Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Ujian kelas!



Episode 34


Sato menatap lekat Fernie. Tidak seperti Sato yang biasanya. Yang mana dia tak terlalu serius menghadapi semua orang bahkan, yang paling dekat dengan dirinya. Apalagi yang membuat hubungan dekat.


Sato lalu mengalihkan perhatian ke arah sampah itu.


"Jangan berpikir sebelum melihat sesuatu secara pasti, aku tahu kau bermaksud baik saat memukulku. Dan memang karena itu, aku banyak melupakan yang penting dalam hidup."


Sato kemudian berdiri. Remaja itu lalu memandang ke arah atas.


"Semua yang ada di hidupku, adalah kepentinganku. Begitu pula dengan hidupmu."


"Apa maksudmu?" tanya Fernie sedih.


"Tidak ada kata salah dalam hidup. Karena setiap manusia dilahirkan dari keadaan tak tahu apa-apa. Bisa dibilang, kau dan aku di dunia ini hanya bekerja untuk belajar dan belajar saja."


"Bahkan saat kau sudah menjadi yang terkuat. Tak ada dunia yang bisa kau lindungi lagi. Karena kau akan terhisap dengan kekuatan pikiranmu sendiri. Jadi, artinya. Tak ada seorang yang benar-benar kuat. Yang ada hanyalah, manusia yang saling menghargai satu sama lain. Kau mengerti?" Sato berkata sambil tersenyum hangat ke arah Fernie.


Fernie terlihat terpana. Apalagi sinar bulan itu menyinari tubuh Sato saat ini.


Esok tiba.


Fernie menarik nafasnya saat dia akan keluar pintu. Lalu, dia membuka perlahan pintu itu. Lalu, mengintip keluar.


Tampak, seperti yang sudah dia pikirkan sebelum ini.


Terlihat, sosok Sayugo yang sudah menunggunya di teras rumahnya itu. Fernie lalu dengan wajah memerah itu. Menarik nafasnya perlahan.


Dia bersiap-siap penuh untuk menghadapi si botaknya itu.


Krieeet!


Perlahan namun pasti. Dia membuka pintunya dengan tenang. Dia sedikit menunduk agar tidak melihat Sayugo terlebih dahulu.


Membuat kesan bahwa dia tak menyadari seniornya itu. Lalu, Sayugo pun membalikkan badan setelah itu.


"Fernie, tumben kau tidak berteriak-teriak pagi ini?" tanya Sayugo, seperti hari-hari sebelumnya.


Fernie dengan muka malunya. Lalu, mencoba menata rambutnya di depan Sayugo.


Membuat Sayugo merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari anak berambut pendek ini.


"Ada apa denganmu Fernie? Muka kamu memerah," ucap polos Sayugo.


"Ti-tidak, ha-hanya saja. A-aku ...."


"Haaah? Kau sedang demam?" ucap Sayugo memastikan.


"Ti-tidak, bukan itu-tapi ....."


Sayugo tampak bingung.


Lalu, dia pun berpikir.


"Oh, kau kemarin mencariku ya? Hahahahaha. Tenang saja aku sudah bisa main game lagi, haha," ucap garing Sayugo.


Fernie pun sedikit terkejut.


"Apa maksudmu? Kemarin?" tanya Fernie.


"Yah, maaf ya. Aku meninggalkanmu. Kemarin ada tournament game Online! Jadi aku tidak bisa berjalan ke arah rumahmu," jawab Sayugo.


Fernie pun meninggalkannya begitu saja.


Flasback off.


Fernie tampak terbangun. Kini sudah malam, keadaan Sato juga sama di sampingnya.


Dia sedikit bergumam sebelum terlelap lagi untuk kedua kalinya.


"Ku harap masih bisa mendengar kata-kata itu lagi, darinya."


Wuuuuush!


Tampak pesawat yang menaungi mereka. Sepertinya sudah sampai di siang itu juga.


Brrrrrrr!


Pesawat itu mulai mendarat.


Sato dan yang lainnya bersiap keluar. Lalu, pesawat itu sukses berhenti di darat.


"Ayo keluar!" seru Sayugo semangat.


Chintya tampak terbangun setelah di tegur semua muridnya.


"A-a maaf aku ketiduran pagi tadi, woahahahaha. Aku bermimpi hal menyenangkan tentang adikku, jadi aku tak mau bangun!" seru Chintya setelah dibangunkan.


Billy sudah bangun juga. Kemudian mereka sampai di sebuah negara tak jauh dari Jerman.


Negara itu masih berada satu benua dengan negara kelahiran Billy.


Tap tap tap tap!


Mereka melangkah keluar dan menapaki tangga menurun.


Keadaan di sini siang hari. Jadi tak terlalu dingin dan panas. Kemudian mereka sepertinya akan langsung menuju ke markas organisasi mereka.


Menggunakan mobil mewah milik Billy.


Brrrrrm!


Sato memandang keadaan di sini yang hampir mirip di Jerman. Sayugo terus memotret saja. Bahkan, keran pemadam itu.


Fernie nampak tenang. Tak terlalu ribut dengan Sato maupun si tukang ribut alias Sayugo dan dirinya.


Melihat ke jendela di sebelahnya. Fernie tampak tenang memangku kepalanya sendiri. Menikmati pemandangan di negara itu.


Ckiiiit!


Billy menghentikan mobilnya di parkiran gedung itu. Lalu, Sato dan yang lainnya keluar.


"Hoaaaam!"


Chintya keluar dengan kantuknya yang masih belum bisa hilang. Dia juga sempat beberapa menit di dalam tertidur.


Kini, mereka semua memasuki gedung ini. Mereka berjalan dan seperti biasa memasuki lift untuk menuju lantai 80.


Cling!


Mereka pun sampai di lantai 80. Kemudian, Sato dan yang lainnya berjalan menuju suatu ruangan. Seperti yang sudah diduga.


Cklek!


Di dalam sana terdapat ruang kelas mereka yang bisa mereka gunakan. Setelah itu, Billy pamit untuk menuju ruang atas. Dia mungkin akan mengambil berkas-berkas yang penting untuk mereka.


Sementara itu, setelah keempatnya memeriksa ruangan kelas itu. Kini, mereka pun kembali ke kamar inap di gedung itu.


Billy lalu tampak tergopoh-gopoh ke dalam ruangan kelas. Mengambil banyak kertas. Namun, dia tak temukan siapa pun.


Dia lalu menaruh kertas itu di meja besar ruangan kelas ini. Lalu, pergi dari ruangan itu.


Setelah pintu ruangan tertutup. Otomatis lampu yang bersinar pun padam.


Kemudian, auranya nampak berbeda dari sebelumnya. Seperti sangat lain. Akan tetapi .....


Pagi hari.


Semuanya berjalan lambat. Sato hanya belajar dan belajar. Kemudian usailah mereka semua belajar dan ujian.


Kini, ketiga remaja itu sedang duduk di suatu tempat di ruangan santai gedung itu. Tidak ada orang selain tiga remaja itu.


Mereka melihat ke luar gedung lewat dinding kaca itu. Menikmati hari dengan damai. Tak seperti biasanya. Fernie dan Sayugo tidak terlalu ribut.


Beberapa kali beda pendapat. Namun, dengan mudah bisa tuntas tanpa harus ada kekerasan seperti yang lalu.


Sepertinya megamu juga belum mau keluar. Entah kenapa.


Fernie dan Sato diam melihat pemandangan di depan sana. Fernie yang tomboy tampak bosan. Sedikit melirik ke arah Sato yang sepertinya biasa saja.


Merasa Sato tak bermasalah. Dia pun terus mengikuti melihat ke depan lagi. Mereka lama di tempat itu. Tak berbicara satu sama lain.


Sayugo tak ribut, karena dia sepertinya bermain game dengan konsolnya itu. Entah dia dapat dari mana. Namun, semenjak kemarin dia sering menunjukkannya dan memainkannya.


Suara konsol game tak terlalu memenuhi ruangan sepi ini. Sato menghela nafas dan menutup matanya. Membuat Fernie menoleh sigap.


"Ada apa?" tanya Fernie.


"Sudahlah, aku benci berpura-pura," jawab Sato seperti asalan.


Fernie memasang wajah tak mengerti.


"Apa?!"


Sato lalu menghela nafasnya. Lalu, memandang ke atas. Terus menutup matanya, seperti sudah dalam keadaan terakhirnya saja.


"Bagaimana tanggapan kalian jika aku hilang ingatan?" ucap Sato.


Membuat Sayugo dan Fernie kaget. Sayugo hentikan mainnya dan kalah.


"Kau mengatakan hal apa Sato? Sampai aku tidak fokus tahu," ujar serius Sayugo.


"Maaf maaf," ucap Sato kikuk.


"Tapi, aku serius," lanjutnya lagi dan mengubah mukanya menjadi serius.


"Aku hanya bertanya bukan?" ucapnya membenarkan diri. Serius sekali.


Fernie menatapnya sedikit menyingkirkan tatapannya dari Sato.


"Oh, begitu," ujar Fernie sedikit jutek. Sepertinya gadis itu seperti lega. Karena sikapnya sudah seperti semula.


"Apa pun itu Sato," ucap Fernie dan Sayugo bersamaan.


"Kami akan tetap menunggumu kembali!" lanjut keduanya.


Tiba-tiba. Entah kenapa angin dari arah depan menghembus ke arah Sato. Menerbangkan rambut pendeknya itu.


Menari-narikan rambut hitam yang bergaya lancip dan entah kenapa tidak mau turun. Namun, seiring bertambahnya umur. Tepatnya, saat Sato sudah berumur 20 tahun. Rambutnya entah bagaimana turun seluruhnya, tidak seperti di umur-umur sebelumnya.


Sato sungguh kaget. Namun, kagetnya itu bukanlah seperti kepada hal-hal yang menakutkan. Dia seperti tak menyangkanya saja.


Sato lalu melembut. Dia sudah akan berbicara lagi dengan senyumnya yang merekah.


"Baiklah, aku sudah putuskan!" seru Sato semangat. Angin masih terbangkan rambutnya itu.


Namun .....


Cklak!


Entah bagaimana, angin itu berhenti keluar.


"Aku putuskan siapa yang pertama akan mengikuti ujian lapangan!"


Tampak sosok Chintya sepertinya yang menutup lubang jendela di dinding kaca itu.


Sato dan yang lainnya terkejut ke arahnya.


"Guru! Kau ada di sini?" ujar ketiga muridnya.


"Ya, tentu saja. Namun, aku akan putuskan. Bahwa, Satolah yang akan melakukan uji lapangan!" seru Chintya tiba-tiba sambil menunjuk muka Sato sangat dekat.


Setelah itu.


Malam harinya. Tampak Sato kini berdiri tegang nampaknya. Dia memakai sebuah helm gelap yang sepertinya jadul.


Mukanya melirik ke kanan dan kiri. Setelah itu ada seruan dari arah sana.


"Sato! Kau harus mengidentifikasi semua monster yang ada di tempat itu dalam waktu satu jam. Semua monster itu akan memakanmu jika tidak kau catat. Berjuanglah!"


Tampak, di atas sana. Chintya dan semua teamnya yang naik helikopter itu.


"Haaaaaah."


Sato pun. Dengan pasrah melakukan misi untuk mencatat semua monster yang ada di sebuah tempat di negara ini.


Malam itu. Makin larut saja. Bulan entah kenapa tertutupi awan saat Sato sudah mulai berjalan untuk memenuhi tugasnya.


Kini. Sato sepertinya sudah paham. Bahwa alat yang ada di kepalanya itu. Merupakan alat yang bisa melihat monster-monster yang tidak nampak.


Seperti yang sudah disinggung Bernard. Beberapa orang pemula tak akan mudah bisa melihatnya bahkan penampakannya.


Menurut Sato. Semua mahkluk yang disebut hantu. Adalah monster tak terlihat menurut organisasi Black destroyer.


Tap tap tap tap!


Beberapa monster sudah dia catat. Lalu, sepertinya Sato sudah akan kembali. Setelah itu. Entah kenapa ada monster lain yang menyerangnya.


Sato pun menghindar dan kini berhasil kabur. Setelah itu Sato mencoba mencatat nama monster tadi. Namun, ada monster lain yang muncul tiba-tiba. Wujudnya melayang dan seperti mahkluk jubah transparan ada 4 mata di kepalanya.


Sato lalu kabur dari monster itu karena takut. Dia mengaku tak terlalu kuat untuk melawan monster apa pun.


Apalagi, dia tak dibekali senjata oleh gurunya itu.


"Sialan!" batinnya kesal dan terus berlari.


Kini, Sato tiba di sebuah bangunan terbengkalai. Serelah itu, secara misterius. Sepertinya sebuah sosok memperhatikan Sato dari dalam bangunan tinggi  ini.


Sato yang masih kelelahan. Dia kemudian duduk di sebuah bekas reruntuhan.


Bersambung.