Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Misi ke-tiga



Episode 27


Brrrrrrm!


Kendaraan mereka terhenti. Karena ada batu dan beberapa pohon yang halangi mereka. Lalu, dua orang itu kemudian mengeluarkan senjata panjang dan mungkin fungsinya sama seperti gergaji. Walau bentuknya lebih terlihat seperti bor.


Grrrrr!


Senjata itu lalu dipegangnya. Lalu, orang itu kemudian memotong semua hal yang ada dengan mudahnya.


Termasuk batu-batu itu. Untunglah mereka cepat menyelesaikannya. Hingga mereka kembali maju.


Brrrrrrrm!


Brrrrm!


Mereka menuruni bukit itu. Menuju sisi lain gunung. Jalannya berkelok dan dipenuhi beberapa batu-batu seremban kecil.


Bruak bruak bruak!


Namun, itu tidak membuat mereka berhenti untuk kedua kalinya. Mobil mereka tahan akan keadaan ekstrem di jalanan alam liar seperti ini.


Brrrrrrrm!


Saat sudah sejauh beberapa meter. Kemudian, megamu tiba-tiba terkejut.


Dalam matanya. Dia melihat sebuah asap hitam yang mengepul dari depan sana. Asap itu sebenarnya sangat bau. Sampai Fernie yang di dalam sana menjerit.


"Beberapa kilometer, mereka sudah akan sampai ke sini dalam beberapa kilometer lagi!" seru sang putri Pegasus.


Lalu, Chintya pun mengangguk paham. Kemudian mereka pun berhenti di dataran yang rendah.


Ckiiiit!


Kini, mereka turun dan Sato kemudian mengambil senjatanya sama seperti dua remaja lainnya. Dua orang itu juga bersiap dengan senjata bor bercahaya milik mereka.


Beberapa kilometer. Tampak, bau-bau monster di depan sana. Sudah jelas tercium oleh megamu dan Fernie.


Namun, sosok mereka belum terlihat sejauh ini. Kemudian!


Chintya menaruh satu jam tangan di pergelangannya.


"Grey!" bunyi sistem.


Setelah itu keluar tiga kura-kura robot kecil dan kemudian. Bergerak melesat ke depan sana.


Sayugo dan Sato bersiap. Senjata mereka sepertinya sama walau bentuknya agak berbeda.


Sebuah pedang dengan selosongnya juga. Tampak bercahaya biru cerah sama seperti senjata milik dua orang tadi.


Megamu menaruh pedang itu di pinggangnya. Kemudian, dia terus menunggu di tempat itu. Beberapa kilometer. Itu artinya sekitar dua atau satu jam lagi mereka bisa berhadapan langsung dengan puluhan monster yang belum dikenali tipenya ini.


Megamu dan yang lainnya masih bersiap. Memegang ujung senjata yang bisa dia pegang. Bau-bau dari monster itu semakin kuat.


Kemudian. Tampak sudah satu jam hampir berlalu. Sato dan yang lainnya kini menyaksikan apa yang ada di depan sana.


"I-itu ..." gumam Sayugo.


Terlihat kumpulan monster yang berbagai bentuk dan jenis. Mereka semua dengan lambat menuju ke arah mereka semua berdiri.


"Semuanya, jaga diri dan teman kalian. Jangan terlalu memaksakan diri!" seru seorang wanita bernama Chintya.


Lalu, dia memasang beberapa gelang di kaki, pinggang dan lehernya.


Ckiiiit!


"Grey!"


Suara itu tak memunculkan sesuatu darinya. Tidak seperti sebelumnya.


Sato dan yang lainnya mengangguk paham.


"Ya!"


'Aku pasti akan!’


"Mengalahkan semuanya!"


Batin ketiga remaja itu.


Woooooosh!


Angin malam yang tidak terlaku kencang. Menghembus dari arah barat. Arah datangnya monster-monster ini.


Wuuuush!


Sato bersiap dengan pedangnya. Chintya dengan senjata canggih yang sering berbunyi itu. Sementara orang lainnya hampir mirip seperti dirinya.


Mata Sato menajam ke depan.


"Guaaaaaa!"


Kini, puluhan atau seperti ratusan mahkluk yang kasat mau pun tak kasat mata. Mulai dekat dan akan menuju ke arah mereka semua.


"Semuanya! Hadang mereka semua! Jaga keselamatan! Jangan buat mereka melewati kita!" perintah Chintya.


"Baik!"


Kemudian, saat jarak mereka sudah dekat. Semua dari team Sato maju!


"Hyaaaaa!"


Mereka yang sudah terbiasa menghadapi monster-monster pada malam hari. Kini tak gentar lagi.


"Ayoooo! Maju!"


Seruan demi seruan Chintya terus terdengar. Kini Sato dan yang lainnya mulai bertarung!


Sato melompat di paling depan. Banyak mahkluk-mahkluk seperti bentuk manusia yang aneh. Kelakuan mereka layaknya manusia zombie yang pernah mereka lawan di pulau Sienna.


Duaaar!


Sato menebas. Namun, tebasan miliknya tidak melukainya fatal. Hanya mementalkannya.


Sayugo menyerang dan menggunakan pedang itu. Membuat beberapa monster itu terpental juga. Megamu menebas satu per satu monster aneh yang datang.


Gerakan mereka semuanya lambat. Dengan mudah Sato dan yang lainnya mengalahkan mereka karena lebih unggul.


"Hwaaaa!"


Monster itu saling tumpuk dan berjatuhan di tempat itu. Terlihat juga kini Chintya dan dua orang itu.


Menyerang semua monster agar tidak melewati mereka.


"Hyaaaa!"


Saat ini, walau jumlah mereka lebih sedikit. Namun, mereka berhasil mencegah para monster ini untuk lewati mereka.


Pertempuran terus terjadi. Sato dan Sayugo menyerang monster lambat dengan mudahnya.


Sring! Sring! Sring!


Megamu menebasnya begitu mudah. Tatapannya tajam padahal di dalam diirinya. Fernie tengah pingsan tak sadarkan diri karena bau monster itu begitu menyengat di hidung keduanya.


Megamu bisa tahan akan bau monster-monster ini. Namun, tidak untuk Fernie.


Duagh! Duagh! Duagh!


Semua monster itu lalu dikalahkan terus menerus.


"Terus serang hingga mereka mundur!" teriak Chintya.


"Hyaaaa!"


Chintya dengan beladirinya dan diperkuat dengan gelang-gelang di sekujur tubuhnya. Tampak dengan mudah bisa menghadapinya.


Bahkan lebih banyak yang dia kalahkan daripada yang lainnya. Wanita tangguh itu terus menerus maju untuk menyerang.


"Hyaaaaa!"


Tampak, banyak monster yang berjatuhan. Kemudian bertumpuk di hadapannya. Itu membuatnya puas. Kemudian orang itu terus melakukan tinju dan berbagai hal tipe serangan lanjutan lain.


Jduagh! Jduagh! Jduagh!


Hingga kini, orang itu dengan mudah tumbangkan semuanya.


Semua moneter itu tampak kalah. Namun ...


"Mereka akan bangkit lagi!" seru dua orang itu.


Ketiga remaja yang puas pun. Tak memercayainya. Namun, Chintya tidak kaget sama sekali.


"Ayo, hadapi mereka lagi! Jangan pernah lengah!" serunya.


"Baik!"


Semua monster bangkit. Namun, kembali mental ke sana kemari oleh Chintya dan teamnya.


"Hyaaaaa!"


Chintya terus menyerang, mensleding, menendang sambil melompat dan segala gerakan lanjutan yang begitu rumit dan bermacam-macam.


Sato menebasnya dengan cara yang asal. Anak itu adalah mantan penyihir yang sepertinya tidak gunakan senjata-senjata seperti pistol dan pedang.


Jadi, dia terlihat masih amatir. Sayugo terlihat menebas sambil lari. Itu lucu, karena dia sangat asal mengenai tubuh monster itu.


Kadang mengenai badan, perut, kepala, kadang bahkan tak mengenainya sama sekali. Sayugo tampak amatir dalam penggunaan pedang.


Di sisi lain. Megamu tampak lihai menggunakannya. Dia beberapa kali menangkis serangan balik dari monster lalu, melakukan counter dengan baik.


Sebuah tebasan kemudian mengalahkan monster dengan tengkorak manusia di kepalanya itu.


Sring! Sring! Sring!


Sato dan yang lainnya kembali mengalahkan semuanya. Lalu, beberapa saat kemudian.


Satu monster berjalan ke arah berlainan. Saat Sayugo akan menangkisnya.


"Huaaaaa!"


Monster itu tampak ketakutan. Sayugo yang akan menyerangnya. Kaget karena .....


Trang!


Chintya tiba-tiba datang menangkis pedang miliknya.


"Kenapa guru?" ujarnya heran.


"Biarkan mereka pergi!" jawab tegas Chintya.


Lalu, Sayugo mengangguk. Sato dan yang lainnya lalu heran. Mereka melihat para monster mundur ke arah kedatangan mereka.


"Huaaaaaa!"


Semua monster itu tampak ketakutan dan pergi dari arah tujuan mereka.


"Huaaaaa!"


Sato mengernyit heran. Namun, dia tak mempertanyakan lebuh lanjut.


Tampak, ratusan monster aneh itu. Mundur ke belakang sana. Bersamaan dengan itu, sinar matahari pagi mulai naik ke atas.


Ternyata mereka sudah semalaman berhadapan dengan ratusan monster aneh itu.


Matahari muncul di ufuk timur sana. Terlihat puas. Chintya lalu mengajak semua orang pukang ke kediaman mereka.


Brrrrrrrm!


Mereka menaiki kendaraan gunung itu. Dan kembali ke jalan terjal ban curam untuk kembali pulang.


Tap tap tap tap!


Esok harinya.


Sato dan yang lainnya ini belajar di kelas lagi. Tampak si pengajar sepertinya masih sama. Yakni, Chintya.


"Baiklah anak-anak! Jadi di sini. Aku akan jelaskan beberapa hal. Monster kuat hanya bisa dihadapi oleh orang-orang kuat juga. Nah, dalam organisasi. Orang kuat di tandai dengan mereka yang sering melakukan misi-misi sendirian. Bukan berkelompok."


"Bagaimana kalau Duo atau tiga orang bahkan squad?" tanya Sayugo terlihat juga mengangkat tangannya.


"Hmmm, jika Duo mereka bisa dibilang adalah orang yang kuat namun, saat mereka bekerja sama dengan rekan yang terlatih. Tapi, tak ada yang seperti itu," jawab Chintya.


"Ohhh."


"Jadi orang kuat selalu menjalankan misi sendiri? Bagaimana jika mereka butuh pertolongan? Bagaimana cara mereka meminta pertolongan?" tanya Sato penasaran.


"Benar juga, mereka akan di dampingi oleh beberapa kamera yang akan mengawasi jalannya misi-misi mereka. Jadi, saat mereka terdesak. Beberapa sistem akan membantunya untuk bertahan hidup atau menyelamatkan diri," jawab Chintya.


"Hmm, begitu," gumam Sato setelah mendengarnya.


Megamu atau Fernie hanya mengangguk mengerti.


"Jadi? Kekuatan orang kuat itu, seperti apa?" tanya seseorang.


Membuat mereka semua menoleh. Karena, lontaran pertanyaan itu bukanlah dari empat orang yang seharusnya.


"Billy, kenapa kau mengunjungi kelasku?" tanya Chintya kemudian sembari menyapa.


Tampak, orang yang sepertinya ramah dan berambut pirang. Terlihat bersender di samping pintu itu.


"Maaf, tapi aku hanya akan memberikan kalian misi lagi dari markas," jawab orang 'Billy' itu.


"Oh, begitu."


"Tapi, bukankah bisa dikirim lewat surat elektronik seperti biasanya kan? Kenapa harus darimu segala?" tanya Chintya. Mencoba gali info semaksimal mungkin


"Hahahahaha, itu karena aku akan ikut misi bersama kalian juga. Orang-orang organisasi memerintahkanku langsung. Jadi aku lebih suka dengan cara seperti ini," jawab Billy dengan senyumnya itu.


Dia lalu ikut duduk di kelas itu.


"Aku akan jelaskan setelah kalian semua selesai dalam proses belajar ini. Tidak hanya di negara kalian saja. Di Jerman, belajar juga adalah hal yang di nomor satukan," ucapnya santai beralasan.


"Baiklah!"


Setelah itu!


Keempat orang itu lalu mulai melangkah keluar dari kantor. Sepertinya akan menjalankan misi. Bersama orang bernama Billy yang diketahui. Dia berasal dari Jerman dan lahir di kota ini. Berlin.


Tap tap tap tap!


Setelah menuruni semua lantai dengan lift. Mereka bergegas keluar. Tampak, mobil sedan super mewah.


"Woah."


Semua remaja itu berseru melihat mobil sport super mewah itu. Berwarna merah menyala. Itu sepertinya merek volkswagen buatan Jerman. Terkenal membuat mobil-mobil sport yang super mewah.


Billy lalu membuka pintu mobil itu.


"Mobil ini adalah mobil buatanku sendiri," ucap Billy lalu mempersilahkan empat orang itu masuk.


Bersambung.