
Episode 28
Brrrrrm!
Keempatnya masuk. Lalu di dalamnya sudah terduga. Sangat mewah sekali. Bahkan lebih mewah dari punya Marra sekali pun.
"Woaaaah!"
Ada beberapa tombol di sana. Sayugo memencetnya lalu muncul sesuatu di bilik atasnya. Hotdog dan makanan lain.
"Woooow!"
Kagumlah tiga remaja itu. Sementara Chintya menatapnya datar. Mungkin dia sudah pernah masuk ke mobil-mobil mewah. Jadi, sudah tak heran lagi.
Billy yang mengemudikan. Langsung tancap gas. Bunyi mobil lebih halus dari mobil-mobil pada umumnya.
"Suaranya tidak berisik," komentar remaja-remaja itu.
Sato juga bisa melihat beberapa pemandangan di kota ini. Ibukota Jerman. Berlin.
Sato dan yang lainnya terus lewati perjalanan dengan menikmati isi mobil itu. Beberapa kali memunculkan banyak teknologi canggih.
Membuat Sayugo terkagum-kagum.
"Aku ingin satu di rumahku!" serunya ingin mendapatkan mobil ini.
Mereka terus melaju.
Hingga malam tiba. Mereka berada di kota bagian lain seperti biasanya.
Memandang keluar. Pemandangan tak jauh beda dari kota-kota sebelum ini. Tampak, beberapa mobil mewah juga berseliweran namun tak ada yang se super mewah mobil yang mereka tumpangi.
Bulan sudah mulai muncul. Sato kemudian teringat bulan di dunia sihir. Lalu, mengingat keluarganya yang entah saat ini sedang apa.
Dunia sihir.
Mega tampak mengikuti pelajaran. Di kelasnya berbeda sekali dengan Sato. Banyak murid yang duduk berjejer rapi.
Sembari mendengar penjelasan guru sihir itu dengan seksama. Mega tampak duduk di paling pinggir dan tidak terlalu paling belakang.
Tengah memainkan alat tulis sihirnya di depan buku sihirnya juga. Dia tampak memikirkan sesuatu yang lain.
Yaitu, tetangganya yang kemarin. Mengaku sebagai nama yang familiar batin mega. Karena, dia adalah seorang topografi dunia sihir juga.
Sebagai orang-orang yang mendalami sejarah dan asal-usul. Dia pasti dipertemukan dengan fakta-fakta yang hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya.
Menjadi topografi sihir berbeda di dunia biasanya. Mega tampak masih memainkan pena sihirnya itu hingga beberapa saat kemudian.
Kelas sudah usai. Mega berkemas lalu kemudian keluar dari kelas luasnya itu.
Tap tap tap tap!
Beberapa murid berjalan riang bersama teman mereka. Namun, mega tak seperti itu.
Mega sepertinya tidak masalah kalau dia sendiri. Dia berjalan ke arah tempat yang dia tuju.
Tap tap tap tap tap!
Dia dengan membawa tongkat panjang sihirnya. Kemudian memasuki sebuah ruangan dengan pintu sederhana.
"Topografi eksinteris de Ploenativu"
Tertulis di depan ruangan ini. Muncul secara tiba-tiba saat mega masuk.
Masuk ke dalam. Mega kemudian hanya mendapati beberapa kursi yang acak berbaris.
Namun, dia tak mempermasalahkannya. Banyak rak di sekeliling kursi itu.
"Di sini kotor sekali," ucap mega.
Lalu, dia gerakan tangan ke udara. Setelah itu secara ajaib. Tongkat yang dia pegang berubah menjadi sapu pembersih lalu bergerak sesuai gerakan tangan anak itu.
Membersihkan tempat ini dari banyak hal. Seperti debu dan kotoran yang mengganggu. Beberapa detik kemudian. Ruangan menjadi bersih dan berkilauan.
Mega lalu duduk di kursi yang sudah tersusun rapi dari yang sebelumnya. Kemudian, sapu atau tongkat itu. Bergerak untuk mencungkil satu buku dengan keras.
Buku pun terlempar dan di tangkap oleh gadis penyihir muda tersebut. Lalu, anak itu membuka beberapa lembar. Hingga lembar itu saat di lihat hanya kekosongan saja.
Kemudian .....
Kembali ke kondisi Sato.
Brrrrrrrm!
Malam itu di Jerman. Tak banyak hal di tempat itu. Kemudian mobil mereka berhenti. Mungkin sudah sampai.
"Ya, semuanya. Kita sudah sampai! Masih malam jadi mahkluk yang bernama alben itu tak akan muncul," jelasnya.
Semuanya paham dan turun. mereka mungkin akan menginap di suatu hotel di bangunan tinggi samping mereka.
"Ayo kemari!" ajak Billy.
Namun, kini mereka malah berjalan ke suatu tempat di gang sempit itu. Namun, remaja tu tak bertanya padanya.
Setelah itu, terlihat ada tangga kayu yang hanya menampung satu orang saja.
"Ayo naik!"
Billy naik ke atas. Setelah dia berada di sebuah balkon kecil samping gedung besar itu. Dia melambai mengajak empat orang yang masih di bawah untuk naik.
Tap tap tap tap!
Satu per satu naik dan kini. Billy mengajak untuk masuk ke dalam pintu suatu ruangan uang mungkin sederhana dan hanya diketahuinya saja. Terlihat dia juga membawa kunci pintu itu juga.
Cklak!
"Ayo masuk! Kemarilah!" ucap Billy mengajak ramah.
Tap tap tap tap!
Keadaan tak seperti yang dibayangkan. Tampak mereka malah masuk ke dalam ruangan super mewah dan luas. Serta lantai catur berwarna putih hitam ini.
"Woah!"
Seru tiga remaja itu.
Chintya hanya menatap datar sembari dia mengamati.
"Ini adalah ruangan rahasia milikku, ayo kita makan malam dulu!" ajak Billy begitu ramah.
Seusai makan malam. Billy mengajak mereka ke kamar masing-masing.
Megamu satu kamar dengan Chintya. Karena megamu suka berbincang dengan wanita seperti Marra dan Chintya yang pintar.
Sato menatap kota itu dari balkon kamarnya. Tidak terlalu tinggi. Balkonnya itu seperti tertutupi oleh kaca hitam yang tidak bisa terlihat di baliknya dari luar sana.
Tersenyum puas akan pemandangan negara ini. Dia lalu balik untuk menuju kamarnya lagi.
Esok tiba.
Mereka berlima lalu duduk berkumpul di suatu ruangan mewah juga.
"Alben, adalah monster abadi selalu berseliweran di Jerman. Namun, monster itu tak membunuh siapa pun," jelas Chintya.
"Selain itu, misi kita adalah menemukan mahkluk ini. Karena kemungkinan ada keterkaitan mahkluk itu dengan beragam kejadian berbahaya di negara ini," lanjut Billy.
"Jadi kita akan menangkapnya karena terakhir kali dilaporkan berada di kota ini?" tanya Sato.
"Benar, tapi monster ini sama sekali masih belum diketahui secara pasti, hanya beberapa ciri-cirinya aja yang sudah kalian baca sebelumnya," jelas wanita itu.
"Jadi pesanku, hati-hati," lanjut Chintya.
Semuanya lalu mengangguk terhadapnya. Kini lima orang itu dibagi menjadi dua team. Untuk menyusuri kota ini dan mencari mahkluk bernama alben.
Sato bersama Billy. Sementara megamu, Sayugo dan Chintya dalam satu team yang berbeda.
Sato dan Billy dengan mobil hitam yang mini malisnya. Kini menyusuri kota itu saat masih esok hari.
Mereka meneliti dari dalam mobil. Mengamati sekitar yang masih saja ramai orang.
Brrrrm!
Kemudian Billy hentikan laju mobilnya. Dirinya dan Sato yang sudah berjas rapi dan memakai kacamata hitam itu.
Kini saling mengangguk dan berjalan untuk susuri tempat-tempat yang dicurigai.
Sebuah tempat di sisi gedung kosong. Mereka mulai menelusurinya. Hingga siang hari dan keadaan mulai ramai.
Keduanya lalu berjalan susuri jalanan. Lalu, sembari melihat peta yang berada di jam tangannya. Billy menunjuk suatu gedung yang nampaknya masih baru.
Tap tap tap tap!
Mereka menyebrang jalan di tempatnya. Dalam kumpulan orang-orang itu. Sato diminta tetap fokus. Dia pun mengangguk paham.
Sato fokus ke sekitarnya. Apabila menemukan hal janggal dan sesuatu dengan ciri-ciri yang mereka baca dalam laporan misi sebelumnya.
Tap tap tap tap tap!
Melewati jalan itu. Kini mereka sudah sampai untuk berada di halaman gedung yang masih kumuh. Beberapa pekerja mempersilahkan mereka karena Billy sudah diberi izin masuk atau dia mengaku sebagai orang yang berkepentingan ke sana.
Keduanya memasuki gedung yang masih baru di bangun. Sepertinya masih tahap perbaikan atau penyelesaian.
Tap tap tap tap!
Menaiki lantai gedung dengan waspada. Sepertinya lift belum bisa di pakai untuk saat ini.
"Aku akan mencarinya dari atas, lalu kau dari bawah," ucap Billy kemudian.
Sato mengangguk. Lalu, dia menuruni tangga itu. Menuju ke ruang parkir bawah gedung itu.
Tap tap tap tap.
Cklek!
Sato menyalakan lampu di sana. Keadaan terang langsung tercipta. Namun, tak ada pergerakan yang aneh.
Sato pun melanjutkan perjalanannya ke atas.
Tap tap tap tap!
Dia menaiki tangga dengan hati-hati dan penuh rasa waspada. Dia makin naik ke atas lalu menemukan area beberapa lantai yang masih basah.
Namun, itu tak terlalu mencurigakan. Dia melangkah di lantai kedua. Sepertinya tak ada yang mencurigakan lagi di tempat ini.
Kembali lagi, Sato menaiki tangga untuk ke tangga seterusnya.
Tap tap tap tap tap!
Ada beberapa pekerja di sana. Bekerja sesuatu. Sato disapa mereka dalam bahasa Jerman. Namun, untunglah dia sudah diajari tentang bahasa itu oleh Billy.
Tap tap tap tap!
Mereka terus melaju untuk mencari. Hingga mereka bertemu dan saling geleng karena tak ada apa pun yang bisa dijadikan bukti.
Akan tetapi, sebenarnya sepasang mata misterius dari balik lukisan. Bergerak mengikuti mereka di tempat pertemuan itu.
Billy dan Sato tak mengetahuinya.
"Tak ada apa pun paman," tutur Sato.
"Hmm, baiklah. Ayo kita cari di tempat lain," ujar paman Billy kepadanya.
Lalu, saat beberapa meter mereka menjauh. Suatu sosok hitam pun keluar dari dalam mata lukisan itu. Tiba-tiba sesuatu dilempar Billy ke arah lukisan itu.
Prang!
Lukisan itu hancur karenanya. Sato berbalik dan heran.
Billy dan Sato berlari ke arah lukisan berwajah Monalisa itu. Lalu, Billy dengan jam tangannya. Mencoba memeriksa dengan sinar Scan yang dikeluarkannya.
"Sepertinya tadi ada suatu roh yang singgah di benda ini," ucap Billy dengan nada menakutkan.
Membuat Sato terkejut juga.
"Jadi dari tadi. Roh itu mengikuti kita paman?" tanya Sato.
"Tidak. Dia sepertinya sudah lama di tempat ini. Lalu, dia di saat-saat terakhir tadi. Sempat memeriksa posisi kita," jelas Billy.
"Jadi begitu. Setelah ini kita akan mencarinya di tempat ini?" tanya Sato melanjutkan.
Billy menghela nafas kasar.
"Entahlah, tapi mahkluk ini punya kemampuan bersembunyi yang baik. Kekuatannya pasti sangat lemah dan biasanya monster seperti ini jarang mengacau. Jadi bisa saja mereka hanya monster lemah seperti itu," jawab Billy.
"Jadi, buang-buang waktu saja ya," gumam Sato.
Setelah itu, keduanya pergi dan Sato serta Billy disapa lagi dengan kata perpisahan oleh para pekerja gedung ini.
Bersambung.