
Episode 74
Esok hari.
Sato berangkat ke sekolah, seperti biasanya.
Saat itu sudah terik. Sato menatap matahari, dengung sekitar jalanan padat itu.
MACET!
Itu sama seperti kejadian dirinya di masa lalu. Tidak menyebutnya masa lalu mungkin salah. Sebab ....
Wuuuuuuush!
Di dunia paralel lain. Serba hitam dan ada satu energi berwarna biru yang panjang itu.
Tap!
Seorang penyihir terlihat di sana. Dia melihat ke atas setelah melepaskan sesuatu di kepalanya. Matanya melihat kagum ke arah sana.
Dia bergumam di sana. Menatap penuh harap nampaknya. Dirinya masih melihat hal yang di atas sana.
Tap!
Kini, datang seseorang dari arah kanannya. Penyihir wanita tadi menoleh. Dia menemukan seseorang di sana. Matanya tampak sedikit terkejut. Raut mukanya namun tetap normal.
Tap!
Sato menatap mobil mini Van itu. Yang persis seperti miliknya di masa lampau. Atau dimasa itu, ataupun entahlah.
Pikiran Sato tidak fokus karena dia baru saja menyelesaikan proyek klub dan kini entah kenapa.
Sato terus berjalan di perjalanannya hanya biasa saja. Panas masih terik di siang hari ini.
Lalu, Sato pun tampak masuk ke dalam sebuah kedai di sana. Setelah itu. Menyumbul seseorang di bagian kursi pelanggan.
Semua kursi sepertinya saling dihalangi dengan papan. Mungkin untuk menjaga privasi pelanggan. Adapun kursi yang sengaja diletakkan di luar ruangan ini. Berada di lantai atas. Menghadap dan dikelilingi sebuah mini taman.
Sato lalu menghela nafasnya di sana. Melihat orang berambut pirang itu melambai ramah padanya.
“Sato, kemarilah!” ucapnya ramah.
Tap tap tap tap tap tap!
Sato pun mengangguk singkat. Sifat introvertnya memang sudah terkenal bagi orang-orang yang mungkin mengenalnya.
Mata Sato terus melihat ke kanan dan kiri. Melihat beberapa orang. Dann Sato melihat mantan gurunya itu. Di sana sendirian.
Mata Sato membelalak saat melihat gerakkan tangan dan mulut milik gurunya itu. Marylin kalau tidak salah.
‘Dia ternyata penyihir’
Di sebuah Villa kosong nan gelap. Suram juga.
Tap!
Sekelompok orang yang tidak diketahui nama dan asalnya. Berkumpul duduk di kursi rapat. Mereka tampaknya akan mengobrol.
Beberapa orang kini bersiap di sana. Mencoba fokus. Mereka berpakaian penyihir.
“Apa tugasmu sudah?”
“Ya!”
“Setelah berhasil mengungkapnya selanjutnya, kita biarkan publik melihat kenyataan!”
Seseorang yang tinggi itu berkata dengan nada tak main-main.
Semuanya tampak setuju dalam diam.
“Data-data yang sudah terkumpul. Publik yang sudah melihatnya sekitar ratusan orang. Itu hanya di negara asal. Belum lagi di negara lainnya dan bagian lainnya lagi!” ucap orang yang sama. Dengan suara beratnya itu.
Ekspresi beberapa orang di sana sangat mengikuti alur pembicaraan.
“Dengan langkah-langkah ini! Kita akan memuju ke sebuah rencana yang sangat hebat! Rencana tang sudah kita tunggu-tunggu. Demi membenarkan nama baik dunia sihir yang baik!”
Mendengar itu. Semua peserta di sana mengangguk hampir bersamaan.
Tap!
Di dunia yang lain. Ternyata muncul seorang penyihir. Dunia gelap yang ada sesuatu yang panjang bersinar biru itu.
Sinar itu mengalir sangat panjang. Lalu, sepertinya berakhir di sebuah taot dipenuhi sinar biru panjang hampir mirip dengan jumlah dan bentuk yang bermacam.
“Godwitcher!” Penyihir berambut pendek hitam dengan badan berisi itu menunduk di depan seseorang yang muncul dari kanannya.
Dia sepertinya sangat menghormati orang itu.
Tap!
Orang yan dia hormati pun. Tampak maju selangkah.
“Jadi ini sebabnya, kenapa terjadi sesuatu yang aneh dengan waktu di semua dunia paralel ya!” ucap orang itu. Tidak suaranya seperti wanita.
Spiral!
Akademi yang sudah kita ungkap setelah tiga akademi yang lainnya. Di sana terdapat beberapa klan. Apalagi Onpipan. Yang terkuat dan selaku mendapat juara di setiap perlombaan sihir.
Cling! Cling! Cling!
Tampak, beberapa kelinci menghilang di dalam lubang itu. Lalu, pelakunya adalah seseorang rambut pirang. Dia tampak memamerkan sihirnya itu. Cahaya kemerahan energinya tampak nyata sebelum menghilang setelah membentuk garis lurus penghubung dirinya dan objek tadi.
“Yaaaaa! Akhirnya kita temukan juara pertama. Di perlombaan sihir ilusi ini! Dialah. Raido Onpipan!” suatu suara keras mengumukannya.
Lalu, kini terlihat seorang Onpipan lain. Dia tampak sedang adu sihir dengan beberapa orang. Dia sepertinya tidak berpihak pada salah satu di sana.
“Hyaaaaa!”
Dia memutar tubuhnya. Lalu, dengan keluaran energi kuning memutar itu. Semua orang dibuatnya terkejut.
Groaaaaarg!
Tampak, anak tadi berubah jadi raksasa besar. Dia berlengan bentukannya seperti gorila emas. Bulunya emas. Punya tanduk di atas bibirnya melancip ke samping.
Groaaaarg!
“Ya, penonton. Pemenang lomba sihir tingkat lanjut kini dimenangkan oleh, Sang Onpipan!”
Serelah itu, bunyi riuh tepuk tangan pun terdengar di stadion besar itu. Sang Onpipan tampak kembali ke wujudnya lagi. Dia sama sekali tak senang. Kelelahan dan memasang wajah serius.
Tap!
Terlihat di arena itu. Banyak duel pedang terjadi disana.
Membaut bocah yang kini sedang mengikat tali sepatu itu. Terkekeh.
Trang! Trang! Trang!
Salah seorang yang berduel. Berhasil menang dengan mutlak. Pedang lawannya jatuh atau lenyap. Dua pun percaya diri di sana.
Anak tadi lalu berdiri. Warna rambut pirang. Itu sudah pasti. Onpipan. Klan terkaya dan terkuat di belahan dunia sihir dan dunia lainnya.
“Heeh!” Sayfull tampak terkekeh. Sembari menunggu giliran di perlombaan kejuaraan sihir ini. Di sekitar spiral. Sekolah mereka selalu mengadakan perlombaan sihir ini.
Dan fakta selalu berbicara.
“Onpipan selalu memenangkan duel apa pun!”
Terlihat seorang wanita. Dengan jubah hitam sihirnya itu. Tertutup tudung. Dia bersama orang lainnya di sana. Melihat semua stadion tournament di akademi spiral.
Namun, dari rambut dan rautnya. Sepertinya dia adalah Marylin. Marylin tampak kesal. Mengeratkan gigi-giginya. Melihat pemandangan di bawah sana.
Tap!
Sato tadi ternyata bertemu dengan salah seorang Onpipan. Dia ramah tapi .....
Sebelumnya.
“Sato, duduklah!” ujar anak berambut pirang tadi di kedai itu.
Sato masih heran pada Marylin. Kini kaget setelah mendengar itu. Dia menggaruk kepalanya. Minta maaf pada anak ini.
“Maaf!” maaf Sato.
Anak itu tampak menatap diam. Membuat Sato sangat takut. Sebab, dia adalah Onpipan.
Sato meneguk ludahnya. Lalu, tampak anak itu perlahan mengangkat tangannya itu seperti ......
Di pikiran Sato : “pedang sihir!” Terlihat Sayfull di sana. Dengan muka jahatnya itu. Dua lalu perlahan mengayunkan hal itu saat keduanya bertemu di WC putra sekolahnya tu.
Melihat tangan itu. Dia pun melihat ke arah lain. Ke bawah tepatnya karena takut terjadi hal itu.
Tap!
Sentuhan pelan di bahunya.. membuat Sato heran.. tidak seperti yang ...
“Duduklah! Aku ingin beebincang denganmu! Sato Kazumi!” ucap anak Onpipan itu. Tersenyum dengan mata menyipit. Di mata Sato tampak tulus. Namun, dia masih tak percaya.
Sato sembunyikan kekagetannya dengan deheman. Lau, duduk dengan elegan menutup matanya.
‘Jujur saja, aku masih takut dan trauma’ batin Sato mengingat kejadian buruk yang menimpanya. Hampir membuatnya mati untuk kedua kalinya.
“Sato Kazumi, perkenalkan! Aku adalah Shanee.” Anak itu secara mengejutkan mengukurkan tangannya ke arah Sato. Mengajaknya untuk ...
Sato menatap tangan itu. Lalu, dia pun perlahan membalasnya. Menautkan kedua tangan mereka. Bersalaman.
“Ba-bagaimana kau bisa mengenalku?” ujar Sato bingung. Orang itu pun tersenyum ramah mendengarnya.
“Aku adalah wakil ketua OSIS di smp barat nasional Sato! Aku tak percaya kau tak pernah melihatku. Karena kau kenal dengan ketu OSIS Marra Senia bukan?” jawab anak itu dengan senyum mata sipitnya.
Sato pun kaget. Dia tak menyangkanya. Dia memang beberapa kali ke ruangan Osis. Mengobrol dan menceritakan kegiatan dan apa yang terjadi pada saat tu. Penyerangan penyihir, rencana jahat mereka, kebangkitan monster, hingga iblis, Deus dan sesuatu yang hampir menghancurkan bulan.
Sato dikejutkan oleh orang itu lagi. Dia melamun radi.
“Maaf kak Shanee,” ujar Sato sembari menggaruk kepalanya. Dan ekspresinya bingung. Dia masih tak tahu apa yang akan dibicarakan wakil ketua Osis ini. Dia tak terlalu mengenalnya. Tapi sangat ramah dan baik padanya.
Shanee, anak itu tampak menegakkan badannya.
“Sato! Maaf saja ya! Tapi pada saat itu, aku pernah melihatmu terbang dengan pesawat menuju mars,” ujar Shanee.
Sato kaget.
“Apa?! Bagaimana bisa kakak tahu?” Sato mulia berkeringat.
‘Apa dia ini ....’ batin Sato waswas.
Tampak, Shanee meminum sesuatu yang dia pesan di kedai itu. Sato menunggunya antusias.
“Tidak, aku hanya iseng saja. Waktu itu aku coba mengecek posisi semua anak dari smp kita. Aku terkejut kau naik ke mars dengan pesawat yang cepat. Itu pasti bukan?” jawab Shanee.
Sato pun mengangguk.
“Yah, benar.”
Sato hanya menjawab begitu saja. Shanee tampak masih ramah pada Sato. Diam memanggil Sato untuk bertemu di kedai milik klan Onpipan.
Sato lalu menghela nafas. Minuman yang dipesankan kakak itu akhirnya datang. Sato tak meminumnya. Dia masih bingung di sana. Menunggu apa pembicaraan lagi. Dia tipe orang yang langsung menuju intinya. Bahkan dengan orang yang mengaku dekat dengannya.
Karena pribadi Sato itu dia tak mengenal orang yang mengaku mengenalnya. Mengaku, toh. Dia tertutup. Itu alasan logis di mana orang-orang pasti hanya kana mengaku mengenalnya saja.
Sementara kepribadian diri Sato adalah introvert, pendiam, tertutup dan penyendiri.
Nanun, Sato tak permasalahkan dirinya. Dia tetap teguh. Tidak masalah orang-orang abaikan dia. Dia akan melakukan apa yang harus dan bisa dia lakukan.
Sato pun meminum itu.
Glak!
Shanee menatapnya.
“Maaf Sato! Aku hanya ingin mengobrol dan ingin sedikit mengenalmu saja.”
Mendengar itu. Sato sedikit terkejut. Baru kali ini ada orang yang baik dan dia tahu diri. Dia tahu Sato tak gampang dimengerti.
Sifat detektif Sato yang membuatnya selalu waspada pada sekitarnya. Bahkan sebuah kebaikan.
Shanee menatap keluar di sana. Sato melihat kepergian seorang yang tadi dia lihat.
Cklak!
Brrrrak!
Setelah pintu tertutup. Tampak Shanee mengeluarkan Hape kuningnya. Sato menatap Hape itu.
‘Dia masih memakai Hape jadul’ batin Sato melihat kakak itu gunakan Hape lipat. Itu sangat kuno menurutnya.
Tap!
Tampak serelah sebuah bunyi dering telepon. Shanee tampak matikan itu. Sedikit membuat terkejut. Pasalnya dering itu berbunyi seperti sinyal darurat.
Bersambung.