
episode 93
Sayfull kembali lemas di sana.
Abjad dan semuanya entah kenapa bisa sangat tepat. Saat penentuan itu. Sepertinya Chintya selalu tepat.
Kini sudah satu jam berlalu.
Anak itu tampak telungkup setelah mental sangat jauh.
Chintya, tampak heran. Di bumi sana. Sudah pagi hari di bagian tempat mereka sebelumnya.
"Jadi sudah selesai ya!" ujar Chintya dan mencoba membawa anak itu. Dia menghilangkan Grey 5nya.
Berjalan memuju tempat si budak. Lalu, anak itu pun sedikit sadar. Tampak dia seperti Onpipan yang lainnya. Chintya agak kaget.
Anak itu bahkan bertanya dengan polos kepadanya. Di mana mereka. Bahkan, sepertinya dia tak bisa bernafas di sini.
Hal itu membuat Chintya panik. Untunglah dua cepat mengalirkan energi miliknya untuk membantunya. Namun, karena energinya tak bisa membuat anak itu bernafas. Karena tak bisa harus segampang itu.
Dia pun panik.
Dalam hal ini. Sesuatu datang. Sepertinya roket.
Tap!
Chintya menatap kehadiran roket berwarna utih itu. Lapu, turun dua orang yang sudah dia kenalnya.
"Apa ada masqlah d sini?" ujar satu orang btambut putih dan tinggi itu. Lalu, satu orang lain. Tampak menatap ke sekitarnya.
Kemudian dia menangkap sosok adanya manusia di sana.
"Gawat!" ucap orang itu.
Tap tap tap tap!
Wuuush!
Chintya bisa kembali ke bumi. Tampak, keluar dari ruangan angkasa itu bersama dua orang dari sana.
"Terdeteksi suatu getaran yang membahayakan tadi. Jadi kami yang tidak punya kerjaan. Iseng ke tengah bulan," ucap orang yang tinggi itu. Dialah Bernard. Penampilannya masih sama saja.
Lalu, orang lainnya bernama Haik. Kulit hitam itu kini punya pakaian yang rapi dan seperti kepala tentara saja.
"Maaf tadi ada yang mengganjal," ujar maaf Chintya sembari membawa tubuh mungil Sayfull.
"Maaf kami belum bisa membantu. Kami harus lakukan hal lain yang mencurigakan," ujar haik. Chintya yang tahu maksud itu. Mengangguk setuju saja.
"Tak apa!"
Lalu, di bawah sana. Marra dan Sato yang tak bisa tidur. Melihat datangnya mereka. Lalu, mereka pun bertemu.
Marra memeluk kakaknya itu. Sato tampak menyapa dan terkejut atas hadirnya Haik dan Bernard itu.
"Sato, sudah sangat lama!" sapa Bernard. Haik juga menyapanya dengan normal.
"Ya! Ahahahaha!" balas Sato menggaruk kepalanya.
Tut tut tuut!
Namun, setelah itu. Sesuatu di jam milik haik berbunyi. Keduanya pun pamit.
"Maaf kami harus pergi. Sampai jumpa!"
Keduanya pun langsung naik ke pesawat itu. Lalu ....
Wush!
Cepat menghilang dari atas sana.
Sato lalu menatap Chintya juga.
"Apa sudah selesai?" tanya Sato.
Namun, Chintya hanya menatap tubuh milik Sayfull yang terbaring itu.
Mereka kemudian putuskan untuk mengurung Sayfull di sebuah pulau bersama mereka. Di sana tak ada hewan ataupun manusia. Pulau itu sudah dimiliki oleh Marra tentu saja.
Kemudian. Pada saat tertentu. Sayfull tampak sadar. Namun, dia yang sepertinya masih tak bisa mengalahkan Chintya. Dia dibelenggu dan tampak tak bisa melakukan apa pun. Dengan kekayaan robot Grey 5 milik Chintya.
"Apa yang kau incar haah?" tanya Chintya.
Sato dan yang lainnya juga di sana. Menyaksikan.
"Aku hanya ingin .....Ugh. bebas!" jawabnya.
Namun, jawaban dari Sayfull selalu sama. Saat ditanyai apa sebabnya dia ingin bebas. Dia belum ingin menjawabnya.
Hingga Sato pun berinisiatif untuk menceritakan semuanya. Semua misinya itu.
Semuanya tampak masih belum setuju. Maka dari itu. Sato hanya akan beritahu tentang kekuatannya saja. Kekuatan yang besar itu.
Malam harinya. Saat kesadaran Sayfull berganti ke yang sebenarnya. Sato menatapnya.
"Apa maumu? Sudah kubilang bukan?" ucap dingin anak itu kepada Sato. Sato hanya menghela nafas pasrah.
"Ada banyak kekacauan yang dilakukan penyihir di dunia ini. Kami semua sempat melawan mereka. Bahkan, beberapa rekan dan manusia biasa sudah banyak yang jadi korbannya," jelas Sato.
Tampak Sayfull tak menggubris. Sato pun melanjutkan kata-katanya itu.
"Apa kau tak ingin mengetahui ini lebih dalam? Dan bisa saja kau juga terlibat dalam semua penyihir dan monster-monster sihir misterius ini," lanjut Sato.
"Aku sama sekali tak tertarik. Aku punya tujuan sendiri. Mending sekarang bebaskan aku. Aku tak akan ganggu kalian dan manusia di sini. Aku hanya ingin bebas!" bentak Sayfull.
Sato hanya bisa mengangguk paham.
"Jadi begitu, aku pikir tadinya kau orang yang bisa diajak bekerja sama," ucapnya dan mulai berlalu.
Sayfull tampak tak terima.
"Ap maksudmu haaah?" bentaknya.
Sato menataonya.
"Kau pikir itu saja sendiri. Jika kau memang seorang penyihir yang kuat. Mengapa kau tak bisa mengalahkan kami ini yang manusia biasa?"
Sato menutup pintu itu dengan kasar. Sayfull yang terbelenggu olah Grey lima robot itu. Hanya bisa teriak muak.
Sato ke dalam ruangan bersama teman-temannya lagi.
"Apa itu berhasil?" tanya Chintya.
Sato hanya menggeleng lemah.
Hari berlaku. Mereka terus berinteraksi demi mengali informasi pada keadaan dari Sayfull. Hingga suatu hari. Sato mendapat informasi yang dia dapat setelah dekat panjang tentang adu kekuatan sihir dan teknologi itu.
Di mana dua mendengar bahwa ....
"Ada perang besar di dunia sihir. Yang akan berlangsung tiga bulan lagi!"
"Apa?!"
Semuanya kaget.
"Jika begitu. Mungkin saja musuh tak akan bergerak untuk mengacau," jelas Megamu.
"Perjanjian perang. Di dunia sihir ada semacam belenggu yang sudah diciptakan juga untuk menjaga sesama penyihir dari kekacauan. Belenggu itu akan membatasi sebuah kekacauan. Dalam hal ini. Di dunia sihir barang siapa yang akan berperang. Kedua belah pihak tidak boleh mengacau dan menyerang apa pun. Sihir itu sudah tertanam jauh setelah dunia ini akan dibentuk. Untuk membuat Arconde uang menakjubkan," jelas Megamu menjawabnya.
"Jadi begitu."
Sato pun termenung.
'Berbeda sekali denfab dunia sihir di duniaku' batinnya merenung.
"Pantas saja keluargaku pamit untuk beberapa bulan belakangan ini. Tapi kenapa aku tak pernah mendengar ini dari mereka ya?" Sato bingung.
"Mungkin nereka tak ingin kau cemas," timpal Sayugo.
Lalu, Sato pun mencoba mengecek hapenya. Tampak dia pun melihat ada sebuah pesan yang ternyata sudah sangat usang dan dipindahkan ke sebuah folder penghapusan. Di sana tertulis pesan itu.
Sato baru sadar. Semua pesan lama di ponselnya akan otomatis di simpan di folder lain. Itu agar ponselnya tak terlalu berisik. Karena waktu itu dia sangat tergangu dengan alarm yang selalu berbunyi itu. Dua tak ingin mengulanginya di handponenya.
‘Sialan, ini salahku’ batin Sato kesal.
"Apa kita harus membantu mereka?" tanya Marra.
"Ini adalah perang! Sangat berbahaya dan beresiko!" jawab Chintya. Dia juga khawatir pada adiknya jika terlalu jauh seperti ini.
"Lalu, siapa yang berperang dengan para penyihir? Apakah musuh yang waktu itu?" tanya Sayugo.
"Sayfull tak mengetahuinya. Dia mengaku klannya tak terlalu peduli siap musuhnya. Mereka akan menang itu katanya," jawab Sato.
"Hmmm, apa yang harus kita lakukan untuk membantu ya?"
Semuanya masih belum tahu apa jalan yang terbaik. Hingga suatu malam.
Tap!
Datang dua orang ke pulau itu. Tak lain adalah Mugo, Sephij dan jago.
Mereka tampak melangkah di hutan itu yang sangat sepi.
"Sangat sepi dan hangat. Aku tak terlalu suka," ujar Sephij berpendapat.
"Tenanglah, kita di sini hanya akan menjemput Onpipan itu," ujar orang yang bernama Mugo terhadap rekannya yang banyak mengeluh itu.
"Haaaah!" Jago hanya bisa menghela nafas gusar.
Tap tap tap tap tap!
Ketiganya pun tampak sampai di sana. Lalu ......
Sato pun bangun. Dia tampak merasakan sesuatu yang aneh. Lalu, dia pun keluar dari sana. Kemudian ....
"Kalian!" teriaknya.
Di depannya itu. Tiga orang yang sangat misterius. Namun, satu diantaranya adalah orang yang sudah pernah dia temui di perang itu.
"Oh!"
Mugo tampak terkejut.
"Jadi kau membuatnya bersama mereka ya. Mugo yang licik?" tanya Sephij misterius.
Mugo tak menjawabnya. Dia maju ke sana.
"Kami saat ini tak akan apa-apa," ucapnya pada Sato.
"Jadi benar ya! Kalian mengincar itu!" ucap Sato marah.
Lalu, tampak megamu juga keluar.
"Jadi dalang semua ini adalah kau ya! Orangnya. Mugo si tubuh pengganti Godwitcher yang keempat," desis tajam wanita itu.
Mugo hanya tersenyum menanggapinya. Lalu, orang bernama Sephij hanya menatap sungkan kepada mereka.
"Yah, begitulah!"
Datang Marra dan Chintya. Keduanya tampak terkejut juga.
"Jadi mereka ya! Penjahatnya!" desis keduanya.
"Haha!"
"Apa tujuan kalian ke sini?" tanya tajam Megamu.
"Tenanglah," Sephij mencoba menenangkan.
"Kami hanya diperuntah. Menjemput tuan muda!" jawab Mugo tenang.
"Tuan muda?"
"Ya, dialah Sayfull!"
"Apa maksudmu?"
"Bukannya mereka semua dipenjara dan ditangkap?"
Mugo hanya tersenyum. Sephij tampak menghampiri lebih dekat.
"Itu kemarin. Sekarang mereka terbebas," jelasnya.
"Apa?!"
Semuanya terkejut. Sato tak menyangkanya. Bukankah ini semua tak masuk akal. Bahkan, kejahatan Onpipan itu.
Tampak, Sato dan yang lainnya hanya bisa termenung di dalam ruangan itu. Mereka juga akan pergi dari pulau itu. Lalu, mereka pun menaiki pesawat itu.
Dalam percakapan sebelumnya. Mereka mendengar kabar itu yang sangat mengejutkan. Dari kata-kata yang dilontarkan Mugo dan Sephij.
"Klan Onpipan bebas. Karena mereka semua adalah bagian dari perang juga."
"Tapi, dengab kejahatan itu. Mereka pasti akan dikeluarkan!"
"Ya, tapi bukan dari bagian penyihir. Melainkan menjadi bagian dari kami! Kami semua akan berperang bersama Onpipan yang akan menjadi bagian dari kami. Mereka bahkan mengajukan diri sebagai perwakilan perang dalam kubu kami!"
"Tidak mungkin!"
Brak!
"Ada apa Sato?!"
Sato tampak emosi kini.
'Orang-orang itu. Di masa laluku yang dulu. Dialah yang sudah menghasut Vampire dan Werewolf untuk membunuh ibu dan ayahku' batin dirinya.
Semua temannya tampak tak tenang. Apa yang terjadi dan dipikirkan Sato. Sampai dia semarah ini. Sato tampak marah di dalam pesawat.
'Ada apa dengan akan ini? Dia seperti-- mempunyai dendam pribadi pada musuh kita ini' batin Sayugo khawatir.
Fernie yang tidak terpengaruh dengan Megamu juga khawatir.
"Sepertinya. Benang merah mulai terhubung dan mulai jelas!"
Apa yang dipikirkan dan dibenci Sato saat ini adalah sosok Mugo itu sendiri.
Bersambung.