
Episode 26
"Baiklah, saatnya memulai belajar!" ucap Chintya.
"Menulis!" serunya.
Lalu, Sato dan yang lainnya mengikuti apa yang guru mereka omongkan tadi. Tampak, mereka berada di ruangan ajar ini. Dengan pakaian layaknya berada di sekolah umum.
Sato membatin dalam tulisnya itu.
'Ku kira, semuanya akan berjalan berbeda. Ternyata sama saja'
Fernie dan Sayugo juga begitu. Menulis dengan menyembunyikan apa yang mereka ingin dan lakukan.
'Ah, kaki ku pegal. Aku ingin ke salon Jerman. Kudengar mereka sangat bagus dari di negara ku'
'Aku ingin makan'
Ketiganya terus menulis saat itu. Terlihat, di luar sana. Terdapat kelas lain yang sepertinya umum. Mereka seperti di kelas les.
Ketiganya masih menulis. Menjawab berbagai hal di kertas itu. Seperti soal-soal ujian.
Sato tampak mengeluarkan peluh sama seperti rekannya itu.
Srak srak srak!
Mereka terus melakukannya. Hingga beberapa saat kemudian.
Tap tap tap tap!
Dari luar ruangan itu. Lewat sepintas seorang pengajar laki-laki. Lalu, saat itu juga. Dengan mata tajamnya.
Chintya meliriknya dari sudut matanya.
Setelah itu.
"Misi ini, membuatku harus menjadi kutu buku," keluh Sayugo.
"Iya, itu benar," ucap Fernie membenarkan.
Lalu, datanglah Chintya ke ruangan rahasia itu.
Brak!
Dia menutup pintunya kasar.
"Ada apa guru?" tanya Sato.
Swing! Swing! Swing!
Tiga benda tampak meluncur ke arah semua remaja itu. Lalu, ditangkap dengan mudahnya.
"Benda apa ini?" tanya Sayugo kemudian.
"Itu senjata bagi pemula seperti kalian untuk menghadapi berbagai mahkluk aneh," jawab Chintya.
"Oh, lalu? Untuk apa membagikannya ke kita?" tanya Fernie. Membuka selongsong benda itu yang berisikan besi panjang tertempel dengan benda tumpul lain.
"Karena saat ini, terjadi bencana penyerangan mahkluk pemakan manusia di sekolah ini," jawabnya.
Mendengar itu. Ketiganya terkejut hebat.
"Baiklah, ayo ikut aku!" seru dia mengajak.
Semua muridnya mengangguk.
Mereka tampaknya berada di ruangan yang tertutupi jalanan sempit. Lalu, posisi mereka juga rumit dan berada di bawah tanah.
Tap tap tap tap!
Mereka keluar dari tempat itu. Lalu, kini berada di dalam sekolah itu. Keadaan terlihat normal malam ini. Membuat heran Fernie.
"Sepertinya norm--"
Deg!
Pergantian ke megamu.
"Ada mahkluk jahat di tempat ini," bisik Megamu. Lalu, Chintya paham.
Mereka lalu bergerak. Dengan santernya Chintya memimpin.
'Aku harus menyelamatkan beberapa orang' batin dirinya.
Tap tap tap tap!
Dia terus melalui lorong sekolah itu.
"Apa yang kita lakukan guru?" tanya Sayugo.
Lalu, Chintya melihat ponselnya. Kemudian menyimpannya lagi.
"Mahkluk ini sangat berbahaya, jadi kalian semua harus keluar dulu dari tempat ini,' jelasnya.
"Kenapa kita tidak mengalahkannya saja?" tanya Sato kemudian.
"Ada beberapa hal yang lupa aku ajarkan. Setelah ini, aku akan beritahu kalian terkait semua itu makanya, kalian harus keluar dulu dari sini," jawab Chintya.
Tap tap tap tap!
Setelah itu. Mereka berhasil lewati pintu keluar. Sato lalu melihat banyak mobil polisi juga.
'Sepertinya organisasi ini memang buatan dari pemerintah dunia' batin Sato.
Ketiga remaja itu hampiri mobil polisi. Lalu, mereka diselamatkan. Dibawa ke dalam sana.
Chintya, setelah memastikan Sato dan temannya aman. Dia pun. Kini memandang ke arah sekolah itu. Lalu, tampak dia keluarkan sesuatu dari dalam gelang yang baru dia pasang sebelum ini.
"Ckaaat ckaaat ckaaat!"
Suaranya seperti mesin. Benda itu juga terlihat kecil dan berwarna hijau. Bentuknya seperti hewan khas yang punya tempurung itu.
"Kura-kura pendeteksi!" seru Chintya kemudian.
Tiga kura-kura kecil yang dia munculkan darinya. Tampak melangkah cepat ke arah depan sana. Lalu, ketiganya menyebar begitu saja.
Ckaaaaat!
Mereka sepertinya berfungsi untuk melakukan sesuatu bagi Chintya. Setelah melihat tiga kura-kura mesinnya masuk. Dia lalu melihat jamnya.
Kini, jamnya menampilkan sebuah peta yang besar. Peta itu menampilkan keadaan di ruangan sana.
Seperti murid-murid dan korban. Lalu terakhir ...
Monster itu yang kini marah dan menghancurkan kura-kura itu sepertinya. Gambar yang sepertinya ditampilkan dari kura-kura mesinnya.
Tampak tak bisa dilanjutkan lagi dan lenyap. Namun, sebuah titik merah di layar jamnya itu. Membuatnya tersenyum melihatnya.
"Posisi dan pergerakannya sudah tertandai, kini saatnya--"
Lalu, Chintya tampak keluarkan sesuatu dari jam lain yang juga baru dia pasang.
Ckiiiiiit!
Tampak, benda besar kotak dengan kaki-kaki hewan reptil dan berwarna hijau. Lalu, benda itu bergerak walau tanpa bagian badan seperti kepala dan yang lainnya.
Graaaak!
Benda itu lalu melesat di ikuti langkah dari wanita itu. Beberapa polisi membiarkan aksi wanita itu yang berani maju ke dalam sana.
Wanita itu terus maju. Hingga dia masuk bersama benda miliknya tadi.
Duaaaar!
Benda itu menembus tembok. Lalu, menemukan beberapa orang yang selamat. Setelah itu, Chintya memasukkan semuanya ke dalam robotnya itu yang membuka.
Kini, Chintya berlari lagi. Dia melihat jam tangannya dan melihat titik merah itu masih di tempat.
Dia terlihat lega.
Dia melanjutkan perjalanannya lagi.
Kini mendapati lagi beberapa orang yang sudah berada di sebuah lorong dan tengah mencari jalan keluar.
"Masuklah!" seru Chintya.
Robotnya membuka lagi. Lalu, menampung semua orang itu ke dalam tubuhnya lagi.
Setelah itu, kembali mencari sisa-sisa orang yang kemungkinan dia tandai dengan titik-titik hijau di dalam layar di jam tangannya ini.
Dalam, layar itu tampak masih banyak titik hijau. Yang sepertinya akan rawan menjadi korban selanjutnya.
'Sepertinya aku harus cepat, sebelum monster itu menyadari diriku di dalam sini' batin Chintya saat tengah lari.
Tap tap tap tap tap!
Chintya terus berlari dari lorong ke lorong. Menemui semua titik hijau di peta jamnya itu.
Berlari dengan cermat tuk selamatkan semua orang yang masih selamat.
Setelah itu, robot yang entah bagaimana bisa menampung sekitar 50 orangan itu. Diperintah dirinya untuk pergi keluar gedung sekolah itu.
Grak grak grak!
Langkah kaki mesin itu melangkah cepat meninggalkan dirinya seorang diri. Keadaan jadi gelap dan sunyi.
Lalu, Chintya melihat ke arah jamnya itu. Dia heran. Karena melihat titik merah itu. Bergerak perlahan.
Apalagi .....
"Dia hendak kemari?!" seru wanita itu heran sekaligus kaget.
Lalu, dia pun dengan satu gelang yang terpasang di pergelangan lain. Yakni, kedua kakinya. Tampak, mengeluarkan cahaya hijau Tosca.
Piip piiip piiip piip!
Tampak, titik merah itu sudah dekat di arah belakangnya. Chintya tak berbalik entah kenapa.
Lalu, piiip!
Jamnya itu mati dengan sendirinya. Chintya tampak mendengar suara dari belakangnya.
Tap tap tap tap tap tap!
Suara itu terus terdengar kencang olehnya.
Tap tap tap tap tap tap!
Tap!
Suara itu berhenti tepat di belakangnya. Lalu, wanita itu pun berbalik.
Saat dia berbalik, sebuah peluru tampak melesat ke arah tubuhnya.
"Grey!" setelah itu, bunyi sebuah sistem dari dirinya. Menandai sesuatu.
Braaaak!
Tampak, lima peluru berbentuk aneh seperti monster kecil itu. Hancur lalu, akibatkan asap lumayan banyak.
Wuuuush!
Terlihat, pelindung transparan berwarna hijau. Sepertinya tadi melindungi Chintya dari terjangan lima peluru itu.
Wanita itu lalu melihat ke arah kegelapan di depannya. Terlihat waspada. Melihat sosok di depannya yang tak membuatnya kaget.
Sosok itu tidak seperti yang dibayangkan semua orang. Sosoknya bukanlah tinggi besar atau bersuara seram seperti monster-monster biasa.
Terlihat Chintya masih menatap lekat sosoknya di depan sana. Kegelapan itu sedikit diterangi oleh lampu di luaran sana. Karena posisinya dekat dengan sebuah ruangan yang masih menyala terang.
Jadi, sosok di depan sana masih terlihat wujudnya. Walau tidak terlalu sangat jelas. Sosok di depan Chintya adalah seorang manusia pria dewasa yang sepertinya membawa pistol biasa juga.
Namun, pistol yang agak lain itu. Nampaknya, berhasil mengontrol tindakan pria itu. Hingga dia mengacau di sekolah ini.
Chintya melihat ke arah pistol itu. Dia mungkin akan mengincar pistol itu terlebih dahulu.
Tap tap tap tap!
Chintya lalu memudarkan pelindungnya. Yang mungkin dia munculkan dari gelang di kakinya itu. Lalu, dengan memasang satu gelang lagi di lehernya.
Dia maju! Wanita bernama Chintya lalu tampak akan menerjangnya.
Dia melompat dan memunculkan sesuatu dari kakinya.
"Grey!"
Suara sistim itu terdengar lalu bersamaan keluarnya cahaya hijau yang berbentuk sebuah lingkaran di depan dirinya dan monster itu.
"Hea!"
Tampak, setelah itu. Chintya melakukan tendangan ke arah musuhnya. Musuhnya tampak mulai mencoba menembak dengan pistolnya.
Jduaaar!
Tembakan berpuluhan peluru itu kini menghadapi tendangan dari Chintya yang kakinya memunculkan cahaya hijau Tosca.
Lalu, tendangan itu akan menyentuhkan diri ke arah peluru itu. Lalu ....
Jduaaaar!
Mereka saling bersentuhan dan bertabrakan lumayan hebat. Hasilnya. Asap sepertinya membumbung di tempat itu.
Kemudian, Chintya terlihat mendarat di tempat sebelumnya.
Kelihatannya hasilnya seri. Chintya lalu menyadari peluru serangan.
Dia lalu memunculkan pelindung hijaunya itu yang seperti punya bentuk tempurung kura-kura di dalamnya.
Semua peluru itu tertangkis dengan mudah. Lalu, sesuatu dari arah lain datang. Membuatnya berbalik dan memasang lagi pelindung di arah itu.
"Grey!"
Setelah itu, sesuatu yang bergerak cepat. Terus menerus melesat di sekitar Chintya.
Wush wush wush!
Tampak, sesuatu itu lalu membuatnya harus mendongak ke atas.
Ternyata monster itu bisa cepat sekali. Lalu, tampak tembakan bertubi-tubi pun terlontar jelas dari arah-arah yang acak. Membuat dirinya jadi bingung.
"Grey 2"
Suara sistem itu lalu membuat semuanya berubah total. Tempat itu lalu dipenuhi bayangan gerak dari Chintya. Yang mana tiba-tiba dia sudah sampai di hadapan sang monster.
Dan membuat monster itu kalah dalam satu kali serangan yang tak terlalu jelas karena tertutupi asap-asap yang kian memudar.
Setelah itu, tampak kini dia Chintya mencoba menatap ke arah orang itu. Orang itu tampak masih menutup matanya.
Tampak pistol yang sudah tidak dia genggam. Berada di atas jauh darinya. Chintya lalu dengan cepat menghancurkannya.
Kraaaak!
Dia memukul dengan kekuatan dari gelang yang ada di sekujur tubuhnya saat ini.
Jduuuum!
Bersambung.