
Episode 48
Di tempat gadis bernama Marijla.
Dia pun, membuka gerbang yang sudah usang dan lapuk serta berkarat.
Lalu, melangah pelan sebelum dia berjalan cepat menuju rumah itu.
Marijla tampak tak terlalu berhati-hati.
"Entah kenapa setelah insiden di Albania itu, semua energi kebencian manusia itu menyebar tak karuan saat ini. Lalu salah satunya berada di dekat kita."
Tap tap tap tap tap!
Gadis mungil seperti baru berumur 16 tahun itu. Melangkah cepat menuju bangunan tua yang sangat misterius.
Entah apa maksud kedatangan Marijla ke tempat ini. Marijla nampak sudah berada di depan pintu itu. Dia berhenti di depannya.
Tap!
Dia lalu, menyentuh pintu yang terbuat dari besi itu. Semuanya sudah kacau sepertinya tak tertinggal.
'Ada banyak semacam rumah-rumah kosong di Indonesia. Tapi, entah kenapa tempat ini tak seperti biasanya'
Kriiiet!
Marijla membukanya. Cahaya di dalam masuk dari sela-sela dan kubang di sana.
'Setiap tempat angker pasti ada saja monster tipe tak terlihat. Namun, kenapa mereka tak menampakkan diri?'
Tap tap tap tap!
Marijla lalu melangkah masuk. Setelah 1 meter dia meninggalkan pintu. Tampak .....
Jglak!
Pintu tertutup. Anak itu sedikit terkejut namun, terus melaju ke depan sana. Suasana jadi tambah sepi dan minim sekali pencahayaan.
Marijla tak habis pikir. Terus melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam.
Tak disangka ada beberapa hewan yang hidup di sana. Ular dan kelelawar.
Namun, sepertinya itu sudah biasa. Marijla pun membuat mereka keluar dari tempat itu. Lalu, anak itu terus melangkah ke depan.
Tap tap tap tap!
Bunyi langkahnya terdengar biasa saja. Dia melangkah dengan hati-hati. Mungkin karena beberapa pecahan yang tercecer di tempat itu.
Tap tap tap tap!
Setelah sampai di ujung bangunan itu. Marijla nampak melihat hal aneh.
"Apa itu?" tanya dirinya.
Suatu pintu kosong tampak bersinar dengan beberapa warna. Lalu, sinar itu memutar-mutar acak juga.
Marijla lalu segera bergegas keluar. Lalu, setelah itu. Dia datang bersama satu perempuan yang sudah kita kenal. Sherly.
Keduanua adalah titel orang kuat di Black destroyer. Sepertinya Marijla menuturkan itu pada Sherly.
Kedua wanita berbeda umur lumayan jauh. Berjalan lewati beberapa hal sebelum mereka sampai.
"Sayang sekali, sudah hilang," ucap sayang Sherly dan dia mendekat ke arah pintu yang kini sudah tak berisikan cahaya itu lagi.
Marijla juga tampak kecewa. Lalu, Sherly menyentuh hal itu. Dia lalu seperti sadari sesuatu.
Deg!
Dia melihat banyak hal yang seperti lautan luas. Bisa didalami namun tak bisa digambarkan.
Wuuush!
Dia tersadar saat Marijla menegurnya yang melamun.
"Ada apa Sherly?" tanya anak berambut hijau itu.
Sherly tampak seperti terkejut setengah mati.
"Sepertinya, pintu ini digunakan seseorang untuk menuju ke dimensi sihir," jawabnya dengan nada memberitahu hal yang luar biasa.
Tempat lain.
"Apa?!"
Seseorang yang kita kenal bernama manda. Nampak, terkejut di markas mereka.
Dia menghadapi dua wanita yang tadi menelusuri pintu itu.
"Jadi, mungkin saja ada penyihir di sana," ucap Sherly.
"Lalu kemungkinan dia sudah kabur atau kembali ke dunia sihir," sambung Marijla yang kini dengan mata biru pucatnya itu.
"Hmmm. Entahlah. Sampai saat ini. Kita belum diberi petunjuk untuk menuju ke dunia itu," ucap manda berpikir.
"Mungkin kita butuh-"
"Sesuatu yang cantik untuk menutupi keburukan dunia ini!"
Seorang datang dengan memotong pembicaraan itu.
Tap tap tap tap tap!
Lalu, ketiganya menoleh ke arah yang baru datang itu.
"Vinita, kau baru datang ya!" sapa Marijla ke arah seseorang tadi.
"Hahahahaha, maafkan aku," ucap Vinita yang berambut hitam agak keriting itu. Dia bersama seorang lelaki berkemeja putih. Manda yang kesal, kini menatap ramah pada Vinita.
Lelaki itu menunduk sopan terhadap ketiga wanita itu.
"Jadi? Kita sudah sejauh mana?" tanya Vinita langsung.
"Tidak ada. Kita baru sampai di titik yang sudah kau dengar tadi."
Kini, Vinita nampak duduk di ruangan bersama dengan beberapa orang. Termasuk manda juga.
Kedua orang kuat itu mengobrol.
"Dari beberapa data, mereka sepertinya ingin menghancurkan dunia ini lewat beberapa serangan. Serangan pertama tercatat di Indonesia, lalu kedua di Albania, dan ketiga di Albania lagi dan sepertinya dilakukan oleh orang yang juga sudah menyerang di Indonesia," ucap manda kepada Vinita.
Vinita nampak tersenyum puas.
"Jadi begitu, lalu tentang energi kebencian dan portal itu?" tanya Vinita lagi.
"Itu masih misteri!" jawab Sherly yang baru bergabung dengan kedua wanita berparas menawan itu. Dirinya juga tak kalah menawan.
Dia tampak menaruh rambutnya ke belakang telingannya. Membuat beberapa pria yang berdiri itu tak fokus.
"Energi kebencian itu awalnya mengarah ke Albania, hanya Marijla yang bisa melihatnya," sambung Sherly sambil duduk menghadap dua rekannya itu.
Vinita mengangguk.
"Jadi semua tentang penyihir dan musuh kita yang dari dimensi ini, tampak masih ambigu bagi kita ya," ucap Vinita berspekulasi. Dia melenguh karenanya.
"Begitulah," jawab dua orang lainnya.
Serelah itu. Nampaknya Vinita akan pergi lagi.
Manda dan Sherly mengantarnya sambil berbincang.
"Aku akan menutupi celah organisasi sembari melakukan penyelidikan, seperti biasa,” ucap Vinita.
"Kami akan menghubungimu jika perlu Vinita," ucap manda.
Mereka lalu melihat Vinita masuk dan melambai pamit. Mereka saling lambai ke arah masing-masing satu sama lain.
Duk duk duk duk!
"Maaf sedikit lama ya. Aku akan misi untuk apa dan di mana?" tanya Vinita sembari duduk di bangkunya itu.
Lalu pria yang selalu menemainya itu. Menjawabnya "kita akan hancurkan beberapa monster yang berpotensi penyerang di Selandia baru."
Lalu, Vinita pun mengangguk.
Duk duk duk duk duk duk duk.
Tugas Vinita adalah menggantikan semua orang kuat dalam misi-misi besar. Jika ada misi yang bersamaan dia tak masalah karena kemampuannya adalah menggandakan sesuatu.
Duk duk duk duk duk!
"Kita sudah on the way!"
Vinita berdiri. Dia siap terjun ke bawah dari kejauhan agar tak terlalu banyak orang yang melihat kedatangan helikopternya itu.
"Mision start!"
Dia lalu terjun ke arah selat itu. Tampak dia juga menggunakan semacam papan yang dia naiki di kakinya itu.
"Heh."
Vinita tersenyum senang. Dia meluncur menuju perairan yang cukup dalam.
Wuuuuuush
Dia nampak masih meluncur menggunakan papan itu. Lalu dia kan mendarat dan cepat menarik tali parasutnya untuk dibukakan.
Wuuush!
Angin beterbangan kencang. Kini, dia akan mendarat di atas selat itu.
Lalu sebelum kakinya mulai menyentuh.
Sebuah tangan besar sudah muncul dari dalam air itu.
Dan sepertinya akan menyerang wanita itu. Namun, Vinita membiarkannya saja.
Buaaaar!
Air tampak terciprat sangat jauh. Layaknya ledakan terjadi di air itu.
Lalu tak disangka-sangka.
Wuuush!
Srret!
Tampak, sosok wanita itu dengan peluncurnya masih di atas air itu. Selamat dan kini memperhatikan sosok tadi.
"Dia tahu aku ada di atasnya, hebat," ucapnya.
Lalu, dari bawahnya. Keluarlah sosok besar hitam.
Hoaaaa!
Sosok itu mengangkat air itu bahkan tubuh Vinita. Namun, Vinita hanya tersenyum menanggapi monster raksasa yang ternyata adalah sejenis naga air itu.
Walau bentuknya seperti manusia. Namun, ada beberapa hal yang membuatnya disebut seperti itu.
Huaaaa!
Dia keluar dengan setengah badannya saja. Kini, Vinita melayang di udara sana.
Lalu, dia menapak di air.
Ctas!
Dia tak terlalu menciptakan gelombang. Kini, dia bersiap melawan monster laut ganas ini.
Mata wanita itu terus melihat monster itu dengan tatapan tenang dan tidak gentar sama sekali.
Tampak naga air itu tampak memukul-mukulkan tangan layaknya gorila itu.
Groaaarg!
Dia mungkin bermaksud mementalkan apa yang di dekatnya. Namun, semua yang ada di dekatnya hanyalah air.
Vinita jauh dari posisinya. Namun, masih menerima angin darinya.
"Luar biasa," komentarnya.
Kini, monster itu tahu. Membuat Vinita pun paham. Monster ini sensitif pada suara manusia.
Groaaarg!
Monster itu lalu memukul air di Vinita. Vinita lalu cepat melesat meluncur dengan papannya itu.
Jduaaar!
Dia berhasil menghindar. Dia tampak puas.
Akan tetapi .......
Grrrr grrrrr!
Sesuatu seperti benda raksasa yang panjang juga. Tampak muncul dan ingin melempar tubuhnya ke udara.
Namun, benda itu tak hanya satu. Ada tiga dan bentuk dan bobotnya. Sangat luar biasa.
Blar blarr blaaar!
Syut!
Namun, Vinita selamat. Dirinya seperti menggunakan kemampuannya itu.
Secara teknis. Dia menggandakan kecepatan dan refleksnya.
Vinita lalu menghindari sisa-sisa dari ekor naga itu.
Groaaarg!
Ekor itu punya kepala dengan satu mata. Dengan kata lain. Naga itu punya 4 kepala. 1 kepala di atas lalu tiga lainnya sebagai ujung ekornya juga.
Kepala itu punya lubang entah gunanya untuk apa.
Tampak, Vinita berkelit lalu dia melemparkan sesuatu dari tangannya. Itu menancap dengan benar di kulit ekor naga itu.
Namun, tak berdampak besar. Nampak, menempel di ekor-ekornya saja.
Groaaarg!
Ekor itu yang merasa tak terganggu dengan itu. Maju ke arah Vinita.
Namun, dari arah lain. Muncul angin besar yang sepertinya berasal dari kedua telapak tangan monster itu.
"Sial, aku terkepung!" ujarnya.
Lalu, dia pun mencoba menghindar.
Blaaaar!
Serangan itu entah bagaimana kabar Vinita saat ini.
Blup!
Ternyata dia selamat. Tampak keluar dari dalam air.
Kini, dia berada di belakang monster itu. Dia tertawa meremehkan.
Dan otomatis sang monster berbalik dan melemparkan angin itu ke arahnya.
Vinita mampu menahannya dengan baik. Dia gunakan kemampuannya.
Blaaaar!
Lalu hempasan demi hempasan serangan dari ekor pun dia masih bisa layani.
Lalu secara berkala Vinita terus melemparkan benda yang sama ke ekor-ekornya itu.
Dia kini menjauh dari monster itu yang kini berjalan ke arahnya.
Ekor monster tadi sudah kalah. Karena meledak dengan alat yang sebelumnya. Serta digandakan daya ledaknya.
Jduaaaar!
Kini, Vinita harus membunuh tubuh lain dari monster ganas itu.
Blaaaar.
Monster itu sudah sampai di tengah lautan. Dia masih saja bisa berdiri tegap di tengah lautan. Namun, Vinita lalu akan menembakkan sesuatu dari tangannya.
"Cannon pengganda!"
Bersambung.