
Episode 111
Sato kembali untuk melangkah mencari ide.
Sementara di sana. Ada suatu pergerakan energi yang masih misterius. Semua orang tak merasakannya bahkan penyihir sekalipun.
Tap tap tap tap!
Seseorang yang baru keluar dari kota akademi Valloshwa itu. Tampak kaget melihat ke arah pancaran energi itu.
Tampak, dia adalah magi yang kini membawa sesuatu di kantung yang dia bawa pada bahunya.
“Apa yang terjadi di sini?” tanyanya.
Kemudian dia pun melangkah tuk dekati sesuatu. Lalu, muncul seseorang yang melangkah ke arahnya. Tampaknya orang yang tak dikenal.
“Setelah ini kau akan ke mana?” tanya magi. Dia tak melihat ke arah orang itu. Bahkan, tak terlihat sudah menyadarinya.
Orang itu tampak tertawa.
“Tentu saja ke tempat Andromeda. Aku masih ada urusan di sana,” jawab orang itu.
Angin berhembus. Rambut hitam keduanya melayang-layang di sana.
“Martin, berkat kau aku dapat banyak informasi dan hal berguna lainnya. Kau harus pergi sebelum Mugo sadar,” jelas magi menatap orang yang dia panggil martin.
Lalu, sosok martin yang sama seperti kenalan Sato itu. Tampak menghilang dengan suatu energi lingkaran sihir yang tercipta dan terpusat padanya.
“Aku akan menunggumu!” ujar martin di sana.
Tap tap tap tap tap!
Kemudian, dengab keberanian tinggi. Magi tampak langsung ke suatu arah.
Sati merasakannya. Lalu, dia pun entah kenapa berjalan ke arah yang sama.
‘Ku harap masih bisa hentikan Mugo’ batinnya.
Tap tap tap tap tap!
Dia melangkah ke tempat Sephij berada.
Lalu, dia pun lantas masuk dan sepertinya di sana sangat sepi. Sangat tak terduga.
Kemudian dia pun susuri tangga lalu dia pun tampak masuki ruangan gelap.
Ctak!
Sihir semacam lampu menyala.
“Kejutan besar! Ada seorang penyihir pengelana di rumah kami! Apakah aku harus mengundangnya juga?”
Sephij tampak temang di hadapan magi. Magi menatap jengkel padanya.
“Jangan kira aku tak tahu asal-usulmu yang seorang penghianat! Sephij!” geram magi menatapnya.
“Bukan hanya kau yang ada di sini!” ujar Sephij.
Lalu, datang satu orang berkacamata lainnya.
“Jadu kau memihak pada mereka ya? Astorra?!” tanya jengkel magi.
”Heh!”
Si kacamata yang sudah sampai di sana tampak hanya terkekah geli.
“Sialan!”
“Aku akan menghentikan kalian di sini!” teriak magi dan dia pun tampak bersiap dengab dua pedang sihir yang muncul di belakangnya. Melayang dan bersinar sihir.
Sephij tampak akan maju.
Namun, orang yang tampaknya bernama Astorra. Maju dan hentikannya.
“Biar aku yang urus!” ujarnya pada Astorra.
Siapa Astorra sebenarnya?
Astorra tampak maju. Kemudian dia pun tampak mengeluarkan energi yang kini berada di atasnya. Bbentuknya pipih. Lalu, tubuhnya juga bersinar sihir.
Hyaaaaa!
Magi tampak menatapnya tajam. Lalu, dia pun langsung menyerang orang itu.
Hyaaaa!
Magi ambil satu pedang yang kini bersinar putih saat dia akan gerakkan ke musuh itu.
“Pedang suci rupanya! Kau mencoba hancurkan segel vampir?!” kejut Sephij yang tamoaknya akan lari dari ruangan itu. Membawa semua peratannya.
Hyaaaa!
Tap!
Namun, serangan itu sepertinya tak berdampak besar pada ruangan itu juga.
Magi menatap dingin.
“Kau sudah tahu rupanya. Rencana dari Mugo. Adik angkatmu itu!” ujar Astorra yang mulai serak entah kenapa.
“Heh! Itu sangat mudah. Kau yang seorang vampir mana bisa tahu dan bisa melihat itu!” teriak magi.
Hyaaaa!
Dia gunakan tebasan lagi dengan pedang yang akan bersinar jika digunakan.
Hyaaaaa!
Trang!
Kali ini serangan itu berdampak pada bangunan itu. Bahkan runtuh.
Blaaaar!
Keduanya kini tak ada di tempat. Melainkan di atap banguan itu. Mereka bisa terbang rupanya.
Sephij yang masih ada di sana. Melihat keduanya yang sedang berhadapan itu.
“Itu pedang suci. Yang bisa membuka segel yang mengunci vampir. Namun, walau begitu. Vampir adalah mahkluk monster penghisap darah yang tergantung pada segel itu. Dengan kata lain dia mencoba membunuh vampir! Astorra kau dalam bahaya besar!” gumam Sephij dan mulai menghilang dengan sihirnya.
“Walau hanya segini kemampuanku! Kau masih bisa mati!” ucap kejam magi. Tampak keduanya baru saja addu setangan yang berimbas pada semua hal di sekitarnya.
“Hahahaha! Selama aku abadi. Akan ada banyak orang yang pasti mengetahuiku!”
Astorra yang kini wajahnya memerah lalu muncul taring-taring juga di lehernya. Layaknya gigi-gigi monster buas.
“Mereka pasti akan mencoba membangkitkanku karena rasa penasaran!” ungkapnya.
Wuuush!
Dia melesat ke arah magi.
Trang!
Magi menahannya namun gelombang itu seperti punya daya dorong yang bahkan menembus dirinya ke arah belakang.
Mata magi membelalak. Dia seperti menahan rasa sakit. Astorra dengab rambut hitam dan panjang se dagu itu. Melotot ke arahnya.
“Terima ini magi! Blockbustur!” teriaknya.
Magi menatap tak percaya.
Lalu, tampak dari arah Astorra.
Blaaar!
Muncul gelombang sihir besar yang ditembakkan lurus dari jarak itu.
Blaaaar bluuuuum!
Ugh!
Ternyata magi masih hidup. Dia berada di tanah. Di suatu reruntuhan.
Dia lalu berdiri. Namun, sosok Astorra itu tiba di depannya.
“Tujuan Mugo adalah sebuah harapan bagi aku juga!” ujar Astorra.
“Aku masih belum tahu mengapa kau berpihak padanya,” balas magi seperti tak pedulikan Astorra.
Lalu mereka pun tampak akan bertarung lagi.
Hyaaaa!
‘Sialan, hanya ini sihir yang bisa melukainya. Tapi sayangnya dua sangatlah kuat’ batinnya.
Lalu, tampak Astorra naik ke atas terbang. Lalu, magi melesat ke arahnya.
Hyaaaa!
Magi tampak akan menyerangnya. Namun, Astorra menguankan sihir blockbusternya lagi.
Blaaaaar!
Krak!
Kembaki lagi Astorra hampiri magi yang terbaring itu di reruntuhan.
“Aku sudah putuskan ini. Jangan pernah ganggu aku!” teriak Astorra tak terima.
‘Sialan, bocah ini sudah niat ternyata’ batin magi tampak tak kuasa.
Lalu dia pun kembali untuk bertarung. Kemudian dia akan mengumpulkan suatu teknik sihir.
“Dreinossa!”
Blaaaaaar!
Dengan tangan kosongnya itu. Dia gunakan iahr yang hampir mirip mungkin seperti sihir blockbuster. Menerjang menembak ke depan dengan energi panjang itu. Namun, warnanya berbeda serta bentuk dari sinarnya juga.
Dreinossa seperti cahaya merah yang berkeping dan sangat kecil seperti debuan
Namun, sangat banyak hingga menyerupai bentuk cahaya utuh. Bentuknya panjang ke depan.
Blaaaar!
Efek sihirnya tampak sama di sana.
Namun, Astorra nampak mudah menahannya. Dia hanya bergeser satu inci saja. Asap lalu menghilang.
Magi lalu melesat lagi untuk menyerangnya. Namun dihindari . Kemudian Astorra terbang. Magi mengejarnya. Magi lalu terus enytang namun dihindari dan Astorra terus menyerang ke belakang.
Blaaar!
Mereka rusak bangunan di sana. Tampak tak ada penduduk atau semacamnya. Ada hutan dii bagian sana.
Astorra kembali menyerang dengan blockbuster. Kini juga magi gunakan Dreinossa untuk menahannya. Mereka tampak saling serang bertubi-tubi deangn sihir itu masing-masing.
Blaaar!
Magi terpental. Dia sepertinya sedikit melemah. Lalu Astorra datang terbang dan akan melukainya dengan suatu pedang pendek berwarna hitam.
Blaaaar!
Lalu, tampak magi menghindarinya. Magi menembakkan sihir itu. Namun, itu tak mempan sama sekali.
Blaaar!
Kemudian blockbuster kembali dilesakkan padanya. Dia pun terpental amat jauh.
Dirrinya tampak kembali tertatih di suatu lahan yang kini kosong karena serangan dari musuhnya tadi yang mendorongnya ke sini.
‘Sial, aku tak akan bisa gunakan sihir kuat. Karena vampir itu mahkluk astral yang tak bisa sembarangan dilukai’ batin magi.
Tampak Astorra yang seorang vampir itu. Melihat dingin ke arahnya. Dia tampak menunggu musuhnya bangkit.
Lalu, tampak magi pun terbang menuju ke arahnya. Dia menyerang namun hanya dihindari dengan mudah.
“Sayang sekali kekuatanmu tak bisa mempan pada mahkluk dimensional sepertiku!” ujar sinis vampir itu.
“Diamlah!” Magi membentaknya. Lalu, dia pun menyerangnya dengan bertahap. Namun, semua itu tak bisa mempan sama sekali.
‘Jika seperti ini terus. Mustahil sekali’ batin magi.
Wuuush!
Tampak serangannya tak berefek hingga dia pun sepertinya kelelahan. Kemudian dia gunakan sihir yang nemuihkan tenaganya lagi. Membuatnya bugar dan akan menyerang dengan ini.
Wuuush!
Dia terus maju ke depan. Menyerang dengan sebuah pedang yang bercahaya itu.
Sring sring sring sring!
‘Sihir Dreinossa yang paling kuat dan bisa meratakan puluhan penyihir pun. Tak bisa kulakukan padanya’ batin magi saat menyerang.
“Sayang sekali bukan? Bukankah seharusnya kau berhenti?” tanya vampir itu.
Hyaaaa!
Sring sring sring sring.
Namun, magi terus menyerang orang itu. Sampai berkali-kali. Namun, tak hasilkan apa pun yang dia harapkan.
‘Sialan’ batin magi sangat kesal.
Kemudian, orang itu. Astorra tampak mengangkat tangannya ke atas.
Sepertinya dia kumpulkan sihir di sana.
Lalu dia meledakkannya di sana.
Blaaaaar!
Sebuah ledakan sihir yang beraura gelap dan terang itu. Membuat magi terpental sangat jauh.
“Sialan!”
Magi masih hidup. Entah dia yang kuat atau musuh biarkan dia untuk tetap hidup.
Astorra memandang penuh remeh. Lalu, magi pun tampak melesat lagi ke arahnya.
Trang! Trang trang!
Serangannya itu terus dihindari.
Trang trang trang!
Magi tampak kesal. Namun, dia tak akan pernah menyerah. Hingga magi pun membuat sihir Dreinossa lagi. Kini dia lesatkan ke bawah.
Namun hal itu malah membuat energi yang sudah dilesakan itu. Seperti membalik ke atas dalam jangkauan yang amat luas. Melebihi ledakan milik Astorra.
Blaaaaar!
Tampak Astorra itu menahannya. Dia sedikit kesakitan di sana.
Tampak Sati semakin dekat dengan tempat mereka. Sejauh 60 Km lagi.
Tap!
Kini, ledakan itu reda.
“Keparat kau magi! Aku sudah membuatmu hidup jika tidak kau mati saat insiden pembantaian klanmu!” teriak orang itu.
“Sayang sekali. Aku tak tertarik untuk hidup,” balas magi mengacungkan pedangnya itu.
“Apa?!”
Astorra dengan suara seraknya yang tambah seram saat marah itu. Menatap kaget pada orang itu.
“Aku tak bisa hidup lagi! Karena semuanya tak tersisa! Kau yang sudah melakukannya!” jawab magi.
“Bagaimana kau tahu?”
“Hahahahahahahahaha!”
Blaaaar!
Kini tampak ledakan besar yang dihasilkan dari keduanya. Tamkak tak terlalu besar. Pertempuran itu terus berlanjut.
“Shusisho!”
Blaaar!
“Tamplexs!”
Blaaar!
Bersambung.