
Episode 118
Groaaagr!
Suara itu sangat mengerikan aku dengar. Aku melirik Mugo di sampingku.
"Apa ini tidak apa-apa?" tanyaku pelan.
Mugo nampak diam. Tapi aku tahu dia mengiyakan. Kami, menunggu di sana. Lalu, Mugo terlihat menatap lebih ke sana.
"Ini saatnya!" ucap Mugo agak keras. Aku mengikutinya yang bergerak ke depan.
Dia menggunakan sinar dari matanya itu lalu, menyinari arah itu.
Aku pun terpana. Wow banyak sekali monster di depan kami. Namun, mereka srmau nampak tak melihat kami.
Tampak, mereka semua seperti mengerumuni sesuatu. Di mana hal itu sepertinya lebih besar dari mereka semua.
Blaaaar!
Mugo dan aku menyerang mereka semua. Aku mengalahkan mereka semua, Mugo membinasakan bersamaku. Aku dan Mugo pun membunuh puluhan monster. Adapun aku melihat banyak berserakan bagian-bagian tubuh monster yang ukurannya lebih kecil dari monster yang sudah kita kalahkan.
Mugo mendekati hal yang dikerumuni monster-monster tadi. Entah kenapa bisa seperti ini. Monster-monster itu memakan suatu bangkai monster yang ukurannya sangat besar. Herannya lagi ada banyak bekas pertarungan sihir dari monster-monster ini.
"Lihatlah ini!" Mugo menunjuk sesuatu. Lalu, dia menyinari agar aku dapat melihat dengan jelas. Aku terkejut monster besar itu ternyata adalah monster yang kemarin. Monster besar dengan wujud ular atau naga.
Dia ternyata sudah mati di sini.
"Reiga mati? Apakah ini berarti ..." gumamku tak tahu. Karena aku tidak mengerti tentang semua hal mengenai monster dan tempat itu.
Mugo mengajakku untuk mendekati kepala monster itu. Terlihat kepalanya sedikit terkoyak. Beberapa monster di sana mungkin juga sudah ada yang menggerogoti bagian itu.
Aku menapak pada daging kepala itu yang masih ada kulit yang utuh. Mugo di sana dengan sihir melayangnya.
Walau dia bisa terbang. Dia tak bisa gunakan hal itu lebih tinggi dan lebih jauh dari yang bisa dia lakukan sejauh ini.
Aku melihat kepala raksasa di bawahku. Walau sungguh gila. Ini pertama kalinya mayat monster besar yang terkenal bisa ada di depanku.
Mugo nampak berjalan menuju ke mulut ular yang terlihat setengah terbuka. Aku mengikutinya.
Tap tap tap tap!
Aku pun melihat ke arah mulut sang monster. Mugo menyentuhnya tanpa halangan berarti aku juga mencoba menyentuh hal itu. Dagingnya nampak segar. Berarti dia sudah mati belakangan ini.
Mugo masih mengikutiku hingga kembali menemukan sesuatu di kepala atasnya. Hal itu nampak berbentuk seperti bulatan yang menonjol di dahi si ular Reiga
Aku dan Mugo nampak takjub. Pasalnya benda itu bisa bersinar berwarna putih jika kami menggunakan suatu sihir di sana.
Dengan pengetahuanku dan Mugo tentang monster ini aku pun mencoba ambil hal itu. Ambil bagian sedikit saja agar monster ini tidak bangkit lagi. Karena jika direbut semuanya. Monster itu akan menjelma menjadi monster lain yang bernama Vanguard.
Lalu, kami pun nampak ke bawah sana.
Kami puas akan hal itu sampai pagi tiba. Kami, makan dengan daging buruan hewan di depan kami yang amat banyak. Di sini mayoritas hanya hewan monster biasa saja. Mereka semua sepertinya merasa aman di sini.
"Ada banyak monster yang lemah di tempat ini. Mungkin karena tadinya monster besar bernama Reiga itu melindungi mereka," ujar Mugo. Aku pun mengangguk.
Aku tahu dalam kehidupan monster. Mereka juga bisa membuat semacam kelompok. Lalu, juga mereka bisa membentuk sistem kelompok mereka semua. Beberapa monster yang lemah mungkin akan melayani monster yang lebih kuat. Lalu, monster yang paling kuat akan menjadi penguasa semua yang lemah dan paling lemah.
Mugo dan diriku pun nampak melihat ke sebuah gua itu di sana nampak berbeda. Gua itu nampak tidak dijaga oleh monster.
"Sepertinya Reiga yang mati itu. Adalah monster yang bersarang di gua yang ingin kita datangi," ucapku. Di mana kita sudah sampai setelah aku dan Mugo setuju untuk mendatangi tempat yang sudah menjadi tujuan kita ke tempat ini.
Mugo maju ke depan. Aku mengekor di belakangnya.
Tap tap tap tap tap tap!
Aku melihat ke sekitar. Tidak ada bekas apa pun. Beberapa batu dan kerikil yang mungkin dari sisik-sisik Reiga berserakan di tanah.
Mugo dan aku pun melihat gua itu. Namun, aku merasakan ada suatu kekuatan di dalam gua yang menurun ke dalam sana.
Mugo nampak seperti tak sadar hal itu. Membuatku bertanya-tanya. Mugo tersenyum padaku.
"Ini tempat yang pas. Kita sudah menemukannya," ucap Mugo padaku. Aku pun hanya bisa mengangguk pasrah padanya.
"Ya! Mungkin ini tempat yang sepi dari para monster," balasku dengan menggaruk kepala yang gatal.
Tap tap tap tap!
Mugo dan aku sampai ke dalam sana. Semakin ke dalam dan bawah. Aku pun rasakan kekuatan itu tampak semakin terasa. Lalu, Mugo seperti tak merasakan atau apa. Dia terus melaju ke depan. Kami menuju ke sebuah lantai bawah.
Lalu, saat hendak ke sana.
Deg!
Aku pun dibuat terkejut karena kekuatan kuat di sana bahkan bisa membuatku sakit dada. Kekuatan ini bukan hanya besar. Tapi, seakan menekan diriku.
Mugo sendiri nampak ada depanku. Dia menghadapku. Wajahnya nampak tenang.
"Tenang saja! Ini tak berbahaya. Lambat laun, semua ini pasti akan normal kembali," ujar Mugo. Dia terlihat tak kesakitan seperti aku.
Aku pun mencoba tak merasakan sakit itu. Menenangkan diriku.
Rasanya ingin muntah. Namun, aku menutup mata berusaha untuk tidak memuntahkan isi daging yang baru dimakanku dari tadi.
Mugo nampak jauh dariku. Aku tak peduli dan hanya memilih menunduk di sana. Menahan nyeri itu.
Lalu, beberapa saat kemudian Mugo menghampiriku.
Lalu, dia menyentuh pundakku.
Tap!
Saat itu juga. Aku merasakan nyeri itu hilang sekejap. Lalu, aku melihat sosok di depanku adalah Mugo. Tapi, entah kenapa aku tetap saja agak lain.
Bukan karena kekuatan. Mataku membelalak karena kaget.
"Mugo! Apa itu kau?!"
Terlihat saat ini. Aku seperti melihat sosok ayahku di depanku. Mugo dan ayahku mirip. Ayah Mugo juga mirip dengan Mugo maupun ayahku.
Sosok itu berbadan tinggi. Rambutnya rambut biru. Aku lihat wajahnya yang masih bisa kukenali walau orang itu sudah tua.
Dia tetap saja Mugo yang tadi. Aku yakin tak ada orang di sini. Tekanan sihir kuat tadi juga mungkin hanya monster saja. Tapi, aku masih ragu. Apa jangan-jangan Mugo satu ini bukanlah Mugo yang asli. Apakah ada monster yang mampu merubah diri menjadi manusia versi lain dari Mugo kecil itu?
Aku masih terpana. Namun, sosok itu nampak tersenyum hangat.
"Magi, aku masih sama. Adikmu. Saat ini, aku adalah Mugo. Aku adalah orang yang berada dari masa depan. Aku menginginkan sesuatu darimu saja," ucap Mugo dewasa itu.
Aku semakin tak percaya. Apa yang dia katakan itu.
Mugo membantuku berdiri dengan baik.
"Tenang saja! Aku ke sini hanya untuk satu hal yang tidak terlalu merepotkan," ujarnya lagi. Aku masih terpana tak percaya.
Lalu, dia dan aku maju ke depan. Aku pun menoleh ke depan di saat aku sadar.
Di sana berdiri Mugo yang kecil. Aku pun menatap heran penuh kekagetan.
Namun, Mugo yang dewasa tersenyum hangat kepadaku.
"Ini tak apa! Saat ini tubuhku yang sekarang sedang dalam tahap penjedaan," jelasnya. Entah benar atau tidak.
"Penjedaan?" tanyaku kaget.
"Ya! Saat seorang dari masa depan datang menggunakan jalur kesadaran yang sama. Maka tubuh yang paling kuatlah yang akan tetap bisa bergerak. Karena hanya ada satu kesadaran saja. Jadi, hanya satu orang saja yang bisa tetap sadar," jawabnya nampak ramah.
"Jadi ... apa yang kau inginkan?" tanya diriku dengan nada gugup terbata.
Lalu, Mugo nampak mendekati sebuah tempat di sana lalu aku sadari di sana itu hanyalah dinding. Namun, saat Mugo dewasa itu menyentuhnya.
Blaaam!
Suatu energi sihir aku rasakan keluar dari sana. Kemudian, Mugo itu pun nampak mendatangiku. Aku melihat tadi dinding kosong itu bergerak aneh.
Aku memandang Mugo yang dewasa dan menjauh dari dinding yang tadi.
"Aku ingin kau memberikan ini padaku. Di saat aku sudah berumur 20 tahun," ucap Mugo terdengar aneh.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Maksudku, jika diriku yang saat ini sudah berumur 20 tahunan. Aku ingin kau berikan liontin ini," ucapnya seraya menyodorkan sesuatu.
Benda itu hanyalah kalung biasa. Kakung itu nampak biasa saja dengan bandul berwarna merah gelap yang terlihat tajam dan ada kesan mengerikan serta misterius. Akan diberikan dari Mugo tang sudah dewasa datang dari jauh ke masa lalunya sendiri.
Aku masih tak mengerti. Lalu, aku pun perlahan menaruh kalung itu. Mugo dewasa tersenyum.
"Saat itu juga. Pastikan kau juga siap," ucap orang itu lagi.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
Akan tetapi Mugo dewasa tak menjawab. Dia nampak akan berlalu keluar dari gua itu.
"Waktu sudah selesai. Setelah lama aku menunggu akhirnya kalian datang juga. Jadi, jangan lupa pesanku itu ya. Magi," ucap orang itu. Lalu, dia menghilang dengan cahaya biru di sekitar tubuhnya bersinar keluar.
Itu tak menyilaukan. Lalu, setelah itu. Aku menyadari Mugo yang lain kembali bergerak seperti biasa. Kemudian, dia menyentuh tempat pada dinding itu. Yang sama dengan tempat yang disentuh oleh Mugo yang sudah pergi tadi.
Aku terkejut. Saat itu juga. Tampak, dinding itu berubah. Getaran nampak memenuhi ruangan itu namun, aku dan Mugo yakin itu bukan hal yang membuat kami akan terjebak di sana.
Entah mengapa perasaan itu ada di dalam hatiku. Tapi, hal itu benar adanya. Karena saat sudah berhenti. Semuanya nampak masih sama saja.
Lalu, aku dan Mugo dibuat kaget. Kini dinding itu berubah menjadi sebuah dinding yang bukan terbuat dari bagian gua lagi.
"Apa ini?" tanya Mugo yang nampak seperti menemukan harta karun. Aku pun mencoba memberitahunya.
'Apakah kekuatan sihir yang kuat tadi karena adanya hal ini?' Batinku bertanya-tanya.
Di depanku itu. Adalah gerbang besar misterius yang sedikit terbuka. Lalu, pintu itu menutup seakan menyembunyikan hal misterius dari kami semua. Gerbang yang mungkin berisikan sesuatu yang terlarang.
Bersambung.