Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Saintova



Episode 13


Saintova


Terlihat di akademi saintov sore hari itu. Salju yang selalu turun itu tak membuat semua orang disana nampak kedinginan. Kemungkinan karena adanya efek sihir yang membuat mereka tetap hangat dalam kondisi cuaca ekstrem ini.


Akademi saintov berada di sebuah kota yang bernama saintova. Sebuah kerajaan kecil berdiri disini. Akademi saintov cukup terkenal karena di kelola oleh satu family sihir paling besar yaitu bernama saintov sama seperti nama akademi mereka.


Walaupun begitu juga akademi ini termasuk dalam jajaran yang terkuat dan berhasil membuahkan banyak penyihir-penyihir terkenal dan profesional.


Terlihat di tanah gurun salju itu. Muncul sesuatu dari dalam tanah.


Kraaak.


"Groaaar."


Ternyata itu adalah yavin. Mahkluk itu kini terlihat berbeda dari yavin yang ada di noelle. Mereka terlihat memiliki bulu di leher menuju bahu dan seperempat punggung mereka. Sedikit tebal dibagian belakang. Tak hanya satu saja yang mucul. Kini terlihat muncul banyak ribuan dari dalam tanah itu.


Seorang warga melihatnya. Sepertinya dia hendak pergi kesuatu tempat. Dia berteriak ketakutan.


"Ada monster, ada monster!" teriaknya berlari mundur.


Hal itu di dengar oleh beberapa penyihir yang menjaga benteng itu.


"Ada apa itu," ucap satu dari dua penjaga. Mereka terlihat masih sangat muda.


Lalu orang tadi menyampaikan apa yang barusan dia saksikan di ujung sana.


"T-tuan, ada banyak sekali monster menyeramkan di sana," ucap orang bertopi yang sepertinya petani itu. Menunjuk ke arah yang dia maksud.


"Oh, begitu. Masuklah ke dalam benteng," ucap penjaga itu.


Orang itu masuk ke dalam benteng menuju kediamannya lagi di kota itu. Lalu dua orang itu mengeluarkan sebuah energi padat dari tangan mereka. Mengangguk kepada rekannya dan bertolak maju ke arah sana.


Setelah melihat milyaran yavin di depan mereka yang sangat mengerikan. Membuat dua anak itu mundur.


"Banyak sekali!" ucap salah satu darinya.


"Kita harus laporkan ini segera," ucap yang lain.


Kemudian saling mengangguk. Berlari ke tempat awal mereka. Lalu mengeluarkan bola cahaya biru disana, begitu besar dan menyilaukan. Dan dilayangkan kelangit.


Di dalam akademi. Masih sangat seperti biasanya. Mereka masih melakukan proses belajar mengajar layaknya akademi dan sekolah.


Lalu sebuah sinar terlihat dari atas sana. Membuat satu siswa dari ribuan lainnya itu melihatnya.


"A-apa itu, sebuah sinyal Darurat," ucap siswa yang pertama kali melihat sinar biru terang itu.


Siswa lain mendongak. Semua siswa kemudian berlarian dan melaporkan hal ini kepada guru.


Para guru ternyata sudah tahu dan menyuruh semua siswa tetap di akademi. Kesembilan guru itu menghilang dan tibalah di tempat dua pemuda yang tadi.


"Ampun ketua," ucap kedua orang itu sembari berlutut dihadapan orang-orang itu.


"Ada apa dengan kalian? Apa ada masalah yang besar?" tanya orang yang ditengah. Dia terlihat memiliki rambut panjang dan wajah kejam.


"Di-disana, ada segerombolan yavin. Dan buruknya mereka akan kesini dalam waktu kurang dari 30 menit," ucap penjaga itu melapor.


Kesembilan guru itu melihat dari lubang besar itu. Terlihat disana banyak sekali mahkluk yang disebut penjaga barusan.


"Ternyata benar laporan dari akademi noelle paduka," ucap satu guru kepada pria yang rambut panjang.


Pria itu mengangguk.


"Siapkan personil, kita akan melindungi kota kita dan akademi tercinta ini," ucapnya lantang.


"Ya, paduka!"


Setelah itu banyak penyihir dari saintov dan family itu. Mereka berkumpul di depan benteng yang mengelilingi kota saintova.


Sring!


Terlihat saat ini orang yang dipanggil paduka yang sepertinya berperan sebagai kepala sekolah itu menggunakan pedang birunya yang lumayan panjang. Dia acungkan ke arah musuh.


"Maju!" teriaknya.


Karena hal itu semua penyihir serentak maju ke arah para yavin itu.


"Groaaarg."


Semua yavin sama-sama maju. Melompat sangat tinggi melebihi apapun itu.


Peperangan yavin vs penyihir saintov dimulai. Terlihat hantaman dan kekuatan sihir saling adu dari atas sana sampai ke daratan.


Groaaarg.


Yavin terlihat lebih perkasa. Bahkan beberapa penyihir terluka dibuatnya. Namun beberapa yavin juga terlihat banyak yang mati. Mau itu terbakar, terbelah, terhisap dan hal lain sebagainya.


"Hyaaaah."


Seorang pemuda dengan tongkat sihirnya memukulkannya kepada kepala yavin. Sebuah cahaya keluar dan membuat yavin yang tengah akan menyerangnya menjauh. Terlihat yavin itu merintih kesakitan.


Hyaaah.


Anak itu maju dan berhasil memukulnya lagi. Kali ini daya hancurnya lebih kuat. Cahaya lambang sihir juga tercetak saat benturan terjadi.


Terlihat yavin itu mati. Lalu terlihat seorang lagi menempel dipunggungnya. Dia penyihir sepertinya sahabatnya. Mereka adu punggung dan berputar saat itu ada yavin yang mengepung. Bersamaan dengan ucapan mantra dari keduanya. Sebuah pancaran salju mereka ciptakan dari tangan masing-masing membuat banyak yavin membeku di tempat.


Lalu mereka mengucap bersamaan sambil berputar berlawanan arah masing-maaing.


"Sihir pembakrs"


Mereka secara mengejutkan bisa mengeluarkan kobaran api dari tangan mereka. Karena gaya putar itu mereka dengan mudah membakar yavin yang terbeku dengan sihir salju sebelumnya.


"Haah, haaah, haaa," engah keduanya. Terlihat rekan pemuda itu adalah seorang wanita mungkin seumurannya. Keduanya saling memandang dan mengacungkan jempol tanda kerja sama mereka yang sangat bagus.


Krassah.


Terlihat pria yang dihormati itu berhasil membunuh satu yavin dengan tusukan pedang birunya itu. Terlihat pedang itu sangat elegant tampilannya.


Lalu datang seseorang kepadanya.


"Sepertinya gelombang kedatangan yavin akan terjadi tiap malam," ucap orang berkumis itu kepada si paduka.


"Hmmm, tidak juga. Di saintova tak banyak sinar matahari yang menyinari. Buktinya mereka berani muncul saat sore hari," ucap guru rambut panjang itu.


"Lalu bagaimana kita mengurusi hal ini," ucap orang berkumis itu.


Masih di tempat pertempuran di daerah kota saintova. Para penyihir yang sepertinya melakukan serangan gabungan berupa dinding es yang tebal dan terlihat banyak duri es di depannya. Dinding itu dicipta dan digerakan oleh lima penyihir muda.


"Hyaaaah." Teriak kelimanya.


Groaaarg.


Membuat banyak sekali yavin mati tertusuk-tusuk duri-duri yang banyak sekali itu. Semua yavinpun mencoba menyerang dari belakang namun dia ditebas dan mati. Pelakunya adalah tak lain si guru berambut panjang dan satu guru lainnya.


"Lanjutkan penyerangan," ucap guru rambut panjang itu. Para pemuda itu mengangguk. Sepertinya mereka semua adalah siswa akademi saintov di bawah bimbingan orang rambut panjang.


"Paduka, apa yang harus kita lakukan?" ucap si berkumis lagi.


"Hmmm, mungkin kita memang terpaksa menjaga tanah ini," jawabnya si rambut panjang.


Si kumis kaget.


"Lalu bagaimana dengan para siswa? Mereka butuh belajar pak," ucap si kumis tak menerima.


"Mau bagaimana lagi. Lagipula ini termasuk dalam keadaan darurat," ucap si guru berwibawa besar itu.


Sembari dia menebas para yavin yang menganggu itu.


"Apa maksud bapak?" tanya lagi orang itu.


"Ini semua kemungkinan ada hubungannya dengan dia," jawab guru rambut panjang itu.


"Apakah mungkin?" tanya lagi si pria berkumis.


"Aku sudah mengatakannya, ini hanya kemungkinan saja," jawab si guru rambut panjang itu.


Terlihat si penyihir berkaca mata yang sepertinya dalang dari semua yavin yang menyerang. Tengah duduk di atas batu di dekat portal kemunculan itu. Tentunya banyak yavin aneka ukuran. Mereka semua terlihat jinak.


Terlihat orang itu berada di depan suatu wadah besar penuh cairan hijau kental dan sepertinya sangat panas. Terlihat dari asap yang banyak keluar dari wadah itu.


Orang itu tersenyum lalu mengeluarkan sihirnya. Terlihat dia memancarkan es dan api kedalam wadah itu. Penguapan terjadi. Lalu beberapa detik kemudian munculah yavin dengan penampilan berbeda. Dengan bulu-bulu putih di badan bagian atasnya.


Orang itu tersenyum. Melihat yavin baru ciptaannya itu.


"Heehh, dimanapun kalian berada. Di dalam bumi sekalipun tak akan bisa lolos dari para yavin milikku, hahaha," ucapnya sinis.


Yavin baru itu terlihat mengaum.


Lalu orang itu terlihat menghilang dengan mengeluarkan lingkaran sihir itu. Kini berada di suatu tempat yang diselimuti banyak salju dan es.


Dia tersenyum tenang. Lalu menebarkan banyak benih dengan sihirnya di daratan itu.


"Khukhukhu, saatnya penyerangan," ucapnya.


Diapun menghilang bersamaan banyak yavin dengan penampilan baru itu muncul dari tanah.


Di saintova. Masih terjadi pertempuran. Kini para penyihir terlihat kelelahan karena sebelumnya tak bersiap akan hal ini dan 80% yang ikut serta adalah para penyihir muda.


Hal itu disadari oleh sang paduka. Kepala sekolah sekaligus kepala klan saintov. Yang berambut panjang. Lalu dia terlihat mengayun-ayunkan pedangnya itu.


"Berserker!" ucapnya.


Setiap ayunan itu menghasilkan pancaran berbentuk naga biru memancar. Membunuh banyak yavin sisa malam itu.


Berakhir sudah pertempuran di saintova karena terlihat semua yavin itu mati. Sang kepala sekolah menyimpan kembali pedangnya. Menghilangkannya ke dalam dimensi lain dari bulatan sihir yang dia keluarkan itu.


"Ahhh, akhirnya."


Semua siswa yang masih hidup terlihat lega dan bersyukur.


"Serangan ini tak sampai sini saja!" teriak kepala sekolah itu.


Semua siswa yang rata-rata dari klan family saintov melihat kepala sekolah dengan hormat.


"Gelombang ini akan datang kapan saja dan dimana saja," lanjutnya lagi membuat semuanya khawatir.


"Maka dari itu persiapkan diri kalian lebih matang lagi. Karena kita akan melindungi apa yang sudah kita tempati sejak lama," ucap guru itu.


Semuanya bersorak. Bersemangat dalam kejadian berdarah itu. Sang kepala sekolah melihat langit malam. Bulan sudah ada di atasnya.


'Kuharap ada orang yang bisa menghentikan ini'  batinnya agak sedih.


Sato yang tertidur karena saking jauhnya lokasi. Dimana harus  menyebrangi lautan itu. Ternyata kejadian itu berada di pulau lain.


Sato tersentak dari tidurnya. Karena sayugo menyiramkan air ke wajahnya.


"Woy bangun," teriak sayugo.


Hal itu membuat sato marah.


"Dasar keterlaluan, tinggal bangunkan saja dengan normal bisa kan," teriak sato yang tidak terima itu.


"Habisnya disini sangat sepi, fernie oh maksudku putri megamu tidak ada disini entah kemana. Lalu ketua osis itu berada di tempat pribadinya karena kapal pesiar yang mewah dan besar ini adalah miliknya," ucap sayugo.


Bersambung.