
Episode 86
Sato terkejut.
“Tidak mungkin,” ucapnya seraya melesat cepat ke depan sana. Dia ada di suatu jalan kota yang sepi kali ini.
Dai tak sendirian. Jauh di sana. Ada Fernie dan Sayugo.
“Lihatlah siapa itu!” seru Fernie.
Sayugo melihat tak percaya.
“Ayo kita bantu Sato,” ucap Sayugo.
Tap tap tap tap tap tap!
Sayugo pun sampai bersama Fernie. Tampak, Sato di sana menemukan orang yang tengah berbaring. Sato menatapnya tak percaya.
“Di-dia ini kan ....”
Sayfull Onpipan.
Sayfull tampak melenguh bangun dari tidurnya atau pingsannya. Dia entah kenapa tertidur. Sebelumnya terjadi hal-hal yang aneh baginya.
Sayfull merasakan dirinya agak kaku. Dai merasakan sesuatu menempel padanya. Dia pun menyentuhnya.
Perban dan plester.
Menempel dan mengikat di tubuhnya itu. Lalu, dia pun berusaha bangkit.
Seseorang yang di sekitarnya pun mengatakan sesuatu.
“Kau sadar ya, baguslah.”
“Syukurlah.”
“Hmmmm.”
Sayfull menengok ke arah mereka. Tampak ada tiga orang yang salah satunya dia pernah temui. Namun, Sayfull sepertinya sudah lupa.
“A-aku ada di mana?” ujar Sayfull kaget.
Ketiganya tampak membuat ekspresi tanda tanya.
“Kami juga tak tahu,” jawab Fernie. Mewakili semuanya.
Sato lalu mengingat kejadian saat tadi pulang sekokah. Ada sinar biru di atas. Lalu, tubuh Sayfull jatuh dari dalamnya.
Dia berpikir ‘mungkin itu adalah gerbang sihir’
Sayfull menatap Sato yang meelamun. Fernie pun menepuk pundak Sato. Sato tersedak pikirannya sendiri. Terbatuk di sana.
“Uhuk!”
“Kenapa sampai batuk begitu? Tamparanku kan tamparan wanita,” ujar Fernie tak terima.
‘Tapi itu tamparan kuda betina, bukanlah manusia’ batin orang lain yakni Sayugo.
“Uhuk!”
Sayugo lalu membantu Sato bangkit dari batuknya.
Lalu Sayfull pun ....
“Ahahaha. Ahahahaha!”
Hal itu membuat tiga serangkai itu melihatnya.
Tampak Sayfull di sana tertawa ruang. Deengab sedikit terbatuk juga.
‘Kesurupan apa bocah ini?’ Batin Sayugo heran. Semuanya heran. Saling pandang di sana.
Lalu mereka pun di sana sampai sore tiba. Sayfull dirawat di sana. Dia adalah Onpipan. Namun, anehnya dia tak diberi sanksi dari rumah sakit itu.
Namun, sepertinya Sato tak bisa mengurusi hal rumit macam itu. Sato pun pulang. Dia tampak masih berpikir pada bocah itu.
“Besok kita coba jenguk dia, yang kutahu Onpipan kan itu semuanya jahat,” ujar Fernie.
“Siapa tahu kan? Karena kejadian kemarin-kemarin itu loooh, mereka pun jadi khilaf,” sembur Sayugo.
“Entahlah,” hela Sato.
Tap tap tap tap tap tap!
Sato berjalan tenang ke rumahnya. Sore hari dan keluarganya masih belum pulang. Masih belum waktunya mereka pulang.
Sato duduk malas setelah pulang sekolah itu. Baru sampai dari rumah sakit itu.
Esok harinya.
Sato dan yang lainnya. Meenggunakan pakaian santai sehari-hari. Kembali ke ruang perawatan milik Sayfull. Dia pun bersama dengan dua sahabatnya itu.
Tap tap tap tap tap tap tap!
Sampailah ketiganya. Tampak Sayfull sudah bisa duduk disana. Dia pun melambai ramah. Membuat ketiganya membalas dengan rasa curiga.
Insting mereka bekerja dengan baik. Sato dkk. pun menghampirinya. Duduk di sana. Bahkan sampai bercanda gurau.
Sato menatapnya. Dia masih tak tahu kenapa seorang Onpipan ini tak ‘seperti’ itu lagi. Dia pun memandang jendela sore hari itu.
“Maaf merepotkan kalian,” ujar Sayfull dengan ekspresi yang jauh lebih berbeda dari yang biasanya adalah dingin dan sombong.
Lalu, Sato dan yang lainnya pun mengangguk mengerti. Tampak, mereka pun pulang lagi. Sato dan yang lainnya maush heran dengan sikap milik Sayfull itu.
Sato tak menghiraukannya. Dia pun beberapa kali mengunjunginya. Hingga sampai beberapa hari. Sayfull pun bisa pulih.
Sato dan temannya ikut bahagia atas itu.
“Akhirnya kau pulih juga,” ujar Sayugo di sana.
Mengangguk. Sayfull mengacungkan jempol. Lalu mereka pun tertawa di sana. Suasana di sana sangat membahagiakan.
Sato pun kembali deengab urusannya sendiri. Beberapa hari kemudian. Sayfull nampaknya tak punya rumah. Sato menawari menginap di rumahnya. Mumpung tak ada anggota keluarganya.
Sayfull menerimanya dengan senang hati. Dia berterima kasih pada Sato deengab sopan dan ramah.
Selqma di rumahnya. Tak ada hal-hal aneh pada diri sang tamu itu. Sato pun sudah terbiasa di sana. Mereka memasak makanan bersama dan belajar bersama. Sayfull ternyata bisa masuk lagi ke sekolahnya.
Kini, dia berusaha keras dengan jujur. Tak seperti dulu lagi. Fernie menghimbau agar Sato tetap hati-hati. Megamu juga begitu. Megamu merasakan hal aneh pada anak ini. Namun, megamu tak bisa melihatnya dengan jelas.
Mungkin itu karena efek ilusi yang saat ini masih ada. Yang kita tahu. Perkumpulan penghancur Onpipan gunakan kekuatan ilusi kuat dari sihir angin selatan dan barat mereka.
Untuk memutuskan tujuan mereka. Sato pun paham dan masih bisa mengawasinya dengan baik.
Di suatu tempat.
Marylin tampak bertugas lagi. Dia memakai tudung hiitam lagi.
“Sepertinya ada kekacauan kemarin ya?” ujar Marylin sembari memasang tudungnya itu.
Ada orang di depannya yang sudah memakai pakaian hitam dan wajahnya tertutupi kain hitam.
“Ya, seorang tahanan mengacau. Dia mencuri sesuatu. Beberapa orang membiarkannya. Tapi ketua menginginkan dia ditangkap. Karena bagaimanapun diia adalah Onpipan,” jawab orang itu.
“Sialan, merepotkan sekali,” desah Marylin di sana.
Sato tampak akan tidur di malam keduanya satu rumah dengan Onpipan itu. Sato berbaring tanpa pikirkan hal lain pun.
Lalu, dia mulai terlelap. Namun, entah kenapa dia merasakan sesuatu.
Dia pun bangkit. Dia lalu mengecek kamera pengawas yang dia pasang secara sembunyi itu. Lalu, Sato melihat di kamera yang mengawasi bagian dapur itu.
Ada Sayfull yang kini tengah makan. Itu membuat sefikit peluh dari Sato keluar. Namun bukan perasaan khawatir. Lebih ke lega saja.
Lalu, dia pun mulai matikan itu. Akan tetapi beberapa saat kemudian.
Sato melihat gelagat yang aneh dari Sayfull.
‘Ada apa dengannya’ batinnya.
Tampak Sayfull seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Dia bahkan sampai melukai dirinya itu. Memukul-mukul badannya.
Hal itu membuat Sato khawatir. Dia pun langsung ke arah dapur itu. Berlari sekuat tenaga.
Tap tap tap tap tap.
Lalu, Sato melihat anak itu kini sudah tak sadarkan diri di lantai.
Dia pun membawanya ke kamarnya itu.
Esoknya. Sqto menceritakan hal itu kepada megamu.
Megamu sepertinya paham.
“Anak itu sepertinya disembunyikan oleh suatu sihir. Jika dia kejang-kejang dan halusinasi, itu mungkin karena efek samping dari sihir yang menyembunyikan keberadaan dan hawanya itu.”
Sato pun tahu. Sepertinya dugaan Megamu mungkin benar.
Sayugo tak percaya mendengar ini.
Lalu, mereka pun putuskan hal lain. Di mana mereka akan menyerahkan Sayfull pada Chintya. Chintya masih bekerja dengan organisasi yang kini sudah berganti dari sebelumnya.
“Ya, Hallo,” ucap Chintya yang kini berada di ruangan bioskop.
“Yah, baiklah. Krauk krauk krauk,” setuju Chintya dengan memakan kripiknya itu.
“Satu lagi, jangan pernah menelepon di dalam bioskop, itu sangat mengganggu orang lain kak!”
Chintya pun menyadari bahwa sudah banyak orang yang melotot ke arahnya. Akhirnya fia matikan teleponnya dengan senyum tidak enaknya terhadap orang-orang itu.
Wuuush!
Chintya terbang kembali ke negaranya. Menuju ke tempat Sato dkk.
Lalu, Chintya datang ke sebuah tempat. Yakni, rumah Sato.
Chintya lalu melihat ada orang lain. Sepertinya berambut pirang. Dia langsung tahu itu adalah klan Onpipan yang sudah dipenjara itu.
“Ada apa ini?” tanya Chintya tak sabar.
“Maka dari itu, kami butuh bantuanmu kak,” jawab Marra yang juga ada di sana.
Marra pun menceritakan semua kronologinya. Lalu dugaan megamu itu.
“Anak ini sepertinya tersembunyi dan tak terlihat dari semua penyihir,” ujar megamu.
Chintya mengangguk.
“Bahkan saat kami lapor polisi, orang-orang itu seakan menjadi bisu dan tuli. Lalu mengabaikan laporan kita begitu saja,” timpal Sayugo.
“Jadi begitu,” ucap Chintya.
Kemudian seepertinya Sayfull akan dibawa olehnya. Namun, kemudian Sayfull kejang-kejang. Membuat khawatir semuanya.
“Uaaaaa!”
Dia berteriak jeras.
“Kenapa dia?” tanya Chintya heran. Megamu menerawang dengan mata sihirnya itu.
“Sepertinya kita tak boleh membawanya,” ucap Megamu.
“Kenapa?” tanya Chintya kesal.
“Sihir itu melarangnya,” jawab megamu.
Kini, terpaksanya. Tampak Onpipan masih di sana. Rumah Sato. Chintya dan yang lainnya menginap beberapa hari. Mengawasi keadaan Onpipan dan segala keanehannya itu.
“Cara termudah adalah membuat sihir itu kenyap,” ucap Chintya dalam perbincangan itu.
Megamu menggeleng.
“Tudak semudah itu. Kita tak tahu penyihir lain. Harus ada penyihir yang mengetahui sihir untuk menghilangkan sihir yang terpasang pada anak ini,” balas megamu.
“Pasti ada cara lainnya kan?” tanya Chintya.
Megamu menggeleng. Membuat Chintya mendesah lelah.
Sato berpikir juga.
Lalu dia mengingat penyihir yang menjual alat-alat sihir. Dia pun dapat ide untuk memanggilnya.
Dia meneleponnya karena dia juga meminta nomornya. Orang itu sangat sibuk jadi hanya bisa malam hari ke sana. Sato pun menunggunya di ruang tamu.
Sayugo mandi, Fernie di dalam sana mengawasi dan menjaga keadaan Sayfull yang masih tak sadarkan diri.
Lalu bunyi bell pun terdengar. Dengan senang Sato menuju ke depan sana.
Membuka pintu dan melihat ada orang yang sudah menyambutnya.
Sato pun tersenyum kepadanya.
“Ada apa?” tanya orang itu.
“Anu, bisa masuk ke dalam sebentar?” tanya Sato menawarkan.
Orang itu pun mengangguk. Menganggap Sato itu sangat ramah.
Kemudian Sato mengiringnya ke dalam kamar. Dia melihat ruangan milik keluarganya. Menatapnya dengan sedikit menikmatinya.
Lalu tepatlah dia di depan Onpipann itu.
“Ada apa?” tanya orang itu. Seakan tak bisa menyadarinya.
‘Benar juga sialan. Sihir itu tak bisa terlihat pada penyihir bukan?’ Batin Sato. Sato pun mencoba menjelaskan orang itu yang kebingungan di sana.
Megamu menjawabnya.
“Sihir adronala. Adronala keempat. Untuk menyembunyikan sesuatu. Sesuatu dengan energi dan kekuatan sang penyihir dan objek yang dipasanginya. Adro hibernalla,” ujar megamu.
Orang itu tampak terkejut. Melihat mata Megamu dan tak percaya.
Sato menggaruk memakluminya.
“Kira-kira begitulah, apa anda bisa bantu kami? Ada seseorang Onpipan yang tengah disembunyikan di sini,” ujar Sato ramah.
“Onpipan?” ujar orang itu.
“Ya!”
Orang itu tampak menunduk.
“Maaf, tapi aku harus pergi. Maaf kau tak bisa membantu untuk saat ini. Aku harus pergi. Aku sangat sibuk,” ucap orang itu dan berlalu.
Tap tap tap tap tap tap brak!
Sato pun tak tahu. Dia pun tak tahu lagi harus apa.
“Siapa orang itu tadi?” tanya Sayugo yang baru saja mandi. Masuk ke dalam ruangan itu.
“Salah satu penyihir yang aku kenal,” jawab Sato.
Esoknya.
Mereka mendapati Sayfull bangkit. Sayfull mulai sadar.
“Ugh!”
Lalu keadaan di sebuah tempat. Kini ramai suatu pembicaraan di mana semua orang kehilangan ternak mereka.
Tempatnya tak jauh dari Sato.
Sayugo mencurigai Sayfull. Namun, dia teerus terjaga dan terlihat masih tak sadarkan diri. Sayugo pun diam.
Chintya tampak melacak. Namun tak ada tanda-tanda apa pun juga. Marra juga begitu.
Lalu, di hari selanjutnya. Terjadi sesuatu yang lain. Yang sangat menggemparkan. Semua harimau di sebuah kebun binatang di dekat rumah Sato mati dengan jantung mereka yang tak ditemukan.
Sayugo lagi-lagi mencurigai Sayfull. Namun Sato dan yang lainnya masih bisa memastikan Sayfull tak ke mana-mana kemarin.
Kejadian seperti itu membingungkan mereka.
Hingga Chintya pun mencoba untuk memindahkan Sayfull ke sebuah hotel.
“Jika benar dia yang melakukan pembunuhan itu. Untuk apa coba? Kita pastikan di tempat lain. Jika di sana ada pembunuhan hewan lagi. Sudah sangat pasti dia menjadi yang terdakwa dalam kasus ini.”
Mereka pun menginap di sana. Selama dua hari tak terjadi apa pun. Sayugo melihat berita. Lalu tak menemukan berita aneh-aneh lagi.
“Pastikan kau juga mengecek berita di tempat sekitar rumah Sato,” ucap Marra di sana yang pintar.
Sayugo mengangguk menyanggupinya.
Sato masih berpikir. Dia mencoba mencerna hal itu. Megamu bahkan tak mengetahuinya juga. Sangat aneh. Tidak mungkin itu Sayfull kan?
Sayfull sadar di malam itu. Lalu dia pun seperti kerasukan sesuatu. Dan .....
Suatu keramaian di pagi itu. Tampak di suatu tempat di hotel. Terjadi sesuatu.
“Terjadi pencurian daging yang di stok oleh pihak hotel. Semuanya hilang. Dan ada banyak jejak darah. Sepertinya pelaku memakan daging itu mentah-mentah di tempat,” ucap seorang reporter.
Sayugo pun bangkit pagi itu. Semuanya masih di sana. Sato pun bangkit sepertinya Sayugo akan menyalakan tv.
Sato mencegahnya.
“Masih pagi, nanti saja hoaaam,” ucap Sato dengan kantuknya.
Sayugo tampak tak peduli. Dia mendorong Sato yang kembali ke kasur dan tertidur.
“Benar Sayugo.. ini masih pagi,” ucap Fernie yang tiba-tiba saja bangkut dari tidurnya. Setelah itu kembali terbaring dan tidur pulas.
Sayugo menahan kantuknya yang makin parah. Dia lalu berjalan untuk mengambil remote tv di dalam hotel itu. Namun kantuknya terasa makin parah.
Namun, dia tetap beerjalan untuk mengambilnya. Dia menahan jantuk itu semaksimal mungkin. Sayugo bahkan merangkak. Terjatuh karena terpeleset. Namun, dia masih sadar. Dia pun sampaii di sofa itu. Lalu akan meraih remote itu. Seakan melemas. Tangannya sangat lemah. Dia gemetaran di sana.
‘Aku tak akan tidur’ batin Sayugo berjuang di sana lalu.
Klik!
“Pemirsa terjadi pencurian daging yang menghebohkan!”
Sepertinya suatu sihir membuat mereka masih tidur hingga dua hari lewat ini.
Bersambung.