
Episode 8
Terkurung
Sato melihat dia berada di suatu dimensi sihir yang sepertinya sengaja dibuatkan untuknya. Karena dimensi ini seperti menolak adanya energi sihir. Sato belum tahu pasti. Tapi semua orang dari keluarga kazumi bersama ayah, ibu dan mega pergi dan memberikan buku yang saat ini tergeletak. Tampaknya anak itu terlalu panik saat ini. Sato terlihat menengadah tangan di bawah wajahnya. Sorot matanya penuh kekagetan yang mendalam.
"I-ini akan sangat merepotkan," ucap bocah itu. Ekspresinya masih tidak berubah dari tadi. Terlihat sekali air mukanya sangat tidak tenang. Sato menghela nafas memejam matanya dengan sedikit mengangkat dagunya.
Dia mencoba relaks sebisa mungkin. Pemuda itu dengan susah payah mencoba mengendalikan nafas cepatnya dari tadi. Mengendakan jalannya udara seperti ketenangan layaknya air yang tak tersentuh. Damai layaknya bisa menghangatkan tubuh sambil meminum secangkir coklat panas.
Dua menit kemungkinan berlalu. Sato perlahan membuka matanya. Matanya sembab karena menahan gejolak emosi itu. Karena mungkin bagi anak ini kehilangan energi sihir karena sudah lama tidak pernah merasakannya. Bak daun kering yang patah sebelum waktunya. Tertiup angin lalu entah terbawa ke tempat antah brantah.
Sato bergolak ke bawah. Tangan dan tubuhnya bergetar. Ternyata daratan di tempat itu sama seperti tanah di dunia bumi. Sato melihat tangannya gemetar. Tak tanpa alasan ternyata dari tadi sato berusaha mengalirkan energi sihirnya itu mengakibatkan getaran-getaran karena efek samping dari tempat itu yang menolak adanya sihir.
Sato kemudian melihat ke sekeliling. Melihat apakah ada jalan keluar bagi dirinya ini. Tapi kemungkinan itu kecil karena tak ada lubang atau apapun yang merujuk pada bentuk dan gaya dari sebuah pintu keluar.
Sato menghela nafas tuk ribuan kalinya dalam hidupnya di dunia saat ini. Melihat merenung ke atas adalah kebiasaannya. Tangannya kemudian tergeser dan tanpa sadar tersentuh dengan buku besar dari ayahnya yang dermawan itu.
Sato melihat. Menongok bak ayam yang mendengar suara makanan terjatuh. Dia lalu mengambil buku itu sembari mengingat bagaimana benda besar itu berada di tempat ini bersama sato sendiri.
"Ya, benar juga. Ayah yang memberikan ini," ucap sato setelah berhasil mengingat masa lalunya.
Sato terlihat kembali tenang seperti sedia kala. Menaruh buku itu di pangkuan silang kakinya. Mengusap lembut buku itu. Terlihat judul yang tak aneh baginya.
Sejarah dunia sihir dan hal lainnya
Ditulis oleh : marco kazumi
Sato tersenyum remeh setelah mengetahui bahwa buku ini hasil dari tulis tangan ayahnya sendiri. Ya dialah orang yang tertera pada bagian awal buku itu. Namanya tertulis setelah penulisan judul dengan huruf kapital tebal dan lebar berada di bawah kanannya.
Sato kemudian berdalih. Mulai tuk membuka satu per satu helai kertas tipis nan kasar itu.
"Ayah bahkan mencetak ini dengan kualitas kertas yang buruk," ucap putra marco itu. Terlihat dari kata-katanya meremehkan ayahnya yang menurutnya lebih cocok sebagai pembuat onar itu.
Mau dimanapun dunianya ayahnya marco tetaplah sama. Walau polisi dia selalu melupakan sesuatu yang remeh. Seperti memakai piyama saat sedang bertugas, membuat rekan-rekannya memaksanya tuk kembali pulang. Hal paling biasa dia lakukan adalah lupa membawa bekal yang sudah dia siapkan sendiri. Bahkan jika dia nenyiapkannya pass disaat akan dia bawa di waktu itu juga.
Tapi menurut ibunya mugiwa kazumi. Hal yang marco lakukan merupakan sesuatu yang tidak bisa orang lain lakukan. Dan menurutnya marco adalah orang paling beruntung bisa melakukan itu semua secara alami.
Tapi bagi sato sendiri. Ayahnya ini sudah terlampau idiot melampaui orang paling idiot se-alam semesta. Sato juga waktu smp suka membangkang pada ayah dan ibunya. Lalu membentak ibunya mugiwa tuk tak menghiraukan dirinya yang sudah dewasa menurut sato sendiri.
Mugiwa sedih saat sato membentaknya. Marco mengelus pundak istrinya saat mugiwa bercerita tentang sato yang tiap hari selalu pulang malam dan tak jelas kapan dia kembali ke rumah. Sebagai orang tua keduanya begitu sangat khawatir dengan putra semata wayangnya itu.
Lalu keduanya pun makin lama memutuskan tuk mengawasi secara rinci dan intens kegiatan putranya itu. Namun karena kewaspadaan putranya itu. Keduanya memilih diam-diam saat melakukan hal itu kepada putranya.
Naas beribu-ribu naas. Kedua orang tuanya itu kemudian di temukan tak bernyawa oleh pihak yang berwenang di suatu hutan pedalaman pulau jawa. Mereka dengan mudah teridentifikasi karena mayatnya sama sekali tak memiliki bekas luka. Mayat kedua pasangan itupun masih menjadi misteri hingga saat sato sudah menginjak umur 20 tahun.
Setelah kematian beberapa kerabat dan kedua orang tua yang sangat dia sayang beribu-ribu sayangkan itu. Sato memilih tuk keluar dari perkumpulan penyihir. Dia walaupun sudah menjadi anggota penting di organisasi tetap memilih keluar saja. Lalu pemuda itu kini hidup sederhana tanpa menggunakan energi sihirnya. Dia pernah berkata
"Aku sato kazumi. Mulai sekarang tidak akan menjadi penyihir dan akan meninggalkan semua ajaran yang ku dapatkan selama berada di akademi sihir."
Karena sumpahnya itu. Sato kemudian pergi dan membiarkan harta peninggalan orang tuanya itu. Hidup di suatu negara yang amat idealis dan tidak pandang bulu. Negara maju yang sangat menomor satukan etos kerja yang diharuskan maksimal tiap harinya.
"Hhaaaah."
Sato yang membawa beberapa kertas di amplopnya itu berjalan gontai. Di tengah-tengah kerumunan orang sepertinya. Berpakaian begitu sangat rapi bagi pekerja biasa maupun kalangan atas di negara itu. Semua orang di sekitarnya hanya mengurusi apa yang akan mereka lakukan. Dan tentu saja tidak akan peduli pada kondisi sato yang saat ini perlu bantuan moril maupun tunai. Setelah 4 tahun hidup di negara asing. Satopun bertekad hidup damai disini sekaligus untuk memenjarakan dirinya sendiri. Sato berharap untuk menghukum kesalahannya dengan hidup begini-begini saja.
Kemudian pemuda itu tiba di rumahnya. Menumpuk amplop tadi di atas lemari pendingin. Pemuda itu berjalan sempoyongan karena saking keroncongan perut dan keringnya kerongkongan miliknya dari tadi petang.
Sehabis subuh sato berjalan keliling kota ini yang disebut sebagai rajanya uang dan sumber peningkatan hidup. Banyak tempat-tempat besar yang bisa di jumpai di kota ini. Tempat yang juga seharusnya bisa menghasilkan banyak uang per harinya dalam jumlah yang super wow itu.
Sato termenung di sore hari. Lalu tiba-tiba dapat pesan teks bahwa dia dibolehkan hadir dan bekerja paruh waktu.
Sato gembira dan hendak menuju seseorang yang sudah menjadi malaikat baginya itu. Sampailah saat ini sato ke muka orang berhati malaikat itu.
"K-kau siapa?" tanya sato.
Terlihat di depannya gadis berambut biru yang sangat asing itu. Sato kemudian berpikir memasuki lorong ingatannya menelesurinya setengah mati. Namun tak menemukan wajah gadis yang dia temui. Oh iya, mungkin bisa saja gadis ini pernah bertemu dengan sato namunlah sato lupa karena sesuatu. Pikir pemuda yang mengaku pintar itu.
"Apa aku pernah bertemu denganmu?" ujar sato penuh tanya.
Gadis berambut biru pendek itu menghela nafas.
"Sepertinya kau sudah lupa ingatan setelah kembali ke duniamu lagi ya kak," ucap gadis itu. Sato termenung dengan tiap butir kata-kata yang terucap darinya.
"Sebentar apa maksudnya?" tanya sato.
Lalu gadis itupun dengan sudi menceritakan sesuatu kepada sato.
Saat ini.
Sato membuka perlahan buku di tangannya itu. Membuka dan membaca tiap kata-kata yang ditulis oleh si marco ayah menyebalkan itu. Bagaimana tidak, tulisan itu tidaklah rapi dan selalu diakhiri dengan pertanyaan yang tidak jelas. Ini kan buku ilmu, kenapa banyak kuis yang tercantum di dalamnya. Batin sato.
Lalu pada bait-bait itu. Sato melihat dan mengetahui berbagai pengetahuan di dalamnya.
"Ternyata sejarahnya hampir sama, namun memang dunia sihirnya sangat luas. Itu karena seseorang yang mereka sebut "godwitcher" dianggap telah mencipta dunia sihir" ucap sato sembari komat-kamit dan tentunya sebal pada beberapa bait yang di tulis si marco ayahnya yang menyebalkan.
Lalu hingga sampailah pada suatu halaman yang dimana marco menulis sejarah keluarga kazumi yang ada di dunia ini.
"Jadi begitu, tak ada bedanya namun kenapa banyak klan atau sejenis keluarga di dunia sihir. Itu juga karena mereka menganggap "godklannad" sebagai pencipta mereka," ucap sato memahaminya.
Sato kemudian mulai berpikir serius.
"Jadi kenapa di dunia ini lain semuanya karena ulah godwitcher dan godklannad," ucap pemuda penyihir itu.
"Hmm, kulihat hanya ini yang membedakannya dengan duniaku. Yaitu keberadaan godwicher dan godklannad yang sangat besar disini," ucapnya lagi.
Kemudian di tutuplah bukunya itu. Melihat ke atas lagi untuk beberapa kalinya.
"Sialan, aku tak tahu kenapa aku dikurung," ucap sato.
Lalu sesuatu terbuka disana. Membuat sato menoleh ke arah yang bersuara itu.
"I-ibu?" ucap sato melihat wanita paruh baya yang sungguh dia kenal dan dipanggilnya dengan sebutan sayangnya yaitu ibu.
Lalu ibunya itu melihat buku tebal itu disamping sato.
"Sepertinya memang benar ya, buku itu tidak akan berguna," ucap ibu sato. Mugiwa kemudian mengeluarkan buku lain yang lebih tipis.
"Nak, bacalah ini. Kau akan tahu mengapa kau dikurung dan lupa ingatan," ucap ibunya. Lalu perlahan wujud ibunya menjadi tembus pandang. Membuat sato sangat khawatir.
"I-ibu," teriak sato. Namun sayang sekali. Wujud ibunya itu lenyap sangat cepat. Sato yang ingin mendekapnyapun tak sempat.
"S-sial, aku ditinggal lagi," ucap pemuda itu dipenuhi rasa frustasi. Namun setelah membaca judul buku itu. Perasaan pemuda yang aslinya berumur 20an mulai kembali tenang.
Bersambung.