Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Masa lalu bagian 4.



Episode 122


Godwitcher pun bersuara. Di saat seorang pemuda di sana. Berteriak keras.


 


"Maaf!"


 


Semua orang pun melihat pemuda itu. Godwitcher dan wanita di sana nampak heran padanya.


 


"Apakah ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Godwitcher pada pemuda itu.


 


Namun, pemuda itu nampak terkejut.


 


'Aku. Tubuhku kaku' batin pemuda itu. Kakinya gemetar.


 


Semuanya menunggu. Godwitcher nampak akan hampirinya. Namun, seseorang di sana terlihat menahannya.


 


"Yang mulia. Kau lanjutkan saja  apa yang tertunda tadi. Baru setelah ini, kita urus pemuda itu," saran wanita itu.


 


"Baiklah!"


 


Godwitcher pun berteriak lagi. Semuanya pun kembali fokus ke tempat lebar itu. Godwitcher mengangkat tangan ke atas.


 


"Setelah beratus-ratus tahun. Aku selalu membuat bayi agar bisa menjadi pemimpin bagi kalian bersama dengan adik Eldorick. Tapi, sepertinya semuanya tidak sepeti yang sudah aku pikirkan. Sampai diriku aja baru sadar sekarang," Godwitcher keras katakan itu dengan nada yang serius.


 


"Di masa depan nanti. Di saat aku pergi untuk menjalankan tugas yang lebih berat untuk melindungiku duniaku. Aku ingin orang yang sudah menjadi pemimpin kalian semua. Melebihi apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang sebelumnya. Jadi, aku mohon para kalian semua, bantu aku melakukannya. Lalu, kalian jangan terlalu membebani Eldorick. Dia juga sudah mengorbankan banyak hal pada kita semua. Jadi, kalian semua. Bersediakah untuk melakukan ini untuk semuanya?!"


 


Semua orang nampak berteriak kompak.


 


"Wuhuuuu!"


 


"Kamu bersedia!"


 


Membuat sosok Godwitcher pun senang. Lalu, mereka berdua pun terbang dari sana.


 


Wuuush!


 


Lalu, saat itu juga. Ada satu orang yang mendatangi pemuda itu.


 


"Anda dipanggil oleh yang mulia. Diharap mengikuti kami," ucap seorang penyihir berpakaian hitam itu.


 


"Ya-ya. Baiklah."


 


Pemuda itu menurut. Mereka berjalan menuju sebuah tempat masuki tempat masuk menuju bangunan yang tertutup di sana.


 


Tap tap tap tap tap tap!


 


Mereka tampak berjalan dengan tenang di lorong itu. Pemuda itu lalu melihat ada dua sosok di depannya yang sudah dia kenalnya. Dia terkejut.


 


"Yang mulia Godwitcher!" kagetnya.


 


Ternyata dia dipanggil oleh penyihir terhebat itu. Lalu, wanita itu tampak menyapanya ramah.


 


"Kau rupanya! Sepertinya kau hanya sendiri datang ke sini ya?" tanya Godwitcher. Orang itu nampak supel dan terlihat mengajaknya bersalaman.


 


Orang itu pun mengangkat tangannya menerima salaman Godwitcher.


 


Deg!


 


Namun, saat dia menyentuhnya. Ia seperti kembali teringat ke suatu hal.


 


Krak!


 


Godwitcher sepertinya sadar dan melepas tangannya. Pemuda itu masih tak mengerti apa pun.


 


Lalu, wanita itu nampak mengangguk padanya. Pemuda itu dibuat tak mengerti padanya.


 


"Jadi begitu. Kau orang terakhir yang menerima ingatan dalam liontin jalan Eldorick ya. Ini sebuah kebetulan yang mengejutkan," ucap Godwitcher ramah.


 


"Ya!"


 


Anak muda itu menunduk.


 


"Apa kau punya permintaan?" tanya Godwitcher padanya. Membuat anak itu tampak tambah menunduk diam. Dia masih diam. Terlihat dia terus memegang liontinnya itu.


 


Wanita lainnya menatapnya teliti. Namun, mereka tak bersuara pada pemuda yang canggung itu. Lalu, pemuda itu perlahan menatap mereka.


 


Kedua wanita itu melihat penuh tanda tanya pada pemuda itu.


 


"Aku ... apakah jika aku mengikuti kejuaraan ini. Namaku akan dikenal luas?!" tanya pria muda itu. Dengan nada yang tidak dibuat-buat.


 


Godwitcher yang seorang wanita tampak menatap orang itu dari atas sampai bawah. Orang lainnya menatapnya dengan tatapan biasa saja.


 


Kedua wanita itu nampak saling bisik entah apa itu.


 


"Yang mulia. Dia mungkin ingin seorang budak atau apa. Aku melihat dari tampilannya, orang ini sepertinya pemabuk berat," bisik wanita itu pada Godwitcher.


 


Namun, bukannya Godwitcher menampik pernyataan itu. Dia malah tersenyum senang.


 


"Jika itu benar, itu wajar. Mungkin dia hanya ingin mabuk di sisa hidupnya itu. Sebelum dia mempunyai penerus klannya itu," balas Godwitcher. Membuat wanita itu nampak cemberut.


 


"Tapi yang mulai. Dia itu seorang pria," jelas wanita itu mencoba membuat pengertian pada Godwitcher.


 


"Itu sama saja. Sekali pemabuk tetaplah pemabuk. Hahahahaha!"


 


Wanita itu malah tertawa.


 


‘Dia ini. Otaknya sudah rusak. Dasar pemabuk berat' batin wanita itu kesal. Membatin tanpa suara.


 


Lalu, Godwitcher dengan tatapan bangganya itu  nampak, menghampiri pemuda itu.


 


"Ya. Baiklah, aku akan membantumu. Jadi, jangan bilang siapa-siapa ya. Nanti mereka akan datang ke sini satu per satu. Hahahaha!" ujar Godwitcher mengiyakan keinginan pemuda tersebut.


 


"Wah, benarkah?" tanya riang pemuda itu memastikannya.


 


Godwitcher mengacungkan jempolnya yang besar. Menandakan itu pasti akan dia lakukan.


 


Pemuda itu berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada Godwitcher dan perempuan itu. Perempuan itu nampak memasang ekspresi lelahnya. Terlihat, tidak bisa melakukan apa pun lagi. Seolah semua yang sudah dia usahakan. Sia-sia tak ada hasilnya.


 


Lalu, si pria berambut biru itu oun. Keluar dari sana. Lalu, saat dia keluar. Alangkah kagetnya dia terlihat beberapa hal di sana.


 


Wuuush!


 


 


Tampak, banyak sekali prajurit yang berbaris rapi di sana.


 


"Semua ini apa?!" kejutnya di sana.


 


Beberapa prajurit itu menoleh padanya.


 


"Kau! Cepat ke tempatmu. Ini sudah memasuki tantangan kedua. Kau harus mendapat poin banyak agar bisa memenangi kejuaraan ini," ucap prajurit itu.


 


Pemuda itu pun berlari ke arah yang ditunjuk orang yang tadi.


 


Tap tap tap tap.!


 


'Sialan, aku kelewatan satu hal' baton orang itu kesal. Di sana sudah banyak orang yang berbaris untuk maju ke depan sana.


 


Dia pun sudah berada di antrean. Ada beberapa orang lagi yang baru datang seperti dirinya. Mereka ada yang mengantuk di sana.


 


Lalu, dia melihat ada beberapa orang yang bertarung. Ternyata semua prajurit itu adalah lawan bagi semua orang di sana.


 


Nampak, pemuda itu pun sedikit panik di sana. Satu orang yang bertubuh besar dan wajah yang lumayan sangar. Akan tetapi dia terlihat pemalas dengan senyum malas yang terus terukir di wajahnya..


 


Orang itu melihat gelagatnya itu. Lalu, mencoba bertanya tentangnya. Dia khawatir pada orang itu yang gemetaran takut setiap kali langkah antrean itu maju ke depan.


 


"Hey, kau. Apa kau sedang sakit perut? Aku bisa menjaga tempatmu loh," ucap orang itu. Juga menawarkan bantuan padanya.


 


Pemuda itu menoleh pada orang itu.


 


"Tidak, terima kasih. Aku hanya memikirkan hal lainnya kok," jawab pemuda itu dengan senyum dipaksakan..


 


Pemuda yang bertanya bergumam lirih.


 


"Apa kau terlambat? Aku juga terlambat," tanya pemuda itu. Tampaknya tidak serius.


 


Pemuda rambut biru itu hanya mengangguk.


 


"Oh, mungkin kau kelamaan di toilet ya? Aku sih hanya tertidur sebentar. Tapi, aku masih bisa mengetahui semuanya," ucap orang itu. Seakan pamer akan suatu. Mengedipkan mata.


 


'Dia mungkin penyihir yang bisa membaca informasi di sini’ batin pemuda itu. Mengangguk pada  orang itu yang mengacungkan jempol padanya.


 


"Tidak usah khawatir. Jika kau melewatkan yang pertama. Itu tak apa," ucap pemuda itu.


 


Pemuda rambut biru pun heran padanya.


 


"Apakah seperti itu?" tanyanya.


 


"Ya! Bagian awal hanya sebuah pengenalan klan saja. Lalu, mereka mengukur seberapa kuat klan dengan cara mengangkat batu sihir pengukur kekuatan," jawab orang itu nampak tenang. Memandang dengan tatapan normalnya.


 


Pemuda itu pun menunduk. Berterima kasih. Lalu, melihat ke depan sana.


 


'Baiklah  asal aku bertarung  itu mudah, aku sudah menghabiskan semua yang aku bisa untuk ini' batinnya tenang.


 


Tap tap tap tap!


 


Saat itu dia pun sampai di depan.


 


"Kau siapa? Baru datang ya?" tanya satu orang panitia kejuaraan itu.


 


"Maaf," pria itu hanya berucap maaf.


 


"Tidak apa. Sekarang masuki tempat pertarungan di sebuah sana yang kosong.” Tunjuk orang itu maklum.


 


Pemuda itu memasuki sebuah tempat kosong di sana.  Namun, sudah ada satu prajurit yang tampak lain daripada yang lainnya. Orang itu nampak duduk santai. Sembari meminum secangkir air di cawannya.


 


"Oh, kau datang ya? Lawanku?" Dia nampak masih duduk dan minum dengan gaya santainya itu.


 


"Aaaah. Mantap!" ucapnya puas. Pemuda itu hanya mengangguk padanya..


 


"Namaku--"


 


"Sudah jangan banyak omong. Datanglah ke sini dan pukul aku semampumu. Pasti kau ini lemah kan? Aku tahu, kau saja gemetaran dari tadi. Lalu, penyihir atau petarung biasanya tidak akan mengenalkan diri mereka kepada musuhnya," sergah orang itu.


 


Pemuda itu kaget. Namun, dia hanya bisa menuruti apa kata orang itu. Lalu, dia maju kepada orang itu yang tetap santai dengan meminum minumannya itu.


 


'Heh, palingan pukulannya akan terbuat dia terpental ke belakang. Hahahaha' batin orang itu meremehkan pemuda itu.


 


Pemuda rambut biru sampai di depannya. Melihat orang itu yang menatapnya pura-pura serius.


 


‘Dia meremehkanku’ batin pemuda itu. Tahu apa yang dipikirkan orang di depannya.


 


"Ayo. Pukul saja sesukamu. Aku tak peduli bagian mana yang kau--Arrrgh!"


 


Jduaaagh!


 


Orang itu terkapar di tempat. Dengan memegang bagian bawahnya itu.


 


"Si-sialan dia ...." gumam orang itu kesakitan.


 


Pemuda itu nampaknya puas. Dia baru aja menendang bagian vital orang itu.


 


'Heh, kau pikir kau bodoh apa' batinnya di sana. Dia puas membuat orang itu kesakitan tak bisa bergerak.


 


Di atas sana. Di tempat tontonan orang-orang elite. Terlihai wanita yang rambut merah melihatnya. Nampak, bersama beberapa anak muda seperti dirinya. Mungkin ada yang menarik baginya.


 


"Dia nampaknya menyerang titik vital orang itu ya?" tanya seorang pria di sampingnya. Wanita itu hanya diam. Seorang lain menjawabnya di sana.


 


"Tidak ada aturan di mana menyerang saat babak kedua ini. Jadi, itu dianggap tak apa."


 


"Jika dilihat sebelumnya. Prajurit itu juga terlihat tidak kompeten. Itu pantas baginya."


 


Wanita berambut merah yang mengenal pemuda itu sekilas. Nampak hanya diam melihat pemuda itu yang kembali ke tempat menunggu di sana. Sepertinya dia tertarik pada pemuda itu.


 


Kini sepertinya memasuki babak lain. Pemuda itu terima berbagai tantangan. Dia beberapa kali babak belur karena sesuatu sihir yang dirinya tak bisa terelakkan dari itu semua.


 


Lalu, semuanya nampak usai tepat saat sore sudah menjadi malam. Semua orang yang ikut lomba puas dan sepertinya masih harus di sana. Termasuk pemuda itu.


 


Bersambung.