Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Final dan era baru



Episode 22


Kini Shimun tak bisa apa-apa lagi. Pasalnya dia sudah terjebak dalam sihir penghalang milik Mugiwa. Dia tak bisa bergerak juga karena api yang ada di bawahnya. Dia mengerang.


"Sekarang kita hanya perlu menyerangnya saja, tapi di dalam penghalang ini.  Hanya sihir kelas tinggi yang bisa dilakukan," jelas Marco.


"Apa kau bisa ayah?" tanya Sato.


"Sayang sekali, aku tidak bisa. Ibumu sudah kehabisan banyak energi sebenarnya dan mega belum menguasainya dengan mahir," ucap Ayah Sato menjawab.


Sato paham dia ingin maju karena..


"Biarkan aku saja ayah," ucap mega.


Sato tak percaya apa yang dikatakan mega itu.


"Tapi kau tak bisa mengendalikannya ingat? Bahkan sampai-sampai kau mengorbankan nyawa kakakmu yang kau sayangi ini," ucap blak-blakan Marco.


Membuat Sato terkejut hampir pingsan. Dan mega menendang ************ Marco.


"Auw, auw, auw," sang penyihir gelembung yang digadang-gadang tak bisa tersentuh itu pingsan hanya dengan tendangan dari anak berusia 12 tahun.


Lalu mega maju. Menyiapkan tongkat sihirnya dalam keadaan lurus horizontal ke arah samping.


Dia mengambil nafas tuk memulai. Namun.


"Gyaaaah."


Secara mengejutkan Shimun bisa bergerak. Dengan begitu cepat dia menuju mega. Mugiwa tak sempat karena sebenarnya kehilangan banyak energi.


Kini nyawa gadis itu sudah diatas tanduk.


"Matilah," teriak Shimun.


Buuuuuum!


Mega tak percaya apa yang tengah disaksikannya. Semuanya juga kecuali megamu.


"Akhirnya muncul juga," ucap megamu tersenyum.


Terlihat Sato disana berhasil menahan serangan Shimun. Shimun kaget.


"A-apa ini?" ujarnya.


"Gyaaaah." teriak anak itu.


Terlihat tanda sihir lingkaran merah tercipta di dahi Sato. Matanya juga berubah warna senada dengan lambang lingkaran itu.


Megamu melihat telapak tangannya.


'Dia sudah memasuki mode karma, walau tidak secara sempurna' batin megamu.


"Gyaaaaah." Dengan berusaha mati-matian dalam mode karmanya itu. Sato berusaha mendorong tubuh Shimun yang lebih kekar darinya. Shimun juga berusaha mendorong.


"S-si-sialan kau!" ucap Shimun marah.


'Anak ini? Dia sangat rapuh dan lemah. Bahkan saat dia berhadapan dengan jago sebelum ini' batin Shimun.


Terlihat aura-aura dan tanda muncul di sekitar tubuh Shimun. Terlihat membelenggu tubuh itu.


'T-tapi mengapa? Mengapa? Kenapa dia jadi' batin Shimun.


"Sangat kuat!!"


Teriak Shimun.


Bersamaan dengan itu tubuh Sato menembus tubuhnya yang terbelenggu tanda lingkaran merah itu.


"Gyaaaaaaaaaa."


Shimun berteriak kesakitan tertembus Sato.


Duaaaar.


Penghalang hancur karena energi tabrakan dari karma Sato.


Lalu terlihat Sato berdiri disana. Memandang musuhnya yang terkapar di depan sana menabrak dinding beton itu.


"B-Be-berhasil," ucap Sato.


Mugiwa dan yang lainnya terlihat senang.


"Syukurlah," ucap mereka semua.


Lalu megamu menghampiri pemuda itu.


"Sepertinya kau sudah merasakannya ya?" ucap megamu.


"Benar," jawab Sato.


'Walaupun tak sempurna tapi karma tak bisa aktif begitu saja' batin megamu. Megamu menatap keluarga Kazumi.


'Sepertinya kekuatan dari rasa ingin melindungi keluarga. Bisa membuat seorang Sato Kazumi melewati batas aturan-aturan sihir dengan mudahnya' lanjut megamu.


"Akhirnya," ucap Chintya di gendongan Marco yang sudah sadar.


"Oh, iya Nak," ucap Marco kepada anak laki-lakinya itu.


"Ya?" tanya Sato.


"Kami juga membawa kembali temanmu, kita tak tahu mengapa dia ada di dunia sihir," ucap ayahnya.


"Hoooy."


Suatu teriakan keras dari seseorang mengagetkan Sato dan juga Fernie yang sudah kembali sadar.


Sato menatap orang itu. Tak lain dan tak bukan. Sahabat dan sekaligus orang yang bersedia menemaninya sampai kapan pun.


Dia Sayugo!


Sato nampak kembali ke sekolahnya lagi. Pagi hari yang begitu biasa.


Seorang Sato yang sudah berseragam pukul enam tepat. Terlihat, anak itu sedang melakukan peregangan sedikit.


Dia sudah tampak berada di depan rumahnya sendiri. Rumah sederhana yang tidak terlalu mewah ataupun sederhana.


Lalu ...


Tap tap tap tap!


"Sato!"


"Kau lupa sarapan!"


Seruan seorang dari dalam pintu. Begitu keras. Sampai-sampai hewan peliharaan rumah sebelah kaget dan lari kalang kabut.


Sato pun begitu. Namun, dia kemudian tenang sedikit. Mencoba menjadi se-keren dan se-dingin adiknya Mega.


"Heh!"


Anak itu tersenyum sedikit. Menarik sudut bibirnya ke atas.


"Baiklah ayah! Aku akan makan pagi!" ucap Sato dengan nada yang dibuat-buat. Sepertinya ekspetasinya tak seperti yang dia harapkan. Suaranya menjadi terkesan berlebihan.


Tap tap tap tap.


Sato melangkah ke depan. Menuju rumahnya lagi. Dengan senyum dingin yang dia buat itu.


"Heh!"


Tap tap tap tap tap!


Siang harinya.


Sato sudah pulang. Karena tak ada apa pun di sekolahnya. Dia bisa pulang lebih awal dari yang seperti biasanya.


"Halo ibu, aku pulang. Permisi," ucap Sato setelah mengetuk pintu seratus kali.


Tap tap tap!


Setelah mencopot sepatunya. Sato nampak seperti tak lihat apa pun di rumahnya.


Deg!


Ini, mengingatkannya pada kejadian sebelumnya. Namun, anak itu menggeleng cepat. Dia lalu, mencoba mencari keberadaan keluarganya, yaitu sang ibu.


Tap tap tap.


"Ibu? Ibu? Ibu?" panggil Sato.


Lalu, Sato tampak sampai di sebuah ruangan nan gelap. Matanya mulai terganggu karena gelap itu. Lalu, dengan inisiatifnya.


Sato kemudian mencoba merambat di dinding ruangan itu. Karena .....


"Biasanya, tombol lampu pasti ada di dinding-dinding tembok bangunan," gumam Sato menggerayangi sang dinding.


Namun, tiba-tiba ....


Ctak!


Sontak, Sato kemudian menutup matanya karena perih cahaya yang datang.


Cahaya lampu yang amat terang itu. Membuat Sato harus menutup matanya pedih.


Dia lalu perlahan menatap sekitarnya. Tampak ada semua orang yang dia kenal di ruang perpustakaan milik keluarganya di bawah tanah.


Sato kaget.


"Kenapa dengan semua ini?" tanya Sato terkejut.


Lalu ....


"Selamat Sato!"


"Kamu."


"Masuk-"


"Akademi-"


"Pembasmi-"


"Setan!"


"Nomor satu di dunia!"


"Yeeeeeeee!"


"Wuhuuuuu!"


Sato terpana.


"Ah? Benarkah?" tanya Sato malu-malu.


Tap tap tap tap!


Lalu, ayahnya Marco tampak mendatangi putranya itu. Sato nampak menatap ayahnya yang lebih tinggi darinya.


Sato meneguk ludahnya karena muka ayahnya itu terlihat beku dan sangat serius.


Lalu ......


Marco meluruskan tangannya ke arahnya. Membuat Sato heran.


"Eh?"


"Selamat Sato! Kau akan menikahi seorang wanita!" ucap bapaknya itu.


Sato jadi salah tingkah. Mendengar penjelasan dari ayahnya itu.


"Apa?!" seru Sato tidak percaya.


"Jangan dengarkan ayah!" teriak mega yang ada di tempat itu.


Sato melihat Mega. Namun, nampak mega cepat membalikkan badan.


"Ada apa ini semuanya?" tanya Sato heran.


"Hahahahahahahaha!"


Suara tawa khas itu. Datang bersama langkah kaki berat dari suatu pintu yang kini terbuka itu.


Tap tap tap tap tap!


Sato dan yang lainnya menoleh. Terlihat, itu tak lain adalah sahabat dan kakak kelas Sato.


Memakai pakaian seperti di video game yang pernah dikatakan Sato di pertarungan melawan zombie.


"Sayugo?"


"Akhirnya, rekan sang bintang datang juga," ucap Marco memaksud pada kedatangan anak itu.


Lalu, Sayugo sedikit menunduk. Memasang pose keren yang menurutnya sangat keren. Namun, itu malah membuat semua wanita tampak menatap mereka tidak suka.


"Hmmmm, aku datang karena undanganmu tuan muda," ucap Sayugo aneh.


Sato yang mendeteksi sesuatu yang membosankan. Memasang wajah tidak sukanya itu. Melihat dua orang yang dikenalnya. Akan melakukan pertunjukan drama membosankan yang mereka tiru dari film-film yang tidak diketahui dari dimensi atau planet mana asal pembuatannya.


Namun, Sato dengan inisiatifnya. Dengan cepat mencoba berteriak karena sudah muak.


"Ahhhh, sudahlah. Cepat jelaskan ada apa di sini!" seru Sato. Sambil mengangkat tangannya seakan ingin memukul Marco dan Sayugo.


Marco pun membalikkan badan ke arah putranya itu. Lalu, berdehem.


"Eeheem, Sato putraku. Kamu ini kurang teliti ya! Tentu saja di sini kita akan merayakan pesta karena kau akan masuk sekolah khusus yang sudah kami sebutkan di awal tadi. Heaaaaa!" seru Marco dan tiba-tiba lampu berubah menjadi penuh warna seperti di pesta-pesta yang terkenal itu.


Akan tetapi, Sato masih tak tahu apa yang dimaksud Marco ayahnya itu. Dia masih mencoba memikirkan maksudnya.


Lalu!


Puk!


Seseorang dari belakang. Menyentuh tubuhnya.


Itu adalah!


"Feernie?" tanya Sato kepada sosok itu.


"Bukan!" ucap sosok itu. Dan membuat Sato mengangguk paham.


Fernie atau megamu saat ini. Menatap mata Sato penuh harap.


"Kendala terbesar kita adalah, kekuatan karmamu yang tidak bisa digunakan setiap saat. Namun, untunglah seseorang memberi banyak pertolongan. Sato! Berterima kasihlah pada wanita yang sudah membantumu bisa menghadapi para orang-orang jahat dengan sihir itu!" ucap megamu.


"Siapa dia?" tanya Sato.


"Aku!" seseorang menjawabnya. Bersamaan bunyi langkah lari dari arah lain.


Tap tap tap tap!


"Hallo!"


Tampak, Chintya kakak Marra Senia. Kini melangkah lari. Lalu, tak lupa. Di belakangnya. Ada Marra juga yang berjalan menggunakan pakaian anggun tak seperti biasanya. Mukanya juga malu memerah.


Lalu, Sato yang bukannya menyapa balik ke Chintya. Malah kini menyapa sang ketua Osis yang tangguh itu.


"Kak Marra? Jadi kamu juga ada di sini ya?" ucap Sato.


Marra yang tampak menggunakan pakaian anggunnya itu. Terlihat terkejut pada Sato. Namun, dia cepat mengiyakan jawaban itu tanpa memandang wajah Sato.


Chintya lalu bergabung dengan kedua anak itu. Setelah memandang geli pada adiknya. Dia melihat ke arah megamu dan Sato.


"Jadi akulah yang membantumu masuk ke dalam organisasi rahasia dunia ini!" ucap Chintya tegas. Karena sepertinya dia kesal pada Sato yang malah menyapa adiknya itu.


Rambutnya yang berwarna merah muda. Wajahnya dan tubuhnya juga mirip dengan sang adik. Namun, faktanya entah kenapa dia tak bisa mendapatkan laki-laki yang baik menurutnya.


Sato tampak terlihat kikuk. Dia merasa bersalah pada kakak ini.


"Maaf," ucapnya dengan nada menyesal.


Chintya lalu mengangguk.


Lalu, Sato dengan cepat mendongak ke arahnya.


"Tapi! Kenapa hanya ketua Osis saja yang memakai gaun di tempat ini? Sementara yang lain tidak," ujar Sato.


Itu membuat Chintya sedikit tersenyum geli. Lalu, menunjuk bibirnya disertai bunyi desisan kasar.


"Ssssssst! Marra tengah menyukai sesuatu," bisiknya.


"Woah," seru Sato tak menyangkanya. Ternyata ketua Osis yang cantik juga bisa seperti itu juga. Menurut Sato.


Terlihat, Marra dengan gaun ungunya itu. Menunduk saat keduanya berbisik-bisik di sana.


Bersambung.