Next Vampire and Werewolf

Next Vampire and Werewolf
Masa lalu! Terluka!



Episode 116


Sato menatap  ke arah musuh-musuhnya yang tercengang.


 


"Jadi kekuatannya itu sedikit berbeda dan lemah dari yang aslinya ya," ucap sosok selain Astorra si Vampire.


 


"Ya!  Ada kemungkinan setelah kita dikalahkannya. Mugo dan Sephij melakukan sesuatu padanya hingga  dia  masih berada di dimensi ini," jelas Astorra.


 


"Tujuan orang-orang  itu membangkitkan kita bukan?" tanya orang itu yang akan maju pun bersiap menyerang.


 


"Ya! Kemungkinan begitu,"  jawab ragu Astorra.


 


"Kenapa kauu ragu-ragu begitu?"  tanya orang itu  membalikkan tangannya ke arah Astorra.


 


"Karena kau sendiri juga masih  curiga.  Entah kenapa mereka menguarkan beberapa kekuatan ada di tangan mereka. Sehingga  pintu neraka  tidak terbuka saat ini,"  jawab Astorra dengan dugaannya itu.


 


"Ya! Aku kau selalu melihat pintu itu kadang terbuka. Saat itu juga. Aku mengerti orang itu tak membukanya penuh. Apa mereka takut dengan perempuan gila itu?"  tanya orang itu lagi dan lagi.


 


Dengan wajah marah dan penuh dendam. Astorra nampak menatap tajam pada Sato.


 


"Tidak! Sama sekali tidak!  Aku dengar juga bahkan orang bernama Mugo itu bisa mengatasi pergerakannya yang bebas setiap saat,"  jawab Astorra.


 


"Ini bukan saatnya menahan hal itu kan?" tanya orang itu melihat Sato akan melakukan sesuatu.


 


Sato tampak membuat sinar bundar di tangannya yang mengepal. Berwarna biru.


 


"Apa sihir ini kuat?" tanya Sato.


 


"Ya! Au sendiri akan membantu dengan begini kekuatannya juga meningkat drastis. Aku juga akan buat musuh tak punya banyak ruang dan waktu untuk bergerak leluasa," balas magi yang kini suaranya bisa didengar. Suara magi terdengar dari dalam sinar biru di tangannya.


 


Sato mengangguk.


 


Lalu, Astorra  nampak maju.


 


"Hahahaha!" Dia tertawa  menanggapi kekuatan Sato itu.


 


'Sihir ledakan  level dimensi. Tak salah lagi. Magi ternyata ada  di sekitar sini dan membantu anak ini!"  teriak senang Astorra. Memang kelihatan aneh.


 


Sosok lain tampak bersiap juga akan menahan hal itu.


 


Kini, bola sihir itu memipih. Membentuk suatu yang berdengung karena berputar.  Ada dua sisi tajam yang membuat bunyi dengung saat bergerak.


 


"Apa ini?!"


 


Sato heran mengangkat benda itu ke atas.


 


"Lempar saja!" teriak Magi dari dalam energi biru itu  energi yang wajahnya bersinar bisa. Kini, sinarnya itu seperti digelombangi dengan warna lain yang lebih gelap maupun terang. Itu terlihat sangat menawan.


 


Sato menatap dan mengangguk sempurna. Dia akan lakukan itu.


 


"Aku akan melemparnya ke  arah ...."


 


Sato mulai maju. Astorra dan rekannya saking berpamitan. Mengautkan diri dengan bersiaga yang sepertinya tak tergoyahkan.


 


Hyaaa!


 


Sato maju. Berbeda yang ada  di telapak tangannya itu. Nampak berdengung sang putaran itu.


 


"Reik ken! Daisuha!"


 


Wuuuuush!


 


Saat Sato melempar itu ke hadapannya. Benda itu nampak berputar. Lalu, nampak benda itu melambat. Akan tetapi ....


 


"Apa?!"


 


Sato merasakan keringat yang jatuh dari tubuhnya itu. Melambat lalu, saat melihat ke depan sana.  Benda berdegung itu kini  membagi-bagi dirinya menjadi banyak namun berukuran sedang.


 


Lalu, kedua mahkluk itu juga sepertinya bergerak amat lambat. Sementara  Sato masih bisa bergerak sama seperti biasanya.


 


"Apa ini?"


 


Di saat suatu dimensi membuat sebuah jalan atau kontak penghubung untuk ke dimensi lain atau ke tempat di luar dimensi. Maka, fenomena yang disebut perpindahan gerak akan terjadi. Hal itu hanya berselang beberapa detik saja.  Efeknya hanya membuat gerakan dari sudut pandang tertentu menjadi tidak normal. Biasanya, sudut pandang itu dilihat dari jumlah  energi antar dimensi yang ada.


 


Sephij bergumam tentang dimensi di ruangan itu. Sepertinya asyik  membaca di tempat penuh buku.


 


Ada beberapa obor dengan warna api yang menyala terang. Di dekat gerbang itu.  Semua warna api dalam obor itu berubah menjadi gelap seiring dekat dengan gerbang. Bukan, ada satu obor yang menyala tepat di atas  gerbang besar itu. Berwarna hitam dan sedikit keputihan menyala.


 


Sato melihat semua itu dengan  kaget sekali.


 


"Semua ini apa?" gumam dirinya. Bahkan naga di belakangnya ikut melambat. Terlihat setlah lewat berapa  detik.


 


Jduaaaar!


 


Satu hal di sana kembali menjadi sedia kala. Sato nampak menatap dan masih tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Menepuk pipinya memastikan diri.


 


"Ini semua bukan efek sihir dari itu kan?"  tanya Sato.


 


Tampak, terlihat dua orang itu yang terkena telak serangan dari teknik penghancur sekaligus ledakan dari Sato X  Magi.


 


"Sial!" kesal Astorra yang ambisius  itu.


 


"Walau sedikit tapi aku merasakannya," ucap orang yang di sampingnya itu. Dia pun menoleh padanya.


 


 


"Orang yang mengeluarkan sihir itu tidak bisa menggunakan sihir. Tapi, aku merasakan kekuatan besar dalam dirinya," jawab orang itu.


 


Astorra menanggapi setuju.


 


"Ya, anak itu sepertinya dihukum dengan sihir karma oleh Mugo. Selain dia juga kehilangan semua kemampuan sihirnya," jawab Astorra.


 


Namun, orang  itu  menggeleng padanya.


 


"Untuk itu aku bisa  melihatnya dengan jelas. Siapa yang  tidak tahu aura  dan sihir sekelas itu. Namun, yang kumaksud adalah kekuatannya itu," ucap orang itu.


 


"Apa?!"


 


Sato masih heran.


 


"Apa kau puas?" tanya  magi.


 


Sato pun mengangguk mantap.


 


"Itu serangan yang kuat. Mereka mungkin akan mengantisipasinya sekarang. Tapi, itu cukup membuat sedikit ide mengalir dalam benakku ini," sahut Sato.


 


"Oh baguslah! Aku akan menikmati semuanya,"  timpal Magi tersenyum puas.


 


‘Mulai dari sini. Mereka akan bertarung dengan sengit. Sebelum kekuatanku semuanya pulih. Di saat  itu. Aku akan membuat suatu kekuatan untuk Astorra.  Yakni, aku akan memberikan kekuatan pedang suci pada bilah ini setelah karma sudah dilakukan.  Maka dari itu,  Astorra yang tidak peka terhadap sekitarnya. Pasti akan terperangkap jebakan ini' batin Magi puas.


 


Lalu, Sato tampak diserang tiba-tiba dari samping oleh Astorra.


 


Namun, dengan  bantuan energi dan naga hitam itu. Sato tenang menghindar.  Akan tetapi dari atas sana sudah ada yang memandangnya. Seakan dia susah menunggu Sato di sana. Padahal dia terlihat masih dii bawah beberapa minus detik sebelum ini.


 


Itu berarti orang itu sangat cepat.


 


'Tapi, untuk melakukannya. Kita harus buat orang itu menghilang. Si legenda sihir yang kuat selain Vampire. Dia adalah wujud tidak sempurna yang dipanggil oleh Astorra. Sang Werewolf.'


 


Flasback.


 


Hujan  turun dan agak deras sekali.


 


Pov  Magi.


 


Di  depanku. Nampak ada seorang bocah yang pendek dariku. Dia mengajakku ke sini. Di hujan-hujan seperti ini. Tempat ini juga rawan dengan monster. Untung saja,  dia dan aku terbilang mampu menggunakan sihir di usia yang masih terlalu muda untuk memasuki akademi sihir.


 


Dialah adikku.  Mugo.  Aku dan Mugo sudah bersaudara dari lama. Ayahku  dan ayah Mugo berteman dekat. Jadi, kami juga sering  bertemu dan main. Apalagi, kami juga sudah tinggal dii satu tempat yang sama.


 


Orang tua  kami sangat sibuk dengan urusan pribadi mereka di tempat belajar sihir orang dewasa. Maka dari itu, kami selalu bersama untuk bersenang-senang.


 


Mugo bukanlah anak polos yang kau kira. Dia anak yang di luar nalar. Tapi, memang begitu. Aku pun yang tadinya tak berniat menjadi penyihir seperti ibu dan ayahku. Kini, harus mengejar kekuatan untuk menyejajarkan diri dengan Mugo.


 


Anak itu memang spesial. Dia adalah tubuh pengganti dari orang terkuat di dunia sihir. Tapi,  itu semua tak membuat Mugo menjadi sombong dan sok keren dari depan penggemarnya.


 


Dia membuatku mengerti ada karakter yang sama dengan apa yang sudah kupikirkan selama ini. Aku pun memutuskan untuk menjadi kakaknya. Kakak angkatnya, untuk menjaganya. Karena di masa depan nanti, dia pasti akan banyak  melakukan sesuatu  yang berbahaya.


 


Terlihat dari saat  ini. Sat ini, aku dan  Mugo mendatangi tempat terlarang yang sangat terlarang dan berbahaya. Tempat itu ada di paling ujung dunia ini.


 


Salah stau dari 11 tempat mitos dan 3 Hutam kematian yang disembunyikan. Aku tahu dari adikku ini.


 


Di mana  di sana hanya ada monster-monster liar dan ganas serta berkekuatan sihir tinggi. Semuanya akan menyerang kita pun yang empuk menjadi sasaran.


 


"Groaaarrgh!"


 


Aku mendengar banyak teriakan dari monster-monster. Akan tetapi, semuanya bukan hal yang membahayakan bagi kita.


 


Terlihat,  Mugo  dengan sihirnya itu. Membunuh semua monster di sana yang berpuluh-puluh kali lebih kuat. Dia melakukannya dengan wajah yang datar.


 


Aku baru menyadarinya saat ini. Ternyata Mugo punya sifat yang  lain di saat dia menghancurkan semua monster-monster sihir  di hutan ini.


 


Lalu,  aku dan Mugo terus memasuki tempat itu. Yang makin gelap tiap waktunya. Aku dan Mugo melihat ada beberapa pasang mata dan sekelebat bayangan dan  hal-hal aneh lain di dalamnya hutan yang kita tapaki ini.


 


Namun, saat Mugo melakukan sesuatu dengan sihirnya. Semua itu tampak senyap dan mematung begitu saja.  Aku tak mengerti. Apakah Mugo bisa menggunakan sihir yang amat kuat, itu sangat luar biasa. Aku juga harus mempunyai sihir yang selevel dengan itu, agar aku tetap sejajar dengannya.


 


"Mugo!  Apa yang kau pikirkan?!  Ini tidak seru. Semua monsternya malah jadi patung loh," tanyaku dengan  nada menggelikan. Hal itu membuatku terlihat seperti kakak yang perhatian dengan cara tersendiri.


 


Mugo  juga menyadari hal itu.  Mugo menatapku. Dia lalu menggeleng lemah.


 


"Aku tidak melakukan apa pun pada mereka. Jangankan menyerang, bergerak juga tidak. Tapi sepetinya MEREKA MULAI SADAR SIAPA AKU SEBENARNYA!" jawab Mugo tak  menatap diriku.


 


Aku tak bisa lihat wajahnya saat mengatakan hal yang  masih tak aku pahami.


 


'Otaknya itu korselet atau bagaimana? Dia jelas-jelas mengatakan sihir tadi' batinku tidak  memercayainya. Walau Mugo ini terlihat jujur dan baik. Saat aku sudah kenal dirinya. Anak ini punya sedikit rahasia yang semuanya tidak boleh diungkap jika orang dewasa tahu.


 


Namun, anak itu tahu.  Hal ini semua tak boleh  ada yang tahu.


 


"Ini tempatnya!"


 


Saat itu. Mugo menuju sebuah gua. Namun, yang aku perhatikan bukan guanya. Melainkan sesuatu yang besar yang berada melingkupi dinding-dinding itu.


 


"I-itu mahkluk Reiga! Monster sihir berwujud batu yang punya dna dari Vampire!" teriakku saat melihat. Sosok ular besar berwarna putih dan tubuh dengan sisik yang tidak biasa. Sisik batu yang keras.


 


Haaaarg!


 


Bersambung.