
Episode 35
Sato beristirahat dari larinya tadi. Monster tadi mungkin masih mencarinya. Untuk menyerangnya karena sesuatu.
'Untung saja aku lolos' batinnya sembari terus membuang nafas lelahnya. Kehabisan oksigen karena terus lari.
Lalu, dia pun menyadari adanya bangunan itu. Terlihat, dia sedikit terkejut dengan tulisan yang terpahat di reruntuhannya.
Dia pun lalu berlalu.
Kini, sepertinya Fernie yang terakhir mencobanya. Juga sudah selesai. Semuanya kembali lagi ke kelas pada pagi hari.
Perut Sayugo yang paling sensitif jika merasakan lapar terus berbunyi. Namun, sayangnya tak ada makanan di tempat ini dan mereka tak diperbolehkan untuk turun. Mereka tak bisa turun di atas gedung secara sembarangan tanpa ijin terkait dulu.
Sayugo kemudian nampak duduk merosot karenanya. Sato di sampingnya sedikit berpikir tadi. Lalu dia menyadari bahwa kini megamu berganti pada kesadaran Fernie.
Entah kenapa dia berganti saat Fernie tidur di dalam heli.
Sato menatap mata merah muda itu. Dia tahu, itu mata milik roh megamu yang mengambil alih.
Lalu, setelah itu mereka sampai. Megamu berjalan dengan Sato ke arah suatu tempat.
Sato melirik megamu yang masih tenang berjalan dengannya. Megamu, sepertinya pikirkan banyak hal.
Kemudian Sato teringat lagi. Tulisan aneh yang berada di reruntuhan depan bangunan itu
Lalu, keduanya menemui sang guru yang sepertinya bersiap tidur. Dia tampak tak kaget melihat Sato dan Fernie bersama.
Lalu kedua remaja itu duduk di dalam ruangan milik guru mereka. Gurunya tampak duduk dengan menimpa kakinya sendiri dengan kaki juga.
Gaya varian duduk yang sudah umum dilakukan oleh semua manusia.
"Ada apa?" tanya sang guru membuka perbincangan.
"Maaf guru mengganggu anda. Tapi aku sepertinya agak melihat suatu yang aneh di tempat ujian tadi," jawab Sato sembari menunduk dan tidak percaya dengan yang dia lihat juga.
Chintya antusias. Sepertinya penasaran juga.
"Katakan saja," ucapnya singkat.
"Maaf tapi-- di hutan itu ada sebuah tempat yang menuliskan bahwa ada ras manusia kuno yang terkubur hidup-hidup," jawab Sato.
Megamu dan Chintya sontak terkejut mendengarnya.
"Di tempat apa itu?" tanya Chintya.
Sato mengepalkan tangannya.
"Tempat itu sepertinya dijaga oleh kawanan Werewolf."
Ucapan itu sontak membuat megamu dan Chintya tambah kaget lagi.
Setelah itu. Helikopter pengawas milik organisasi. Tampak mencari tempat yang dimaksud Sato tadi.
"Ini Albania, tapi kenapa bisa ada monster seperti dalam mitos?" tanya seorang pilot itu.
Karena kini, terlihat. Ada manusia setengah serigala yang berkeliaran di sebuah reruntuhan yang saat ini menguarkan aura hitam.
Lalu, semua helikopter itu mengepung mereka. Lantas membuat para manusia serigala tampak mengaum ke arahnya.
Sato dan megamu tampak masih di markas. Menunggu ijin kemungkinan. Sayugo sepertinya tak ikut. Itu, karena kejadian sebelumnya.
"Apa itu berarti musuh sudah berhasil tanpa kita ketahui? Putri?" tanya Sato.
Megamu tampak melihat ke samping. Menghindar dari pandangan Sato itu.
"Seperti-"
"Sato ayo berangkat!" seru Billy.
Melihat Billy. Mereka pun berangkat.
Tampak ada satu heli dipersiapkan untuk Sato dan yang lainnya.
"Ayo!" Chintya sudah di dalam. Lalu, membantu megamu naik.
Heli itu sudah mulai memutar baling-balingnya sejak tadi. Bahkan, sebelum Sato kemari.
Duk duk duk duk!
Sato tampak dibawa terbang oleh heli itu. Mereka sepertinya akan menuju ke tempat yang Sato lihat tadi.
Duk duk duk duk duk!
Tampak sudah banyak sesuatu yang mengepung daerah itu. Lalu Sato dan yang lainnya terbelalak, padahal mereka baru saja tiba.
Jduaaaaar!
Suatu sosok berukuran manusia normal. Tampak melompat dari bawah layaknya punya kekuatan super dan dengan mudah menjatuhkan helikopter team.
"Sialan, musuh menyerang!" seru Chintya.
Billy sepertinya tak bergerak. Namun, Chintya sudah memanggil robot heli kura-kuranya. Lalu, bergabung dalam mode itu.
Terbang ke sana mendahului heli besar itu.
Dia mungkin akan melawan mereka. Sato lalu bersiap. Memakai pakaian anti peluru dan anti lainnya. Dia sudah siap bersama megamu juga.
Billy sepertinya juga sama. Dia membawa pedang itu juga. Lalu, mereka pun turun.
Tali itu membuat ketiganya meluncur bergantian. Namun, saat giliran Billy.
Saat dia masih di tengah-tengah. Sesosok serigala tampak menyerang tali itu. Lalu, tali itu terbakar hebat bahkan meledakkan apa pun.
Helikopter lolos karena terbang.
Jduaaaar!
Sato dan megamu melompat menghindar. Sepertinya keduanya selamat. Ledakan itu sepertinya berasal dari kekuatan monster serigala itu.
"Putri, apa mereka Werewolf si manusia serigala?" tanya Sato saat mereka sudah berada di tempat aman.
Megamu memerhatikan dengan mata bersinarnya itu. Menerawang kekuatan monster-monster yang jumlahnya tidak sedikit di sekitar mereka.
Ngiiiing!
Setelah itu megamu berujar.
"Kemampuan seperti serigala dan kekuatan sihir yang besar, tak salah lagi ..."
Sato yang mendengarnya jadi sedikit ngeri. Di sekitar mereka banyak peperangan.
Monster itu melawan heli-heli ini!
Jduaaar jduaaar!
"Tidak bukan!"
ucapan dari sampingnya itu. Membuat Sato menoleh. Megamu yang mengatakannya.
"Mereka sepertinya bukan yang kita maksud," lanjut megamu.
Sato lalu paham.
"Syukurlah."
Lalu, nampak Billy tiba-tiba datang entah dari mana. Dengan piring terbangnya.
Sato berdiri setelah keduanya tadi lama bersembunyi dengan posisi tiarap.
"Paman, mereka semua bukan ancaman yang besar!" teriak Sato melapor.
"Ya! Kami tahu!" balas Billy sama-sama teriak.
Lalu, kini. Tampak, terlihat semua helikopter itu akan menembakkan meriam yang super besar.
"Sato! Larilah! Kita akan hancurkan tempat ini!"
Seruan Billy membuat Sato dan megamu berlari.
Mereka lalu menembakkan meriam yang terisi penuh itu.
"3...2.......1!"
Jduaaaaaaaaaaaar!
Ledakan hebat terjadi. Sepertinya mereka menggunakan ledakan itu, khusus untuk membunuh semua monster itu jika tak ada bantuan dari orang-orang kuat.
Wuuush!
Sato melompat dari sebuah jurang itu. Untunglah di bawah sana sudah sigap dua orang yang menolong mereka, ialah Billy dan Chintya.
Tampak, Chintya sudah kehilangan satu baling-balingnya. Namun, dia masih bisa bertahan terbang walau tidak terlalu bagus untuknya.
Jduuuuuum!
Api ledakan tampak melewati atas mereka. Namun, hilang beberapa saat kemudian.
Bluuuuuuuuuuum!
Kini, mereka tampak kembali ke atas. Chintya melepas amornya yang rusak karena menghadapi semua musuh itu. Untuk menahan mereka.
Walau bagaimanapun. Mereka berusaha keras untuk mengalahkan mereka atau menahan mereka. Sebelum siapnya serangan pamungkas ledakan tadi. Yang membutuhkan waktu pengisian.
Mereka sepertinya butuh mendeteksi monster terlebih dahulu. Terbukti mereka harus menahan monster-monster kuat sebelum senjata itu digunakan.
Sato dan megamu menghela nafas. Billy dan Chintya sama. Mereka mengelap bekas luka memar. Sepertinya dua orang itu juga langsung bertarung dengan Segerombolan serigala tadi.
"Tapi Sato ...."
Megamu kemudian berujar. Membuat Sato menoleh. Begitu pula Billy dan Chintya yang masih lelah.
"Semua monster itu, punya kekuatan sihir positif yang kuat. Sama seperti di dunia sihir," ucap megamu melanjutkannya.
"Apa?!" semua orang tampak kaget.
"Jadi?" ujar bingung Chintya.
"Jadi, mereka semua berasal atau dibuat oleh orang-orang dari dunia sihir!" jawab megamu.
Mendengar itu. Sato dan semuanya shock. Kemudian datang helikopter yang akan menjemput mereka kembali.
Lagi-lagi Sato nampaknya berhasil dari misi besar lagi. Mungkin dia akan dihadiahi hal yang lebih besar.
Duk duk duk duk duk!
Nampak heli itu mulai mendarat. Sato dan yang lainnya menunggu. Lalu megamu seperti merasakan sesuatu.
"Hati-hati semuanya!"
Heli itu nampak turun di wilayah hutan. Lalu, saat dia turun.
Jduaaar!
Heli itu meledak. Namun, anehnya ledakan itu tak berimbas pada Sato dan yang lainnya.
Menahan gelombang ledakan. Chintya melihat ke arah api itu.
'Ada apa ini? Apa musuh masih ada lagi?' batin Chintya.
Namun ...
Tap tap!
Dua orang tiba-tiba datang dari sebuah helikopter yang datang dengan cepat di atas sana.
"Kalian?!" Seru Billy dan Chintya.
Terlihat ada dua pria yang berpakaian ketat. Satu orang berkacamata hitam. Sato dan megamu sudah familiar.
"Maaf membuat kalian terkejut," ucap orang berkulit hitam yang membawa senjata semacam tingkat itu. Seperti Mugiwa. Ada dua benda tajam yang tertempel di senjatanya.
Lalu, orang lain. Nampaknya dengan wajah lebih muda dan sepertinya umurnya tak jauh dari Chintya yang berumur 20 tahun.
Dia, memunggungi Sato dan yang lainnya. Melihat ke objek yang meledak tadi.
Dia serius melihat ke sana kemari.
Tap tap tap tap tap!
Suatu langkah terdengar samar dari telinga orang itu. Lalu, entah kenapa Sato dan yang lainnya mendengar itu juga.
"Seseorang akan datang?" kejut Sato.
Megamu dan yang lainnya juga bersiap.
Lalu, tampak sepertinya Chintya juga akan memasang semua gelangnya itu.
Namun ...
Orang berkulit hitam itu menahannya. Lalu, mereka pun fokus lagi ke arah langkah itu.
Tap tap tap tap tap!
Seseorang yang sepertinya sudah familiar dari pihak Sato dan megamu.
Sato terbelalak kaget.
"Di-dia!" ucapnya karena perasaan itu.
"Aku sebenarnya ditarik oleh orang berambut panjang yang ada di samping manusia serigala itu. Sesaat setelah kau berhasil mengusirnya, sebenarnya aku sudah mendatangimu. Akan tetapi ...."
"Tubuhku seperti menjadi ilusi. Seakan aku tertarik ke ruang lain dari dunia ini! Itu di dalam game disebut dimensi lain! Sungguh aneh. Lalu, saat kau mencoba berontak dan menanyakan apa tujuannya. Dia membuatku pingsan dan yang ku pikir. Aku sudah tamat!"
Setelah itu. Sato pun tahu. Dari rambut panjang yang beragam warna di pundak milik orang itu yang melambai.
Dialah si penculik Sayugo yang juga sepertinya musuh utama mereka semua.
Dua orang itu adalah salah satu dari sebelas orang kuat. Yang saat itu mengikuti Sato ke negaranya lagi.
Mereka tampak melihat sosok yang sering disebut sago oleh kawan-kawan lainnya itu.
"Hallo, para manusia dunia lain," ucap sago sembari melambai ke arah Sato.
"Ini pertama kalinya kita berjumpa bukan?"
Lalu orang itu melihat Sato dan megamu.
"Oh, sepertinya tidak untuk wadah gadis Pegasus dan bocah tanggungan itu ya. Hallo, apa kabar," ucap sago ramah.
Tampak, saat ini keadaan Sato dan megamu sudah tampak lelah. Tadi setelah menghadapi puluhan serigala itu.
Bersambung.