Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Pertarungan melawan mereka belum usai.



Episode 119


Aku hanya bisa terkejut saja.


 


Flasback off.


 


Mugo menatap ke arah gerbang itu. Itu merupakan gerbang yang sama dengan apa yang dirinya temui waktu itu.


 


"Heh!"


 


Terkekeh di sana.


 


'Ini sudah akan dimuai ke tahap selanjutnya. Apakah Eldorick merasakannya?' Batin Mugo. Dia nampak melihat suatu benda yang tampak adalah sebuah permata yang merupakan bagian tubuh dari monster Reiga.


 


"Ayo kita menuju Eldorick. Karena aku yakin, pasukan Valloshwa pun tidak akan datang membantunya. Semua orang tak akan tahu Eldorick akan mati ditanganku hahahaha!"


 


Orang jahat itu tertawa di tempat itu. Tempat yang sama dengan tempat kecilnya saat bersama magi. Kini disulap sedemikian rupa banyak barang-barang mewah di dalam gua itu. Lalu, dindingnya sudah menjadi tembok dengan ukiran indah sepeti teknik ukir peradaban timur tengah di dunia ini.


 


Lalu, Mugo pun di luar. Kini dia nampak tak sendiri. Dia bersama puluhan bahkan ribuan orang. Orang-orang itu nampak berpakaian sama.


 


"Baiklah, saatnya menuju tempat terhormat Hompir!" ujarnya lembut dan terdengar sarkas. Lalu, puluhan sosok di sana pun berjalan menuju ke arah barat sana di mana kerjaan paling kuat namun, kecil itu berdiri di sana.


 


Perang bahkan belum dilaksanakan. Bahkan untuk membunuh Eldorick dengan banyak pasukan seperti ini.


 


Di tempatnya. Eldorick nampak duduk di singgasana dengan tenang. Namun, seketika dia merasakan sesuatu yang janggal. Entah bagaimana dia merasakannya.


 


'Sebenarnya. Kami masih menyimpan kunci utama yang bisa mengumpulkan dan membuka gerbang neraka yang sebenarnya. Beberapa tahun lalu, Mugo yang sudah jahat. Berhasil memperdaya seorang penyihir kuat yang diberkahi kekuatan vampir dan tersegel kunci dari gerbang neraka yang mengurung sang Werewolf. Tapi, saat ini. Aku merasa kekuatan itu terbuka lama dari biasanya. Saat ini, aku mungkin bisa melihat Mugo dan menghentikan ini semua' batin Eldorick.


 


Namun, saat dia berdiri. Dia tiba-tiba pusing. Lalu, entah kenapa dia pun limbung dan kembali terduduk di sana. Tidak ada orang di sana sekali pun.


 


Lalu, Eldorick berdiri.


 


Tap tap tap tap!


 


Suara langkah kaki terdengar mendekati Eldorick yang masih melenguh sakit.


 


"Heh!"


 


Sato di tempatnya.


 


Saat ini, dia puas akan serangan tadi. Dengan teknik serangan sihir kuat yang dimiliki oleh Magi. Dia bisa gunakan itu juga karena magi sudah menjadi bagian dari karmanya.


 


Sato menatap dua musuhnya yang kini terlihat lagi. Tempat itu adalah tempat sihir ruang dan waktu. Di mana Astorra yang merupakan orang yang menggunakan teknik sihir ini. Mengundang sosok yang kenal dengan Sato.


 


Orang itu nampak berwujud tak jelas. Karena sihir ini tidak sempurna sama sekali. Namun, efeknya jauh lebih menguntungkan daripada sihir yang dipakai oleh Syaumu dan orang-orang dari akademi Valloshwa.


 


Sato mengangguk setelah diberitahukan magi akan serangan cepat musuhnya itu.


 


Blaaaam!


 


Salah saru musuh menyerangnya. Namun, dia maju menghindar. Lalu, Sato berbalik dan menendangnya.


 


Jduaaagh!


 


Sato melompat ke depan atas. Lalu, Astorra nampak di dekatnya melompat pula. Keduanya nampak adu serangan. Namun, Sato tak sadar akan serangan kuat dari sosok lain yang sudah ada sampingnya.


 


Blaaar!


 


Namun, dengan bantuan naganya itu. Sato berhasil selamat. Bahkan, setelah itu diledakkan oleh sihir Blockbustur milik sang Vampire.


 


"Heh!"


 


Astorra tersenyum senang. Namun, Sato masih bertahan. Saat itu pula. Tubuh naga miliknya membesar. Sato pun menyadarinya sedikit. Namun, sosok lain sudah maju.


 


Wuuush!


 


Sato menghindar. Lalu, naga miliknya itu terbang dan hantamkan diri ke arah musuh yang menyerang Sato.


 


Musuhnya itu terpental. Dia adalah Astorra.


 


"Sialan!" Astorra kesal. Lalu, dia napak dan menembakkan sihir ledakan kepada Sato.


 


Sato dan naganya terbang bersama ke atas. Menghindar lalu kembali ke daratan lagi. Namun, musuh lain menyerang keduanya.


 


Sato menghindari gerakan cepat musuhnya itu. Mundur dan terjungkal karena dia tersandung beberapa puing kecil di lantai itu.


 


Lalu, Astorra yang sadar maju ikut menyerang. Menyerbu Sato dengan pedangnya itu.


 


Walau begitu berkat semua bantuan dari teman-temannya. Sato bisa menghindari dan antisipasi segalanya.


 


Blaaar!


 


Sato kini terpental karena amarah dari Astorra yang menggunakan sihir peledaknya itu.


 


"Heaaa!"


 


Sato yang bangkit lalu menyerang. Membuat mentalkan Astorra. Menggulingkan sosok lain itu yang berbentuk tidak jelas.


 


‘Sial kekuatan kini tak sampai penuhku yang dulu. Cih, andai saja dia  tahu bahwa aku sangat kuat di dimensi ini jika dengan kondisi yang asli' batin orang itu jengkel. Menatap Sato.


 


Sayo menatapnya. Semuanya maju dan semua tinju mereka saling adu pula.


 


Blam!


 


Lama mereka mengadu. Kini mereka adu tinju kembali dengan kecepatan dan jarak tempo yang sangat singkat.


 


Blaaar blaaar balar balar!


 


Mereka adu tinju dengan gerakan yang indah. Astorra maju. Untuk menebas segalanya tentang Sato.


 


Blaaam!


 


Tebasannya berhasil mendorong Sato ke sudut sana. Sato pun menubruk dinding. Untunglah naganya bisa meminimalisir resiko tubuhnya dari terjangan pedang Astorra tadi.


 


Sato kembali melihat kedua lawannya itu. Lalu, dia maju lagi. Magi di sana khawatir.


 


‘Jika begini. Berangsur-angsur Astorra akan semakin kuat. Kita harus bisa menaklukkan ini semua. Sihir ruang waktu harus diberhentikan' batin magi.


 


'Tapi, kekuatanku tak cukup saat ini' batinnya lagi mengeluh.


 


Tap tap!


 


Blaam!


 


Sato berhasil meninju salah satunya. Orang itu tersungkur keras ke depan sana. Lalu, Astorra tidak terima dan menyerang dengan pedangnya itu.


 


Lalu, secara tidak sadar mungkin dia terlalu kuat. Hingga dia menggunakan teknik templeknya itu.


 


Blaaar!


 


Sato menghindarinya. Karena dibantu oleh magi dan naganya yang mulai dewasa seiring berjalannya waktu.


 


"Jangan remehkan aku!" teriak Sato menyerang balik Astorra.


 


Astorra terkejut. Dia tak sempat untuk menahan tinju Sato yang kini sudah menyentuhnya.


 


Blaaar!


 


Namun, untung saja orang lainnya menyerang dengan menendang Sato. Membuat Sato jauh dari Astorra yang hanya mundur tidak jauh. Serta tak merasakan sakit yang seharusnya dia rasakan jika pukulan Sato telak mengenai dirinya.


 


Keduanya lalu menatap Sato di samping mereka. Sato akan menyerang dengan pukulannya itu.


 


Heaaa!


 


 


Blaaar!


 


Astorra terpental. Sato sendiri juga sufah terbebas dari genggaman kuat orang itu.


 


Lalu, dia mundur dan menggunakan teknik serangan itu.


 


Blaaar!


 


"Rei ken! DAISUHA!"


 


Blaaar!


 


Serangan kuat dengan bentuk pipih dan berputar serta berdengung. Tampak membuat keduanya pun terhempas jauh.


 


Blaaar balar balar blaaar!


 


‘Kekuatan ini tak sekuat teknik milik Astorra. Jika dibandingkan pada saat itu' batin Magi.


 


Sato bersiap lagi.


 


Astorra nampak jengkel sudah melesat ke arahnya.


 


Sring!


 


Tusukannya nampak dihindari lihai oleh Sato. Lalu, terus menebas Sato. Sato pun melompat. Tak sadar Sato sudah ada di belakangnya karena dia sibuk menebasnya.


 


Lalu, di belakang sana ada si wajah tak jelas itu. Terlihat menyentuh pundak Sato. Sato yang lengah tampak tak bergeming saat tubuhnya itu dijatuhkan ke tanah.


 


Dihempaskan begitu mudahnya. Apalagi nampak tubuh Sato kecil dan kurus juga. Sato terpental dari bantingan itu. Seakan dia itu bola yang terpantul dari tanah.


 


Dia lalu berhasil berdiri. Naga bayi itu datang menantinya dan menjauhkan keduanya dengan hantaman kuat ke lantai depan mereka semua. Membuat asap mengepul.


 


Sato merasakan sakit di pinggang dan punggungnya.


 


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Magi khawatir.


 


"Groaak!" Naga pun bersuara seakan menanyakan hal yang sama.


 


Sato mengangguk.


 


"Ya, ini jauh lebih sakit jika aku mati di sini," ucap Sato meyakinkan mereka.


 


"Bukankah sebaliknya?" tanya Magi.


 


"Tidak! Jika aku mati di sini. Itu tak apa. Sama sekali tidak sakit," jawab Sato.


 


Datang dua orang itu melaju ke arahnya.


 


Blaaaar!


 


Sato pun terpelanting ke belakang sana.


 


Duaaagh!


 


Dipukul lagi oleh seorang tidak jelas itu. Tampak, dipukul lagi untuk kedua kalinya membuat Sato terpojok.


 


Brak!


 


Sato berdiri. Naganya membantu.


 


Groaaar!


 


Namun, Astorra datang. Sato sudah mengetahuinya. Lapu melompat dan menendang Astorra dengan mudahnya.


 


Sato berdiri dan menerjang ke arah sosok itu yang masih bertarung dengan naga hitamnya itu.


 


Jduaaar!


 


Sato berhasil hempaskan monster itu. Sato pun kelahan. Naganya kembali mengisikan energi padanya.


 


‘Energi naga itu sangat besar. Masalah tentang ketahanan dan daya tahan bisa kita atasi' batin Magi berpikir keras.


 


Saat ini dia sendiri terus saja menyempurnakan sihir di dalam ruangan itu.


 


'Ini pertama kalinya aku gunakan sihir pengubah jiwa. Membuatku harus beradaptasi dengan sihir dan karma yang  melenyapkan sihirku ini' batin magi berusaha keras di dalam sana.


 


Sato menunggu musuhnya bangkit. Tak selang lama satu musuh itu menerjang dari arah samping.


 


Blaaar!


 


Naga itu menahannya dengan kepala kuatnya.


 


"Bagus!" puji Sato padanya.


 


Lalu, dia memperhatikan keadaan sekitarnya. Datang tebasan keras itu yang merupakan Tamplexs dari Astorra.


 


Blaaar!


 


Namun, tebasan itu agak lain. Tebasan itu tampak membentuk dinding. Namun, dinding itu terbilang kecil dan hanya membelenggu diri Sato Kazumi.


 


"Sialan!"


 


Magi yang memandangnya tampak terkejut.


 


'Sialan, dia pasti sudah tak tahan. Aku harus berusaha keras untuk membantunya. Tunggu sebentar lagi. Bertahan saja selama mungkin’ batin magi.


 


Sato nampak mengangguk setelah magi menyuruhnya untuk bertahan di sana. Naganya itu tampak sibuk dengan pertarungan sendiri. Lagi, Sato kini hanya sendiri dan dia tak bisa keluar dari sana.


 


"Sialan!" kesal Sato berteriak marah.


 


Tap!


 


Lalu, dari depan sana. Tampak malah Astorra langsung akan menyerangnya.


 


"Tidak bisa kuungkiri kau memang tidak gampang dibunuh! Jadi, aku kan langsung saja memenggalmu aja daripada membunuhmu!" teriak Astorra.


 


‘Sial, ini diluar perkiraanku’ batin Magi.


 


"Hyaaaa!"


 


Magi pun nampak terus mengeluarkan cahaya sihirnya agar menerobos dan melewati halangan sihir karma Sato.


 


Sato pun nampak melihat pedang milik orang itu mulai datang. Saat itu sangat lambat dia lihat.


 


'Ini terjadi lagi' batin Sato. Melihat gerakan pedang yang surah dekat dengannya beberapa centi itu. Seperti terhenti. Namun, sebenarnya itu bergerak melambat. Sangatlah lambat.


 


Sato melihat naga dan orang itu. Terlihat naganya itu dipukul dan mental ke arah lantai amatlah lambat.


 


Beberapa puing yang tercipta dari kekuatan itu nampak melayang lambat dan jatuhnya juga sama.


 


Kejadian lambat itu terjadi kali ini. Sato masih tak mengerti. Lalu, hal itu membuat Sato memiliki kesempatan untuk menghindar.


 


Sebelum waktunya kembali. Sato sadar diia harus hindari itu.


 


Dia membungkuk. Untunglah bagian bangunan itu cukup untuk buatnya terhindar dari tusukan itu yang bergerak untuk membunuh dirinya.


 


Sato menunggu agak lama. Namun, waktu itu tak kunjung kembali.


 


Bersambung.