
Episode 125
Di sebuah tempat di dunia Arconde. Beberapa tahun setelah itu.
Terlihat, seorang wanita yang cantik. Tengah tertawa dan menggendong seorang bayi. Dia bermain bersama bayi menggemaskan yang sudah berumur dua bulanan itu.
Di tempat yang luas. Terlihat, tak ada seorang selain keduanya yang bermain-main.
Tap!
Namun, datang seorang dengan membuka suatu pintu besar di sebrang sana. Brak! Orang itu nampak masih muda. Dia nampak memakai pakaian sihir berwarna biru tajamnya itu. Pria itu melihat sang wanita yang juga mengerti keberadaan pria itu.
Keduanya lalu saling tatap. Kemudian, mereka nampak tersenyum penuh arti yang dalam kepada lawan pandang mereka.
Sang bayi di gendongan nampak tertawa lepas. Menggerak-gerakkan tangannya. Menjawil sehelai rambut yang lembutnya seperti kapas terlembut.
Wanita berambut merah dan pria berambut biru kini nampak mulai bergerak tuk saling mendekat. Wajah mereka penuh kebahagiaan dengan senyum lebarnya.
"Onpila, apa aku terlalu lama?" tanya pria itu. Keduanya saling rangkul. Namun, masih mempertahankan bayi mereka agar tetap di dekapan keduanya.
Sang wanita berambut merah yang dipanggil Onpila. Penampilannya kini lebih dewasa.
"Ya! Aku malah senang berada di tempat seperti ini. Bersama dengan anak kita," jawab wanita itu lembut. Membuat pria itu merona karena rasa sayangnya.
Keduanya kembali saling memagut mesra. Di hadapan bayi mereka yang hanya bisa melihat tingkah kedua orang tuanya itu.
Tap tap tap tap!
Saat ini. Kazumi pun kembali untuk ke ruangan kosongnya itu. Lalu, terlihat banyak sekali orang menunggunya. Mereka semua memakai pakaian sihir. Semuanya sudah pasti orang-orang kuat. Terlihat, mereka semua juga didampingi oleh beberapa penyihir-penyihir bawahan mereka.
Kazumi menyapa mereka semua. Tampak, beberapa orang mengangguk padanya. Lalu, Kazumi menaiki sebuah altar. Lalu, di atasnya dia duduk. Dengan sebuah bantalan empuk yang dihias mewah. Mau itu di dalamnya atau sekitarnya.
Semua orang sudah fokus terhadapnya. Orang-orang itu menatap penuh perhatian yang menyatu.
"Ini sudah genap 12 tahun. Aku sangat senang kita bisa berkumpul di sini. Untuk merayakan lahirnya putra pertamaku," ujar Kazumi dengan senyum yang merekah.
Semua orang itu pun mengangguk setuju padanya.
"Jadi, untuk itu. Aku sangat berterima kasih. Kelak, mohon bimbinglah putraku agar dia menjadi orang yang baik," lanjut Kazumi.
Suara tepuk tangan lembut dari semua orang itu pun nampak terdengar. Kazumi tersenyum senang. Beberapa orang sama dengannya.
Setelah itu.
Kazumi pun kembali ke kamarnya. Berjalan deangn gaya yang elegan. Saat ini dia merupakan kepala klan miliknya bersama dengan Onpila sang istri.
Tap!
Dia mendatangi Onpila yang tengah berbaring bersama bayinya. Anak mereka berdua. Onpila nampak mengetahui datangnya Kazumi yang tampak sangat hati-hati agar tidak mengganggunya.
Kazumi langsung duduk di sisi ranjang kosong. Sang istri itu nampak tersenyum lalu mendekatinya. Mereka nampak minum sesuatu bersama. Keduanya tersenyum penuh suka cita.
"Aku harap putra kita bisa menjadi orang terbaik di generasi mana pun," ucap Kazumi penuh harap.
"Ya! Aku juga mengharapkan itu dari anak pertama kita," sahut sang wanita itu.
Beberapa hari berlalu.
Kediaman klan Kazumi kini sudah sangat besar. Semua bangunan dan semuanya khas memiliki warna yang hampir sama yakni biru kehitaman.
Pagi itu, seperti biasa. Kazumi bekerja untuk mengurus pemerintahan ean keputusan klannya. Di tempatnya itu.
Di latar paling luar sana. Kini, berhenti sebuah kereta kuda yang terlihat mewah. Lalu, turun beberapa orang. Semuanya hampir dewasa. Kecuali satu orang yang nampaknya masih kecil.
Lalu, mereka pun memasuki gerbang yang disertai tangga yang naik ke atas sana. Orang-orang itu berjalan ke atas. Menyusuri tangga. Lalu, mereka pun sampai di depan gerbang.
Beberapa penjaga memeriksa mereka. Lalu, setelah seseorang dari perkumpulan yang datang menunjukkan sebuah kertas gulungan yang dibuka di depannya.
Mereka semua mempersilahkan dengan senang hati. Perkumpulan itu masuk ke dalam sana. Lalu, setelah itu salah atau orang dati penjaga itu nampak melakukan sihir yang mengeluarkan sesuatu yang keluar dari dalam baju sihirnya itu. Terbang cepat ke atas lalu menuju ke arah dalam kediaman klan itu.
Tap tap tap-tap tap!
Seorang anak memimpin perkumpulan mereka di kediaman Kazumi yang tampak asri. Semuanya nampak masih sepi dan damai. Lalu, kini terlihat banyak orang di sana berbaris menunduk hormat kepada mereka yang berjalan dari luar.
Tap tap tap tap!
Kini, nampak seorang bocah berusia lima tahunan itu. Berjalan dengan tampang yang dermawan. Ekspresinya seperti sudah dewasa.
Dia ditemani beberapa orang berpakaian ketat yang membawa senjata di pinggangnya. Kini, bocah itu masih tersenyum ramah mengangguk pada semua orang yang menyambutnya dengan hormat besarnya.
Tap tap tap tap tap!
Dia nampak sampai di depan bangunan tinggi dan sepertinya di sana sudah banyak orang yang sudah bersiap. Lalu, anak itu nampak maju ke arah orang yang paling depan. Tak lain sang kepala klan Kazumi. Kazumi itu sendiri.
"Tuan muda! Tumben sekali anda tidak memberi kabar akan kemari. Aku sangat khawatir tidak bisa menyambut anda dengan baik di tempat kami," ucap Kazumi penuh hormat.
"Tidak usah repot-repot. Seperti biasa aku hanya ingin membaca berbagai buku sihir di sini. Apakah itu tidak apa-apa?" tanya bocah itu. Dengan suara yang tegas.
Pria itu tersenyum senang.
"Itu adalah sebuah kehormatan bagi kami. Jika tuan muda ingin belajar sihir klan ini. Kami, bersedia membantu anda kapan pun anda ke sini," jawab ramah Kazumi.
"Baiklah kalau begitu!"
Bocah itu kini menatap semua penjaganya itu. Mereka mengangguk pada bocah itu. Kemudian, Kazumi pun mengajak bocah itu menuju ke tempat yang ingin dituju oleh bocah itu.
"Tuan muda Mugo masih tidak berubah ya! Aku harap putraku bisa menjadi sepintar dan hebat seperti anda," ucap Kazumi tersenyum pada bocah itu.
"Apa istri paman Kazumi sudah melahirkan? Maafkan aku karena belum mendengarnya dan mengucapkan selamat kepada anda secara terhormat," sahut anak kecil itu dengan kepintarannya yang di luar nalar.
"Tidak perlu hal besar. Kami sudah sangat merepotkan anda jika tuan muda terlaku serius untuk hal seperti ini," ucap Kazumi dengan kerendahan hatinya.
Bocah itu mengangguk lembut.
Lalu, mereka nampak memasuki sebuah tempat yang besar juga. Kini mereka pun tampak besar di perpustakaan klan Kazumi. Di sana banyak buku-buku dengan sampul berwarna sama.
Namun, di beberapa rak ada beberapa buku dengan warna merah mencolok. Anak itu pun nampak berterima kasih padanya yamg sudah bersedia mengantarkannya.
"Baiklah yang mulai. Jika anda butuh bantuan bilang saja pada pelayan kami yang ada di sini," ucap Kazumi dia nampaknya akan pamit. Karena bocah itu juga memintanya begitu.
Mugo. Nama bocah cilik itu. Yang merupakan tubuh kedua dari penguasa dunia ini. Kini, dia pun mulai mengambil satu persatu buku yang dia inginkan. Dia tak kesulitan dengan itu. Dirinya bisa menggunakan beberapa sihir dan mudah mengambil buku-buku di posisi yang sulit untuk dirinya.
Dia membacanya. Lalu, entah kenapa dia merasa kurang puas. Dia seperti merenung kali ini.
"Setelah aku ke sini. Aku merasakan aura kekuatan sihir yang aneh. Beberapa kapi juga aku melihat seseorang yang mengawasiku itu," gumam anak itu.
Dia nampak mengambil bukunya. Lalu, menggambarkan sesuatu di dalamnya.
Kemudian, dia memanggil beberapa orang yang bertugas di dalam perpustakaan sihir ini. Anak itu melihat wajah di dalam gambarannya yang indah itu. Mereka sangat terkagum-kagum dengan indahnya lukisan anak itu.
Namun, anak itu segera mempercepat semuanya. Semua orang itu nampak memeriksa banyak buku di sana. Bocah itu juga ikut memeriksanya.
"Wajahnya sangat mirip dengan salah satu tetua kuta. Tapi, dia saat ini tidak sedang ada di sini. Semua tetua juga sudah kembali ke tempat kediaman mereka semua," ucap salah satu orang pada anak itu.
Mugo kecil pun makin penasaran. Dia merenung kembali.
'Sebenarnya siapa orang aneh yang aku rasakan di saat aku sudah masuki trmait ini ya?' Batin Mugo penuh pertanyaan besar.
Orang-orang itu menatap Mugo tampak khawatir.
"Tuan muda, jika anda memang sangat penasaran dengan siapa orang ini sebenarnya. Kami, punya buku tentang cara menggunakan sihir untuk mencari tahu sesuatu atau anda bisa baca beberapa buku saran tentang sihir untuk mendeteksi wajah seseorang," ucap mereka padanya.
Mugo tampak senang.
"Berikan aku bukunya!" ucapnya pantang. Lalu, mereka pun tergesa. Memasuki sebuah ruangan yang terkunci. Kemudian, keluar membawa beberapa buku dengan warna sampul yang lain daripada yang lainnya.
Mugo tampak tak sabar untuk melihat isinya. Kemudian, anak itu pun membuka buku itu.
Tap tap tap tap!
Lembar demi lembar anak itu terus lihat. Semuanya tampak terlihat oleh mata kecilnya yang lincah. Semua pelayan itu membantunya di beberapa bacaan yang tidak dia ketahui.
Suasana di sana sangat harmonis. Nampak, seorang wanita melihat hal itu dari kejauhan. Rambutnya berwarna merah dan dia adalah sang istri dari Kazumi.
Dia nampaknya tadi hendak menyapa Mugo. Namun, sepertinya tak jadi. Melihat keseriusan tuan muda itu yang belajar sihir di tempat utama klan mereka.
Dia tersenyum simpul. Sembari membawa bayinya dia kembali ke tempat utama bersama para pelayannya itu.
Tap tap tap tap!
Mugo dan semua pelayan perpustakaan Kazumi kini nampak kelelahan.
Semua nampak sama. Lalu, Mugo pun nampak berdiri dari kursinya.
"Kita istirahat dulu. Sebaiknya kalian juga makan sana," ucap Mugo pada mereka semua.
"Baik yang mulia!"
Mugo nampak kembali lanjut untuk membaca. Masih banyak hal yang belum dia kejar. Jadi, dia melewatkan makan siangnya itu.
Kruyuuuk!
Akan tetapi perutnya terus meminta untuk diisi. Namun, sang pemilik perut tak peduli dengan rengekan keras dari perutnya itu.
Tap!
Saat itu, kembali lagi orang-orang sebelumnya ke dalam sana.
Bersambung.