Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Menyedihkan bukan?



episode 72


"Apa?! she-sherly?!"


Vinita yang mendengar itu. Tampak menutup mulutnya tak percaya.


Terlihat Marijla menangisi hal itu. Suasana kini berduka.


"Sudah hampir 80% di bumi ini, semua monster akan musnah beberapa saat lagi,"  lapor Masilius.


"Baiklah."


"Ada Dragon yang menahannya dan satu raidenku, aku akan mengirim sekitar 80 Raiden ke sana untuk membantunya," sahut Masilius lagi yang kini sedang sibuk untuk membunuh semua monster di dunia ini.


Sato, Fernie, Chintya dan Sayugo juga sama.


Mereka tampak sibuk di dunia itu. Manda juga tampak berlinang air mata. Namun, dia cepat membersihkannya dan terus  membantu semua unit di dunia itu.


Semua orang di dunia ini. Tampak sedang dalam kesulitan yang luar biasa.


Di dunia sihir.


Keadaan berbanding terbalik.  Kini di akademi Noelle.


Seorang wanita tampak sedih seperti halnya manda dan beberapa orang yang menangisi jepeegian Sherly yang mendadak.


Dia tampak mengunjungi pemakaman. Sepertinya orang yang sudah dimakamkan itu adalah seseorang yang penting untuknya.


Surai merah wanita itu tampak terbang terbawa angin siang itu.  Di Noelle sepertinya sangat damai untuk saat ini.


Lalu, wanita itu yang berpakaian hitam dan panjang nampak pergi serelah meninggalkan surat dan bunga di makam itu.


Tap tap tap tap tap!


Wanita itu adalah Marylin. Dia kini masih di Noelle. Kemungkinan dia tak akan menjadi guru di Smp Sato lagi.


Dai berjalan dengan tatapan kosong. Beberapa orang tak pedulikan dirinya yang beriringan berjalan ke akademi itu.


Untuk menghadiri rapat besar di sana.


Di rapat itu. Sama halnya di Ploenativu. Diberitahukan sesuatu yang berhubungan dengan perang besar.


Lalu, wanita bernama Marylin itu tampak kesal dan marah.


"Sialan, orang itu masih hidup rupanya?" ucapnya kesal.


Dia menggebrak mejanya itu. Sebagai ekspresi kekesalannya itu.


'Sialan' batin Marylin marah.


Semua orang memakluminya. Karena dari insiden ini. Bobby salah satu suaminya. Menjadi korban mayat.


"Dalam perang itu, sepertinya musuh dan kita terfokus pada tempat di akademi saja. Mereka melakukan pertaruhan dari beberapa negeri kuno yang mereka miliki. Di dalamnya ada banyak informasi dan ilmu-ilmu baru yang kita sepakati. Semuanya tak boleh dihilangkan dari tempat itu. Menjaga keasliannya," ucap kepala sekolah Noelle yang sudah tua itu.


"Oh, begitu."


"Baiklah, aku sudah pasti akan menjaga Noelle. Jangan khawatir," ujar Marylin.


"Baguslah, Marylin. Sudah seharusnya kau menjaga tempat belajarmu dulu," ujar seorang guru dengan wajah tersenyum itu. Namun, di mata Marylin. Tampak sangat menjengkelkan.


"Sudahlah, aku ingin pergi dulu!" ucap Marylin membentak.


Wanita itu lalu berjalan ke arah pintu keluar. Beberapa orang memandangnya heran.


Tap tap tap tap tap!


Kini, dia berjalan dngan tas besar di punggungnya. Mungkin dia akan berkemah di hutan Noelle untuk menghilangkan rasa stres.


Dia berjalan damai. Beberapa hewan di dunia ni. Nampak melintas cepat takut pada kehadiran manusia.


Marylin terus berjalan ke depan sana. Dia tak melakukan apa pun selain itu.


Tap tap tap tap tap!


Dia lalu menemukan sebuah batu yang aneh. Dia melihat ada noda hijau. Itu membuat rahangnya mengeras.


Darah Yavin.


Tak lain tempat berpijak seorang yakni dalang dari semua yavin itu.


"Tch!"


Dengan kesal dia mengabaikannya karena tak ada petunjuk apa-apa. Dua melihatnya dan kini, menemukan banyak darah yavin tercecer. Beberapa hewan mengerikan juga tampak di sana.


Lalu, dia melihat beberapa siswa dari akademi itu. Sedang melakukan sesuatu pada darah itu. Dia pun kaget dan berlari ke arahnya.


Blaaaar!


Marylin nampak menyelamatkan remaja itu dari ledakan darah yavin itu.


Tap!


"Kau kenapa melakukan itu?" tanya Marylin marah.


Anak nakal itu tampak diam. Tak mau menjawab.


"Kembalilah, di sini akan kubersihkan," tawar Marylin


Anak itu lalu memgangguk dan pergi. Membuat Marylin bernafas panjang.


Dia lalu melewati tempat itu. Tampak sepi kini, malam akan tiba. Keadaan gelap mulai terasa.


Matahari sihir mulai terbenam. Tentunya dengan bulan yang bentuknya tak jauh beda.


Tap tap tap!


Marylin berjalan pelan dengan tongkat kayunya. Melewati banyak semak dan jalanan terjal.


Dia sepertinya menuju ke suatu gua yang kini sudah tertutup batu besar.


Marylin terus mengajak hingga dia sampai.


Tap tap tap tap tap!


Marylin lalu menggeser batu itu secara perlahan.


Grrrrrrr!


Lalu, kini terdapat lubang besar yang tadi tertutupi. Marylin melangkah ke dalam sana.


Tes tes tes!


Tampak bunyi tetesan suatu cairan perlahan sekali. Lalu secara mengejutkan. Di dalam sana ada banyak sekali tulang belulang yang sepertinya milik yavin.


Monster berdarah dingin itu.


Marylin menghampirinya. Seingatnya yavin akan langsung hilang setelah mati. Mayatnya akan lenyap serelah dua hari namun, darahnya tak semudah itu lenyap.


Dia melihat tulang itu. Sepertinya itu juga mirip seperti punya beberapa mahkluk sihir lainnya.


"Werewolf, aku merasakan sedikit energi besar milik monster kuat itu dari tulang ini," ucap Marylin mengejutkan.


"Sepertinya orang itu membuat yavin buatan ini dari kekuatan Werewolf, Yah. Itu teori yang masuk akal," ucap marylin lagi dan berdiri.


Dia lalu meninggalkan lubang itu dan menutupnya lagi dengan batu itu.


Keadaan malam mulai terasa. Dia lalu duduk di pinggir bukit jurang itu . Melihat bulan yang mulai naik ke atas.


"Dunia Arconde begitu indah," ucapnya memuji.


Blaaaaar!


Tampak seorang pemuda seumuran Sato tengah berkelahi dengan sesosok mahkluk mengerikan.


"Pedang sihir!"


Dia lalu menciptakan pedang sihir yang kuat. Berwarna biru kekuningan. Lalu, dia menebas monster itu tepat di arah jantungnya.


Goaaar!


Sayfull, tampak berhasil mengalahkan satu monster yang tak diketahui dari mana asalnya. Dia lalu  menyimpan pedang  sihirnya itu dengan heran juga.


Namun, sifat dingin dan jahatnya tak  membuatnya ingin ketahui apa tang sebenarnya terjadi di luar rumahnya itu.


Tap tap tap tap!


Lalu, tampak Sayfull sudah berada di sebuah ruangan gelap. Sepeetinya ruang rapat. Ada kepala tengkorak bertanduk di sana. Banyak sekali mengelilingi ruangan itu. Sepeetinya Sayfull tengah rapat derngan beberapa mahkluk itu.


"Sayfull, kau harus mengerahkan segalanya bagi kita di ujian sihir nanti," ucap satu tengkorak yang punya bentuk paling menonjol dari yang lainnya.


"Ya, baiklah tetua," jawab Sayfull patuh.


Semua tengkorak lain tampak mengangguk.


Kini, dia keluar dari tempat itu. Menuju ke kamarnya sendiri.


Lalu, dia tampak belajar. Terlihat ayahnya di pintu kamarnya mengintip dengan mata merah tajamnya itu.


Sayfull sebenarnya tahu, namun dia fokus belajar saja.


Ayahnya lalu menuju ruangan tempat tadi.


"Reggie, kau lama sekali. Anakmu sudah keluar dari tadi," ucap satu tengkorak yang paling menonjol itu.


"Maafkan aku ayah," jawab ayah Sayfull sopan kepada semua orang ini.


"Ada kabar apa Reg?" tanya satu tengkorak.


"Ada sesuatu yang aneh di beberapa tempat," jawab Reggie.


"Apa itu reg?" tanya mereka.


Lalu reggie, tampak keluarkan kertas putih.


"Ini adakah data terbaru perusahaan kita, dan di situ sebenarnya sudah disembunyikan nominal terjual habisnya barang kita. Namun, sesuatu membuat para pencari informasi mengeditnya menjadi ke sumber yang sebenarnya," jawab Reggie kesal.


"Ada yang aneh. Kita akan membantumu Reg," ucap mereka semua.


"Terima kasih banyak ayah," ucap Reggie menunduk.


Tuuut ttuuut tuuut tuuut!


Keadaan di rumah sakit. Tampak seorang wanita terbaring kemah di kasur pasien itu. Infus sudah penuh di tubuhnya. Dia memakainya juga untuk bernafas. Tabung oksigen.


Tuut tuuut tuut!


Namun, dari alat pendeteksi kondisinya itu. Tampak detak jantungnya masih terbilang normal.


Lalu, dari atas meja pengunjung. Tertulis nama pasien itu.


Rengganis Onpipan!


Dari luar. Nampak, bocah smp tiba-tiba datang lalu memeluk wanita itu.


Grap!


Kemudian, secara ajaib. Wanita itu bisa bangun. Namun ....


Tuuuuut!


Bunyu pendeteksi jantung menunjukkan dia telah mati.


Akan tetapi dia kini keadaan diluar menunjukan sebaliknya.


Wanita itu sadar dan balik memeluk seorang bocah yang sepeetinya adalah Sayfull.


"I-ibu hiks."


Sayfull kini tampak bersuara lain dari yang biasanya dingin dan terkesan jahat.


Dia tampak rapuh. Kemungkinan dia hanya seperti itu di hadapan orang ini.


Wanita itu lembut padanya. Mengelus halus Sayfull.


"Ada apa Nak? Bisa kau ceritakan dengan cepat?" tanya wanita itu lembut.


"Aku menyesal Bu! Aku ingin mati saja! Hiks!" Jawab Sayfull penuh penyesalan.


"Ada apa coba katakan pada ku," ucap wanita paruh bata itu penasaran.


"Aku-aku disuruh untuk membunuh orang," jawab Sayfull.


Namun, wanita itu tetap tenang.


"Tenanglah Sayfull, kuasai dirimu dari tekanan," nasihat wanita itu lembut. Bak ibunya saja.


"Terima kasih ibu," ucap Sayfull seeelah itu.


Setelah ibunya mengucapkan hal itu. Entah kenapa kepribadian Sayfull kini berubah kepada keadaan biasanya. Dia lalu melepas kasar pelukan itu. Membuat ibunya kembali tergolek lemas dan tak sadarkan diri.


Braaaak!


Sayfull lalu keluar dari tempat itu. Dia melihat tangannya itu. Melihat ke arah dalam dirinya sendiri.


Kini, di dalam dirinya ada dua jiwa yang saling berlawanan.


Jiwa mereka saling berontak. Namun, jiwa sebenarnya Sayfull adalah yang jahat. Dia sepertinya kemasukan jiwa baik itu entah dari kapan.


"Memuakkan!" teriak Sayfull.


Lalu, dia keluar dari rumah sakit itu dan sepertinya akan ke sekolah sihir malam itu.


Tap tap tap tap!


Sayfull sudah berada di dimensi sihir dan kini didampingi oleh salah satu monster sihir miliknya. Berwujud singa emas yang bisa berbicara. Rognoins!


Namun, Sayfull tak mengajaknya bicara. Mereka terus berjalan ke arah akademi yang sepertinya sangat megah dengan nuansa emas pada arsitekturnya itu.


Tap tap tap tap!


Dia menutup matanya sambil berjalan ke arah akademinya yang bernama Spiral!


Lalu, sampailah dia ke dalam sana. Beberapa orang juga memiliki monster masing-masing di akademi itu.


Tap tap tap tap!


Sayfull lalu masuk bersama monster yang terus mengikutinya ke arah dalam akademi itu.


"Aku-aku akan menjadi yang terkuat di mana pun itu," gumam Sayfull tajam nan kejam.


Mengeratkan satu kepalannya itu.


Tap tap tap tap!


Singanya itu hanya diam tak menyahuti tuannya itu. Dia mengikuti di samping Sayfull.


Bersambung.