
Episode 27
Pada malam itu juga.
Di Jerman tepatnya salah satu negara bagian itu.
Wiu wiu wiu!
Bunyi banyak mobil polisi di depan sebuah tempat belajar itu. Banyak dari polisi itu hanya menunggu sesuatu dari sana.
Lalu kemudian, terlihat seseorang yang melangkah dari arah bangunan itu.
Tap tap tap tap!
Langkahnya berat. Lalu disertai bunyi lain dari langkah kakinya itu yakni, sreeek sreeek sreeek!
Setelah lampu sorot diarahkan. Tampak, orang itu tidak lain merupakan Chintya si gadis berambut pink soft itu.
Menatap ke arah lampu sorot. Setelah itu, tampak dia seperti menyeret sesuatu juga. Menyebabkan langkahnya disertainya.
Srek srek srek!
Esok tiba.
Misi di sekolah itu terselesaikan oleh Chintya. Mereka melaporkan adanya mahkluk terkutuk yang terhimpun dari roh-toh pendendam.
Setelah itu, beberapa hari kemudian. Chintya mendapat laporan bahwa ada beberapa mahkluk misterius yang diyakini dalang dari semua ini.
Sato dan kedua remaja lainnya. Kini tengah melakukan perjalanan lagi ke negara bagian Jerman lainnya. Menggunakan mobil berwarna putih yang sangat elegan bagi mereka.
Brrrrrrm!
Mobil berjalan tenang di jalan seperti pegunungan itu. Tepatnya mereka menuju ke daerah alam yakni, pegunungan alpen.
Brrrrrrrm.
Chintya mengemudikan mobil silver keluarga ini. Dia nampaknya menyatakan untuk piknik di tempat itu. Pegunungan yang sungguh indah di pagi menjelang siang Jerman.
Brrrrrm!
Sato melihat ke jendelanya lagi. Sayugo memotret apa pun dan siapa pun yang lewat. Seperti beberapa warga yang berlalu-lalang. Para petani kebun dan lain-lain.
Fernie masih menjadi megamu. Dia tampak memandang datar ke kaca depan mobil.
Brrrrrm!
Ckiiit!
Mobil berhenti di sebuah halaman rumah. Saat Sato melihatnya. Tampak, bangunan besar menaunginya. Bangunan itu seperti tempat peribadahan umat Kristen.
Namun, sepertinya itu adalah hotel. Itu menurut Sayugo.
Tap tap tap!
Keempat orang guru dan murid. Sudah turun dan membawa koper dan berbagai hal yang mereka bawa dari kota.
"Ayo masuk!" perintah guru cantik sexy ini.
Lalu, Sato pun mengikutinya.
Tap tap tap tap tap!
Mereka berjalan ke arah bangunan yang Sato lihat tadi. Bangunan gereja yang bisa dihuni.
Mereka berjalan menapaki tangga. Lalu, tampak Sato menyadari tempat ini ternyata masih kumuh dan dipenuhi berbagai sampah alami seperti dedaunan dan lumut itu.
Lalu, keanehan lagi terasa. Tiga remaja itu merasakan dingin di siang itu. Namun, kemungkinan itu fenomena biasa di benua dingin Eropa.
Tap tap tap tap!
Mereka lalu sudah sampai di tempat tinggi ini. Sato berdiri menunggu guru cantiknya membuka pintu gereja.
Dia sedikit dingin. Memakai pakaian lengan panjang tak membuatnya bisa menahan angin itu.
Wuuush!
Angin itu tampak lewat setelah sesuatu dari depan sana terbuka paksa oleh Chintya.
"Aku lupa bagaimana memasukkan kunci ke dalam lubangnya, hahahaha!" ucap Chintya sembari riang tertawa.
Membuat ketiga muridnya. Seperti itu....
Tap tap tap tap!
Mereka masuk ke dalam gereja itu. Namun, belum menangkap apa pun di dalam sana.
"Jadi?" tanya megamu.
"Ya, ada sebuah laporan lagi. Bahwa nanti malam ada kemungkinan para monster akan mengunjungi tempat ini, sebelum mereka menuju alben," jawab perempuan dewasa.
Lalu, ketiga muridnya mengangguk. Dengan kata lain. Tugas mereka semua adalah. Menjaga tempat itu dari sergapan para monster yang akan menuju ke sesuatu yang disebut alben.
Sore terasa. Namun, Chintya tak membuat mereka bisa bersantai ria begitu saja. Tentu saja, Sato dan yang lainnya. Kini harus repot mengurus banyak hal dari tugas dan banyak soal-soal.
Namun, satu pelajaran penting pun. Akhirnya mereka dapat.
"Monster dikelompokkan dengan dua jenis yakni terlihat(Sible) dan tak terlihat(visible)."
"Lalu, bagaimana jika ada yang setengah-setengah(terlihat dan tidak terlihat)?"
"Beberapa mahkluk punya kemampuan menghilangkan diri. Namun, mereka aslinya ada di salah satu tipe yang dimaksudkan tadi."
"Oh, begitu."
"Jadi, mahkluk seperti itu tak akan bisa menjadi dua tipe itu ya?"
"Yaps."
Setelah itu Sayugo dan yang lainnya. Kembali mengerjakan soal-soal ulangan untuk hari itu.
Tampak, saat ini. Burung lewat melintasi persawahan lalu menuju hutan. Kemudian melewati gereja penginapan Sato.
Setelah itu, ber mil-mil jauhnya dari balik pegunungan alpen. Terlihat banyak sosok misterius yang terlihat saat ini tengah berjalan begitu lambat.
Seperti kawanan zombie, namun tubuh mereka tidak terlalu jelas pada siang ini. Nampak, buram dan sangat tidak jelas.
Kembali ke kegiatan belajar itu.
Sato masih berpikir untuk menjawab soal tertulis. Sembari itu, dia mencatat beberapa poin yang sepertinya penting.
Hingga, Chintya menggebrak mejanya.
Braaak!
"Jangan coba-coba menandai sesuatu ya! Orang pintar bisa dengan mudah mengingat segala hal tanpa harus menandainya. Paham?" tegurnya dengan gebrakan meja.
Sato yang ciut mengangguk pasrah.
Sayugo nampak sedikit bingung. Namun kemudian dia seperti menghitung keempat jarinya. Sepertinya dia memilih secara beruntung pada sebuah soal pilihan ganda itu.
Braaak!
Lagi-lagi, gurunya yang terlalu kejam itu. Menggebrak meja.
"Hey, botak! Jangan mengerjakan pilihan ganda itu dengan cara bodohmu itu. Orang pintar akan beruntung tanpa harus melakukan permainan keberuntungan!" teriak Chintya.
Sayugo mengangguk dan kemudian tiba-tiba dia bisa menyelesaikan semua soal pilihan ganda tadi.
Sementara megamu. Nampak mengerjakan soal dengan tenang. Mungkin karena pengetahuannya sangat luas. Dia bisa mengerjakan soal yang dibuat acak dan membingungkan itu.
Tak tak tak tak!
Lalu, tampak Chintya menulis di atas kertas jawaban para muridnya. Begitu lama dia memeriksa semuanya.
Sato masih tegang menunggu. Sayugo menatap intens guru itu. Megamu menatapnya datar.
Saat megamu kemudian melihat jendela yang ada di atas sana. Tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi kekagetan.
Bersamaan dengan itu, Chintya juga merasakan apa yang dirasakan oleh sang putri juga. Ekspresi mereka sama.
Sayugo agak bingung. Namun, dia mengira itu karena jawaban Sato yang terlalu ngawur. Padahal, dia tadi mengisi semau jawaban lebih ngawur tanpa membaca soal.
Sato hanya diam menatap. Menunggu. Detik dan menit terus berjalan. Lalu tiba-tiba secara bersamaan.
Megamu dan Chintya berdiri!
Sato dan Sayugo kaget.
"Ada apa?" tanya keduanya kompak.
"Ada yang akan datang 5 jam lagi!"
"Mereka semau punya aura kuat! Biasanya itu adalah monster-monster yang memakan aura," ucap megamu.
"Apa?!" seru Sato dan Sayugo.
Lalu, terlihat Chintya berpikir keras. Semua muridnya hanya menunggu melihat gurunya.
"Terlebih lagi, jumlah mereka juga sama seperti yang diperkirakan," gumam Chintya kemudian. Terdengar oleh semua orang.
"Mau tak mau, kita harus menghadangnya bukan?" tanya Sato antusias. Dia tak sabar menghadapi musuh dari raut mukanya.
Sayugo mengangguk mendukungnya.
Chintya berpikir sejenak. Megamu melihatnya juga. Menunggu apa keputusan gurunya.
"Kita khusus ditugaskan untuk menjaga daerah alpen! Sepertinya kita memang harus berangkat malam ini juga!"
Malam harinya.
Mereka akan berangkat. Namun, ada tamu mendatangi kediaman itu.
Mengetuk secara perlahan.
Tok tok tok tok!
Sato dan yang lainnya. Tampak menatap pintu itu.
"Buka sana Sayugo!" perintah gurunya itu.
Sayugo dengan perasaan campur aduk. Maju ke arah pintu di dekat mereka.
Tap tap tap tap!
Bunyi langkah milik Sayugo menggema karena ruangan itu sepi dan luas. Tak banyak suara yang bisa mereka dengar.
Tap tap tap tap!
Lalu, Sayugo perlahan mencoba membuka menarik pintu itu.
Krieeet!
Terlihat ada dua orang berpakaian hitam. Salah satunya menghadap ke arah lain.
"Hallo pak," sapa Sayugo heran.
"Apa kalian juga memiliki misi di tempat ini juga?" tanya orang yang menghadap ke arahnya.
Sayugo menelan ludahnya sebelum menjawab.
"Ya, kemungkinan."
Tap tap tap tap!
Sekumpulan dari rekannya maju. Chintya menengok dari dalam sana.
"Oh, kalian juga datang ke sini?" ujar Chintya kemudian.
Satu orang perwakilan itu mengangguk cepat.
"Kami akan mencoba menahan para monster yang dilaporkan akan datang beberapa jam lagi, misi kita juga mencegah mereka untuk melewati pegunungan," ucap orang itu.
"Jadi begitu," ucap Chintya yang tengah membenarkan sepatu yang baru saja dia pakai itu.
Setelah itu. Sato dan yang lainnya mulai berangkat bersama dua orang lain yang didatangkan oleh organisasi.
Mereka mungkin akan membantu Sato dalam segala hal di depan sana.
Sato dan yang lainnya masuk ke dalam mobil gunung yang ada di bagasi tempat itu. Di bagian belakangnya.
Sementara dua orang itu. Masing-masing akan mengendarai motor gunung.
Brrrrrm!
Mereka semua lalu melaju ke arah tempat itu. Dengan kendaraan seperti ini. Mereka akan lewati jalan-jalan yang berisiko dan sulit dilewati dengan kendaraan biasa.
Brrrrrm!
Keadaan gelap di bagian lain. Lampu kendaraan hanya menerangi bagian depan. Matahari sudah lama tenggelam saat pukul 5 sore lewat tadi.
Brrrrrm!
Mereka terus melaju dengan mengendarai kendaraan itu. Mobil dan motor itu berjalan dengan kecepatan sedang.
Chintya tampak kendalikan dengan santai. Sato duduk di kursi penumpang depan. Sementara, Sayugo dan megamu atau Fernie.
Tampak, duduk di kursi bagian belakang. Mereka melaju dengan kecepatan sedang. Mereka sepertinya tak terlalu terburu-buru. Apalagi medannya adalah gunung yang sedikit sulit dilewati.
Brrrrrm!
Tidak mengalami kebuntuan. Mereka terus melaju. Sabuk pengaman sudah mereka pasang saat baru naik tadi.
Brrrrm!
Jalannya bermacam-macam. Namun, mereka masih bisa melewatinya. Tidak ada yang menyangkanya.
Brrrrrm!
Terus berjalan sambil beberapa kali melewati jalan-jalan sulit. Hutan terlihat dari lampu sorot mobil. Mereka sepertinya berada di dalam kumpulan pohon.
Bunyi-bunyi burung dari atas sana. Terdengar jelas. Bahkan ada sepintas yang mendekati mobil gunung Sato.
Sato melihat dan merasakan. Bahwa burung-burung itu terbang ke arah sebaliknya dari tempat mereka pergi ini.
Brrrrrrm!
Beberapa jalan sulit ditempuh. Namun, tetap saja bisa dilewati. Karena, mereka menggunakan kendaraan alam yang dibuat untuk melewatinya dengan mudah.
Brrrrrrrrm!
Kini, mereka lewati jalan penuh batu kerikil dan menurun. Sepertinya mereka sudah akan sampai ke sisi gunung lainnya.
Namun, mereka mendapati kendala di mana. Ada batu besar dan beberapa pohon-pohon raksasa yang tumbang di tempat itu.
Bersambung.