Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Vinita!



Episode 49


Vinita nampak bersiap untuk mengerahkan kemampuannya.


"Cannon pengganda!" serunya. Lalu, dari dua tangannya itu. Dia menembakkan energi panjang hijau yang dia sebut bvanon pengganda.


Cling!


Sinar itu berhasil mengenainya. Namun, sebenarnya sinar itu hanya menyinari tubuhnya saja.


Monster itu menyilangkan tangan kesilauan mungkin.


Groaaaarg!


Dia pun mencoba bergerak. Namun.


Groaaarg!


Dia depannya ada monster lain yang bentuknya sama sepertinya.


"Beginilah caraku menghadapi monster raksasa! Serangan balik!" seru seseorang yang berada di atas kepala monster baru itu.


Groaaarg!


Bentuknya sama namun.


Blaaaar blaaar blaaaar!


Muncul sesuatu dari bawah air. Itu adalah tiga ekor berkepala naga.


Monster tadi terkejut. Nampak, ekor itu sepertinya tengah menyerangnya.


Monster itu mencoba menahan dengan tangan-tangannya. Namun, karena jumlah ekornya melebihi tangannya.


Satu ekor berhasil melilit tubuhnya. Untunglah ekor itu tak cukup kuat untuk meremukkannya.


Lalu, si wanita yang ada di kepala monster berekor. Tampak melompat je arah ekor yang tebung antar monster kini.


Lalu, dia pun meluncur di atasnya dengan papan itu. Wuuush!


Dia lalu mentiapkan kepalan tangannya. Yang dilapisi oleh sinar hijau kekuatannya itu.


"Hyaaaaaa!"


DIa berteriak dan melompat ke arah wajah monster itu. Bersamaan ekor monster itu ternyata bisa menghisap energi monster lain yang dililitnya.


Lalu, tampak wanita itu yang kini sudah dekat dan sudah akan meluncurkan tinju mautnya itu.


Dia sudah berada di depan kepala monster. Kini, secara berkala dia mengulurkan tinjunya dengan kekuatan penuh.


Jduaaaaaadg!


Sang monster nampaknya terkena tinju itu. Sampai darah mengucur dari wajahnya yang terluka hebat.


Mukanya hancur parah. Dia bahkan tak bisa bersuara mau pun merintih.


Jduaaar!


Tampak, sepertinya monster itu sudah kalah. Dia tampak terjatuh dan menimpa air laut yang segera menenggelamkan dirinya di sana.


Blaaaaar!


Setelah itu. Entah kapan monster yang ada di pihaknya hilang.


Kini tampak Vinita yang menang mendarat di air laut yang masih bergelombang hebat itu.


Beberapa orang di pantai merasakannya. Namun, jaraknya tak terlihat, atau terlalu jauh.


Blaaar!


Vinita lalu di datangi oleh satu helikopter. Dia pun naik ke atasnya.


Mereka mungkin biarkan monster itu jadi bangkai di sana. Namun, mungkin beberapa hewan akan membereskan bangkai itu.


Tap!


Wanita itu sudah siap berdiri di dalam helikopter itu. Tubuhnya yang basah segera diselimutkan dengan handuk oleh laki-laki itu.


Dia lalu duduk di bangku itu. Lalu helikopter itu pergi dari tempatnya saat itu.


Blaaar! Tampak satu tangan besar menghantam suatu helikopter.


Tempat Chintya.


Chintya tampak masih santai menunggu. Keadaan sudah tak tegang lagi. Sayugo masih bermain konsolnya itu.


Fernie entah ke mana. Mungkin tidur di kamarnya. Sato bersama Forg di markas rahasia orang itu.


Chintya hanya sendirian saja. Lalu, dia pun keluar dari gedung itu.


"Aku iseng, aku akan mencari monster untuk kuhancurkan," ucapnya saat itu.


Tap tap tap tap!


Dia berjalan di kota yang tampak tak tahu apa-apa itu. Padahal mereka kedatangan warga Albania.


Dia berjalan mulus tanpa menumpang pada teleportasi apa pun.


Dia lalu tiba-tiba melihat dengan sedikit tutupi matahari yang bersinar di atas matanya.


"Huh?" tanya Chintya heran.


Lalu, tampak dia melihat seorang yang mengejutkan dirinya.


"Woaaaah!"


"Es krim es krim!"


Siang tiba.


Chintya tampak berjalan santai siang itu. Tak ada tanda-tanda monster. Sepertinya di sini monster sangat sedikit.


"Hmmmm," gumam Chintya yang duduk di kursi taman itu.


Lalu, ada seorang anak kecil yang menarik-narik jaket tipisnya itu.


"Hah?"


Chintya melihat anak kecil itu.


"Bisa ambilkan aku sesuatu di atas sana?" ujar anak kecil berambut hutam itu.


Dengan mengelus kepalanya gemas. Chintya lalu menuruti permintaan anak kecil itu.


Dia mengikutinya. Hingga sampai di taman itu  lalu, anak itu pun menunjuk ke atas.


Ke suatu pohon yang ternyata ada anak anjing di atas sana.


"Huh?" Chintya melihatnya. Karena itu sangat tinggi sekali. Itu adalah pohon yang sangat tinggi yang sering ditempati manusia. Yaitu gedung.


"Baiklah."


Kedua orang itu lalu menaikinya. Dia mengajak anak itu ke atas gedung itu. Namun, beberapa penjaga menghalanginya.


'Oh, iya benar. Kita belum ada ijin untuk memasuki penuh wilayah begara ini' batin Chintya.


Lalu dia pun berpikir keras agar bisa mengambil anak anjing di atas sana.


Kemudian dia pun bersembunyi di toilet umum. Lalu, terlihat ada helikopter datang dan menolong anak anjing itu.


Chintya lalu keluar dan anak itu berterima kasih padanya.


Dia mungkin menggunakan sedikit kemmapuannya. Yakni memanggil helikopter hijau itu.


Lalu, Chintya memilih susuri kota ini dari jalan sempit yang dia tapaki.


Dia terus berjalan. Dia melihat ke sana kemari. Lalu ...


"Akhirnya!" serunya dan kini memasang satu gelang.


"Satu monster tak terlihat, walau mereka sangat lemah," ucap Chintya.


Sayugo terlihat memainkan konsol. Dia bermain tame Online di alatnya itu.


Kini dia ingin menjadi nomor satu dalam game pertarungan pedang. Atau One Sword.


Dalam permainan itu, pemain akan menjadi samurai atau kesatria pedang.


Untuk menjadi nomor satu. Kita harus mengumpulkan point dan selalu menang dalam misi.


Sayugo memainkannya secara rutin beberapa hari setelah ini. Tak ada pelajaran karena entah mengapa Chintya tak mengajari mereka.


Kini, Sayugo sudah sampai di stage akhir final Mision. Di mana dia akan melawan bos maha dahsyat yang bernama destroyer!


Destroyer adalah monster besar hitam yang bisa menjadi sangat banyak bahkan ratusan kali lebih kuat dari apa pun itu.


Namun, seorang yang bisa mengalahkannya adalah yang disebut nomor satu dalam game ini.


Terlihat, avatar milik Sayugo adalah ksatria pedang yang mengendarai kuda putih. Dia menamainya white Thunder.


White Thunder tampak kini berkuda dan sudah habisi semua bawahan dari destroyer.


"Baiklah, ini yang sudah dinanti-nanti!" serunya semangat di tempat itu. Tak ada siapa pun untungnya.


Groaaaarg.


Destroyer : ada apa kau kemari dasar mahkluk hina. Groaaaarg. Huahahahahaha.


White Thunder : aku ksatria putih. Aku ingin menjajal kemampuanmu.


Destroyer : baiklah. Sini maju! Groaaarg!


Sayugo maju, dengan pedang putihnya.


Hyaaah!


Trang!


Tebasannya itu tak mempan.


"Sial," batin Sayugo.


"Hahahahhahah, groaaarg!"


Destroyer tampak menyerang dan itu membuat white Thunder Sayugo kehabisan banyak nyawa.


"Sial," keluh bocah itu.


Groaaarg!


Monster itu nampak menyerang lagi. Kini membuat area di sekitar Sayugo dipenuhi api dan senjata tajam.


Sayugo yang lihai dan mahir sudah sangat terlatih. Bisa dengan mudah melakukannya.


"Hahahahahahah. Saatnya pembalasan!"


Tampak kimi Sayugo dengan pedang dan kudanya itu. Melakukan tusukan dan dorongan terhadap destroyer


Destroyer : lumayan juga tapi ....


White Thunder : ......?


Nampak destroyer meluncurkan puluhan meteor. Sembari dia menghembuskan nafas hitam yang akan mengurangi nyawa perlahan sedikit demi sedikit jika terkena.


Destroyer : let me know!


Game over!


Sepertinya Sayugo tak mampu menandinginya. Dia pun mati dan harus mulai dari awal.


'Sial game ini sangat sulit' batinnya dan dia pun tidur karena kelelahan seharian main game.


Kini tampak Fernie tengah menatap ke arah keluar dari jendela kamar itu. Walau diam sepertinya kedua jiwa itu sedang bercengkrama.


"Semoga saja dia bisa kalah," ucap megamu.


"Ya, monster itu ternyata masih hidup," balas Fernie.


"Serangan karma Sato tak penuh. Jadi masih ada kemungkinan musuh bisa bertahan dengan beberapa hal," balas Megamu.


"Jadi begitu," ucap Fernie.


"Lebih baik kita lanjutkan latihan kita," lanjut Fernie lagi.


"Apa tidak apa-apa?" tanya megamu.


"Kelak kita bisa saja menghadapi, lawan yang dengan mudah membunuh Sato saat dia sudah kehabisan tenaga karena karma kan? Itu saja sudah cukup, jadi alasan utama untuk diriku tambah kuat," jawab Fernie.


Namun, keduanya tak ke mana-mana.


Chintya nampak kini mencari-cari monster lagi. Dia sedikit kesal.


"Sialan, melawan monster tadi membuat benjol saja," ucap dirinya.


Flasback.


Tampak Chintya maju dengan pukulannya. Monster itu lalu menatapnya heran.


Karena tubuh yamg transparan. Chintya malah menembusnya. Hingga dia tersandung batu dan jatuh ke dalam tempat sampah yang ternyata sangat dalam sekali.


Lalu di dalam ada bebatuan yang membuatnya kesakitan. Lalu, mesin pengolah sampah membuat dirinya terbentur-bentur terus di dalam sana.


Flasback off.


Chintya lalu berjalan dan kembali ke jalanan itu saja. Dia lalu duduk di tempat tadi.


Lalu seorang anak menarik-narik jaket robeknya itu. Itu adalah anak perempuan berambut hitam dengan membawa anak anjing.


"Ha?"


Chintya menoleh ke arahnya.


"Kakak sakit ya?" tanya anak yang sama itu.


Chintya mengangguk.


Lalu anak itu pergi berlalu. Mungkin, takut karena penampilan dan suaranya yang kelelahannya itu.


Chintya menghela nafas dan memandang ke arah langit  sore.


Tap tap tap tap!


Datang sekumpulan orang. Chintya menoleh.


"Ha?"


Kini banyak anak berpakaian dokter dan alat bedah di tangan mereka.


"Kakak, kami akan menyembuhkan sakitmu itu. Dokter dari universitas bermain tidak akan pernah gagal," ucap anak berambut hitam yang tadi.


"Apa?!"


Chintya pun tampak dibaringkan. Lalu, dia pun sepertinya jadi objek bermain dokter-dokteran oleh sekumpulan anak yang bermain di taman itu.


Kini, semua anak itu sudah pulang satu per satu. Chintya kembali bangkit. Dia memegang kepalanya.


Beberapa coretan seperti tempat yang akan dibedah itu. Tercetak di wajah dan beberapa bagian tubuhnya yang seksi itu.


Dia lalu sempoyongan berdiri. Dia sepertinya pusing karena diajak bermain oleh bocah-bocah tadi.


Tap tap tap tap!


Kini dia kembali ke markas dengan sedikit agak sempoyongan lagi.


Brak!


Membuka pintu kasar.


Tempat Bombamen vs Shimun.


Shimun agak tertarik pada Bombamen. Mereka saat ini mengeluarkan energi masing-masing yang menguar dan menambah kekuatan dan kemampuan mereka.


'Heh, manusia yang menarik. Walau tanpa energi positif. Dia bisa menandangiku selama dua hari ini,' batin Shimun.


Bombamen tak berkata-kata. Pria pendiam yang bisa menjadi robot besar yang penuh tenaga itu. Kini, sepertinya hanya bisa fokus dan bertarung.


Shimun adalah manusia monster. Tidak seperti jago dan sago yang asli monster. Karena tubuh kuat yang disebut naturally itu. Membuatnya bisa menjadi wujud yang kuat layaknya monster sihir. Walau dia tak menginginkannya sekali saja.


Bombamen. Sang penghancur itu. Dengan tubuh amor bajanya itu. Dia bisa dengan mudah meratakan satu negara yang sudah tertanda. Karena dahulu dia dimaksudkan untuk menghancurkan suatu kawasan yang semuanya secara kebetulan tergambar dan tertandai dalam peta.


Pertarungan dua mahkluk yang sama-sama unik. Siapakah yang akan menjadi pemenang?


Bersambung.