
episode 65
Shimun. Kini masih diam. Dia entah kenapa ada rasa ragu untuk menyerang terlebih dahulu.
Dia ingin kejelasan lebih tepatnya.
"Sial, dia tak menanggapiku-"
"Aku adalah roh suci!"
Suara gema itu mengejutkannya. Shimun pun sedikit lega.
"Apa itu haaah?" tanya Shimun benar-benar tidak tahu apa pun.
Sosok itu diam. Lalu ...
"Aku adalah iblis, aku sudah menjatuhkan dunia ini kemarin. Kini, aku akan mencoba membungkam bumi ini lagi," jawab monster itu.
'Dia benar-benar jahat' batin Shimun.
"Aku akan memakan bulan dan langit. Setelah itu giliran kau dan bumi ini!"
Shimun terbelalak.
Kemungkinan jika bumi ini hancur, dia akan mengacak-acak dimensi sihir juga. Dia pun kesal.
"Beraninya kau!"
Dia pun membuat energi sihir yang kini putih cemerlang agak gelap.
Bahkan, sinar-sinar gelap terpancar dan muncul beberapa saat.
"Heaaaaa!"
Dai pun terbang dengan hanya satu lompatan.
Blaaar.
Tanah itu hancur.
Si iblis itu tampak masih tersenyum remeh.
Lalu, saat hantaman tangan kuat miliknya mengenai tubuh iblis.
Tiba-tiba ......
Ngung!
'Apa?!'
Iblis terkekeh.
"Hehehe, aku adalah monster penelan. Sekarang waktu sudah kutelan di sekitar kita," ucap iblis.
"Ja-jadi?"
Blaaaaar!
Shimun entah kenapa bisa sudah sangat jauh sekali dari sisi iblis itu. Dia terdampar sangat jauh tapi sepertinya dia tak merasakan apa-apa. Bahkan untuk terlempar butuh gesekan udara sebelum terjatuh ke tanah.
'Dia bilang menelan waktu?' Batin Shimun tak percaya.
Kini, di tempat itu. Albania. Semuanya seperti dikuasai lucifer. Bahkan waktu dan angin pula.
Sato dan Forg merasakan iblis itu merusak sistem mereka. Keduanya merasa sangat bahaya saat ini..
"Di luar masih ada pagar kuat. Mungkin masih bisa melindunginya. Tapi, sepertinya kita butuh ke sana juga!" seru Forg.
"Baiklah!"
Mereka pun keluar. lalu, di luar sudah ada Chintya yang menunggu mereka di mobil. Chintya tampak melarang Sato.
"Kita buru-buru, kau sepertinya harus bersama putri itu untuk mengaktifkan kekuatan itu bukan?"
Sato menggeleng.
"Tak ada tempat lagi. Aku gunakan mobil kecil. Tunggulah, di sini," lanjut Chintya dan mengenakan kacamatanya lagi.
"Ta-tapi ..."
"Tenang saja, kami punya seorang yang bisa menyegel Bombamen lagi."
"Apa?! Benarkah?"
"Ya. Jadi tetaplah di sini. Dan tunggu kabar setelah ini!"
Brrrrrrm!
Chintya tampak terburu-buru untuk ke sana. Dia lalu menghubungi beberapa orang. Namun, semuanya menolak tujuannya itu.
Untunglah ada Forg yang sepertinya bisa diandalkan.
"Aku sudah meretasnya. Kita hanya butuh waktu dua menit untuk melewati lubang itu!" seru Forg ,senang.
Mendengar itu. Chintya pun melajukan lagi mobilnya lebih kencang.
Kini, keempat orang itu melaju sangat cepat menuju Albania.
Pertarungan tak imbang terus terjadi.
"Hahahahahaha!"
Tawa monster itu yang kini, tampak membuat seorang Shimun tak berdaya.
Dia secara ajaib bisa menyerang di mana saja. Dia memunculkan bagian tubuh sebagai udara hitam. Membuat Shimun tampak berdarah.
Bahkan, kini sampai darah menetes. Mungkin ketahanan Shimun hanya sebatas ini.
Dia pun sudah tertusuk oleh tangan dan jari-jari dari iblis yang kejam.
"Hahahahahahahahahahahaha!"
Terlihat, Shimun masih bisa berdiri dan memotong tangan itu.
"Hyaaaaa!"
Dia mencoba keluarkan jurus pukulan maut ke segala penjuru. Namun, iblis yang sudah menyatu dengan udara.
Tak mempan sama sekali.
"Sialan kau!" raungnya marah besar!
Shimun lau keluarkan gelombang karena kemarahnnya itu.
Semuanya hancur namun, tak ada tanda-tanda iblis terluka.
Mukanya makin dibuat marah lagi. Dia pun mencari si iblis itu.
Dia berlari ke kanan. Menemukan satu titik energi yang dia lacak darinya.
"Hyaaaaa!"
Dia melompat dan hanya menyerang tanah kosong.
Sosok energi muncul lagi.
Dia pun mencoba menyerangnya. Namun, dia malah terpental karena hempasan udara misterius itu.
"Sialan, kalau begini terus. Aku tak bisa menyerangnya!" kesal Shimun.
Braaak!
Sesuatu datang dari belakangnya.
Itu adalah kakinya.
Dia pun menangkisnya. Lalu, datang lagi kaki lain dari atasnya.
Dia membuat tubuhnya menguat. Dengan begitu dia menjadi bisa menahan gempuran bertubi-tubi.
Blaaaar!
Kini, muncul tangan lain dan berhasil merobek dadanya.
Dia pun terluka dan banyak nanah yang tercecer. Mungkin terjadi infeksi saat tangan lucifer itu menyentuhnya.
"Benar-benar menjijikkan!" teriak Shimun. Sama sekali tak terganggu dengan robekan di dada kirinya.
"Hahahahahahahaha!"
Shimun terus mengejar sosok tak kasat itu. Dia mencoba pukul sana-sini. Namun, tak kena juga.
Monster itu sudah menyatu dengan udara. Bahkan mulai menelan waktu.
Namun, anhnya dia tak memainkan waktu itu seperti di awal Shimun menyerang.
'Dia hanya bisa menggunakan kemmapuan penghenti waktu di sekitar tubuh aslinya' batin Shimun.
'Atau tidak'
Blaaaar!
Tampak Shimun terluka parah. Darah mengucur ke mana-mana karena serangan dan tidak dia persiapkan untuk di tahan.
Dia kini yakin.
'Dia mempercepat waktu serangannya' batin Shimun yakin.
Shimun dibuat tak berdaya.
Semua serangan kuat itu tak bisa dia tangkis. Ditambah dengan kemmapuan manipulasi waktu itu. Dia tak akan bisa mudah untuk melawannya.
"Sialan kau jahat!" teriaknya memaki.
Namun, walau tubuhnya hampir hancur. Dia masih hidup.
"A-andai saja dia muncul di depanku!"
Tiba-tiba saja. Sosok hitam itu muncul juga. Seperti yang baru dia harapkan.
Sosok itu besar melebihi Shimun. Dia punya rambut panjang yang berkibar. Wajahnya hitam dan hanya mata dan mulutnya yang bersinar merah tajam.
Shimun lalu tersenyum.
"Begitu ya!"
Setelah itu ......
Jduaaaaaar!
Shimun mengeluarkan tinjuan berskala besar. Entah bagaimana dia mampu melakukannya.
Tinju Shimun membentuk gelombang besar yang begitu mengerikan.
Blaaaaar!
Shimun lalu tampak berdiri. Setelah meninju si monster itu yang baru dia lihat tadi.
'Dia hampir mirip seperti vampir. Apakah di dunia ini ada perwujudannya juga?' batinnya penasaran.
'Dan lagi ...'
"Haaah haaah haaah."
Shimun nampak bernafas cepat. Lalu, perlahan melihat ke bulan itu lagi.
'Dia tak akan mempan diserang oleh kekuatan apa pun juga' batin Shimun dan melihat sosok hitam di atas sana tertawa nyaring.
Kini, Shimun mulai rasakan bahwa energi monster itu mulai memasuki kekuatan terbesar lain di dunia ini. Yakni bulan.
Dia terduduk karena besarnya tekanan energi non sihir di sekitarnya.
‘Sial, aku kesulitan bernafas' batin Shimun sangat tegang.
"Haaah haaah haaah!"
Perlahan, kegelapan pun mulai melenyapkan cahaya bulan itu.
Wuuush!
Shimun tak bisa melihatnya karena energi dan tekanan itu. Untuk bergerak saja. Bagi Shimun, itu seperti sangat berat sekali.
"Haaah haaah haaah!"
Bahkan, nafasnya sangat perlahan untuk dia alirkan di tempat.
"Haaah haaah haaah!"
Dia kesulitan bernafas untuk itu.
"Haaah haaah haaaah!"
"Ini serangan terakhirku!"
Shimun kemudian melompat.
"Deadly Headball!"
Wuuuush!
Tak disangka. Shimun bisa bergerak. Energinya kini menjadi gelap dan terang acak.
Lalu, perlahan energi ditangannya sangat kuat dan membentuk lingkaran yang berputar-putar. Seperti udara yang ditahan dalam bentuk ruang.
Nging!
Suaranya bahkan nyaring.
Lalu parahnya. Benda itu kini seukuran bulan itu yang sudah perlahan ditelan kegelapan iblis.
Iblis melihatnya. Lalu, dia sedikit gunakan kekuatan waktunya.
Dia pun kaget saat Shimun masih mendekat ke arahnya.
"Hyaaaaa!"
'Bagus. Karena kau berusaha menelan bulan. Dia pun tak bisa menggunakan kekuatan waktu itu secara maksimal!' Batin Shimun bersyukur.
"Hyaaaaa!"
Nging!
Bunyi tinju putaran energi raksasa Shimun kini bertemu dengan bulan. Beberapa orang memandang bulan dari tempatnya.
Beberapa satelit merekamnya.
Manda juga melihatnya.
"Mustahil," ujarnya kaget.
"Itu sepertinya searah dengan Albania!"
"Sial, musuh sangat kuat sampai ingin menghancurkan bulan!" seru manda di monitornya.
Wuuuush!
Pukulan itu akan dilancarkan. Tampak iblis juga akan menahannya dengan satu jari telunjuknya.
"Matilah kau!"
Tempat lain.
Blaaaaaaaaaar!
Susanoo. Monster ungu yang hampir sekuat iblis dan monster legendaris.
Dia merupakan dewa yang konon dikutuk jadi mahkluk tak terlihat karena tingkahnya melanggar aturan dewa.
Setelah menggunakan meriam itu. Bernard tampak masih memantau keadaan sekitar.
Walau dia masih sedikit rasakan kekuatan spiritual itu.
Haik, tampak melihat dari kejauhan juga. Dia membantu beberapa orang melarikan diri.
Dirinya namun kembali ke tempat itu. Mencari Beenard. Namun, di atas sana. Muncul banyak pesawat Bernard.
Dia pun menumpang pesawat itu yang pasti dikendalikan kawannya itu untuk membawa haik.
Wuuush!
Tap!
Dia pun sampai di tempat Bernard berada.
Dia masih sama santainya. Haik melompat dari pesawat dengan mulus.
"Kita akan musnahkan dia Bernard, semua warga sudah jauh dari kita ini!" ujar tegas haik.
Dia lalu dengan sinar putihnya bersiap.
"Baiklah kawanku," ucap Bernard dan bersiap. Kini, dia mencoba membantu dari jarak jauh.
Mungkin dengan beberapa meriam.
"Saat ini aku tak akan bisa memunculkan Stargeast kawan, aku belum punya cukup energi. Ku harap. Aku bisa menghisap energi spiritual monster ini," ucap Bernard berharap.
"Simpan saja iu. Kita fokus untuk lumpuhkan dia saja secepat mungkin. Karena misi kita bukan hanya untuk monster-monster. Kau ingat bukan?” tanya haik.
"Eh?"
Haik pun mengalihkan perhatian ke arah monster itu.
'Sudah ku duga' batin haik sedikit kecewa.
Lalu, asap pun mulai hilang. Kini, haik dan Bernard bersiaga di tempat.
'Jika seranganku yang tadi tidak mempan ..."
Itu berarti ...'
'Kita harus gunakan serangan gabungan!'
Seru keduanya dalam hati.
Groaaaarg!
Tampaknya, monster susanoo bangkit lagi. Lalu, kini dia menginjak-injakan banyak bangunan karena emosinya itu.
Membuat Haik dan Bernard kini terhempas. Keduanya kembali terpisah lagi.
Tap tap tap tap!
Groaaaaarg!
Monster susanoo tampak mengamuk hebat di tempat itu.
'Sial, sepertinya kita akan menggunakan kekuatan gabungan!'
Namun, keduanya harus mencari rekannya masing-masing terlebih dahulu.
'Sial' batin keduanya.
Susanoo itu tampak akan menghampiri keduanya. Membuat haik sendiri mundur karena gelombang itu sangat besar.
'Semakin dia marah. Semakin dia kuat. Berbahaya' batin kedua orang yang terpisah jarak itu.
Jduuuum jduuuum jduuuuuum!
Mata keduanya lalu waspada. Setelah itu .....
Ngiiiiing!
Tampak seperti puluhan misil dari luar angkasa melesat kearah mereka semua. Dan kejadian tak terelakkan terjadi ... ledakan hebat.
Bersambung.