
Episode 115
Saat itu. Sato melihat sosok yang muncul. Astorra tampak tidak terkejut dengan munculnya sosok itu ditengah-tengah pertarungan mereka.
Sosok itu nampak tegap dan sepertinya adalah seorang pria. Lalu, naga hitam itu terlihat marah dengan sosok itu.
Wuuush!
Groaaaak!
Sato dan magi kaget. Naga hitam itu melaju dan mencoba menubruk sosok itu.
Jduaaar!
Tak disangka kekuatan monster itu jauh lebih kuat dibanding dengan kekuatan Sato yang biasanya. Sato terkejut minta ampun.
Sato melihat naga miliknya kini tertahan oleh sosok itu pula. Ternyata sosok itu juga bisa menahan kekuatan itu.
'Dia itu ... penampilan berbeda. Tapi, kau tahu siapa yang dipanggil oleh Astorra' batin Sato menatap tajam ke arah sosok itu.
Naga hitam itu kini kembali pada punggung Sato. Membawa Sato terbang. Bersuara keras. Seakan mengajak Sato bekerja sama.
"Baiklah jika itu maumu!" Sato menurutinya. Sato melesat akan menerjang orang yang tadi.
Wuuush!
Dia pun mencoba memukul sekuat tenaga dibantu dengan kekuatan dari naga itu yang hendak remaja. Lalu ....
Blum!
Sosok itu masih bertahan. Bahkan tangan Sato terkunci di lengan orang itu.
Sato tak bisa berkata-kata. Karena orang itu menahan dirinya kuat. Orang itu punya wajah yang menyeramkan. Walau bentuknya seperti cahaya yang bersinar merah. Wajahnya tampak tegas. Lalu, matanya yang berwarna kuning seperti hewan buas. Seakan ingin menerkam apa pun di depannya. Membuat Sato tak pusing dengan hal itu.
"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu lagi," ucap sosok itu. Sato pun kaget.
Magi tersentak mendengarnya.
'Bagaimana orang dari masa lalu. Bisa seakan-akan sudah tahu tentang masa depan dari pertemuan awal dan akhir kita?' Batin Sato bingung.
Lalu, Astorra nampak mendekat.
"Ini reuni yang indah. Tapi, untukmu tak seindah yang dibayangkan. Sato, kau akan tamat di sini," ucap kejam Astorra padanya.
Sato nampak mencoba melepaskan dirinya sekuat tenaga. Naga di belakangnya nampak membantu menariknya ke belakang.
Brak!
Sato terjungkal ke belakang. Dia lepas dari dekap lengan dan tubuh orang tegap yang bentuknya bersinar sihir itu.
Sato pun mencoba bangkit. Magi menatap tajam.
"Ini gawat. Sihir milik Vampire itu memang tidak sempurna. Sama seperti sihir yang biasanya. Tapi, efeknya lebih banyak dari itu semua. Sihir ini bisa mempertahankan objek yang dipanggil jauh lebih lama durasinya dari sihir biasanya. Lalu, walau orang yang dipanggil tidak punya kesamaan persis dengan yang seharusnya. Itu sama sekali tidak berpengaruh sama sekali. Bahkan, kini ingatannya objek itu nampak juga menyatu dengan yang saat ini berada di dunia ini. Di waktu yang sama juga," ucap Magi jelas.
'Jadi begitu, sihir ini. Walau tak bisa membuat persamaan yang sama dengan orang yang seharusnya dipanggil dari masa lalu. Tapi, banyak hal yang membuat teknik ini jauh lebih baik daripada teknik sihir yang biasanya. Ini adalah sebuah realita dari pertemuan antara orang yang sama dari lintas waktu yang berbeda' batin Sato.
"Heh!"
Astorra mulai mengekeh senang.
"Sialan, Astorra berengsek. Apalagi kali ini ada orang yang membantunya. Dia benar-benar pengecut!" ucap Magi marah.
'Tapi, setidaknya objek itu dia gunakan hanya untuk memberi info pada orang yang dia panggil di lintas waktu saat ini. Kita tidak perlu--"
Sato membelalak. Nampak, orang yang berada di depan sana. Bisa melesat ke arahnya.
"Ini tidak mungkin!" teriak Sato melihat orang itu melesat. Lalu, orang itu juga meninjunya.
Sato terpental ke belakang sana.
Di masal lalu. Dia mengingat betul. Di mana objek yang digunakan oleh sihir ruang dan waktu. Orang yang dipanggil tak bisa bergerak untuk saling bersentuhan dengan pemanggilnya. Jadi, Sato sepertinya masih tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
Sato kembali bangkit.
"Sihir ini bukan hanya jauh lebih baik. Tapi juga .... jauh lebih kuat!" ucap Sato bersiap lagi.
Tempat lain.
Saat itu. Entah kenapa di akademi Valloshwa. Suasanya agak sedikit berbeda. Sayugo dan kawannya itu mencoba melihat keluar dari gerbang penjagaan di bagian ujung.
Terlihat, nampak sepi. Namun, dibalik itu. Sepertinya ada yang mengawasi keadaan di sana setiap saat.
"Sepertinya memang benar. Ada banyak yang mengawasi kita dari luar sana. Jika kita gegabah keluar. Kita mungkin akan kerepotan," ujar megamu.
"Suasana di luar juga agak mengerikan menurutku," timpal Sayugo tang merasakan hal mengerikan jika dia sampai keluar dari kota itu.
"Walau kita bersama dengan para penyihir sekali pun. Sepertinya hal itu juga tak cukup. Kita juga tahu, musuh punya senjata yang sangat merepotkan. Yaitu sebuah teknik pengendali manusia," ujar Chintya dengan menautkan jari berpikir di dagu. Dia nampaknya sudah mempertimbangkan dengan segala hal kemungkinan yang ada.
Kembali ke tempat Sato.
"Ini kembali sangat merepotkan," ucap Sato.
Namun, entah kenapa saat itu juga. Naga milik Sato kini bertumbuh lebuh besar. Magi tak terkejut melihat itu.
'Naga ini akan semakin berguna. Sebelum sihirku bisa aku gunakan dari dalam sini untuk membantu. Itu sudah cukup' batin Magi.
Sato mengangguk pada naga itu yang punya sayap yang lebih lebar dan luas. Sato terbang bersama dengan naga itu. Lalu, kini dia pun bisa mempunyai kekuatan kuat dengan ditandai energi gelap yang lapisi bagian tubuhnya.
Sato melihat dua sosok itu. Satu dari mereka tertawa.
"Lihat ini. Kadal itu bertumbuh bersamaan dengan sihirku ini. Ini semakin sama seperti waktu itu bukan? Sato Kazumi sang penyihir sampah yang sudah rela menumbalkan orang-orang tak bersalah hanya untuk kepentingan diri sendiri," ucap Astorra.
Sato nampak berdiri. Ekspresinya tak bisa diartikan.
"Kau bermuka besar setelah lepas dari genggamanku ini ya! Aku tahu kelemahanmu Astorra. Jadi, aku akan terus bisa menghadapimu walau bagaimanapun dirimu melawanku," ucap Sato dingin.
Aura dingin Sato menyebar di tempat itu.
"Cih, dasar mahkluk bodoh!"
Astorra menyerang.
Wuuush!
Dia mencoba membuat ledakan dengan sihirnya itu.
Blaaar!
Lalu, dari arah lainnya di bawah. Sosok lain itu menyerangnya. Dengan dua kepal tinjunya itu.
Hyaaa!
Blaaar!
Akan tetapi. Sato ditendang orang itu.
"Sialan!"
Sato terhempas keras ke tanah. Untunglah ada naga Syaumu yang menolongnya lagi. Memberikan energi untuk kembali menguatkan dirinya.
'Ini sakit. Aku lupa dia bisa menyerang dengan timing yang berubah' batin Sato.
Terlihat tadi, orang itu sengaja membuat serangan tipuan tangan. Lalu, menendang dengan kecepatan yang di luar batas yang lain.
Sato berdiri lagi. Astorra datang dari dalam asap di arah lainnya.
Sato kaget tapi dia berhasil melewatinya.
Groaaar!
Naga hitam Syaumu berbalik ke arahnya. Membuat sedikit gelombang. Akan tetapi Astorra bisa tahan itu dengan mudahnya.
Astorra maju ke arah keduanya lagi.
Sato menghindar dan kembali menyerang dari tempat tak terduga sembari dia merendahkan dirinya menggunakan teknik hindar yang sulit.
Brak!
Magi pun kagum dengan hal itu.
'Orang ini punya imajinasi bertarung yang baik' batin magi.
Brak!
Musuh lain menyerang dari arah lain
Sato melihatnya. Musuh mengepalkan tangannya lagi.
Magi melihatnya nampak waswas. Padahal dia tidak sedang bertarung secara langsung.
'Aku pikir cara bertarung dari manusia serakah ini sangat unik dan berbahaya. Apakah hal ini tidak apa jika dibiarkan?' batin magi.
Sato melihat dari sudut pandang yang lain. Menghindar ke arah sampingnya sendiri. Saat itu juga musuh ternyata sudah memajukan bagian tubuh lainnya.
Ternyata hal itu terlihat dari arah samping dengan jelas.
'Asal tau dari mana datangnya. Aku bisa mengantisipasinya’ batin Sato puas.
Dia tak terkena pukulan mematikan penuh trik dari orang panggilan Astorra itu.
Astorra menatap sebal Sato yang mendarat dari terbangnya itu. Dia lalu gunakan pedangnya itu. Membuat tebasan kuat pada Sato.
Saat itu Sato akan menahannya. Dibantu dengan naga hitamnya itu.
Akan tetapi Sato menarik dirinya dari sana. Karena orang atau musuh lain itu cepat sudah ada di hadapannya sendiri untuk meninjunya.
Wuuush!
"Sialan ini sangat cepat!" teriak Sato menahan tinju itu. Walau dia tidak terkena hal itu. Menyerempet dirinya.
Lalu, saat itu tebasan juga datang dari arah belakangnya. Sato meliriknya.
'Sialan. Ini akan berluka-luka' batin Sato gunakan kata absurd karena dia sudah terjepit kali ini.
Orang itu datang cepat sekali dan serangan itu sudah berada di depan mukanya itu.
Astorra tersenyum paus.
Blaaaam!
Tap!
Nampak, rekannya itu mendarat dari atas sana. Orang itu nampaknya terkena serangan namun, dia bertahan dengan baik. Tubuhnya yang bercahaya dan seperti terbuat dari material yang aneh. Dia mungkin tak akan mendapat luka yang sama seperti mahkluk dengan tubuh biasa.
Wuuush!
Asap nampak reda. Kini, Sato pun ....
Tempat lainnya.
Tampak, seseorang menutup suatu buku di sebuah tempat penuh dengan buku. Layaknya perpustakaan itu.
"Walaupun orang-orang dari dimensi lain itu berdatangan. Itu tak membuat perubahan apa pun. Di dimensi ini, ada suatu batas yang membuat orang-orang dari dimensi lain tak bisa bertahan lama di dunia ini," ucap orang itu nampak duduk. Kemudian bergegas berdiri.
Orang itu nampak berambut panjang dan bernama Mugo. Mugo tersenyum senang dan tenang.
"Setelah vampir kini selanjutnya adalah dia," ujar orang itu dengan suara yang seakan melayang di udara. Melihat suatu pintu yang layaknya tak jauh dari sana. Gerbang dan tampak sedikit terbuka. Hanya sedikit srkaki. Lalu, keluar suatu udara dengan asap dari dalam sana.
"Heeh!" Mugo tersenyum puas.
Tempat Sato lagi.
Astorra menatap Sato terkejut.
"Apa ini!"
Tampak, Sato kini masih utuh. Dia juga tampak terlapis dengan kekuatan yang berlapis dengan energi dari milik naga hitam itu yang terbang di atas sana.
"Heh!”
Magi tersenyum puas dan sombong.
"Akhirnya, suatu teknik bisa kau gunakan. Salah satu teknik penghancur dari milikku," ucap magi yang menopang tangannya di dalam ruangan sihir itu.
Sato mendengarnya.
"Jadi, apa tak perlu gunakan karma?" tanya Sato antusias.
"Karma kita lakukan jika orang itu sudah mulai terdesak. Dia saat ini kau tahu .... hanya iseng bermain layaknya kuat dan dia adalah boneka orang yang membuat permainan sangat panjang" jawab Magi sedikit jengkel.
Bersambung.