkanmu Goblok!"


Fernie mengamuk semakin menjadi-jadi.


Lalu, Sato dan Sayugo. Pergi keluar dengan luka memar di beberapa tempat wajah mereka.


Chintya tak bisa melakukan apa pun tentang itu. Setelah itu.


Mereka pun akan sarapan. Di sebuah kafe terdekat bandara itu. Itu, sengaja karena Chintya ingin mengajak mereka makan-makan di sini.


"Mari nikmati gugahan makanan khas Jerman ini!"


"Woaaaaah!"


Lalu, Sato dan semuanya tampak makan dengan liur dan kecepatan mereka yang luar biasa.


Usai sudah, kini mereka menaiki sebuah taksi. Sato melihat banyak bangunan yang baru bisa dia lihat langsung.


'Lumayan juga' batin Sato.


Sayugo tampak memotret-motret apa pun yang dia lihat. Sampai sebuah tempat pemadam pun dia potret


Setelah itu, Sayugo tersenyum puas.


"Hehehe, aku tak akan melewatkan semua hal yang apa yang ada di negara sumber inspirasi game favoritku," gumamnya sembari terkekeh-kekeh.


Hingga Fernie membentaknya.


"Botak, kau bisa ditinggal jika berada di tempat itu melulu!"


"Iya, iya!" teriaknya membalas sahutan mengerikan dari Fernie.


'Dasar nenek sihir. Tidak tahu apa tuan tampan ini sedang menikmati pemandangan elok di sini' batinnya jengkel.


Semuanya masuk. Mobil pun berjalan lurus. Menuju ke sebuah tempat.


Sato melihat pemandangan dari dalam mobil. Mereka memuji-muji pemandangan di sekitar sini. Tentunya dengan seruan-seruan yang selalu keluar dari mulut mereka.


"Sepertinya, kalian semua adalah turis yang baru datang ke Jerman ya?" ucap pak sopir itu.


"Ya, pak!" jawab ke tiga remaja itu kompak.


"Hahahahah, begitu ya. Semoga saja kalian bisa ketagihan dengan Jerman ya. Lalu tahun depan datang lagi kemari," ucap pak sopir taksi itu.


"Ya pak, pemandangan Eropa yang tetap terjaga rapi. Itu sangat fenomenal. Kami sangat menyukainya," ucap Sato berpendapat.


"Iya, makanan dan suasana yang tidak terlalu panas. Itu tidak akan mudah menghitamkan kulit. Jadi aku sangat nyaman berlarian di mana pun itu," komentar Fernie.


"Dan juga ada klub sepakbola favoritku di Jerman. Huahahahahahah!" ucap seorang yang sudah kita duga. Sayugo.


"Hahahahaha, baguslah kalau begitu."


Lalu, ....


Ckiiiiit!


Tampak, mereka sudah sampai di tujuan. Fernie, Sato dan, Sayugo serta, Chintya. Turun dari taksi itu. Lalu memandang bangunan gedung tinggi pencakar langit ini.


"Baiklah, ayo kita masuk ke markas utama kita," ucap Chintya kemudian.


Semuanya mengangguk padanya.


Organisasi hitam yang mengurus banyak mahkluk-mahkluk aneh yang membahayakan manusia. Lalu, informasinya juga dihalangi dari publik


Hanya mereka yang terlibat yang bisa mengetahuinya. Tak ada yang lain.


Tap tap tap tap!


Keempatnya masuk ke dalam gedung. Beberapa orang menyambut mereka. Mempersilahkan ke suatu tempat yang sudah disiapkan.


Lalu, mereka menuju ke tempat itu dengan lift. Tampak angka menunjuk hingga lantai 80.


Lalu, lift pun terbuka. Semuanya keluar. Belum ada orang lain. Hingga mereka berpapasan lagi dengan orang-orang berpakaian jas hitam rapi.


'Banyak orang kantoran yang bekerja di kantor ini' batin Sayugo.


Lalu, setelah itu. Tampak Chintya membuka pintu dan mereka pun masuk.


"Datang juga yang sudah di tunggu-tunggu," ucap seseorang dari dalam sana. Ruangan itu sedikit buram.  Cahayanya mungkin sengaja dibuat seperti ini.


Ketiga remaja itu sedikit gugup.


"Jadi, kalian bertiga adalah siswa baru di akademi kami ya?" ucap seseorang yang duduk memunggungi semuanya. Terhalang jarak dan suatu meja.


"Ya, aku yakin mereka memenuhi syarat dan bisa melakukan semuanya dengan baik," ujar Chintya mewakili ketiga remaja itu.


"Baguslah kalau begitu, jadi mulai hari ini kalian semua sudah menjadi murid di akademi ini," ujar orang itu.


"Kemudian, kalian harus lalui beberapa hal yang sedikit memakan waktu."


"Apa itu?" tanya Sayugo.


"Mengisi formulir."


"Owalah!"


Keempatnya lalu di hadapan orang misterius yang masih belum berbalik dan sepertinya melakukan sesuatu. Terlihat, mengisi semua formulir yang begitu banyak dan bertumpuk itu.


Namun, semuanya bisa mengatasinya. Kini semuanya sudah selesai dalam dua jam pengerjaan mereka.


"Jadi sudah selesai?" tanya orang itu.


"Ya, ini membuatku pegal," ucap Sayugo mengeluh.


"Hahahahaha, tapi nantinya kau akan lebih pegal lagi Nak. Saat kau sudah tahu apa itu 'pembasmian'," ucap orang itu dengan nada tahan ke arah Sayugo.


Kini, semuanya sudah keluar dari ruangan itu. Yang sebenarnya. Ruang pendaftaran biasa.


Tap tap tap tap tap!


"Setelah ini, kalian akan di ajarkan beberapa cara. Untuk melawan banyak mahkluk aneh dan roh-roh itu, tenang saja. Semua itu akulah yang mengajari kalian," jelas gadis cantik seperti Marra ini.


"Jadi, kakaklah yang bertanggung jawab atas kami?"


"Aku akan jadi guru pembimbing?"


Melihat remaja itu. Chintya dengan melepas kacamatanya.


"Ya. Tapi jangan kira kalian akan mudah melewatinya, karena saat sudah menjadi guru. Aku tak segan pada kalian dan melupakan siapa muridku itu," jawabnya dengan aura jahat yang menakutkan.


Ketiga remaja itu bergidik merasakan aura itu. Lalu, mereka pun bermalam di sana.


Malam itu, Sato saat masih terjaga. Menatap bulan di dunia itu. Di balkon kamar tentunya.


Angin segar dia rasakan. Lalu, dia melihat kak Chintya di balkon sebelah tengah melambai dan tersenyum pada .....


Seekor anjing di balkon lain. Menggonggong terus ke arah Chintya yang aneh.


Bersambung.