Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Kedatangan 11 orang!



Episode 32


Tampak di negara Sato. Beberapa orang dari 11 orang kuat organisasi. Sudah berada di hotel inap mereka.


Namun, ada pula yang mencari hiburan dan sekedar mengelilingi ibu kota negara.


Kini Billy.


Tap tap tap tap!


Pria Jerman itu tampak terbangun malam itu. Dia beristirahat dan mengalami mimpi buruk dalam tidurnya.


Memegang kepalanya. Mungkin pusing. Namun, dia kembali tidur setelah tenang beberapa saat setelah itu.


Esok pun tiba.


Keadaan di rumah Sato sedikit kacau. Mungkin, ada pesta lagi.


Di kamar Sato saat ini. Terbaring dirinya. Dia menatap ke atas setelah mendengar dering sesuatu di ponselnya.


Kemudian, duduk di pinggir kasur. Mencari-cari keberadaan ponselnya yang acak entah di mana. Mungkin karena semalam terlalu lelah.


Mengangkat android itu lalu Sato dihubungi langsung oleh nomor misterius.


"Kau Sato Kazumi kan?" tanya orang itu. Seorang wanita.


"Ya benar, ada apa ya?" tanya Sato masih mengantuk.


"Bisa datang ke tempatku saat ini juga? Aku akan kirim denahnya melalui pesan!"


Klik!


Setelah itu. Sato langsung sadar. Dia sedikit heran dan tiba-tiba menerima notifikasi lagi dari ponselnya itu.


Kring!


Itu pesan pendek dari aplikasi pembagi lokasi.


Lalu, dia pun tahu. Orang ini serius tentang tadi.


Setelah mandi dan bersiap. Sato langsung ke lokasi yang dimaksudkan. Tanpa hambatan, karena semua keluarganya masih terlelap.


'Untunglah tadi malam ada pesta. Jadi mega, ibu dan, ayah masih tidur karena kelelahan,' batin Sato.


Tap tap tap tap!


Sato berlari ke sebuah tempat. Sepertinya di penginapan bintang satu. Dia lalu masuk ke dalam sana.


Lalu, setelah beberapa syarat terpenuhi. Dia langsung menuju suatu ruangan yang sudah ada orang misterius itu menunggu.


Cklak!


Membukanya, Sato lalu terkejut. Karena, orang itu adalah salah satu orang yang ikut dengan Sato. Sato meminta maaf karena sedikit kelupaan.


Namun, orang itu tersenyum dan menyuruh Sato duduk. Pria itu sepertinya habis mandi pagi. Terlihat masih menggunakan piyama kamar mandi hotel ini.


Akan tetapi. Pria itu duduk langsung menemui Sato. Dia punya wajah bule yang khas dan terlihat masih muda. Mungkin sekitar 30 tahunan.


Orang itu  tampak masih mengeringkan rambut basahnya dengan alat pengering rambut.


Srrrrrrr!


"Maaf ya. Apa aku saat ini mengganggumu?" tanya orang itu.


Sato menggeleng cepat.


"Jadi begitu, aku paham. Tunggu Nak. Aku tengah mengeringkan rambut. Kau juga bisa membuat teh atau semacamnya jika mau. Ada juga beberapa makanan di mejaku. Kau boleh memakannya," ucapnya menawar.


"Tidak usah paman," jawab Sato menolak.


"Oh, begitu."


Srrrrrrr.


Sementara orang itu masih mengeringkan rambutnya. Sato melihat-lihat ke seluruh penjuru kamar sederhana itu.


Kini,  orang itu sepertinya selesai. Dia meletakan alat pengering di meja itu juga. Lalu, menatap ke arah Sato dengan wajah tak bersalahnya.


"Aku mengundangmu karena, aku ini terbilang seperti apa ya?" ungkapnya kesulitan.


"Dari kecil, aku merasa spesial. Aku sering memukuli  banyak pembully yang mengusikku. 10 orang aku sudah biasa melawan manusia," lanjutnya lagi.


Sedikit membuat Sato ketakutan sedikit.


"Akan tetapi, sepertinya ada mahkluk kuat di luaran sana bukan?" ungkapnya langsung.


"Ya, sepertinya begitu. Aku tak terlalu paham," balas Sato menanggapi.


Orang itu kini maju. Sepertinya mulai serius.


"Salah satu saudaraku, kau tahu laki-laki yang senang mengikatkan dasinya ke kakinya?" tanya orang itu sedikit membisik.


Lalu, Sato mengingat-ingat. Dia pun terkejut.


"Ya, aku tahu. Tapi--"


"Ya, benar. Dia adalah salah satu orang di organisasi kami. Kami sangat dekat. Kau juga tahu kemampuannya tidak diragukan lagi. Karena dia salah satu orang yang kuajari cara mengalahkan iblis tipe tak terlihat. Bukan tanpa alasan, karena tipe kekuatan kita sama," ucap orang itu kemudian.


"Jadi begitu."


"Benar, kematiannya memang wajar. Tapi, yang aku kejutkan adalah. Dia mati di luar misi. Itu sangat membuatku terngiang-ngiang," ucapnya penuh emosi dan tanda tanya mendalam dalam batinnya.


'Jadi, orang ini penasaran pada kejadian itu ya. Baiklah, aku mengerti' batin Sato.


Sato lalu menutup matanya. Orang itu agak terkejut melihat remaja itu sepertinya tampak paham dengan maksudnya yang terbilang simbolis dan penuh makna.


"Ya. Paman. Aku akui kami sangat kewalahan. Bersama kak Chintya dan satu temaku. Kami hampir saja mati jika saja ...."


"Apa?!"


Sato mengambil nafas.


"Jika saja, keluargaku yang semuanya penyihir. Tidak membantu kami saat itu juga," jawab Sato membuat orang itu terbelalak.


Siang tiba.


Sato dan orang itu keluar. Orang itu kini memakai pakaian kasual.


"Aku akan mengajarimu beberapa cara, sepertinya kau akan cocok," ujar orang itu.


"Apa?!" kejut Sato.


Tap tap tap tap tap!


Mereka tampak menuju ke suatu taman. Taman itu konon ditinggali oleh hantu seram. Maka dari itu, tak ada yang melewatinya.


"Untuk apa kita ke sini?" tanya Sato.


Lalu, orang itu yang diketahui bernama Bernard. Kini menatap Sato.


"Kau! Sepertinya belum pernah menghadapi monster yang tak terlihat ya?" tanya orang itu pelan.


"Entahlah, semua yang aku hadapi selaku terlihat. Ya, mungkin saja," jawab Sato ragu.


Sato menunduk.


"Baiklah," jawabnya setelah itu.


Tampak, keduanya maju lalu memasuki taman kecil itu. Semuanya sudah usang dan kotor. Besi permainan itu sudah berkarat.


Lalu, orang itu melihatnya. Tiba-tiba besi itu patah tanpa di apa-apakan. Sato kaget.


'Mengerikan' batinnya.


"Ini karena para monster yang tahu, aku melihat dan mengawasi mereka," jelas Bernard.


"Ouh begitu, mereka mungkin merasa terancam," gumam Sato.


"Tidak juga," ucap orang itu membuat Sato terkejut.


"Maksudnya apa?" tanya Sato.


"Jadi kau belum tahu ya? Begini, semua monster yang tak terlihat. Mereka butuh beberapa cara untuk mengacau. Tidak seperti monster yang terlihat. Maka dari itu, kebanyakan kau hanya diberi tugas untuk melawan monster yang terlihat," jelas orang itu.


"Oh, begitu ya," gumam Sato.


"Jadi, cara untuk mendeteksinya adalah--"


"Hey, Sato! Kau Bernard juga bersamanya ya? Hah haah haaah!"


Seseorang datang dan menghentikan keduanya. Terlihat itu adalah Billy.


"Ayo ikut denganku, kita akan mulai pertemuan untuk membahas segalanya," ucap Billy.


Sato dan Bernard pun terpaksa hentikan semua itu.


Pertemuan diadakan di sebuah ruangan hotel mewah.


Jadi, ada 11 orang itu, Billy, dan semua team Chintya termasuk Sato.


Deg!


Tampak, Fernie yang berganti kesadaran pada megamu. Semuanya sudah paham dan antusias.


"Aku sama sekali tidak ingin juga kalian untuk menjalankan rencana ini. Di mana, ke depannya. Kita akan menghadapi musuh-musuh yang sangat kuat tak bisa kalian bayangkan, untuk itu--"


"Kami bersedia!"


Kesebelas orang itu kompak memotong.


Megamu pun paham.


"Sebelum itu,  akan ku ceritakan masa lalu dan asal usul dunia lalu tentang rencana kami karenanya!"


Megamu terus bercerita.


"-Jadi karena itu,  kami semua ingin menghentikan pembangkitan dua monster kuat dan jahat. Karena di kebangkitan mereka saat ini. Bahkan  Godklannad sekali  pun. Tak bisa meredamnya. Itu karena Godwitcher, sepertinya tak kembali dari perjalanan lamanya," jelas Megamu mengakhiri ceritanya yang panjang.


Semua orang yang baru tahu paham.


"Baiklah, aku bersedia membantu misi ini. Karena sepertinya ini adalah sesuatu yang berbahaya."


"Aku lebih penasaran pada para penyihir dan yang lainnya juga."


Semuanya antusias pada rencana itu. Menghentikan kelompok penjahat yang akan membangkitkan Vampire dan Werewolf.


Bernard juga setuju. Seseorang orang kuat yang tadi memanggil Sato pagi hari.


"Dari informasi yang di dapat, terus bagaimana cara menghadapi mereka? Apa  kita punya informasi lain?" tanya salah satu orang yang sepertinya berumur lebih dari 40  tahunan itu.


"Benar juga," sahut wanita berambut hitam bergelombang itu. Satu matanya tertutupi rambut tebalnya.


"Itu juga salah satu hal yang belum bisa kami lakukan, mengingat kekuatan Sato yang diharapkan. Tidak bisa begitu saja diaktifkan.  Lalu, sihir yang seharusnya dia kuasai. Tersegel karena syarat yang sudah terlanggar," jelas megamu.


Satu orang berambut hitam tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, aku akan berusaha menggali informasi," ucapnya menawarkan.


"Aku juga," sahut perempuan mungil berambut hijau.


Lalu, mereka terus mengadakan pertemuan itu. Megamu bersyukur semua orang itu bersedia membantunya.


Akan tetapi, ternyata tidak semudah itu saja. Sato dan yang lainnya. Pelajar akademi itu. Diharuskan untuk berlatih lagi untuk menyempurnakan kekuatan mereka yang sepertinya masih lemah.


Di hari terakhir itu.


Mereka kembali pergi dari negara itu. Untuk menuju negara lain yang sedang maraknya monster di sana.


Sato dan Sayugo melambai pada semua keluarga mereka di bandara yang tengah sedih lagi. Lalu, sepertinya sebelas orang itu tidak ikut bersama mereka. Hanya Billy yang masih ikut.


Billy berujar akan ikut misi mereka beberapa bulan ini. Itu tidak dipermasalahkan Chintya. Karena itu adalah keinginan organisasi.


Wuuuuush!


Berangkatlah mereka ke sebuah negara. Tentunya bukan Jerman. Negara itu tepatnya masih bersinggungan dengan tempat asal Sato.


"Kita akan ke Malaysia, yeheee!" seru Sayugo.


"Memang kenapa dengan negara itu?" tanya Sato.


"Ada nomor dua di sana. Aku akan mengunjunginya karena akulah sang nomor satu dalam game ...."


"Haaaaaah!"


Sato menghela nafas di depan Sayugo yang berceloteh aneh.


Chintya tampak memakan desertnya. Billy sepertinya tengah menghubungi atasan organisasi.


Wuuuush!


Sato dan Fernie kini bersandar bersama di tempat itu.


"Aku selalu bepergian. Ini pertama kalinya aku ke luar negeri," ungkap Fernie.


Sato hanya tersenyum menanggapinya.


"Sato? Apa kau tidak masalah dengan apa yang kita hadapi ini?" tanya Fernie.


Sato menghela nafasnya.


"Aku, sebenarnya ....."


"Agak malas."


Fernie agak kaget mendengar itu. Dia sedikit merendahkan pandangannya. Tak tahu harus berbuat apa.


Sato menatap ke luar pesawat itu. Sembari melihat makanan yang sudah ada dari tadi di depannya. Namun, dia tak terlalu tertarik. Fokus Sato saat ini ke arah masa depan dan masa lalunya.


'Maaf Fernie, aku mengatakan itu agar kau nantinya tidak kaget'


"Saat aku suatu hari nanti tak ada di dunia ini. Kalian semua masih bisa hidup tanpa aku."


Bersambung.