Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Kasus Bom bagian 3



Episode 46


Brrrrrsh!


Monster itu nampaknya lenyap secara perlahan. Dia mengerang sebelum tubuhnya hilang selama-lamanya.


Brrrrrsh!


Yam tampak kelelahan dengan suara ******* nafasnya yang tersengal itu. Dia pun kini sedikit berjongkok di tempatnya berada.


"Haaah."


Lalu, beristirahat untuk melepaskan rasa capeknya selama ini.


Dia menatap ke arah lantai itu. Karena memakai kacamata. Membuat kita tak tahu ekspresi sepenuhnya dari Yam.


Dia menghela nafas beberapa kali. Lalu, kemudian Yam melemas di sana. Dan posisinya kini bersender ke dinding di sampingnya. Dia tak mati tentu saja.


Tempat lain.


Kini, di suatu tempat. Tampak satu gadis yang masih remaja dan bertubuh sedikit lebih kecil dari rata-rata orang yang ada di tempat itu.


Di kota itu. Nampaknya berlalu-lalang para manusia-manusia yang kita belum tahu maksud mereka semua.


Namun, sepertinya tempat itu di sebuah kota. Gadis berambut hijau itu. Bernama Marijla. Gadis itu masih berdiri.


Setelah itu, nampaknya dia berjalan untuk berpindah diri. Ke arah sampingnya yang dipenuhi lalu-lalang orang-orang lainnya.


Tap tap tap tap!


Terlihat Marijla menatap ke semua tempat di sekitarnya. Ada gedung, tiang listrik dan, mobil serta kendaraan lainnya.


Brrrrrm!


Bunyi mobil yang lewat dan kendaraan-kendaraan kini sudah bisa dia dengar kala dia sudah dekat dengan jalanan besar yang selalu saja banyak kendaraan di tempat itu.


Brrrrrrrm!


Tap tap tap tap!


Mata gadis itu nampak berwarna indigo. Namun, sebenarnya dari tadi warnanya masih biru pucat. Wajahnya yang seperti ras Eropa itu. Entah kenapa dia bisa merubah warna matanya.


Marijla menapak di dekat jalan itu. Lalu, dia berhenti berdiri di sana. Lalu, beberapa orang masih terlihat lalu-lalang di sekitarnya.


Tap tap tap tap!


Bunyi kendaraan dan beberapa ucapan kata-kata dari orang-orang di sekitarnya. Terdengar jelas baginya.


Seperti kata..


"Awas minggir-minggir."


"Jangan berdiri saja di tempat umum. Nak!"


"Ayo cepat bergeraklah."


"Aku sedang sibuk tapi mengapa menjadi terlambat seperti ini?"


Gadis Marijla terlihat tak terlalu merespons mereka. Dia lalu secara cepat bergerak menuju ke suatu arah.


Dia sepertinya menuju ke arah suatu tempat yang lumayan sepi dari orang-orang umum. Marijla berjalan hingga sekiranya sudah minim orang-orang berjas yang punya banyak kesibukan di hidup mereka yang membosankan.


Tap tap tap tap!


Dia berjalan lurus menuju suatu tempat itu. Beberapa mobil dan kendaraan tentunya masih lalu-lalang.


Beberapa bus berhenti di beberapa titik. Namun, anak itu tak melakukan apa pun mengenai itu. Melihat ke arah depannya tak bermaksud untuk apa-apa.


Tap tap tap tap!


Marijla terus berjalan. Hingga dia menentukan suatu tempat yang lumayan luas. Namun, tempat itu sepertinya usang dan jarang dikunjungi.


Dia lalu berjalan menuju tempat itu. Tanpa ada perasaan yang membuatnya membatalkan rencananya itu.


Marijla tampak melihat ke sekitarnya dengan warna mata ungunya itu. Lalu, dia terus berjalan hati-hati. Seperti memantau sesuatu yang berjalan dan dirinya akan menjumpanya di sana.


Tap tap tap tap tap!


Marijla tak menatap ke arah lian kini. Dia lalu membuka gerbang yang juga sudah usang itu. Setelah melewati jalan menurun yang menghubungkan tempat ini dengan jalanan kota umum.


Tampak juga diapit dengan beberapa bangunan-bangunan yang tak kapah sepinya dari itu.


Marijla menbuka perlahan. Tak terkunci dan dia bebas untuk keluar masuk sepertinya.


Tempat Bernard.


Keduanya lalu masih duduk hingga malam hari. Bernard menatap kawannya haik. Mereka pun sepertinya mulai bangkit dari tempat TKP itu sebenarnya.


"Ayo, kita sudahi pencarian di negara ini," ucap Bernard.


Dan haik mendukungnya. Mereka sepertinya berencana pergi. Lalu, esok harinya.


Bernard tampak memakai piyama kamar mandinya itu. Mendengar bunyi tok tok dari seseorang.


Setelah membuka pintunya. Ternyata tak lain adalah haik.


Haik dengan muka yang seperti ingin memberitahukan sesuatu masuk dengan cepat. Bernard mengikuti haik yang sedikit tergesa itu.


Lalu, kamar hotel itu sepertinya entah mengapa semua lubang di sana tertutup setelah haik memencet sesuatu di layar yang muncul di jam tangannya itu.


Klik!


Lalu, melihat haik yang melakukan itu. Bernard kin serius. Kantuknya juga tiba-tiba hilang.


"Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Bernard.


"Ya, ada laporan kasus pengeboman yang aneh lagi. Seperti lusa kemarin," jawab haik.


"Oh, begitu," balas Bernard.


"Lalu, kita akan menyelidikinya?" tanya Bernard.


"Tentu saja," jawab haik singkat.


Mereka pun keluar dari hotel itu. Lalu, menggunakan mobil hitam yang haik keluarkan dari jamnya itu. Mereka kini tak berjalan kaki.


Bernard melihat keluar dengan kaca mobil yang dia buka. Melongok dengan pose santai dan tak terlihat bermasalah.


Beberapa orang ingin meneriakinya. Karena tangannya yang terlambai bisa saja tertabrak sesuatu bukan?


Haik sedikit melirik Bernard yang terlalu santai itu. Dia  lalu membuka perbincangan pagi ini.


"Dari semua tempat itu, mereka selalu berjalan dari satu kota ke kota lainnya," ujar haik.


"Oh begitu, kalau begitu aku akan mengawasi semua kota dengan pesawat antariksaku," balas Bernard dengan tepukan tangannya juga.


Plak!


Tampak dari aras sana. Muncul banyak sekali pesawat-pesawat antariksa. Lima pesawat berwarna putih.


Wuuush wuuush wusssh!


"Lalu? Kita akan ke mana?" tanya Bernard.


"Oh, begitu. Bagus juga."


Brrrrrrrr.


Mereka terus melaju ke arah kota yang paling jauh itu. Bernard tampak masih tenang dan sepertinya tak ada tanda-tanda aneh apa-apa.


Haik fokus mengemudi. Kini, mereka lewati jembatan penyebrangan tol yang besar. Mereka sepertinya melewati lautan.


Ngeng!


Namun, masih belum menemukan tanda-tanda apa-apa. Bernard sedikit melihat keluar jendela mobilnya lagi.


Brrrrm!


Namun, haik malah mempercepat laju mobilnya itu. Mungkin agar lebih cepat untuk lewati jembatan yang sedikit menanjak di sana.


Brrrrrm!


Kimi, mereka sudah di suatu kota. Beberapa bangunan yang sama juga nampak. Bernard sepertinua tak rasakan apa-apa dari pesawat antariksanya itu.


Brrrrrrrrrrrm!


Tempat Chintya dan teamnya.


Mereka masih tegang menunggu di sekitaran Albania. Setelah mereka tak jadi ke Malaysia. Karena, di sana.


Ternyata level misinya meningkat dari yang seharusnya. Jadi, karena misi itu. Mereka harus ke negara lain untuk belajar.


Negara itu adalah di Eropa juga. Albania. Sato dkk. hanya menuruti saja. Untunglah ada Billy yang siap segala hal menemani mereka di keadaan apa pun.


Brrrrrrrrrrm!


Kini di tempat Bernard lagi. Mereka tampaknya masih mencari-cari keberadaan pengebom misterius itu. Pengebom yang selalu mengancam dan sepertinya sedikit aneh.


Haik terus mengendarai mobil itu hingga sampai ke beberapa kota. Tampak, Bernard juga masih santai. Mungkin belum ada tanda-tanda apa pun hari ini.


Kini, menjelang malam lagi. Mungkin mereka akan beristirahat. Seperti biasa.


Akan tetapi saat malam tiba. Mereka masih mengendarai mobil hitam itu. Beberapa pesawat milik Bernard melintas.


Para warga sepertinya agak antusias saat pesawat itu melintas. Mereka mungkin mengira itu pesawat baru yang dibeli pemerintah negara mereka untuk melindungi semua warga.


Uji coba penerbangan. Tampak, Bernard seperti bisa melihat semua hal lewat pesawat antariksa miliknya. Namun, dia tetap santai. Itu berarti tak ada yang mengancam di beberapa kota negara ini.


Piiiip!


Sesuatu berbunyi di dalam mobil itu. Keduanya lalu teralihkan sedikit.


Bunyi itu lalu berlanjut.


"Maaf mengganggu, sepertinya pengeboman itu juga di lakukan di beberapa kota sekitar negara UAE!"


"Apa?!" seru kedua orang di dalam mobil itu.


"Jadi apa sedang berlangsung pengeboman itu lagi saat ini?" tanya haik.


"Ya!"


Lalu, sebuah lokasi mereka lihat di layar yang muncul di monitor mobil itu.


Lalu, dengan cepat. Bernard sepertinya menjalankan pesawat antariksanya memuju lokasi yang terkait.


"Bernard, sebaiknya kau gunakan benda terbangmu satu saja," ucap haik.


"Ya, benar juga."


Dan Bernard pun memukul telapak tangannya lagi. Seakan tak jadi dengan pukulan tangan yang bernada sedikor berbeda dari yang ini.


Swiiiing!


Pesawat milik Benard tampak melintas ke lokasi yang dikirim tadi.


Wuuush!


Lalu tiba-tiba pesawat itu menukik ke arah seseorang yang kini berdiri di tempat yang seharusnya banyak orang itu.


Orang yang bertopeng itu nampak membelalak kaget lalu menodongkan pistol ke atas.


"Maju akan kutembak!" Serunya.


Namun, wusss wuuush!


Tap tap!


Bernard dan haik muncul dari dalam pesawat yang sudah dekat dan kana menabrak tadi malah terbang ke atas kagi.


Orang itu pun kini menodongkan pistol je arah si pengancam, berkacamata hitam.


"Lari atau kalian mati!" ucap orang itu.


Keduanya nampak mengangkat tangannya. Sedetik kemudian. Mereka pun meringkus orang itu dengan mudah.


Jduaaaar!


Ledakan pun tercipta di tempat itu. Namun, ketiganya masih hidup.


Lalu lagi-lagi .....


"Dia masih seperti hilang ingatan," ucap haik menyesal.


"Ya, mungkin memang ada seseorang yang sengaja menghipnotis mereka," balas temannya itu.


Tampak polisi negara itu yang dengan gunakan peralatan lebih canggih. Menangkap orang itu.


Keduanya diam masih berpikir.


"Apa sudah ada petunjuk dari markas?" tanya Bernard.


"Tidak ada, peralatan genm tak cukup untuk mencari dan mengetahui itu semua," jawab si pria hitam itu.


"Ngomong-ngomong tentang genm, dia saat ini sedang apa ya?" tanya Bernard. Namun, sepertinya haik tak menjawabnya.


Tampak di tempat genm.


Dia masih berkutat untuk membuat mesin lagi. Dia tak habis-habisnya kana suatu ide. Mungkin kemampuannya yang bisa sepraktis itu.


Membuat dirinya bisa dengan mudah melakukan sesuatu. Akan tetapi, kemampuan dirinya yang disebut sebagai "creation touch" dulunya adalah kemampuan yang sangat sulit digunakan sebelum dia melakukan sesuatu dalam dunia pembuatan robot dan mesin.


Tak tak tak tak!


Dengan orang-orang yang masih senantiasa tersenyum kepadanya itu. Genm tampak masih berkutat sibuk pada hal yang dia buat.


Tak tak tak tak!


Drrrrrt!


Drrrt!


Beberapa cahaya dia munculkan dari mesin-mesin yang dia buat selama prosesnya. Kini, malam kembali tiba. Dia sepertinya berhenti. Dan menutup jendela besar yang memperlihatkan langit dan pemandangan alam sekitar.


Bersambung.