
Episode 23
Kembali ke tempat pesta yang entah kenapa Sato tidak diberitahu.
"Sato, Sayugo dan Fernie. Kalian diberikan beasiswa untuk mempelajari tentang semua kekuatan pembasmi roh," ucap seseorang.
Sato dan orang yang terkait. Nampak duduk di sebuah kursi yang melingkari meja kotak itu. Sayugo nampaknya asyik memakan makanan kering. Bunyinya juga bising.
Di tambah dengan ...
"Musik!"
Bunyi musik yang Marco katakan adalah buatannya itu. Namun, semua orang selain dua tadi. Tampak serius dan berbincang tentang sekolah misterius itu.
Sekolah yang dibilang oleh Chintya sebagai "akademi pembasmi iblis dan roh serta penyihir jahat!"
Mendengar itu membuat Megamu dan Sato antusias. Karena hal itu terkait dengan tujuan mereka semua. Lalu, di sini.
Semua keluarga Kazumi juga diberitahu tentang megamu dan semua hal yang tidak mereka sangka itu.
Namun, mereka pernah mendengar tentang ras Pegasus. Dan tentunya mereka tahu betul seperti apa kekuatan para ras itu. Apalagi tentang karma.
"Jadi dengan itu. Kami bisa belajar banyak hal bukan?" tanya megamu.
"Ya, namun! Kalian juga akan diberikan banyak misi selain hanya belajar saja seperti di sekolah pada umumnya," jawab Chintya sembari mengambil makanan dari tangan Sayugo yang teralihkan oleh sesuatu yang dia lempar. Entah apa itu.
"Begitu ya." Sato menunduk. Dia kini membayangkan bagaimana dulu dia sekolah di akademi sihir.
"Jadi kapan mulai masuk akademi itu?" tanya ibu Sato, Mugiwa.
Menatap ibu Sato. Chintya mengangguk.
"Besok kita mulai berangkat," jawab Chintya pendek.
Sato mendongak ke arah Chintya yang berdiri.
"Jadi, aku juga harus pindah dari rumah ini?" tanya Sato.
Mungkin dari kata 'berangkat' yang dia dengar. Dia menduga, akademi itu sangat berbeda dari akademi sihir.
Mega melihat ekspresi Sato dengan serius.
Chintya menatapnya santai. Sembari minum cola yang sekali lagi dia ambil dari tangan Sayugo yang teralihkan olehnya.
Glup Glup glup!
"Ya, kita akan menuju ke Jerman!"
Sato menatap tak percaya Chintya. Dia juga terlihat sangat terkejut.
"Kenapa harus di Jerman?" tanya Mugiwa. Terdengar sangat khawatir.
Chintya lalu menatap ibunya Sato.
"Karena di Jerman. Kini terjadi sesuatu masalah yang serius! Lalu, kami pikir. Kau bisa belajar banyak di sana! Tidak seperti di tempat lain. Karena di Jerman saat ini banyak bermunculan banyak mahkluk-mahkluk yang tidak jelas. Dan kita harus membasminya juga! Dengan kata lain! Saat ini semua orang yang punya kemampuan membasmi roh dan hal lainnya. Mereka semua ada di Jerman," jelas Chintya panjang lebar.
Di Jerman sana. Diberitakan bahwa banyak sekali mayat misterius yang tidak diketahui penyebab matinya.
Namun, organisasi yang bertanggung jawab dengan mahkluk-mahkluk aneh yang bisa membunuh itu. Mereka dengan mudah mengetahuinya.
Namun, masih misterius kenapa banyak mahkluk-mahkluk aneh seperti itu di Jerman sana.
Ibu Sato masih khawatir.
"Apa aku boleh menemani Sato?" tanya ibu Sato itu.
Chintya sedikit menjeda. Mata mega juga sedikit khawatir. Sato menatap ibunya maklum.
"Sepertinya tidak, anda juga penyihir bukan? Bisa saja jika salah satu orang dari organisasi gelap kami mengetahuinya. Mungkin para penyihir di dunia ini tak bisa nyaman hidup di dunia ini," ucap Chintya tegas.
Mugiwa menunduk. Sato melihat ibunya sedih juga. Tak tega pada ibunya itu. Mega tampak menggenggam tangannya kuat-kuat. Entah kenapa.
Pesta usai.
Hasilnya, Marco dan Sayugo tepar mengenaskan di sana. Bukan meninggal. Mereka kebanyakan minum soda dan makanan ringan lainnya.
Sato kemudian membantu membawa dua orang yang dekat dengannya itu.
Tampak, setelah itu Chintya dan Marra juga keluar dari rumah Sato. Mobil hitam di depan rumahnya membuat Sato meliriknya.
Melihat hanya Chintya yang masuk ke dalam mobil. Lalu, tak disangka orang itu melambai ke arahnya sebelum dia penuh memasuki mobilnya itu.
Sato lalu melanjutkan membawa dua orang tadi.
Esok harinya.
Hari itu. Minggu jadi Sato tak pergi ke sekolah. Apalagi, hari ini dia kan mulai berangkat ke Jerman. Ke tempat akademi itu.
Di rumah Sato. Semua keluarga tampak mempersiapkan kepergian Sato. Namun, di malam sebelum pagi itu.
Marra yang tak pulang. Melangkah masuk.
Di dalam sana sudah ada Megamu dan yang lainnya. Mereka mungkin akan berbincang untuk ke depannya.
Tap!
Marra lalu duduk di sebuah kursi yang disediakan. Semuanya menatap dirinya yang anggun itu. Dengan langkah anggun dan sepatu hak tinggi yang pas untuk dirinya.
Dengan kaca mata kecilnya juga. Marra lalu menatap semua orang dengan tegas.
"Sepertinya, hanya sampai sini aku mengikuti misi ini," ucap Marra kemudian.
Sato dan megamu terlihat menunduk. Lalu, megamu mengiyakan dengan ikhlas.
Sato terlihat juga begitu. Namun, dia sepertinya tak bisa lupakan banyak jasa dari ketua OSIS-nya itu.
"Terima kasih banyak kak Marra," ucap Sato pendek. Namun, terdengar sangat tulus.
Marra mengangguk pelan. Lalu, Mugiwa menatap perempuan itu.
'Setidaknya dia juga tertarik pada Sato' batinnya.
Saat ini.
"Ibu, ayah dan, mega! Aku akan menjadi kuat seperti para penyihir. Setelah itu menyelamatkan seluruh dunia!" seru Sato.
Ibunya tampak sedih melihat putranya akan pergi. Bahkan, Marco menangis.
"Nak, hiks. Jangan pergiiiii," ucap Marco tak rela.
Mega tampak memandang kakaknya penuh harap. Dia mengangguk pada Sato.
Sato yang menatap gadis rambut biru pendek itu. Mengangguk mantap juga. Mungkin, dia sudah tahu cara komunikasi adiknya yang pendiam dan dingin itu.
Lalu, datanglah dua orang lainnya. Yakni, Fernie dan Sayugo.
Mengajak Sato dan berpamitan pada semua keluarga Kazumi.
"Kami dan Sato pergi dulu ya bibi, paman dan, mega!" seru Fernie dan Sayugo bersamaan.
Lalu mereka semua melambaikan tangannya. Tampak, Marco tak rela. Terduduk di sana sembari menangis.
"Tidak anakku, jangan tinggalkan kami semua huhuhu."
Namun, Mugiwa dan mega tak menanggapi drama itu. Mereka melambai senang dan terharu pada mobil Box yang mulai berjalan meninggalkan halaman kecil kediaman keluarga ini.
Brrrrrrm!
Mobil terus berjalan. Hingga sudah meninggalkan kediaman itu juga.
Sato melepas semua rasanya itu pada bangku penumpangnya. Membanting dirinya dengan berbagai perasaan campur aduk yang masih hinggap di dadanya.
Fernie dan Sayugo menatapnya. Kursi itu menampung beberapa orang. Seperti di mobil milik ketua Osis bernama Marra Senia itu.
Terlihat juga, orang yang memasukkan ketiganya dalam akademi misterius dan rahasia itu. Chintya duduk di depan mereka.
Dengan kacamata hitam dan lipstik tebal di bibirnya. Dia tampak memainkan telepon genggamnya itu.
Lalu, setelah selesai dengan urusan hapenya itu. Chintya menatap ke arah semua anak-anak itu.
Menatap Sato dan yang lainnya dengan kacamata yang sengaja Chintya turunkan ke hidung mancungnya itu. Wanita berumur 20 tahunan. Menatap semua remaja smp itu.
Mereka yang ditatap. Balik menatapnya. Lalu, Chintya kembali memainkan hapenya. Semua remaja itu lalu sedikit merasa aneh pada kakak Marra Senia ini.
Setelah itu, mereka tiba di bandara. Mereka turun dan akan menaiki sebuah jet pribadi milik keluarga Marra atau organisasi itu.
Terlihat juga ada Marra yang sudah menunggu dengan baju yang umumnya dia pakai. Baju putih sopan namun masih terlihat pas untuk Marra.
Semuanya menghampirinya tak menduga mungkin.
"Marra, kau sudah datang ya," ucap kakaknya ramah.
Marra hanya diam. Sepertinya dia juga akan menyampaikan sesuatu.
"Sato dan semuanya. Aku harap kalian semua dipermudah segala urusannya. Aku akan menunggu dan berusaha membantu jika diperlukan," ucap Marra.
Semuanya terharu. Sampai Sayugo menangis mendengarnya. Chintya tersenyum bangga pada adiknya.
'Dia sangat imut' batinnya.
Lalu, kini terlihat mereka semua berangkat. Marra melambai pada semua rekannya itu yang bersama dengan kakaknya menuju ke Jerman.
Sepeninggalan pesawat itu. Dia pun pergi dari lapangan perlintasan udara itu.
Wuuush!
Pesawat sudah terbang sampai 200 Km dari tempat sebelumnya.
Sato dan yang lainnya enjoy di dalamnya. Terdapat makanan yang para pelayan suguhkan. Untuk menghilangkan rasa bosan mereka.
Sepertinya butuh perjalanan sampai beberapa jam ke depan. Sato menatap keluar jendela. Dia sudah bisa melihat awan di sekitarnya.
Fernie dan Sayugo dengan cepat melahap semua makanan yang sepertinya sebuah pancake. Lalu ....
Deg!
Perubahan Fernie sedikit membuat Chintya yang di depannya terkejut.
"Apa yang terjadi?" ujarnya heran.
Dia tampak menghentikan sendok garpu yang akan mengirimkan potongan pancake ke dalam mulutnya yang lebar.
"Maaf membuatmu terkejut," ucap suara lain dari tubuh Fernie.
Chintya melotot tak percaya.
"Jadi benar ada dua jiwa dalam satu tubuh remaja perempuan ini," gumamnya tak percaya.
"Lebay," pendapat Sayugo.
"Yah, ini pertama kalinya," balas Chintya terlihat sekali hanya alasan saja.
"Jadi, kita memang akan ke Jerman ya?" tanya megamu.
Di balas anggukan sederhana dari wanita itu.
'Mereka semua sepertinya terganggu dengan perginya kita ke Jerman. Sebenarnya, apa yang mengganggu di negara itu?' Heran Chintya.
Pesawat itu terus meluncur. Beberapa jam kemudian. Tampak Sayugo tertidur di tempatnya.
Fernie atau megamu masih fokus melihat ke luar pesawat ini. Sama halnya dengan Sato. Tampak, Sato memandang datar ke langit-langit berawan itu.
Terlihat, mereka semua tampak makan sore. Setelah itu satu per satu mandi di tempat itu.
Sato perlahan ambil sabun mewah di sana. Berwarna emas dan wanginya sangat harum. Mungkin lavender yang dipikirkan Sato saat menciumnya.
Usai, mereka kembali menunggu di kursi penumpang. Tampak, Sayugo kembali terlelap lagi.
Sato yang di sampingnya. Juga tertular kantuk. Kemudian sebelum dia tidur. Dia mengingat-ingat beberapa pendapatnya tentang dirinya yang terlempar ke tubuh masa mudanya itu.
Terlihat Sato saat itu juga sebelum itu. Nampak tertidur di tempat transportasi. Sebelum akhirnya dia berpindah ke tubuh masa mudanya secara alami. Sato awalnya mengira itu hanya mimpi.
Tapi, saat mandi pagi itu. Dia mencubit dirinya sendiri. Hingga, dia pun tahu. Dia saat itu asli sedang berada di masa lalu. Berada di dalam tubuh masa mudanya saat smp.
Bersambung.