
Episode 103
"Hahahahahaha!"
Rognoins adalah hewan sihir yang bisa membantu para penyihir. Mereka punya bakat untuk jinak pada manusia.
Beberapa Rognoins bahkan bisa melatih diri mereka sendiri.
Beruang dengan sesuatu yang menjuntai di bagian matanya itu. Tampak memandang Sato..
Sato masih tak percaya. Hingga dia kemudian sadar dari lamunannya itu.
"Hey, sadarlah manusia. Aku tak akan memakan manusia," jelas beruang itu baik..
Sato mengerjap.
'Apa yang dilakukan monster ini di tempat seperti ini?' Batin Sati tak mengerti.
Beruang itu nampak menggaruk punggungnya. Sambil tertawa dia berkata "maaf, tapi aku sedang mencari air. Karena banyak pohon-pohon yang mengandung air. Di sepanjang arah barat. Tidak aku temukan. Jadi, terpaksanya aku ke desa ini. Tapi malah menakuti para manusia."
"Oh, jadi begitu."
"Jadi, apa kau punya air pak?" tanya beruang itu memelas.
Sato menghela nafasnya. Lalu dia pun keluaran botol minum yang cukup besar. Kemudian dia melemparnya pada beruang itu.
Beruang itu tersenyum bahagia.
"Wah, terima kasih!"
Lalu, Sato tampak menunggu Sayugo yang bangun pingsan. Sayugo pun bangun.
Sayugo lalu melihat ke sekitar. Tampak sudah malam. Dia merasakan kobaran api tak jauh darinya.
"Di mana Sato ..... apa dia bersama dengan monster itu?"
Sato tampak berbincang dengan monster itu. Yang kini mereka tengah membakar ikan.
"Aku sebenarnya punya sarang di sini. Aku bepergian ke suatu kota. Untuk sebuah persiapan perang sihir," jelas beruang itu..
"Apa?"
"Ya, itu sudah jelas bukan?"
Beruang itu menatap heran pada Sato. Sato yang kaget kemudian berusaha berdehem tenang.
"Ya! Ya! Itu sesudah pasti," ucap Sato pura-pura mengerti.
"Sepertinya warga desa ini sama sekali belum tahu tentang mahkluk sepertiku juga. Mereka lari saat aku baru akan mengajak mereka bicara. Aku pikir kaliann bagian darinya(karena sama-sama kaget?" ujar sang beruang.
Sato pun diam membisu.
Tap!
Sayugo datang.
"Sato!" sapa Sayugo.
"Oh, hai!" sapa beruang ramah itu.
Sayugo memandang sedikit takut.
"Hahaha, tak usah sungkan. Mari makan bersama kami!" Beruang itu mengajak Sayugo dengan ramah.
Sayugo pun ikuti katanya. Duduk dan sedikit melihat ke arah lain. Beruang itu hanya bisa memakluminya..
"Bertahun-tahun tinggal di sarang. Kau tak pernah kunjungi desa itu. Ini pertama kalinya aku ke sini. Namun, mereka semua malah lari," ucap beruang itu.
"Ya, sepertinya juga begitu,," balas Sato.
Mereka bertiga masih ddi sana. Menghabiskan sisa ikan bakar itu.
"Ngomong-ngomong kalian berdua dari mana dan sedang apa?" tanya beruang itu.
Sato menatapnya tenang.
"Aku sedang berlatih. Sambil melihat-lihat tempat ini," jawab Sato.
"Uhmm.. sepertinya kau ambil bagian di perang sihir nanti ya?" tanya beruang itu.
Sato mengangguk.
Malam pun berlalu. Mereka bangun dari sana. Tampak Sato bersiap untuk kembali. Beruang itu juga sama.
"Sampai jumpa di petang nanti," sapa beruang itu pamit.
"Yaa!"
Sato lalu kembali ke arah barat. Menuju ke markas mereka saat ini..
Tap tap tap tap tap!
Sato mencoba berlatih di jalan. Dia kini mengincar burung--burung yang beterbangan.
Wuush!
Tampak panah Sato mengernai satu burung. Dia meminta Sayugo memungutnya. Untuk bekal makam siang mereka.
Srat srat srat srat!
Sato terus mengincar semua burung-burung itu. Burung yang kebanyakan hidup nergerombol pun tampal memisah dari kumpulan mereka. Terbang acak. Panah Sato bisa mengenai beberapanya.
'Bagus' batin Sato bangga.
Dia mengalami progres yang signifikan. Lalu, mereka kembali ke arah perjalanan sebelumnya.
Tap tap tap tap tap!
Langkah kaki mereka tampak menyebrangi sungai kecil. Lalu, mereka tampak melihat suatu danau di sana. Lalu keduanya pun istirahat di siang terik itu. mereka membakar jasad burung-burung kecil yang dikenai Sato.
Di pinggir sungai itu. Sayugo membakar kemudian Sato tampak menyiapkan air yang dia ambil dari danau itu.
Tap!
Mereka makan di sana. Ditemani suasana danau yang lumayan tenang. Muncul beberapa ular besar. Namun, mereka tampaknya sibuk berkelahi satu sama lain di sana.
Mungkin mereka tak memperhatikan sekitarnya. Sayugo melirik ke sana ke mari. Dia tampak masih makan untuk siang itu.
Usainya. Mereka pun kembali untuk ke tempat mereka pagi. Berjalan kaki dengan santai.
Sato dan Sayugo berjalan hingga mereka sampai di tempat Sato.
Sato merebahkan diri di dalam. Sayugo yang sepertinya harus ke kastil pamit padanya. Sato lalu tertidur tak peduli pada hal lainnya.
Wuuush!
Dia pun tampak bangun di hari berikutnya. Dia yang dudah ba memanah dengan mahir. Memutuskan kembali ke istana untuk ambil latihan lainnya.
Dia berjalan lalu di tengah jalan berpapasan dengan Sayugo yang ajab antarkan makanan padanya. Mereka pun makan di tengah hutan lagi.
"Aku sudah bisa memanah. Jadi, aku sepertinya akan ambil pelatihan lainnya," tutur Sato pada Sayugo.
Usia sudah mereka makan. Lalu, mereka kembali ke tempat pelatihan.
Di sana sufah bamyak orang kompak berlatih . Dibimbing Syaumu juga. Chintya juga ikut berlatih ala tentara yang keras itu. Namun, dia sudah terbiasa dan punya fisik yang kuat.
Megamu tampak duduk tak jauh di sana. Di dekat semua tentara yang berlatih..
Sato lalu kembali. Membuat semuanya menyapa dirinya.
Sato lalu tunjukan keahliannya dengan panah. Dia mudah memanah dalam jarak apa pun dan selalu pas.
"Bagus, sepertinya tak sia-sia kau berkelana," puji Syaumu padanya. Sato menggaruk kepalanya kikuk.
Kemudian mereka terus berlatih. Hari berlalu lagi. Sato masih belum mau melanjutkan pelatihan karma.
Dia kini fokus pada latihan panahnya saja. Dia tampak gunakan panah yang lebih berat. Lalu panah itu sangatlah kuat dan bisa lubangi pohon. Panah itu punya hal tajam yang memutar. Membuat panah ini jika dilesatkan bisa menembus tubuh musuhnya.
Sato melatihnya. Dia melatih di sebuah danau. Dia ingin panahnya itu masuk sangat dalam. Dengan begitu membuktikan dirinya bisa menembus apa pun dengan panah tipe berbahaya ini.
Seet set set!,
Panah itu terus saja dilesatkan ke dalam air-air itu..
Wuuush wuuush wuuush!
Sato lalu kembali lagi untuk ke dalam istana. Dia lalu bertemu Megamu.
Megamu paham. Kekuatan karma Sato seperyinya sangat sulit untuk dikembangkan. Lalu, dia pun sepertinya menyarankan Sato melatih dirinya dengan cara yang lainnya.
Tap tap tap tap!
Sato terus melakukan pelatihan itu. Semua orang kagum melihat panah Sato sangatlah kuat.
"Itu cukup untuk menembus seratus orang yang kekuatan sihir melemah!" pendapat satu tentara bawahan.
Sato tersenyum mendengarnya.
Syaumu melihat dengan tatapan misterius lalu, dia masuk ke dalam ruangannya.
Di sebuah hutan yang jauh darinya. Tampak ada sebuah suku yang semuanya terlihat besar dan berotot. Satu dari mereka tampak bisa memanah bahkan berburu dari jauh.
Sati kemudian kembali untuk berlatih lagi. Tap tap tap tap!
Dia menuju ke hutan. Di sana dua tampak merenung. sembari membetulkan busurnya itu.
Wuuush!
Dia melihat suatu monster besar di sana. Lalu dirinya langsung melesat ke arah monster itu. Dan melompat dari batang pohon ke pohon lainnya mengikuti monster yang larinya sangat cepat itu.
Namun, dirinya tetap bisa mengejarnya. Kemudian Sato mengambil satu anak panahnya itu. Lalu, menariknya dengan busur. Kemudian arahkan ujungnya ke si monster tadi.
Wuush!
Larinya terlihat cepat namun, Sato tampak bisa imbanginya. Hingga dia pun melesatkan anak panah miliknya.
Wuuussh!
Ana panah itu melesat sangat cepat. Lalu monster itu tampak memekik namun dia tak sadarkan diri langsung karena saking keras dan cepatnya panah Sato mengenai tubuhnya bahkan mungkin kenai titik vitalnya. Yang membuat monster itu langsung tak berdaya tanpa gerak sedikit pun.
Sato pun turun. Melihat dan mengamati monster itu. Tampaknya monster sihir juga. Lalu, Sato coba melihat ke wajah monster itu.
Tampaknya Sato tak tahu jenis monster sihir apa itu. Lalu Sati pun kembali berjalan ke depan. Dia melihat spesies satwa liar di sana.
Lalu terus melangkah demi langkah ke depan.
Banyak suara yang dia dengar dari hewan-hewan yang ada di sekitarnya bulu kuduknya juga berdiri. Tak kala mendengar beberapa suara desisan di sana.
Wuuush!
Lalu, muncullah sesuatu yang menyeramkan. Sato tampak sampai di sebuah hutan yang kini hijau dan sepertinya sangat baru baginya. Dirinya tampak melihat sesuatu di dalam sana. Mungkin monster.
Lau, monster itu memunculkan dirinya.
Bentuknya panjang dan sangat menyeramkan. Tampak itu seperti manusia dengan badan ular. Sato menatapnya sedikit takut. Dia baru melihat wujud yang seperti ini.
Namun, dia berusaha tenang monster itu mendesis bak ular. Dirinya lalu mencoba bergerak. Lalu dia merasakan ular itu hanya melihatnya saja. Membuatnya kini lega.
Dia mencoba masuk ke dalam hutan misterius itu.
Seperempat perjalanan. Dia dikejutkan dengan hutan ini yang amat gelap. Sangatlah rimbun pepohonannya. Dia un tampak mencoba duduk di sana. Namun, dia ingat di sini ada monster yang menyeramkan seperti ular tadi. Ada kemungkinan monster-monster itu banyak di hutan liar ini.
Sao pun terpaksa berjalan lebih jauh. Dia seperti mendaki ke atas. Melihat hutan itu dengan seksama dan menikmatinya.
Tap tap tap tap!
Srak sarak Srak srak!
Beberapa kali mendengar suatu suara dari hewan atau mungkin monster di hutan ini. Sato biarkan saja karena dia pum hanya penasaran dan ingin menaiki bukit itu.
Tap tap tap tap tap!
Sato tampak terus berjalan. Dia seperti berjalan ditemani oleh suara-suara monster dan hewan di sana. Yang sepertinua sangat misterius dan mungkin bentuk mereka sangat menyeramkan ataupun unik.
Sato mencoba tenang. Selama mereka tak menyerang. Sato juga tak akan menyerang. Kecuali dia menarik baginya.
Tap tap tap tap tap!
Saat beberapa langkah menuju ke atas sana. Tiba-tiba muncul satu ular panjang warna hijau seperti pepohonan di sana.. namun .....
Ular berwarna hijau yang bernama sarpentin itu . .. .
Bersambung.