Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Masa lalu bagian 8.



Episode 126


Beberapa orang datang  ke  ruangannya. Mugo pun terkejut, yang datang orang-orang tadi.


 


"Kalian, kenapa ke sini lagi? Bukankah kalian sedang makan?"  tanya  Mugo kaget pada mereka semua.


 


"Maaf, tapi yang mulia istri dari kepala klan menyuruh kita untuk membawakan makan siang kepada anda. Lalu, kami juga diminta ikut makan bersama dengan tuan muda," jawab mereka semua.


 


Mugo nampak terkejut dengan suasana ini. Dia pun sepertinya mengingat sesuatu. Akan tetapi orang-orang di sana nampaknya melihat reaksinya itu lain.


 


"Apakah tuan muda tidak ingin makam bersama kami?" tanya mereka. Melihat mereka hanyalah orang biasa sedangkan orang itu  merupakan orang besar. Walau tubuhnya kecil.


 


Namun, Mugo nampak menghentikan mereka.


 


"Tidak!  Aku ingin makan. Tolong ajari aku makan dengan kalian," ucapnya nampak dengan nada yang baru dia sadari itu. Orang-orang itu tampak saling pandang dan senyum.


 


Kini, di sana semakin harmonis hubungan mereka semua. Wajah Mugo kecil tampak ceria. Lalu, di sebelah sana. Kazumi dan istrinya nampak melihat keadaan di dalamnya.


 


"Yang mulia. Dia benar-benar orang yang dermawan. Dia juga sangat serius tentang sihir,  dia orang yang sangat luar biasa," komentar Kazumi di sana. Sang istri pun nampak mengangguk setuju.


 


Setelah makan siang usai.  Mereka kembali melanjutkan pembacaan itu. Mugo terus  melakukan beberapa praktik. Dia langsung bisa melakukan itu.


 


Lalu, kini dia pun sudah bisa lakukan suatu sihir dan mencoba mendeteksi wajah yang dia gambarnya itu.


 


Cling!


 


Akan tetapi, itu belum cukup. Semuanya nampak tak menyerah. Menyemangati Mugo yang terlihat murung. Mungkin ini pertama kalinya dia tak hafal dalam hal sihir.


 


Tapi berkat semua orang itu. Dia kembali besar bersemangat. Bahkan, berpuluh-puluh kalinya.


 


Lalu,  di sore harinya. Mugo nampak kembali pulang. Mugo nampak menyisipkan beberapa kertas untuk dipegang oleh orang-orang itu. Semuanya saling percaya padanya.


 


Lalu, Mugo nampak pamit dengan mereka. Mugo tak segan memeluk lima orang itu satu per satu. Lalu, dia pun nampak kembali  pulang sore itu.


 


Beberapa pelayan lain yang tidak dipanggil oleh Mugo nampak menatap mereka agak lain. Namun, matanya berubah ketika datang  beberapa orang besar klan itu karena mereka semua.


 


Mereka melaporkan apa saja yang dilakukan tuan muda Mugo dan sihir apa yang dia pelajarinya itu. Mereka katakan beberapanya. Namun, terdengar mereka merahasiakan sesuatu hal yang penting.


 


Yaitu, tentang wajah dan memelajari sihir penunjuk jejak yang dimiliki klan itu. Orang-orang itu nampak puas. Lalu, mereka pun sepertinya pulang lagi  ke kediaman mereka di tempat  cabang.


 


Tap tap tap  tap  tap!


 


Lima orang itu nampak ceria. Menceritakan berbagai hal tentang tuan muda Mugo pada mereka pelayan. Semua yang mendengar antusias.


 


"Orang dengan kekuatan sihir kuat saat masih berumur belia. Di klan kita,  itu masih belum ada."


 


"Ya, sepertinya kita harus banyak belajar dengan beliau. Kalian semua hendaknya tulis apa saja yang membuat beliau menjadi sangat berbakat."


 


"Ya!  Kami pasti akan melakukannya!"


 


Namun, tak disadari mereka semua. Obrolan iu sepertinya diperhatikan oleh suatu sosok yang tersembunyi di dalam  tembok kayu tempat sederhana itu.


 


Tap  tap tap  tap!


 


Kazumi berjalan setelah usai dengan semua itu. Lalu, dia nampak didatangi oleh satu orang dengan pakaian sihir dan wajah yang lebih tua darinya.


 


"Hormat yang mulai ketua klan,"  ucapnya menghormati  orang itu.


 


"Oh, kau  rupanya. Ada perlu apa ya?" tanya Kazumi sedikit tak sabar. Karena dia sudah ingin pulang tuk melihat istri dan anak pertamanya.


 


"Maaf yang mulai. Aku dengar tuan muda ke sini tanpa pemberitahuan sebelumnya. Hal itu memang tak apa. Tapi, sepertinya lain waktu kita harus lebih tegas lagi. Sekaligus mengajari anak itu tentang sopan santun,"  ucap orang tua itu.


 


Kazumi nampak mengangguk membuatnya bingung.


 


"Yah, lagi pula dia masih kecil. Dia juga ingin bermain. Tal apa jika seperti itu tapi jika dia sudah berumur lebih dari 7 tahun. Anak itu harus pertimbangkan semuanya sebelum bertindak," jawab Kazumi tegas di kata terakhirnya.


 


Orang itu pun menunduk patuh. Lalu, Kazumi pun nampak melewatinya. Namun, orang itu kembali bersuara.


 


"Yang mulia. Apakah lebih baik kita awasi  juga tuan muda Mugo. Bukan apa-apa. Tapi, kita juga perlu untuk menjaganya. Walau di sini tak ada ancaman yang memungkinkan.  Selain itu, kita juga  perlu mempelajari bagaimana yang mulia bertindak. Seperti apa saat dia cemas dan memilih keputusannya," ujar orang itu.


 


Kazumi nampak tersenyum padanya. Membalikkan badannya. Dia agak kesal dengan orang tua ini.


 


"Tidak perlu seperti itu. Kau ingin aku menguji taun muda bukan? Itu bukanlah hak kita untuk melakukan itu. Sudah ada masa depan yang akan beliau lalui. Itu semua akan menjadi tantangan yang sebenarnya bagi yang mulia. Lagi pula dia masih terlalu muda. Walaupun dia sangat kuat saat ini, bahkan mungkin melebihi kita semua para tetua klan. Tetap saja kepintarannya itu masih perlu dilatih lagi,"  ucap Kazumi pada orang itu.


 


"Baiklah yang mulia. Saya paham."


 


Lalu, keduanya pun berpisah di tempat itu.


 


Tap tap tap tap!


 


Orang dewasa itu ditemani seorang penyihir dengan pakaian serba tertutup dari tadi di dalam sampai keluar. Lalu, mereka pun pergi dengan menaiki kereta sihir yang bisa terbang.


 


Wuuuush!


 


Terlihat, Mugo yang kini berada di  kediamannya itu. Di tempatnya atau rumahnya.


 


 


Setelah  itu dia nampak membuka beberapa buku dengan berisikan banyak gambar wajah di dalamnya.


 


Satu wajah itu nampak mirip dengan seorang tetua klan Kazumi.


 


Pagi hari di kediaman Kazumi. Nampak, seseorang yang bertugas di  perpustakaan itu. Kini,  didatangi beberapa orang yang nampaknya terhormat itu.


 


"Maafkan aku yang mulia. Saya terlambat untuk membuka pintu. Teman-teman saya juga masih  di dalam," ucapnya meminta maaf.


 


Di hadapannya nampak pemuda dengan rambut hitam yang lancip. Matanya menyorot dan tajam. Lalu,  di belakangnya banyak orang-orang berpakaian sama dan muka tertutup.


 


"Lain kali jangan seperti ini. Kau tidak akan pernah tahu, tamu datang di jam berapa,"  ucap anak remaja itu tegas.


 


Orang itu menunduk maaf sebesar-besarnya. Lalu,  orang itu pun masuki tempat itu. Melirik ke sana kemari.


 


Tap tap tap tap tap tap!


 


Nampak, dia pun masuk perpustakaan. Di sana masih belum rapi setelah Mugo pergi dari sana.  Sepertinya orang-orang ini baru merapikannya di pagi harinya. Sedangkan ada pengunjung yang datang.


 


"Heh!" Pemuda itu nampak tersenyum. Lalu, ada beberapa debu yang terbang ke arah wajahnya. Dia menutup hidung dan nampak keluar.


 


Tap tap tap tap!


 


Setelah usai. Mereka pun mempersilahkan remaja itu untuk masuk. Lalu remaja itu masuk tanpa memandang semua pelayan itu. Pemuda itu masuki tempat itu. Menatap ke segala arah.


 


Lalu, dia memasuki temoat pembacaan utama di sana. Tempat pertama yang Mugo kemarin tempati untuk membaca.


 


Dia pun menunjuk beberapa buku di sana. Lalu, memerintahkan semua bawahannya untuk menyambilnya. Saat itu, beberapa pelayan nampak baru sampai kepadanya.


 


Orang itu nampak tak peduli dan membiarkan begitu saja orang-orangnya sendiri yang mengambilkan buku itu.


 


Beberapa pelayan menjauh setelah itu.


 


"Dia tuan muda dari cabang klan yang dipimpin oleh Kazutora. Si pria kikir. Tak kusangka anaknya juga bertingkah sama dengan ayahnya itu," ucap mereka berbisik.


 


"Ya, di mana-mana. Pasti buah tak terjatuh jauh dari pohonnya. Di mana mereka adalah satu darah."


 


Orang-orang itu kembali melayani taun muda itu. Mengambilkan beberapa buku. Dan sebagainya.


 


Lalu, setelah siang hari. Anak muda itu nampak akan membawa saru buku untuk dia pinjam. Lalu, mereka pun mempersilahkannya. Lalu, pemuda itu pergi menaiki kereta sihir yang bisa tebang.


 


Orang-orang yang menjaga perpustakaan itu lega sekali.


 


"Itu seperti siksaan. Jika kita salah, kita akan mati," ucap mereka spontan.


 


"Ya!  Sifatnya pasti sangat kejam, sama seperti Kazutora yang kikir," ucap satu orang di sana. Orang-orang yang sedang membicarakan orang. Nampaknya bukanlah orang yang kemarin dekat dan melayani Mugo.


 


Sementara lima orang itu tetap bekerja di tempatnya dengan giat.


 


"Padahal di tempat cabang sana. Dia pun punya banyak buku salinan dari sini. Mengapa harus repot-repot meminjam buku di sini."


 


"Ya! Buku yang dia pinjam itu adalah buku dasar pengetahuan sihir klan Kazumi."


 


"Mereka klan cabang Kazutora juga menggunakan barang-barang sihir yang mewah. Itu sangat menguras biaya. Apalagi pemasukan di klan ini masih belum stabil. Sepertinya orang itu memang tak membayar pajak pada yang mulia dengan baik."


 


"Ya! Itu benar!"


 


Kelima orang yang sudah selesai itu. Melihat semua orang yang bekerja itu membicarakan tuan muda yang tadi. Mereka menatap khawatir.


 


‘Orang-orang ini mungkin akan mati besok' batin semuanya di sana.


 


Tap tap tap tap tap tap!


 


Saat esok tiba. Kini, sepertinya hal itu memang benar adanya.


 


Beberapa petugas dari klan itu. Nampak, membawa keluar semua pekerja di perpustakaan itu.


 


"Kemarin! Kalian semua sudah sangat keterlaluan saat melayani tuan muda anak dari kepala cabang klan Kazumi! Jadi, kalian semua akan diadili di sini!" teriak seorang prajurit dengan ganasnya itu.


 


Di sini masih sepi. Pagi hari dan semua prajurit mendatangi tempat mereka semua bertempat tinggal di sana.


 


Namun, semua orang di sana hanya menangkap beberapa orang saja.


 


Tap tap!


 


"Kalian semua. Sangat malas!  Ketahuan sekali dari laporan beliau kemarin! Lalu, kalian juga bersifat tak hormat pada yang mulia benar bukan?!" tanya stau orang prajurit sangat tegas.


 


Beberapa orang tertuduh itu nampak berteriak saat disiksa.


 


"Ka-kami bangun kesiangan karena kelelahan setelah melayani sepanjang hari yang mulai Mugo. Kami juga saat itu sedang melakukan hal yang penting di dalam. Posisi kami tak sedang melayaninya saat itu!" ujar lima orang itu.


 


Brak!


 


Bersambung.