Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Misi darurat berakhir lalu ...



Episode 39


Esok hari. Masih di Albania.


Semua orang memuji keberhasilan Sato dkk. yang kemarin mengalahkan monster itu. Kini, dikabarkan beberapa pulau dan sebagian dari suatu pulau hilang.


Beberapa kota juga hilang dari negara itu. Namun, mereka tengah memperbaikinya dengan menggunakan puing-puing yang ada.


Masih belum ada kabar tentang musuh. Karena mereka saat ini masih menyelidiki puing-puing Berberus sago.


Di suatu tempat.


Sato tampak perlahan membuka matanya. Lalu, dia merasakan sesuatu membekapnya. Dia pun gerakan tangannya untuk lepaskan hal yang mengganggu pernafasannya itu.


"Sato, akhirnya kamu sadar!" seru seorang. Bersuara wanita. Namun, sepertinya Sato tak familiar dengan itu.


Tap tap tap tap!


Kini, datang Sayugo nampaknya.


"Hey, Sato bangunlah."


Sato yang mendengar seruan Sayugo pun terbangun. Dia mengerjap matanya. Lalu, dia merasakan dua wanita tengah memeluknya.


Sato terkejut. Terbelalak.


"Siapa kalian?!" seru Sato kaget.


Tampak, dua wanita itu sebenarnya orang kuat yang ikut bersama dia waktu itu. Namun, Sato sepertinya masih belum mengenalinya.


Dua wanita paruh baya yang masih seksi itu. Bernama Manda dan Sherly.


Manda dengan rambut hitamnya. Tampak kini malah mendekatkan wajahnya ke tangan Sato. Lalu dia membuka mulutnya dan ....


"Sudahlah kalian berdua!" seru seseorang. Yakni, Chintya.


Keduanya lalu berdiri karena terkejut.


"Apa ada sesuatu?" tanya Sherly, si rambut pink seperti Chintya.


"Ya, kalian berdua harus lakukan sesuatu di titik lokasi kejadian," jawab Chintya.


Kedua orang itu lalu berlalu. Keduanya tampak mengedip-kedipkan mata ke arah Sato sebelum mereka benar-benar hilang dari ruangan itu.


Sato pun lega. Lalu, dia merasakan suatu cairan di bajunya. Sayugo pun sedikit terkikik.


"Kedua wanita itu, nampaknya sudah menandaimu Sato! Kau harus hati-hati kali ini! Jangan sembarangan berkenalan dengan cewek lain! Hahahaha!" seru Sayugo dengan tawanya.


"Tidak! Aku tidak mau!" teriak Sato tak terima.


Lalu, datang Fernie juga. Nampak masih menguap dan membawa guling bonekanya itu.


"Apa Sato sudah sadar?" tanya Fernie yang dalam kesadaran dirinya.


Sato lalu menoleh.


"Fernie, kau baik-bak saja?" sapa Sato.


"Wooooah!"


Tiga sahabat itu pun. Pagi ini tampak merasakan suasana meriah dan suka hati.


Di sebuah tempat di atas bangunan.


Tampak ada Bernard di sana memandang semua orang di bawah sana.


Dia lalu seperti memikirkan sesuatu.


Lalu, tap tap tap tap!


Datang seseorang. Itu adalah salah satu wanita yang bersama Sato kemarin. Yaitu manda.


Wanita dengan rambut hitam panjang bergelombang itu. Tampak berjalan elegan ke arah Bernard yang tidak menoleh padanya.


"Hai, Bernard," sapa manda.


Bernard pun kini memandangnya. Dia, lalu mengangguk dan balik menyapanya.


"Ada apa kau menemuiku?" tanya Bernard.


"Aku baru saja memeriksanya tadi!" jawab wanita itu dengan menikmati pemandangan dan suasana di sekitarnya.


Bernard tampak penasaran.


"Lalu, apa kau menemukan sesuatu?" tanya Bernard antusias.


Manda tampak menghela nafas. Satu matanya yang tidak tertutupi. Sepertinya menandakan sesuatu seperti penyesalan.


"Lokasi itu, sebenarnya tempat sesuatu yang dibilang Sisvo sebagai titik di mana semua energi kebencian manusia berkumpul kau ingat?!"


"Ya. Lalu?" tanya Bernard tak sabar.


Lalu datang beberapa orang lain. Dialah haik, Yam dan dua orang laki-laki yang merupakan sama-sama orang kuat di organisasi.


"Oh, kalian ternyata ada di sini," ucap Yam. Si pria berkacamata biru.


"Oh, kalian," seru Bernard.


Mereka lalu berkumpul.


Satu orang berambut cokelat sama seperti Bernard. Namun, wajahnya sudah sedikit lebih tua. Dia menatap manda.


"Apa ada kabar lain?" tanyanya.


"Kita sudah tahu, bahwa kelompok itu sepertinya akhir-akhir ini bergerak di dunia ini," lanjut manda. Sepertinya ganti topik.


Bernard tampak sudah duduk. Beberapa orang masih berdiri antusias.


Menikmati pemandangan. Sementara Bernard duduk menghadap ke arah semuanya.


"Semua orang itu sangat kuat. Aku dan Stargeast. Semua hal itu tak berguna," tutur Bernard.


Semuanya terkejut.


"Jadi, kalian menang dengan sengit ya?" ujar laki-laki berambut hitam itu.


"Begitulah," sahut Bernard lagi.


"Setelah ini, kita harus cari banyak informasi. Lalu, sepertinya kita butuh awasi lokasi-lokasi tertentu," ucap Bernard.


"Aku sudah melakukannya," ucap si rambut cokelat yang tua itu.


"Aku sudah menyebarkan genm di mana pun itu juga!" ucapnya sembari melihat ke arah angin yang datang dari arah semua penduduk di bawah sana.


Sato kini sudah bisa bergerak. Beberapa hari, dia masih di rawat.


"Kita akan melakukan misi lagi!" ucap Chintya.


"Apa?! Bahkan Sato baru saja pulih," ucap Sayugo.


"Tidak apa-apa," ujar Sato memastikannya.


"Baiklah, misi kita masih di Albania. Yaitu membunuh monster-monster sisa yang kemarin," jelas Chintya.


"Jadi, monster itu memang masih ada ya?" tanya Fernie yang sudah dalam kesadaran megamu.


"Ya, mereka ada di beberapa titik. Semuanya di laporkan oleh beberapa warga sipil. Jadi, kita harus bergegas sebelum mahkluk itu membunuh semua warga penduduk," jawab Chintya.


Semuanya lalu kembali untuk misi. Billy nampaknya sudah menjadi bagian team mereka. Namun, dia saat ini hannya menjadi seperti asisten mereka saja.


Billy sepertinya gagal dalam suatu misi di saat Sato belum pulih. Entah misi seperti apa. Namun, dia mengalami banyak hal hingga tak bisa bertugas di lapangan lagi.


Lalu, kini jam tangan canggih itu bahkan diberikan pada Sato sebagai hadiah. Ternyata jam itu bisa berubah berdasarkan sifat pemiliknya.


Billy yang rajin, dia menjadi jam yang penuh aneka ragam di dalamnya.


Lalu, Sato ....


Brrrrrrm!


Mereka, tampak sudah menuju mobil mewah Billy.


'Ayo, lakukan misi dan jadi lebih kuat' batin Sato. Serelah melihat kemampuan Bernard dan beberapa orang kuat. Dia pun jadi termotivasi saat ini.


'Aku akan tidur sepanjang hari serelah misi ini' batin Fernie. Dia mungkin masih mengantuk.


'Aku akan menjadi presiden organisasi ini!' Batin satu orang lain.


Tap tap tap tap!


Mereka berjalan berkelompok. Mata Megamu menari-nari.


Wuuush wuuush wuuush.


Nampak, sekelebat di sore hari itu. Bergerak ke sana-kemari di hutan yang agak rimbun itu. Beberapa bangunan kecil dan dekorasi-dekorasi yang ikut dibangun di dalam hutan.


"Mereka tiba!"


Mendengar seruan megamu. Semua orang mengangguk.


Sring!


Sato dan Sayugo mengeluarkan pedang mereka dari sarungnya.


Cklak!


Cklak!


"Grey!"


Chintya memasang dua gelangnya.


Megamu sudah dari tadi mengeluarkan pedangnya. Dia bersiap mengikuti gerakan sekelebat itu. Setelah itu bunyi lolongan serigala pun terdengar.


Megamu membelakan mata bersiap.


"Mereka datang!"


Pertarungan terjadi. Sembilan manusia serigala itu nampak meloncat dan mencoba mencabik-cabik Sato dkk.


Hyaaaah!


Tampak, Sayugo menangkis kekuatan monster itu dengan baik. Dengan pedangnya yang bersinar dalam gelap.


Sato, yang sudah lihai saat ini. Sama seperti megamu. Dia sudah bisa memukul mundur satu manusia serigala itu.


Duagh! Duagh! Duagh!


Dengan energi hijau yang teralir dari gelang-gelangnya. Chintya dengan mudah membunuh dua mahkluk yang mengeroyoknya sekaligus.


Braaak!


Darah mereka berwarna hijau muda. Baunya tidak anyir. Namun, lebih busuk dari sesuatu yang busuk sekali pun.


Megamu salto ke belakang menghindari terjangan musuhnya.


Nampak, musuhnya lalu melolong bak serigala sebenarnya.


Lalu, menyerang lagi si megamu yang mendarat itu.


Trang!


Megamu lalu menangkisnya dengan mudah. Lalu, gunakan kakinya untuk dorong dada musuh itu.


Manusia serigala itu tampak kesakitan. Sepertinya tendangan itu lukai fatal tubuh manusia serigala itu.


Terlihat, dadanya terkoyak habis dan banyak mengalirkan darah.


Megamu laku menyambut sesuatu yang datang. Tak lain, musuh manusia serigala yang tengah mengepungnya itu.


Memandang mereka datar. Nampak, megamu masih berdiri dan berjalan untuk bertarung melawan serigala itu.


Setelah itu, terlihat manusia serigala dan megamu saling serang.


Hyaaah! Hyaaah! Hyaaaah!


Dengan tiga gerakan. Megamu bisa mematahkan tangan monster itu.


Kraaaak!


Monster itu pun kalah begitu saja.


Sepertinya megamu sangat kuat saat ini.


Sato kini sudah bisa menghantamkan pedangnya yang kin sudah dua kali lebih besar.


"Sato sudah level dua."


Dalam level dua ini. Sato bisa memperbesar pedang bercahaya birunya itu.


Dalam bentuk pedang besarnya. Sato tampak menyerang tiga monster yang berdatangan itu.


Jduaaagh!


Mereka terpental jauh sekali hingga tak terlihat karena malam semakin dekat.


"Haaah haaah haaaah."


Sato menghela nafasnya. Lalu, berdalih dari lelahnya. Kemudian, maju ke depan.


Mata merah monster itu tampak ada di sekitarnya. Sato pun tampak menerjangnya.


Guaaaa!


Monster itu terkena tebasan Sato. Tampak, pohon di dekatnya juga ikut tertebang.


Sato mungkin belum bisa mengendalikannya.


"Hyaaaaaa!"


Dia terus mengejar dua orang lain yang kabur. Sato melompat ke atas.


Mengejar mereka berdua yang lari hingga ke arah rawa-rawa.


Ada satu buaya di sana yang terkejut. Beberapa hewan lain seperti ular piton besar juga sama terkejutnya.


Buaya itu menenggelamkan dirinya. Ular itu tampak masuk cepat ke suatu gorong-gorong di samping rawa itu.


"Hyaaaaa!"


Sato menebas air itu. Karena, si monster itu menenggelamkan diri. Sepertinya bermaksud menghindari tebasan Sato.


"Sial!"


Lini, hening tercipta sempurna. Hanya  ada gemercik air dari kaki Sato yang sangat pelan.


'Ada banyak hewan di sekitarku, aku tak boleh salah sasaran lagi' batin Sato hati-hati.


Dia berjalan perlahan sekali.


Tap tap tap tap.


Sato kini berdiri menapak di bagian pinggir rawa. Dia, lalu mencoba merasakan kehadiran musuhnya itu. Beberapa buaya muncul dan akan menghampirinya.


Namun, mereka tiba-tiba hilang. Sepertinya melihat sesuatu.


Wuuush!


Tampak, ternyata satu manusia serigala mencoba menyerang Sato dari arah belakangnya.


Namun, Sato mendeteksinya dari suara percikan air dangkal itu.


Dia berbalik.


"Hyaaaa!"


"Groaaaarg!"


Keduanya saling maju ke arah satu sama lain.


Sato mencoba mengarahkan ujung pedangnya itu. Lalu ...


Krassssh!


Tampak, pedang Sato yang lebih panjang dan besar. Bisa menjangkau terlebih dahulu ke tubuh monster tu.


Tubuh monster itu terkoyak dan menelan habis ujung pedang Sato.


Lalu, Sato mencabutnya. Membiarkan mayat itu tergelumpung di sungai itu.


Beberapa buaya menjauhi danau karena darah hijau milik monster itu masuk ke dalam air.


Sepertinya mereka tak suka pada darah monster serigala. Sato sudah mengalhkan satu. Kini, tinggal satu lagi yang masih misterius.


Bersambung.